<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Takhrij</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/tag/takhrij/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 00:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Masyitoh]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Masyithoh Tukang Sisir 1 Putri Fir’aun Al Kisah Dari Ibnu Abbas berkata: &#8220;Rosululloh bersabda: &#8220;Saat malam isro’ dan mi’roj, tiba-tiba saya mencium semerbak bau wangi, maka saya bertanya: “Wahai Jibril, semerbak bau wangi apa ini ? Jibril menjawab: “Ini adalah semerbak bau wangi tukang sisir putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Rosululloh bertanya lagi: “Bagaimana ceritanya ? [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F05%2F11%2Fmasyithoh-tukang-sisir-putri-fir%E2%80%99aun%2F">
										</iframe>
										</div><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0cm; text-align: justify } 		P.sdfootnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; font-size: 10pt; text-align: left } 		A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } --></p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">Masyithoh Tukang Sisir <sup><a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> Putri Fir’aun</h2>
<h2>Al Kisah</h2>
<p>Dari <strong>Ibnu Abbas</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Rosululloh bersabda: &#8220;Saat malam isro’ dan mi’roj, tiba-tiba saya mencium semerbak bau wangi, maka saya bertanya: “Wahai Jibril, semerbak bau wangi apa ini ? Jibril menjawab: “Ini adalah semerbak bau wangi tukang sisir putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Rosululloh bertanya lagi: “Bagaimana ceritanya ? Jibril menjawab: “Suatu hari, saat dia menyisir putri Fir’aun, tiba-tiba jatuhlah sisir dari tangannya, lalu dia berkata: Bismillah (dengan menyebut nama Alloh).” Maka Putri Fir’aun berkata padanya: Apakah yang engkau sebut tadi ayahandaku? Masyithoh menjawab: Tidak, tapi Tuhan Ku dan Tuhan ayahandamu adalah Alloh.” Maka si putri berkata: Saya akan laporkan ini pada beliau.” Masyithoh menjawab: Silahkan.” Akhirnya si putri lapor pada bapaknya dan Fir’aun pun memangilnya lalu berkata: Wahai fulanah, apakah engkau mempunyai Tuhan selain Aku ? Masyithoh menjawab: Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.” Maka Fir’aun pun memerintahkan untuk membakar patung sapi yang terbuat dari tembaga sampai panas membara, kemudian Fir’aun pun memerintahkan untuk melemparkan Masithoh dan anak-anaknya ke dalamnya. Saat itu Masyithoh berkata: “Saya butuh sesuatu kepadamu.” Fir’aun menjawab: Apa yang engkau perlukan ? Masyithoh menjawab: Saya kepingin agar engkau mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu kain baju lalu engkau kuburkan.” Fir’aun menjawab: Kami berjanji untuk melaksanakannya.” Akhirnya anak-anaknya satu persatu dilemparkan dihadapannya, sampai saat giliran anak kecil yang masih menyusui, seakaan-akan Masyithoh agak grogi mengingat si bayi ini, namun tiba-tiba anak ini berkata: “Ibunda, segera lemparkanlah dirimu, karena siksaan dunia dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.” Maka akhirnya Masyithoh pun melemparkan dirinya.”</p>
</blockquote>
<p>Berkata <strong>Ibnu Abbas</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ada empat anak bayi yang mampu berbicara, yaitu: Isa bi Maryam, anak kecil dalam kisah Juraij, anak kecil yang menjadi saksi kisah Nabi Yusuf dan putra Masyithoh (tukang sisir) putri Fir’aun.”</p>
</blockquote>
<p><span id="more-259"></span></p>
<h2>Kemasyhuran kisah ini:</h2>
<p>Kisah ini sangat masyhur, banyak disampaikan oleh para khothib, usadz dan tukang ceramah, sebagaimana juga banyak ditulis pada buku dan kitab. Kisah ini selalu dibawakan untuk dijadian sebagai sebuah kisah akan keteguhan seseorang dalam imannya meskipun harus menghadapi siksaaan yang maha pedih. Wallohul musta’an.</p>
<h2>Takhrij kisah ini <sup><a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup></h2>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Ahmad</strong> pada tiga tempat dalam Musnad beliau, yaitu no:2822 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Umar Adh Dhorir</strong>, dan pada no:2823 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Hasan</strong>, juga pada no:2824 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Hudbah bin Kholid</strong>.</p>
<p>Mereka semua mengatakan: Telah menceritakan kepada kami <strong>Hammad bin Salamah</strong> dari <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> dari <strong>Sa’id bin Jubair</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> secara marfu’.</p>
<p>Juga diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Mu’jam al Kabir no: 12279, 12280 dengan sanad yang sama, serta diriwayatkan oleh <strong>Bazzar</strong> sebagaimana yang terdapat dalam Kasyful Astar no: 54 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdulloh bin Abi Yamamah</strong> dan <strong>Muhammad bin Ma’mar</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Affan</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Hamad bin Salamah</strong> dengan kisah diatas. <strong>Imam Bazzar</strong> berkata: Kami tidak mengetahui kisah ini diriwayatkan dari Rosululloh dengan lafazh seperti ini secara bersambung sanadnya kecuali pada sanad ini.”</p>
<h2>Derajat kisah:</h2>
<p><strong>Kisah ini lemah</strong></p>
<p><strong>Sisi kelemahannya:</strong></p>
<p>Kisah ini hanya diriwayatkan oleh <strong>Hammad bin Salamah</strong> dari <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Al Bazzar</strong> diatas, sedangkan <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> adalah seorang yang <strong>mukhtalith</strong>.</p>
<p><strong>Mukhtalith</strong> adalah seorang yang asalnya tsiqoh (kuat terpercaya) kemudian pada akhir hidupnya dia berubah, mungkin karena ingatannya melemah, atau hilang ingatan, atau menjadi buta atau mungkin kitabnya terbakar atau sebab lainnya, sehingga dia menjadi tidak tsiqoh lagi.</p>
<p>Sekarang marilah kita lihat, apa yang dikatakan poleh para ulama’ tentang seorang rowi yang mukhtalith ini:</p>
<p><strong>Imam Ibnu Sholah</strong> dalam Ulumul Hadits no: 62 berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Hukum rowi yang mukhtalith adalah haditsnya diterima apabila ada yang meriwayatkan darinya sebelum ikhtilath saja, sedangkan kalau yang meriwayatkan darinya setelah ikhtilath atau tidak ketahuan apakah sebelum atau setelahnya maka haditsnya tidak diterima.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat juga keterangan Al Hafizh As Sakhowi pada Fathul Mughits 4/371)</p>
</blockquote>
<p>Berangkat dari sini, maka barang siapa yang meriwayatkan hadits dari <strong>Atho’</strong> sebelum beliau ikhtilath saja, maka riwayatnya shohih, sedangkan kalau meriwayatkan darinya setelah ikhtilath atau tidak diketahui apakah sebelum atau setelahnya maka riwayatnya lemah.</p>
<p><strong>Dan inilah keterangan para ulama’ tentang riwayat Hammad dari Atho’ bin Sa’ib.</strong></p>
<p><strong>Ibnu Sholah</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Diantara para perwi mukhtalith adalah Atho’ bin Sa’ib, dia mukhtalith pada akhir hidupnya, maka para ulama menshohihkan hadits beliau apabila yang meriwayatkan darinya adalah para murid senior beliau, seperti Sufyan Ats Tsauri dan Syu’bah, karena keduanya hanya mendengar dari Atho’ saat masih tsiqoh, namun para ulama’ meninggalkan hadits dari para rowi yang mendengar dari beliau kemudian hari.”</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> kemudian menyimpulkan tentang siapa sajakah yang mendengar dari <strong>Atho’</strong> sebelum ikhtilah dan siapakah yang mendengar darinya setelah ikhtilath. Beliau berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Kesimpulan kami dari keterangan para ulama’ bahwa Sufyan Ats Tsauri, Syu’bah, Zuhair, Zaidah, Hammad bin Zaid dan Ayyub kalau mereka meriwayatkan dari Atho’, maka haditsnya shohih, sedangkan kalau selain mereka maka lemah, kecuali Hammad bin Salamah, para ulama’ berselisih, namun yang paling nampak, bahwa Hammad bin Salamah mendengar dari Atho’ dua kali,</p>
<ul>
<li>pertama: dia mendengar bersama Ayyub, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ucapan Ad Daruquthni</li>
<li>Kedua: Hammad mendengar darinya lagi saat masuk kota Bashroh bersama Jarir dan teman-temannya.&#8221;</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Tahdzib 7/183-186)</p>
</blockquote>
<p>Oleh karena sebab inilah, maka para ulama’ melemahkan riwayat <strong>Hammad bin Salamah</strong> dari <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> ini.</p>
<p><strong>Imam Al Albani</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Ini adalah sebuah tahqiq yang jeli, seharusnya untuk tidak dilupakan, barang siapa yang ingin untuk menjadi seorang peneliti hadits yang mumpuni maka seharusnya dia tidak mengshohihkan riwayat Hammad bin Salamah dari Atho’&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah 2/334)</p>
</blockquote>
<p><strong>Jalan lain:</strong></p>
<p>Hadits ini memiliki penguat sebagaimana yang diriwayatkan oleh <strong>Ibnu Majah</strong>: 4030 berkata: “Telah menceritakan kepada kami <strong>Hisyam bin Ammar</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Walid bin Muslim</strong>, telah menceritakan kepada kami <strong>Sa’id bin Basyir</strong> dari <strong>Qotadah</strong> dari <strong>Mujahid</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> dari <strong>Ubai bin Ka’b</strong> secara marfu’.</p>
<p>Namun riwayat inipun lemah disesabkan oleh dua cacat:</p>
<ul>
<li>Pertama: <strong>Qotadah</strong> seorang mudallis, sedangkan pada sanad ini beliau meriwayatkan dengan cara an’anah. (Lihat Mizan adz Dzahabi 3/385, dan Thobaqot Mudallisin oleh Ibnu Hajar no: 16)</li>
<li>Kedua: <strong>Sa’id bin Basyir al Azdi</strong>. Ia munkarul hadits, sebagaimana yang disebutkan oleh <strong>Ibnu Hajar</strong> dalam Tahdzib 4/8, <strong>Ibnu Hibban</strong> dalam Majruhin 1/315. Dan <strong>Adz Dzahabi</strong> menyebutkan kisah ini untuk memberi contoh hadits Sa’id yang munkar. (Lihat Mizan: 3143)</li>
</ul>
<p><strong>Siapakah yang bisa bicara saat masih bayi ?</strong></p>
<p>Dalam riwayat diatas, <strong>Ibnu Abbas</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Ada empat anak kecil yang mampu berbicara, yaitu: Isa bi Maryam, anak kecil dalam kisah Juraij, anak kecil yang menjadi saksi kisah Nabi Yusuf dan putra Masyithoh (tukang sisir) putri Fir’aun.”</p>
</blockquote>
<p>Riwayat ini sama hukumnya dengan hadits diatas, karena diriwayatkan dari satu sanad, dan semua riwayat yang mirip dengan inipun sama lemahnya, bahkan syaikh <strong>Al Albani</strong> mengatakan bahwa riwayat ini bathil sebagaimana dalam Adh Dho’ifah no: 880.</p>
<h2>Pengganti yang Shohih</h2>
<p><span style="font-size: small;">Cukuplah sebagai ganti dari dua kisah diatas, yaitu tentang keteguhan seseorang dalam memegang iman meskipun menghadapi siksa yang maha berat, serta kisah bayi yang dapat bicara, dua hadits berikut:</span></p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Dari <strong>Abu Huroiroh</strong> dari Rosululloh bersabda: </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: small;">&#8220;Tidak ada yang bisa bicara saat masih bayi kecuali tiga yaitu Isa, dan anak dalam kisah seorang dari Bani Isroiil yang berama Juroij, tatkala dia sedang shoat, datanglah ibunya memanggil. Juroij berkata dalam hati: Saya memenuhi pangglan ibuku atau meneruskan sholatku, maka ibunya berkata: Ya Alloh, jangan matikan dia sehingga Engkau pertemukan dia dengan wajah wanita pelacur.” Saat itu Juraij tinggal ditempat ibadahnya, lalu suatu ketika datanglah seorang wanita pelacur menawarkan diri untuk berzina, tapi Juroij menolak, sehingga akhirnya wanita ini mendatangi penggembala dan menyerahkan diri padanya, lalu dia melahirkan anak dan wanita itu berkata: Ini anaknya Juroij. Orang-orangpun mendatanginya dan merusak tempat ibadahnya, mereka menurunkan dan mencaki makinya. Lalu Juroij mengambil wudlu dan sholat lalu dia mendatangi anak bayi itu dan berkata: Siapakah bapakmu wahai bayi ? bayi itu berkata: Seorang penggembala. Maka orang-orangpun berkata: Kami akan membangunkan tempat ibadahmu dari emas,.” Juroij berkata: “Tidak, cukup dari tanah saja.”</span> Dan (yang ketiga) adalah seorang wanita Bani Isroil yang menyusui anaknya, maka lewatlah seorang laki-laki mentereng penunggang kuda, maka si ibu berkata: Ya Alloh, jadikanlah anakku seperti dia.” maka sibayi pun mencopot tetek susunya dan melihat pada laki-laki penunggang kuda tersebut lalu berkata: Ya Alloh jangan engkau jadikan aku seperti dia. Kemudian dia kembali menyusu, kemudian lewatlah seorang budak wanita, maka ibunya berkata: Ya Alloh janganlah Engkau jadikan anakku seperti dia, maka sibayi meninggalkan susunya lalu berkata: Ya Alloh jadikan aku seperti dia.” Maka si ibu pun bertanya pada anaknya: Kenapa kok begitu ?  si anak menjawab: Penunggang kuda tadi adalah orang yang durjana, sedangkan budak wanita dituduh oleh orang-orang: Engkau mencuri, engkau berzina.” padahal dia tidak melakukannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori)</p>
</blockquote>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p>Kisah <strong>Ashhabul Ukhdud</strong> yang terdapat dalam <strong>Bukhori Muslim</strong>.</p>
<p>Diakhir kisah tersebut tatkala penduduk negeri tersebut masuk islam pasca matinya sang pemuda, maka sang raja dholim segera memerintahkan untuk membuat parit lalu dinyalakan api membara dan dia berkata: Barang siapa yang tidak mau murtad dari agamanya, maka akan dibakar dalam api ini, akhirnya orang-orang itu dibakar. Sampai tibalah giliran seorang wanita yang ngendong anak kecil. Wanita ini kelihatan agak bimbang untuk melemparkan diri ke kubangan api, maka anaknya berkata: Wahai ibuku, sabarlah, engkau berada diatas kebenaran.”</p>
<p>Dalam riwayat <strong>Ahmad</strong> dengan sanad shohih menurut syarat <strong>Muslim</strong> terdapat tambahan bahwa ibunya sedang menyusui anak tersebut.</p>
<h2>Faedah:</h2>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>Anak yang menjadi saksi antara <strong>Nabi Yusuf</strong> dengan istri sang raja, apakah dia anak kecil ataukah sudah besar ?</p>
<p><strong>Syaikh al Albani</strong> menjawab:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dhohir yang terdapat dalam al Qur’an tentang saksi tersebut adalah seseorang yang sudah dewasa dan bukannya anak bayi, karena seandainya dia masih bayi maka mestinya sekedar dia mengatakan bahwa istri al Aziz itu berdusta niscaya akan dirasa cukup untuk menjadi sebuah bukti paten, karena peristiwa semacam ini adalah sebuah mukjizat, dan tidak perlu membawakan sebuah bukti atas bersihnya nabi Yusuf dari tuduhan tersebut dengan mengatakan: Jika bajunya robek pada bagian depan, maka wanita itu benar an dan Yusuf berdusta, namun jika jika bajunya robek bagian belakang ….” Dan Imam Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan sanad yang semua perowinya tsiqoh bahwa saksi itu seorang yang sudah dewasa dan sudah tumbuh jenggotnya. Wallohu a’lam.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dhoifah no: 880 dengan sedikit diringkas)</p>
</blockquote>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p><strong>Syaikh Al Albani</strong> ditempat yang sama pun berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Apa yang terdapat pada sebagian kitab tafsir maupun lainnya bahwa yang juga bicara saat masih bayi adalah Ibrohim, Yahya dan Muhammad, ini sama sekali tidak ada asal usul sanadnya dari Rosululloh.”</p>
</blockquote>
<p>Wallohu a’lam</p>
<div id="sdfootnote1">
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> Masyithoh bukanlah sebuah nama seseorang, karena dalam bahasa arab 	masyithoh berarti tukang sisir, namun karena yang masyhur di 	Indonesia, bahwa masyithoh adalah nama tukang sisir putri Firaun, 	maka judul pembahasan saya buat seperti diatas.</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> Takhrij ini paduan dari dirosah <strong>Syaikh Al Albani</strong> dalam Adh Dho’ifah 	: 880 dan <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Tahdzirud Da’iyah di majalah At 	Tauhid Mesir.</p>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 23:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>
		<category><![CDATA[Talqin mayit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[A. Al Kisah Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata : “Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata : “Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F27%2Ftalqin-mayit%2F">
										</iframe>
										</div><h3><span style="color: #ff6600;">A. Al Kisah</span></h3>
<p>Diriwayatkan dari <strong>Sa’id bin Abdulloh Al Audi</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah kalian ratakan kuburannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata : Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab. Kemudian katakan : Wahai Fulan bin Fulanah, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian <a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-217" title="قبر" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg" alt="" width="155" height="78" /></a>katakan Wahai Fulan anaknya Fulanah, maka dia akan berkata : “Berilah aku petunjuk, semoga Alloh merohmati kalian.” Lalu hendaklah dia katakan : “Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan Nya, dan engkau ridlo Alloh sebagai robb mu, islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabi mu, al Qur’an sebagai imam mu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata : Pergilah, tidak usah duduk pada orang yang sudah di talqinkan hujjahnya.” Dengan ini semua maka Alloh akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya.”</p>
<p style="text-align: center;">Lalu ada salah seorang yang bertanya : “Wahai Rosululloh, Bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya ?</p>
<p style="text-align: center;">maka Rosululloh bersabda : &#8220;Nasabkanlah kepada Hawa’ , katakan fulan bin Hawa.”</p>
</blockquote>
<p><span id="more-209"></span></p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">B. Kemasyhuran kisah ini</span></h3>
<ul>
<li>Kisah inilah yang menjadi dasar berpijak orang-orang yang melakukan prosesi talqin setelah mayit selesai dikuburkan. Mereka duduk disisi kuburan lalu berkata : Wahai bapak / ibu fulan, engkau nanti akan didatangi dua malaikat, keduanya akan menanyakan kepadamu begini dan begitu….”</li>
</ul>
<ul>
<li>Mengingat bahwa perbuatan ini seakan-akan menjadi sebuah kelaziman di negeri kita ini, maka harus diketahui derajat hadits ini sehingga menjadi peringatan bagi semuanya.</li>
</ul>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">C. Derajat kisah</span></h3>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kisah ini Munkar</strong></span></p>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Takhrij kisah :</strong></span></p>
<ul>
<li>Diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Ad Du’a dan Mu’jam al Kabir 8/289 no : 7979 berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Uqoil Anas Al Khoulani</strong> berkata : &#8221; Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Ibrohim al Ala’</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Isma’il bin ‘Ayyasy</strong>, berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdulloh bin Muhammad Al Qurosyi</strong> dan <strong>Yahya bin Abi Katsir</strong> dari <strong>Sa’id bin Abdulloh al Audi</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kisah ini juga diriwayatkan oleh <strong>Al Khol’i</strong> dalam Al Fawa’id 2/55 dari <strong>Abu Darda’ Hasyim bin Muhammad al Anshori</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Utbah bin Sakan</strong> dari <strong>Abu Zakariya</strong> dari <strong>Jabir bin Sa’id Al Azdi</strong> berkata : Saya masuk menemui <strong>Abu Umamah Al Bahili</strong> saat beliau sedang sakarotul maut, &#8211; Kemudian beliau menyebutkan kisah diatas-.</li>
</ul>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Sisi kelemahan kisah ini :</strong></span></p>
<ul>
<li>Adapun sanad riwayat <strong>Ath Thobroni</strong>, maka sisi kelemahannya adalah banyaknya rowi yang majhul, sebagaimana dikatakan oleh <strong>Al Haitsami</strong> dalam Majma’uz Zawa’id 3/45.</li>
<li>Sedangkan riiwayat <strong>Al Khol’i</strong>, maka lebih parah lagi, karena selain banyaknya beberapa rowi yang majhul, ternyata <strong>Utbah bin Sakan</strong> adalah seorang yang ditinggalkan hadisnya bahkan tertuduh memalsukan hadits, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Daruquthni</strong> dan <strong>Baihaqi</strong>.</li>
<li>Oleh karena itulah,  hadits ini dilemahkan oleh para ulama’.</li>
<li>Berkata <strong>al Haitsami</strong> dalam al Majma’ 3/45 : Dalam sanadnya banyak perowi yang tidak saya kenal.</li>
<li>Berkata <strong>Ibnu Sholah</strong> : Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.</li>
<li><strong>Al Imam An Nawawi</strong> juga melemahkannya, sebagaima dalam Al Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan al Fatawa hal : 54.</li>
<li>Berkata <strong>Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah</strong> dalam Majmu’ Fatawa 24/296 : Hadits ini tidak dihukumi shohih.</li>
<li>Berkata <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad  1/523 : “Tidak shohih secara marfu’.&#8221; Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan : “Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”</li>
<li><strong>Imam Al Iroqi</strong> juga melemahkannya dalam takhrij Ihya’ 4/420.</li>
<li>Berkata <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari 10/563 : Lemah sekali.</li>
<li>Hadits ini juga dilemahkan oleh <strong>Zarkasyi</strong> dalam Al La’ali al Manstsuroh hal : 59, <strong>As Suyuthi</strong> dalam Ad Duror al Manstsuroh hal : 25 .</li>
<li>Berkata Imam <strong>Ash Shon’ani</strong> dalam Subulus Salam 2/114 : Dari keterangan para ulama’ tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits ini lemah, maka janganlah ada yang tetipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.”</li>
<li>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> : Kesimpulannya bahwa hadits ini munkar, jika bukan malah palsu.</li>
<li>Berkata Syaikh <strong>Abu Ishaq Al Huwaini</strong> : “Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits</li>
</ul>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan  : Inilah pengkhianatan Fulan bin Fulan.”</p>
<p>(HR. Bukhori Muslim)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Al Bukhori</strong> : “Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.”</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah <strong>Syaikh Al Albani</strong> : 599,  majallah At Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits asuhan <strong>Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini</strong>, serta rubrik Tahdzirud Da’iyah oleh <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Majalah Tauhid Mesir juga edisi Robiul Awal tahun 1428)</p>
</blockquote>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">D. Ganti yang Shohih</span></h3>
<p>Yang merupakan sunnah Rosululloh setelah menguburkan mayit adalah mendo’akan agar si mayit diampuni dosa-dosanya dan diberi kemantapan untuk bisa menjawab fitnah kubur. Sebagaimana hadits :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال: &#8221; كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال: استغفروا لاخيكم، وسلوا له التثبيت، فإنه الان يسإل &#8220;.</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Utsman bin Affan berkata : Apabila Rosululloh telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda : Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud 2/70, Hakim 1/370, Baiaqi 4/56, Abdulloh bin Ahmad dalam Zawaid Zuhd hlm : 129. Berkata Hakim : Sanadnya shohih dan disepakatai oleh Adz Dzahabi, berkata An Nawawi : Sanadnya bagus, Berkata syaikh Al Albani : hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hakim dan Dzahabi. Lihat Ahkamul Janaiz no : 107)</p>
</blockquote>
<h3><span style="color: #ff6600;">F. Faedah:</span></h3>
<p>Sebagian orang berdalih dengan dua kisah berikut untuk melegalkan talqin setelah mengubur mayit :</p>
<p><strong>1.Ucapan Amr bin Ash</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي</h2>
<p style="text-align: center;">“Jika saya meninggal dunia, maka jangan ada yang meratapiku, lalu jika kalian menguburku maka tibunlah akau dengan tanah, kemudian berdirilah sebentar sekedar waktu yang cukup untuk menyembelih seekor unta serta membagikan dagingnya sehingga saya bisa merasa tenang dengan kalian dan saya bisa mengetahui apa yang saya jawab untuk para utusan Robbku (malaikat).”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;">Kisah ini sama sekali bukan dalil talqin, hal ini bisa dilihat dari beberapa sisi :</span></p>
<ul>
<li>Kisah ini hanya mauquf kepada sahabat Amr bin Ash.</li>
<li>Setahu kami, tidak ada yang melakukan ini dari kalangan para sahabat lainnya.</li>
<li>Dalam kisah ini tidak ada perintah talqin.</li>
</ul>
<p><strong>2. Hadits Baro’ bin Azib</strong></p>
<p>Dari <strong>Baro’ bin Azib</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Kami keluar bersama Rosululloh untuk menguburkan jenazah salah seorang sahabat anshor, dan sampailah kami ke pekuburan ternyata lubang kuburnya belum digali, maka Rosululloh duduk menghadap ke kiblat dan kita pun duduk disekeliling beliau seakan-akan dikepala kami ada burung yang hinggap, Rosululloh memegang batang kayu dan menggaris-gariskannya ketanah, lalu beliau melihat ke langit lalu kebumi, beliau juga mengarahkan pandangan keatas kemudian menurunkannya, lalu beliau bersabda : &#8220;Berlindunglah kalian kepada Alloh dari adzab kubur.” lalu beliau berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari adzab kubur ( 3X ), kemudian beliau bersabda : -tentang perjalanan seseorang  mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia-</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih, HR. Abu Dawud , Hakim 1/37, Thoyalisi  : 753, Ahmad 4/287, Lihat takhrij secara lengkap pada Ahkamul Jana’iz oleh Imam Al Albani hal : 202)</p>
</blockquote>
<p>Hadits inipun sama sekali tidak bisa dibawa pada masalah talqin, karena beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Yang dilakukan oleh Rosululloh saat itu hanyalah memberikan wejangan kepada para sahabatnya tentang perjalanan seorang mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia.</li>
<li>Hal itu dilakukan oleh Rosululloh sebelum mayit dikuburkan, tapi beliau melakukannya saat liang lahat masih digali.</li>
</ul>
<p>(Lihat Subulus Salam oleh <strong>Imam Ash Shon’ani</strong> 1/577)</p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">G. Kapan talqin dilakukan ?</span></h3>
<p><strong>Yang merupakan sunnah Rosululloh, bahwa talqin dilakukan saat seseorang akan meninggal dunia</strong>, dengan cara memerintahkannya untuk mengucapkan kalimat ikhlash <span style="color: #ff0000;"><strong>La Ilaha Illalloh</strong></span>.<br />
Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya sabda beliau  :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لقنوا موتا كم لا إله إلا الله، (من كان آخر كلامه لا إله إلا الله عند الموت دخل الجنة يوما من الدهر، وإن أصابه قبل ذلك ما أصابه)</h2>
<p style="text-align: center;">“Talqinlah orang yang akan meninggal dunia diantara kalian dengan La Ilaha Illalloh. Barang siapa yang akhir ucapannya saat akan meninggal dunia La Ilaha Illalloh niscaya dia akan masuk surga suatu ketika, meskipun sebelumnya dia tertimpa sesuatu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Bazzar)</p>
</blockquote>
<p>Dari <strong>Anas</strong> berakata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Rosululloh pernah menjenguk salah seorang sahabat anshor. Beliau bersabda : Wahai paman, katakanlah La Ilaha Illalloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/152 dengan sanad shohih menuut syarat Muslim.)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">Lihat Ahkamul Jana’iz oleh <strong>Syaikh Al Albani</strong> (hlm : 19)</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</em></strong></p>
<p><strong><em>www.ahmadsabiq.com</em></strong></p>
<p><em><br />
</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 14:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Ja'ad bin Dirham]]></category>
		<category><![CDATA[Kholid Al-Qosri]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Kholid Al Qosri Menyembelih Ja’d bin Dirham? A. Muqoddimah Siapakah Ja’d bin Dirham ? Dia adalah gembong ahli bid’ah, Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa al Qur’an bukan kalamulloh namun makhluk, Dia pencetus bid’ah ta’thil, Dia menyatakan bahwa Alloh tidak punya tangan, tidak berbicara kepada nabi Musa, tidak menjadikan nabi Ibrohim sebagai kholil (kekasih) serta [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F04%2Fkritik-kisah-kholid-al-qosri%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><strong>Kholid Al Qosri Menyembelih Ja’d bin Dirham?</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-56" title="..." src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/gantung.jpg" alt="..." width="124" height="95" /></p>
<p><strong>A. Muqoddimah</strong></p>
<p><strong>Siapakah Ja’d bin Dirham ?</strong></p>
<blockquote>
<ul>
<li>Dia adalah <strong>gembong ahli bid’ah</strong>,</li>
<li>Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa <strong>al Qur’an bukan kalamulloh namun makhluk</strong>,</li>
<li>Dia pencetus bid’ah ta’thil,<span id="more-55"></span></li>
<li>Dia menyatakan bahwa Alloh tidak punya tangan, tidak berbicara kepada nabi Musa, tidak menjadikan nabi Ibrohim sebagai kholil (kekasih) serta penafian sifat Alloh lainnya.</li>
<li>Dia adalah <strong>guru Jahm bin Shofwan</strong>, yang kepadanyalah di nisbahkan sebuah kelompok sesat menyesatkan Jahmiyyah.</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">(tentang kehidupan dia selengkapnya bisa dilihat pada <em><strong>Bidayah wan Nihayah</strong></em> 10/19 , <em><strong>MIzanul I’tidal</strong></em> 1/399 <em><strong>Lisanul Mizan</strong></em> 2/105 dan lainnya)</p>
<p><strong>B. Al Kisah</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Kholid bin Abdulloh al Qosri</strong> (beliau adalah seorang gubernur Iraq pada masa pemerintahan Bani Umayyah) pada saat hari raya idul adhha selesai sholat berkhotbah dihadapan kaum muslimin seraya mengatakan : “ Wahai sekalian manusia, pulanglah kalian lalu sembelihlah binatang qurban, semoga Alloh menerima ibadah kurban kami dan kalian. Saya akan menyembelih Ja’d bin Dirham, karena dia mengatakan bahwa Alloh tidak mengambil nabi Ibrohim sebagai kholil dan tidak berbicara kepada nabi Musa. Maha tinggi Alloh atas apa yang dikatakan oleh JA’d bin Dirham ini.” Lalu beliau turun dan menyembelih Ja’d bin Dirham.”</p>
</blockquote>
<p><strong>C. Takhrij kisah <a href="#_ftn1">1</a></strong></p>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh:</p>
<ol>
<li><strong>Imam Bukhori</strong> dalam Tarikh Kabir no : 142, 542, dan Kholq af’alil ibad no : 3,</li>
<li><strong>Ibnu Abi HAtim</strong> dalam As Sunnah sebagaimana yang terdapat dalam Bidayah wan Nihayah 10/21,</li>
<li><strong>Ad Darimi</strong> dalam Ar Rod alal Jahmiyyah no : 13, 388, dan Ar Rod alal  bisyr al Marisi al Anid : 118,</li>
<li><strong>Al Ajurri</strong> dalam Asy Syari’ah : 97, 328,</li>
<li><strong>Al LAlika’I</strong> dalam Syarh ushulil I’tiqod no : 512,</li>
<li><strong>Baihaqi</strong> dalam sunan al KUbro 10/205,</li>
<li><strong>Ibnu Asakir</strong> dalam tarikh Dimasyq,</li>
<li><strong>Al Mizzi</strong> dalam tahdzibul Kamal 8/118,</li>
<li><strong>adz Dzahabi</strong> dalam Al uluw 99,100.</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Semuanya</strong> dari jalur <strong>Qosim bin Muhammad</strong> dari <strong>Abdur Rohman bin Muhammad bin HAbib</strong> dari bapaknya dari kakeknya <strong>HABib bin abi HAbib</strong>, dia berkata : Kholid bin Abdulloh al Qosri berkhutbah dihadaan kami di daerah WAsith pada hari raya idul adhha, dan dia berkata : …(lalu beliau menyebutkan kisah diatas).”</li>
</ul>
<p><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>D. Kemasyhuran kisah ini</strong></p>
<ul>
<li>Kisah ini sering berulang-ulang disebutkan dalam berbagai kitab tauhid, kisah ini selalu muncul dikebanyakan kitab yang menyebutkan tentang aqidah ulama’ salaf tentang kalamulloh. Dan yang mengisyaratakan atas kemasyhurannya adalah Imam Ibnu KAtsir dalam bidayah wan Nihayah 10/21. beliau berkata : “Kisah ini diriwayatkan oleh ….. dan banyak lagi dari kalangan ulama’ yang menulis kitab aqidah.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Adz Dzahabi saat menyebutkan biografi ja’d bin dirham ini dalam mizan I’tidal 1/399 begitu pula dengan Ibnu HAJar dalam lisan mizan 2/10 berkata : “Dia termasuk tabi’in, seorang ahli bid’ah sesat, dia mengatakan bahwa Alloh tidak menjadikan Ibrohim sebagai kholil juga tidak berbicara kepada MuSa.dia dibunuh di Iraq pada hari raya idul adhha. Dan kisahnya sangat mayhur.”</li>
</ul>
<p>.</p>
<p><strong>E. Sisi kelemahan kisah ini</strong></p>
<ul>
<li>Syaikh masyhur berkata : “sanad kisah ini lemah, bukan hanya satu rowi yang dipermasalahkan. Kisah ini berkisar pada jalur Qosim bin Muhammad, sedangkan dia seorang rowi yang dipermasalahkan, sedangkan Abdur Rohman dan bapaknya tidak dikenal.</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam Adz DZahabi dalam MIzan  3/387 berkata : “Qosim bin Muhammad bin HUmaid al MA’mari perowi kisah disembelinya ja’d bin Dirham, dia di tsiqohkan oleh Qutaibah. Namun YAhya bin MA’in berkata tentang dia :  Pendusta yang keji.</li>
<li>BErkata ad DArimi : dia bukan seperti yang dikatakan oleh YAhya (bin MA’in) saya pernah bertemu dengannya di Baghdad.</li>
</ul>
<ul>
<li>Adz DZahabi berkata: “Saya mengira bahwa dia hanya meriwayatkan kisah tentang ja’d ini saja. Dia diriwayatkan oleh Abkr al A’yun, hasan bin Shobbah, dan qutaibah. Wafat tahun 228 H)</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam Al LAlika’I membela qosim ini, seakan-akan beliau merasa bahwa dia bukanlah seorang yang dikenal riwayatnya. Beliau berkata : “Qosim bin Abu Sufyan ini adalah Qosim bin Muhammad bin HUmaid al MA’mari. Qutaibah bin sa’id meriwayatkan kisah ini dan mentsiqohkannya. Abbas bin Abu Tholib dan Hasan bin Shobbah juga meriwayatkan kisah ini darinya, dan dalam ceritanya hasan  dan Abbas bahwa kholid Al Qosri berkhutbah di daerah wasith.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Syaikh MAsyhur berkata : “Anggaplah kisah ini selamat dari qosim ini, maka dia tidak selamat dari perowi setelahnya, karena dalam riwayat ini juga ada Abdur Rohman bin Muhammad dan bapaknya, dan keduanya tidak dikenal</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam Adz DZahabi dalam mizan 3/299 berkata tentang Abdur Rohman ini : Dia tidak dikenal.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibnu HAJar mengatakan bahwa dia maqbul (bisa diterima). Maksudnya apabila ada yang menguatkannya, namun jika tidak maka dia itu lemah. Sedangkan bapaknya yaitu Muhammad bin HAbib adalah seorang yang majhul (tidak dikenal). Sebagaimana yang dikatakan oleh Adz DZahabi dalam Mizan 4/428 dan Ibnu Hajar dalam taqrib tahdzib 473</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam ibnu Abi HAtim berkata dalam jarh wat ta’dil no : 1246 berkata : saya menanyakan tentang dia pada bapakku : maka beliau menjawab : “Saya tidak mengenalnya.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqot 9/55 dan al Mizzi dalam TAhdzibul KAmal mengisyaratkan bahwa hanya dia yang meriwayatkan kisah ini.</li>
</ul>
<p><strong>F. Jalan lain kisah ini</strong></p>
<ul>
<li>Imam Adz DZahabi dalamal Uluw no : 100 berkata : “Saya membaca dalam kitab Ar Rod alal JAhmiyyah oleh Abdur Rohman bin Abu HAtim ar Rozi : “Telah menceritakan keada kami ISa bin Abu Imron Ar Romli , telah menceriakan kepada kami Ayyub bin Suwaid dari sirri bin YAhya berkata : “Kholid Al Qosri berkhutbah dihadaan kami seraya berkata : “Pulanglah kalian untuk menyembelih binatang kurban kalian, semoga Alloh menerima kurban kalian, karena saya akan menyembelih ja’d bin Dirham.” Lalu beliau menyebutkan kisah diatas.”</li>
</ul>
<p><strong>Syaikh MAsyhur</strong> berkata : “Kisah ini <strong>sangat lemah sekali</strong>. Dia memiliki <strong>dua cacat</strong> :</p>
<ul>
<li>Pertama : Isa bin Abu Imrom Adz DZahabi.</li>
</ul>
<blockquote><p>Ibnu ABi HAtim dalam Al JArh wat ta’dil berkata : saya pernah menulis darinya di Romlah, lalu bapakku melihat haditsnya lalu beliau berkata : “HAditsnya menunjukkan bahwa dia bukan orang yang jujur.” Maka sayapun meninggalkan meriwayatkan darinya.”</p></blockquote>
<ul>
<li>Kedua : Ayyub bin suwaid</li>
</ul>
<blockquote><p>Dia seorang yang <strong>jujur</strong> namun <strong>banyak salah</strong> sebagaimana yang dikatakan oleh Al HAfidz ibnu HAjar dalam Taqrib Tahdzib.</p></blockquote>
<blockquote><p>Bahkan <strong>sebagian</strong> para <strong>ulama</strong> menuduhnya <strong>berdusta</strong>. Abdulloh bin MUbarok berkata : Tuduhlah dia berdusta.<strong> Imam Bukhori</strong> berkata : para ulama’ mempermasalahkannya . <strong>Ibnu MA’in</strong> berkata : Dia tidak ada apa-apanya.</p></blockquote>
<p><strong>Syakh masyhur</strong> berkata, &#8220;Dan di antara yang <strong>semakin menunjukkan atas kelemahan</strong> kisah ini adalah:</p>
<ul>
<li>Pertama : Sanad kisah ini berkisar pada para perowi yang lemah dan tidak dikenal,  berarti kisah ini <strong>tidaklah shohih menurut standart para ulama’ jarh dan ta’dil</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua : <strong>Biografi</strong> Kholid bin Abdulloh al Qosri <strong>penuh dengan kegelapan</strong>. Ada prediksi kuat bahwa dia seorang yang dholim. Oleh karena itu Adz DZahabi dalam siyar 5/432 setelah menyebutkan kisah ini  mengatakan : “Ini adalah diantara kebaikannya.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Ketiga : bukan merupakan kepentingan orang-orang semacam kholid al Qosri  saat itu untuk melakukan hal ini, yang mana ini <strong>tidaklah dilakukan kecuali oleh orang yang meyakini aqidah yang benar</strong>. Sedangkan para kholifah dan gubernur pada zaman Bani umayyah saat itu jauh sekali untuk sampai membunuh  dengan sebab semacam ini. Oleh karena itu sebagian  pengamat mengatakan bahwa pembunuhan ja’d ini hanyalah karena <strong>sebab politik</strong> bukan sebab kesesatan aqidahnya</li>
</ul>
<ul>
<li>Keempat :<span style="color: #ff0000;"> </span><strong><span style="color: #ff0000;">yang penting</span> bagi kita disini adalah menetapkan bahwa kisah ini dengan sebab tersebut <span style="color: #ff0000;">tidak sampai kepada kita dengan sanad yang bersih.</span></strong></li>
</ul>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Bab takhrij, kemasyhuran dan sisi kelemahan kisah  diterjemahkan dari Qoshoshun la tatsbut oleh Syaikh MAsyhur bin HAsan Alu Salman dengan sedikit ringkasan dan perubahan</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
