<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Muslimah</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/tag/muslimah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 07:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Istri Rosululloh adalah Ibu bagi Kaum Laki-Laki yang Beriman Saja Ataukah juga Ibu bagi Kaum Wanita yang Beriman  ? . Masalah ini muncul karena telah shohih dari Aisyah bahwasanya ada seorang wanita yang datang kepada beliau seraya berkata : Wahai ibuku.” Maka beliau berkata : “Saya adalah ibu  dari kaum laki-laki diantara kalian dan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F22%2Fibu-kaum-mukminin-3%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><strong>Apakah Istri Rosululloh adalah Ibu bagi Kaum Laki-Laki yang Beriman Saja Ataukah juga Ibu bagi Kaum Wanita yang Beriman  ?</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">Masalah ini muncul karena telah shohih dari Aisyah bahwasanya ada seorang wanita yang datang <img class="alignright size-full wp-image-120" title="bunga // ahmadsabiq.com" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga.jpg" alt="bunga // ahmadsabiq.com" width="150" height="112" />kepada beliau seraya berkata : Wahai ibuku.” Maka beliau berkata : “Saya adalah ibu  dari kaum laki-laki diantara kalian dan bukan ibu bagi kaum wanita.”</p>
<p>(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa&#8217;d dalam Ath Thobaqot al Kubro 8/64 dan Baihaqi dalam  Sunan Al Kubro 7/70)<span id="more-117"></span></p></blockquote>
<p style="text-align: left;">Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini menjadi dua pendapat, yaitu :</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pertama</strong> : istri Rosululloh hanya ibu bagi kaum laki-laki saja</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ini adalah madzhab Imam Ibnul Arobi dan saIah satu madzhab Imam Syafi’i (Lihat Tafsir Ibnu katsir 6/381 dan Ahkamul Qur’an oleh Ibnul Arobi 3/542)</li>
</ul>
<ul style="text-align: left;">
<li>Mereka berdalil dengan ucapan Ummul Mu’minin Aisyah diatas.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><strong>Kedua</strong> : Mereka adalah ibu kaum mu’minin baik yang laki-laki maupun wanita</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Mereka berdalil dengan <strong>ucapan Ummu Salamah</strong> :</li>
</ul>
<blockquote style="text-align: left;"><p>“Saya adalah <strong>ibu kalian</strong> baik yang <strong>laki-laki</strong> maupun <strong>wanita</strong>.”</p>
<p>(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thobaqot sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam Ad Dur Al Mantsur)</p></blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong>Imam Al Qurthubi</strong> berkata:</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">“Yang nampak bagiku bahwa mereka adalah ibu bagi kaum laki-laki dan wanita, karena keagungan hak mereka baik atas laki-laki maupun wanita, yang menunjukkan atas hal ini adalah firman Allloh di permulaan ayat : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” Sedangkan ini mencakup laki-laki dan wanita, juga ditunjukan oleh hadits Abu Huroiroh dan Jabir, oleh karena itu maka firman Alloh : Dan istri-istrinya adalah ibu kalian.” Itu kembalinya kepada semua.” (Tafsir Qurthubi 14/84)</p>
</blockquote>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ditambah lagi dengan bacaan <strong>Ubay bin Ka&#8217;b</strong> dan <strong>Ibnu Abbas</strong> yang menyatakan bahwa Rosululloh adalah bapaknya kaum mu’minin dan ini secara pasti bagi kaum laki-laki dan wanita maka begitu pula halnya dengan istri-istri mereka.</li>
</ul>
<ul style="text-align: left;">
<li>Syaikh <strong>Abdur Rozzaq al Abbad</strong> berkata:</li>
</ul>
<blockquote style="text-align: left;"><p>“Pendapatnya Imam Al Qurthubi inilah yang lebh rajih, meskipun bisa saja kita gabungkan antara apa yang diriwayatkan dari Aisyah dengan yang datang dari Ummu Salamah, dengan cara kita katakan:</p>
<ul>
<li>“<em>Kalau yang dimaksud dengan keibuan disini adalah haramnya menikah dengan mereka sepeninggal Rosululloh , juga haramnya melihat dan berkhlowah  dengan mereka, maka ini hanya berlaku bagi kaum laki-laki saja</em>.&#8221;</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun jika yang dimaksud dengan keibuan disini adalah kewajiban menghormati  dan menjalankan hak-hak mereka maka ini berlaku bagi kaum lak-laki dan wanita, maka barangkali yang dimaksud oleh Ummul Mu’minin Aisyah adalah mana yang pertama sedangkan yang dimaksud oleh Ummu Salamah adalah makna yang kedua.”</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8212;-bersambung&#8212;-</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Lihat Artikel Sebelumnya:</strong></p>
<ol>
<li><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/"><strong>Istri Rasululullah adalah Ibu Kaum Mukminin, bag. I [ Sisi Keibuan Istri Rasulullah ] </strong></a></li>
<li><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/"><strong>Istri Rasululullah adalah Ibu Kaum Mukminin, bag. II [ Apakah Rasulullah Boleh Disebut Bapak Kaum Mukminin? ]</strong></a></li>
</ol>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 11:54:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Pembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala dalam surat al Ahzab ayat 6 : النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَآئِكُم مَّعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F13%2Fistri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: left;"><strong>Pengantar</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-87" title="ahmad sabiq abu yusuf" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ummul-mukminin1.jpg" alt="ahmad sabiq abu yusuf" width="116" height="116" />Pembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala  dalam surat al Ahzab ayat 6 :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَآئِكُم مَّعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا</strong><strong> </strong></p>
<p>“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Alloh daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik  kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Alloh).”<span id="more-86"></span></p>
<p>Dalam ayat ini Alloh Ta’ala menyebut istri-istri Rosululloh sebagai ibunya kaum mukminin.</p>
<ol>
<li>Apakah yang dimaksud dengan keibuan disini ?</li>
<li>Bagaimana konsekuensinya?</li>
<li>Apa yang harus kita lakukan untuk memenuhi hak mereka?</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al Abbad</strong> telah mengupasnya dengan bagus dalam risalah beliau tersebut, dan inilah kesimpulannya .</li>
</ul>
<h3>I. Sisi keibuan istri-istri Rosululloh</h3>
<p>Secara tegas Alloh menyebut istri-istri Rosululloh sebagai ibunya kaum mu’minin, padahal dalam ayat lainnya Alloh Ta’ala menyebutkan bahwa yang dinamalkan dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita. Sebagaimana dalam firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلاَّ الَّئِى وَلَدْنَهُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Tidaklah ibu-ibu mereka itu kecuali yang telah melahirkan mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Mujadilah : 2)</p>
</blockquote>
<p><strong>II. Lalu apa yang dimaksud dengan keibuan bagi ummat islam ini ?</strong></p>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Jarir</strong> menukil dari<strong> Qotadah</strong> bahwa beliau berkata  tentang ayat ini : “Alloh mengagungkan kedudukan para istri Rosululloh dengan sebutan ini.” (Tafsir Ibnu Jarir 11/122)</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Qotadah</strong> juga pernah berkata  : “Mereka adalah<strong> ibu ummat islam</strong> dalam<strong> sisi kehormatannya</strong>, dan tidak halal bagi seorang muslimpun untuk menikah dengan salah seorang dari mereka pada masa hidup Rosululloh seandainya beliau menceraikanya juga sepeninggal Rosululloh. Pernikahan ini harom atas setiap muslim sebagaimana keharaman menikah dengan ibunya sendiri.” (Lihat Ad Durrul Mantsur oleh As Suyuthi 21/566)</li>
</ul>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Syafi’i </strong>: “Firman Alloh :”Mereka adalah ibunya kaum mukminin.” Ini Cuma berlaku pada sebagian makna keibuan saja, maksudnya adalah tidak halal bagi kaum mukminin menikah dengan mereka namun tidak haram menikah dengan  anak-anak wanita mereka seandainya ada, tidak sebagaimana keharaman menikah dengan anak-anak wanita ibu yang telah melahirkan atau menyusui mereka.</li>
</ul>
<p><strong>Kalau ada yang bertanya</strong> : <em>Apa yang menjadi dasar pemahaman ini ? </em></p>
<p><strong>kami jawab</strong> :</p>
<blockquote><p>Dasarnya adalah Bahwa Rosululloh menikahkan putri beliau Fathimah dengan Ali, menikahkan  Ruqoyyah dan Ummu Khultsum dengan Utsman bin Affan, Zainab binti Ummu Salamah juga menikah, Zubair bin Awam menikah dengan putrinya Abu Bakr dan Thohah bin Ubaidilah menikah dengan putrid beliau lainnya, padahal keduanya adalah saudara ummul mu’minin serta Abdur Rohman bin Auf menikah dengan putrinya Jahsy padahal dia adalah saudaranya Ummul MU’minin Zainab nbinti Jahsy. Para ummahatul mu’minin itu tidak bisa mewarisi kaum mumin begitu pula sebailknya , mereka disebut sebagai ibu karena kedudukan  dan hak mereka atas ummat islam serta tidak bolehnya menikah dengan mereka.” (Lihat Al Umm 5/151)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> : “Ummat islam telah sepakat  atas haramnya menikah dengan  mereka setelah wafatnya Rosululloh, dan atas wajibnya menghormati mereka, karena mereka adalah ibunya ummat islam dari sisi kehormatan dan bukan dari sisi kemahroman, oleh karena itu tidak boleh untuk kholwat dengan mereka sebagaimana kholwatnya sseorang dengan salah satu mahromnya.dari sinilah maka mereka diperintahkan untuk memakai hijab, sebagaiman firman Alloh :</li>
</ul>
<h2 style="text-align: center;">يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ</h2>
<p style="text-align: center;">Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istrinya kaum mu’minin agar mereka menurunkan jilbab-jilbab mereka, karena hal ini lebih dekat agar mereka dikenali dan tidak disakiti.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 59)</p>
<p>Juga firman Nya :</p>
<h2 style="text-align: center;">الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَاكَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللهِ وَلآَأَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللهِ عَظِيمًا</h2>
<p style="text-align: center;">“Kalau kalian minta sesuatu kepada mereka (istri Rosululloh) maa mintalah dari balik hijab. Karena yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka, dan tidak patut bagi kaian untuk menyakiti Rosululloh dan janganlah kalian menikah dengan istri-istrinya setelah wafatny beliau selamanya karena itu adalah sebuah perkara yang besar disisi Alloh.”” (QS. Al Ahzab : 53).”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Minhajus sunnah 4/369)</p>
<ul>
<li>Ucapan yang senada dengan ini semua dikatakan oleh <strong>Imam Ibnu Katsir</strong> dan <strong>Al Qurthubi</strong>, <strong> Asy Syinqithi</strong> serta ulama’ tafsir lainnya.</li>
</ul>
<p>Dengan keterangan ini dapat kta ketahui  bahwa  keberadan mereka sebagai ibu kaum mu’minin tidak bertentangan dengan firman Alloh yang menyatakan bahwa yang dinamakan dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita, karena <strong>ibu dalam islam ada dua macam</strong>, yaitu :</p>
<p><strong>Pertama : Keibuan dari sisi agama</strong></p>
<ul>
<li>Dan ini cuma berlaku pada istri-istri Rosululloh , karena mereka adalah istri Rosululloh yang merupakan bapak dari seluruh ummat islam, juga karena mereka telah berjuang sekuat tenaga untuk menyebarkan hadits-hadits beliau  serta perbuatannya mereka lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dengan ini semua maka wajib untuk menghormati dan menjalankan hak-hak mereka sebagaimana kedudukan seorang ibu.</li>
</ul>
<ul>
<li>Keibuan ini  berkonsekwensi haramnya menikah dengan mereka namun tidak saling mewarisi dan tidak bisa menjadi mahrom sebagaiman keterangan para ulama’ diatas.</li>
</ul>
<p><strong>Kedua : Keibuan dari sisi nasab</strong></p>
<ul>
<li>Inilah yang dimaksud oleh firman Alloh dalam surat Al Mujadilah : 2 , yakni <strong>yang dimaksud dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita</strong>. Adapun kewajiban dan hak-hak mereka sangat masyhur dalam bebagai kitab. (lihat Taisir  Karimir Rohman oleh Syaikh Abdur Rohman As Sa’di 6/98)</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>&#8212;bersambung&#8212;</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>CATATAN</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Pembahasan ini disarikan dari Risalah “<strong><em>Ta’ammulat fi qoulihi Ta’ala : Wa Azwajuhu ummahatuhum</em></strong>.” Oleh <strong>Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al Abbad Al Badr</strong> Hafidlohulloh Ta’ala dengan beberapa tambahan dari referensi lainnnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://abiubaidah.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Pengantar Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir Armin [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F11%2Fkeagungan-wanita-dalam-naungan-islam%2F">
										</iframe>
										</div><p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-76" title="keagungan wanita dalam naungan Islam" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga-indah.jpg" alt="keagungan wanita dalam naungan Islam" width="124" height="124" />Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “<em><strong>Door Duisternis Tot Licht</strong></em>” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir <strong>Armin Pane</strong> dengan judul <em><strong>“Habis gelap terbitlah terang”</strong></em>, yang nama ini semua dijadikan sebuah simbol perjuangan wanita untuk memperjuangkan hak–hak mereka yang terdholimi.</p>
<p><span id="more-75"></span>Namun yang menjadikan kita harus mengurut dada, adalah lontaran dan celotehan kotor dari sebagian orang yang mengatakan bahwa agama slam tidak menghormati wanita, dan beberapa hukum islam mendlolimi wanita ? Fasubhanalloh, tahukah mereka hakekat yang mereka ucapkan, ataukah ini hanya membeo pada ucapan orang-orang kafr barat yang memang sangat gencar menyerang islan dengan berusaha memburukanya citra dan keagungannya.</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku , islam datang untuk membawa rohmat bagi seluruh alam, sebagamana firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rohmat bagi seluruh alam.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS.  Al Anbiya’ : 107)</p>
</blockquote>
<p>Wanita adalah bagian utama dalam kehidupan dialam semesta, tidak akan baik sebuah kehiduan tanpa pengagungan dan penghormatan kepada mereka, lalu akankah islam mendloliminya ? Tidak  wallohi tidak.</p>
<p>Dari sini marilah kita telusuri bagaimana sebenarnya islam memperlakukan kaum hawa, baik saat menjadi apapun dia, baik saat masih sebagai seorang anak, menjadi ibu, menjadi saudara wanita, menjadi bibi  atau lainnya.</p>
<p>Mudah-mudahan Alloh memberikan taufiq Nya dan menghilangkan syubuhat kotor yang terpolusi oleh hitamnya isu persamaan gender dan emansipasi.</p>
<p><strong>A. Saat Menjadi Anak</strong></p>
<p>Pada zaman Jahiliyyah, menjadi anak wanita benar-benar terhina, orang tua mereka tidak senang dengan kehadirannya bahkan mereka tega membunuhnya dengan menguburnya hidup hidup. Perhatikanlah gambaran qur’ani berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Dan apabila seseorang dari mereka  diberi khabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan  dirinya dari orang banyak, disebabkan burknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya  dengan menangung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah  hidup-hidup ? ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl: 58, 59)</p>
</blockquote>
<p><strong>Al Hafidl Ibnu Hajar</strong> menyebutkan bahwa orang-orang jahiliyyah saat mengubur hidup-hidup anak wanitanya, mereka menggunakan dua cara :</p>
<ul>
<blockquote>
<li>Pertama : Dia memerinthakan istrinya apabila akan melahirkan  supaya berada di dekat sebuah kubangan, lalu apabila  yang lahir adalah laki-laki maka dia membiarkanya, namun apabila perempuan maka segera dilempar ke kubangan tersebut.</li>
</blockquote>
</ul>
<ul>
<blockquote>
<li>Kedua : Ada sebagian lain, yang membiarkan anak wanitanya hidup sampai sekitar umur enam tahun, lalu saat itu dia berkata kepada istrinya : “Hiasilah dan berilah wewangian pada anak ini, saya akan ajak dia mengunjungi kerabat kita”.  Ternyata anak tersebut di bawa ke tangah padang pasir sehingga sampai ke sebuah sumur, lau dia berkata kepada anak wanita tersebut : Lihatlah kedalam sumur ini.” Dan akhirnya dia mendorong anaknya sehingga jatuh kedalamnya. (Lihat Fathul Bari 10/421)</li>
</blockquote>
</ul>
<p>Namun hal itu sangat berbeda dengan islam yang menganggap bahwa kelahiran seorang anak wanita adalah sebuah kenikmatan agung, dan islam memerintahkan untuk memperhatikan serta mendidik mereka, dan islam memberikan balasan besar bagi yang melakukannya.</p>
<blockquote><p>Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">عن عقبة بن عامر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من كان له ثلاث بنات فصبر عليهن وأطعمهن وسقاهن وكساهن من جدته كن له حجابا من النار يوم القيامة</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Uqbah bin Amir berkata : &#8220;Saya mendengar Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang mempunyai <strong>tiga orang anak wanita</strong> lalu sabar menghadapinya dan memberinya pakaian  dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi p<strong>enghalang baginya dari nereka</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ibnu Majah  : 3669, Bukhori dalam adab Mufrod : 76 dan Ahmad 4/154 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 294)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Anas bin Malik berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang <strong>memelihara dua anak wanita</strong> sehingga baligh, maka dia akan datang pada hari kiamat  dan saat itu saya dan dia seperti ini.” Lalu Rosululloh menyatukan antara jari-jari beliau.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 2631)</p>
</blockquote>
<p>Dan pada riwayat lain dari Jabir bin Abdillah, Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">من كن له ثلاث بنات يؤويهن و يرحمهن و يكفلهن وجبت له الجنة البتة . قيل : يا رسول الله ! فإن كانت اثنتين ؟ قال : و إن كانت اثنتين . قال : فرأى بعض القوم أن لو قالوا له : واحدة ؟ لقال : واحدة &#8220;</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Barang siapa yang memiliki tiga <strong>anak wanita</strong> lalu memelihara, mengasih sayanginya dan menanggung  hidupnya maka dia pasti masuk surga. Lalu ada yang bertanya : Ya Rosululloh , bagaimana kalau hanya dua ? beliau menjawab : Meskipun hanya dua. Maka ada sebagian orang yang mengatakan bahwa seandainya mereka bertanya : Bagamana kalau Cuma satu, niscaya Rosululloh akan menajawabnya : Meskipun Cuma satu.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/303, lihat Ash Shohihah : 2679)</p>
</blockquote>
<p><strong>B. Saat Menjadi Ibu</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi ibu, maka syariat islam benar-benar menghormati dan mengagungkannya. Hal ini sangat nampak sekali dengan wajibnya seorang anak berbakti pada ibunya, berbuat baik padanya, larangan menyakitinya dengan cara apapun, mendoakan kebaikan baginya serta berbagai hal lain yang membawa kebahagiaan serta kehormatan dirinya.</p>
<p>Salah satu gambarannya adalah firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Dan Tuhanmu telah memerintahan supaya kamu jangan menyemba selain Diadan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut  dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan  kepada keduanya perkataan “Ah”dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Ya Alloh, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl : 23, 24)</p>
</blockquote>
<p>bahkan islam lebih mendahulukan menghormati ibu daripada bapak. Sebagaimana hadits berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8220;Datang seseorang kepada Rosululloh lalu bertanya : Wahai Rosululloh, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik padanya ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">Dia bertanya lagi : Lalu siapa ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">dia bertanya lagi : Lalu siapa ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh kembali menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">lalu dia bertanya lagi : Lalu siapa? Rosululloh menjawab : Bapakmu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5971, Muslim : 2548)</p>
</blockquote>
<p>Syariat islam juga menjadikan berbuat bakti kepada orang tua termasuk diantara  amal perbuatan yang paling mulia. Dan ini sangat jelas tergambar dalam beberapa hadits Rosululloh , diantaranya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : &#8221; Saya bertanya kepada Rosululloh : Apakah amal perbuatan yang paling dicintai oleh Alloh ? Rosululloh menjawab : Sholat tepat pada waktunya. Saya bertanya lagi : Lalu apa ? Beliau menjawab : Berbakti kepada kedua oang tua.” Lalu apa lagi : Jihad fisabilillah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5970, Muslim : 85)</p>
</blockquote>
<p>Islam juga menjadikan durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abdur Rohman bin Abu Bakroh dari bapaknya berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Maukah kalian saya tunjukkan kepada perbuatan dosa yang paling besar ? Para sahabat mengatakan : Wahai Rosululloh, Beliau bersabda : &#8220;Berbuat syirik kepada Alloh, durhaka kepada kedua orang tua.” Dan saat itu duduk padahal sebelumnya bersandar : hati-hatilah kalian dengan sumpah palsu.” Rosululloh selalu mengulang-ulanginya sehingga kami mengatakan : Duh, seandainya beliau mau diam.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5976, Muslim : 87)</p>
</blockquote>
<p><strong>C. Saat  Menjadi Istri</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi  istri, maka syariat islam pun sangat memperhatikan hak-haknya serta sangat menghargai dan menghormatinya. Diperintahkan seorang suami untuk berbuat baik kepadanya, tidak menyakitinya, bersabar atas segala kekurangannya, berbuat baik kepada keluarganya, memberinya nafkah dengan cara yang baik, menjaga kehormatannya dan lain sebagainya.</p>
<p>Cukuplah itu semua masuk dalam perintah Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nisa’ : 19)</p>
</blockquote>
<p>Dan perhatikanlah beberapa hadits berikut, niscaya engkau akan mengetahui bagaimana islam sangat menghormati seorang istri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : “ Rosululloh bersabda : &#8220;Berbuat baiklah kalian kepada istri, karena dia <strong>diciptakan dari tulang rusuk</strong>, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, kalau  <strong>engkau meluruskannya berarti engkau mematahkanya namun jika engkau biarkan maka dia akan selalu bengkok</strong>, oleh karena itu berbuat baiklah kalian kepada para istri.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3331, Muslim : 1468)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh  berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, <strong>sebaik-baik kalian yang paling baik terhadap istrinya</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 2/250, Abu Dawud : 4682, Tirmidzi : 1162 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّه قال : قال رسول الله :  فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya Rosululloh bersabda saat khutbah haji wada’ : “Takutlah kalian kepada Alloh tentang urusan istri kalian, karena kalian mengambilnya dengan amanat dari Alloh, dan kalian halalkan farjinya dengan kalimat Alloh, maka hak kalian atas mereka adalah agar mereka kaum istri jangan mengizinkan orang yang kalian benci masuk rumah kalian, kalau sampai mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti, sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berikan nafkah serta pakaiannya dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 1218)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8221; Rosululloh bersabda : &#8220;J<strong>anganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang wanita mu’minah, karena jika dia melihat ada akhlaknya yang tidak disenangi, niscaya dia akan menemukan akhlak lain yang dia senangi</strong>.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 1469)</p>
<p><strong>D. Saat Sebagai Kerabat</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi kerabat, baik sebagai saudara, bibi , keponakan maupun saudara sepupu, maka syariat Alloh dan Rosulnya pun tetap menghormati dan mengagungkannya.</p>
<p>Kaum muslimin diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, di perintah untuk menyambung hubungan kekerabatan, menjaga hak-hak mereka serta lainnya.</p>
<p>Perhatikanlah beberapa nash berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن المقدام بن معد يكرب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الله يوصيكم بأمهاتكم ثلاثا إن الله يوصيكم بآبائكم إن الله يوصيكم بالأقرب فالأقرب .</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Dari Miqdam bin Ma’dikarib bahwasannya Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh berwasiat kepada kalian untuk <strong>berbuat baik kepada ibu-ibu kalian </strong>(tiga kali) , Sesungguhnya Alloh berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, sesungguhnya Alloh berwasiat untuk berbuat baik dengan keluar yang terdekat kemudian yang dekatnya lagi.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori dalam Adab Mufrod : 60, Ibnu Majah : 3661 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 1666)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya orang yang masih punya hubungan keluarga adalah kerabat erat dari Alloh, maka Alloh berfirman : Barang siapa yang menyambungmu maka Aku akan menyambungnya, dan barang siapa yang memutusmu  maka Aku akan memutusnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori  : 5989, Muslim : 2555)</p>
</blockquote>
<p><strong>E. Saat Menjadi Orang Lain</strong></p>
<p>Sampaipun saat seorang wanita hanya menjadi orang lain yang tidak memmpunyai hubungan kekeluargaan dengannya, maka islam masih sangat menghargai dan menghormatinya.</p>
<p>Sebagai sebuah gambaran mudah. Islam memerintahkan untuk <strong>memberikan bantuan saat ada seorang wanita yang membutuhkan</strong>, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ</p>
<p style="text-align: center;">“Orang yang berusaha <strong>membantu para janda</strong> dan orang miskin maka dia berada dijalan Alloh atau seperti orang yang sholat malam dan puasa siang hari.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6007, Muslim : 2982)</p>
</blockquote>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Inilah sekelumit dari samudra keagungan wanita dalam naungan syariat islam, lalu setelah ini semua, masihkah ada orang yang berani untuk mengatakan bahwa islam mendholimi wanita dan tidak memberikan hak-hak mereka ? Mudah-mudahan Alloh tidak menjadikan kita sebagai orang yang buta hati dan akal. <em>Wallohu a’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 06:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf 1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki Rosululloh bersabda : إنما النساء شقائق الرجال “Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya Namun sesuatu yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F06%2Fpernak-pernik-hukum-wanita%2F">
										</iframe>
										</div><p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-65" title="dunia wanita" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/uhibbuka-fillah-3.jpg" alt="dunia wanita" width="95" height="125" /></p>
<p><strong>1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki</strong></p>
<p>Rosululloh bersabda :<span id="more-64"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">إنما النساء شقائق الرجال</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”</strong></p>
</blockquote>
<p>Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya</p>
<p>Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah, karena memang bagaimanapun wanita itu bukan laki-laki, sebagaimana firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Dan laki-laki itu bukan seperti wanita.”</strong></p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ali Imron : 36)</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Mushthofa Al Adawi </strong>berkata:</p>
<blockquote><p>“Hadits di atas berlaku secara umum bagi sebuah masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita maka maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri pada wanita begitu pula hukum tersendiri pada laki-laki.</p></blockquote>
<p><strong>Contoh</strong> :</p>
<ul>
<li>Jangan ada seorangpun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki hanya karna berdasarkan hadits diatas, ini adalah sebuah pendapat yang sangat munkar.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jangan pula ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki, ini adalah sebuah kesalahan nyata.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/12 dengan diringkas)</p>
<p style="text-align: left;">
<p><strong>2. Dzikir yang Menggunakan Lafadz Mudzakkar (maskulin-ed) Apakah Boleh Diucapkan oleh Seorang Wanita dengan Lafadz  Mu’anats (feminin-ed)?</strong></p>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam</strong> pernah ditanya tentang seorang wanita yang mendengar sabda Rosululloh berdo’a :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي عَبْدُك وَابْنُ عَبْدِك نَاصِيَتِي بِيَدِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (laki-laki) Mu dan anak dari hamba (laki-laki) Mu, ubun-ubunku berada diTangan Mu…..”</p>
<p>lalu wanita tersebut selalu mengucapkan dengan lafadz ini, kemudian ada yang mengatakan kepadanya : Katakanlah :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ أَمَتِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu  dan anak wanita dari hamba (wanita) Mu……”</p>
<p>namun wanita tersebut tetap menggunakan lafadz hadits diatas, apakah ini sebuah kesalahan ataukah bukan ?</p></blockquote>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam</strong> menjawab : “Yang <strong>seharusnya dilakukan oleh wanita tersebut</strong> adalah mengucapkan :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ عَبْدِك ابْنِ أَمَتِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu dan saya adalah anak wanita dari hamba (laki-laki) Mu yang merupakan anak laki-laki dari hamba (wanita) Mu …”</p>
<p>maka ini adalah lebih baik dan lebih utama. Meskipun kalau dia mengucapkan : <strong>عَبْدُك ابْنُ عَبْدِك</strong>. maka itu ada sisi benarnya dalam bahasa arab seperti lafadz : <strong>Zauj</strong> <a href="#_ftn1">1</a>. <em>Wallohu a’lam</em></p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 22/488)</p>
</blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>3. Sholat membawa anak kecil</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Qotadah al Anshori bahwasannya Rosululloh sholat sambil membawa Umamah putri Zainab binti Rosululloh dengan Abul Ash bin Robi’ah bin Abdu Syams, lalu apabila Rosululloh sujud beliau meletakkannya dan apabila berdiri maka beliau menggendongnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Nawawi</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<ul>
<li>“Hadits ini menunjukkan pada pendapatnya <strong>Imam Syafi’i</strong> serta para ulama’ yang mengikuti beliau. Bahwa boleh membawa anak laki-laki ataupun wanita juga binatang suci saat sholat wajib maupun sholat sunnah, dan ini boleh dilakukan oleh imam, ma’mum maupun yang sholat sendirian.</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun para ulama’ <strong>Malikiyyah</strong> membawa hadits ini pada sholat sunnah saja, dan mereka melarang melakukan itu pada sholat wajib. Ini adalah sebuah ta’wil yang salah karena lafadz : Beliau mengimami manuisa.” (sebagaimana dalam riwayat lainnya –pent) adalah sebuah keterangan yang tegas menunjukkan bahwa beliau dalam sholat wajib. Maka yang benar dalam masalah ini bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya dilakukan oleh kita dan kebolehan ini berlaku sampai hari kiamat.”</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>4. Wanita yang Sudah Menikah Lalu Berkunjung ke Rumah Orang Tuanya, Apakah Disyariatkan Mengqoshor Sholat ?</strong></p>
<p>Kasus masalah ini adalah seorang wanita yang menikah lalu dia menetap bersama suaminya di tempat yang jauh. Lalu suatu ketika keduanya berkunjung ke tempat orang tua istri, apakah disyariatkan baginya mengqoshor sholat ?</p>
<ul>
<li>Bagi <strong>si suami</strong>,  disyariatkan qoshor sholat kalau dia sholat sendirian atau sebagai imam karena dia sebagai musafir</li>
</ul>
<ul>
<li>adapun bagi<strong> si istri</strong>,  Syaikh Mushthofa al Adawi menjelaskannya sebagai berikut: “Saya tidak menemukan dalil yang shorih (tegas) dalam masalah ini, meskipun yang nampak bagiku bahwa dia mengqoshor sholat, hal ini karena Alloh Ta’ala menyebut rumah suaminya sebagai rumahnya, sebagaimana firman Nya :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan bertaqwalah kalian kepada Robb kalian,<strong> jangan kalian (para suami) mengeluarkan mereka (para istri) dari rumah-rumah mereka</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ath Tholaq : 1)</p>
</blockquote>
<p>juga firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan sebutlah oleh kalian (para wanita) apa yang dibacakan <strong>di dalam rumah-rumah kalian</strong> dari ayat-ayat Alloh …”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 34)</p>
</blockquote>
<ul>
<blockquote>
<li>maka apabila dia berkunjung ke rumah orang tuanya berarti itu sudah bukan rumahnya lagi, maka dia <strong>harus mengqoshor</strong> sholat <strong>di rumah orang tuanya</strong>.” <em>Wallohu a’lam</em></li>
</blockquote>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Mushthofa Al Adawi 1/429)</p>
<p style="text-align: left;">
<p><strong>5. Wanita Memberikan Zakatnya kepada Suami dan Anaknya</strong></p>
<p>Apabila ada seorang<strong> istri yang kaya</strong>, maka <strong>boleh</strong> baginya <strong>memberikan zakat</strong> dan <strong>shodaqohnya</strong> kepada <strong>suaminya</strong> apabila si suami termasuk salah satu dari <strong>delapan golongan</strong> yang berhak menerima zakat. Hal ini dikarenakan seoang istri tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada suami, jadi boleh memberikan harta zakat dan shodaqoh kepadanya.</p>
<p>Ini adalah madzhab Imam Syafi’i, Ats Tauri, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan asy Syaibani, salah satu riwayat dari Malik juga Ahmad bin Hambal.</p>
<p>Dalilnya adalah hadits berikut :</p>
<blockquote><p>عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَوَعَظَ النَّاسَ وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ تَصَدَّقُوا فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ</p>
<p>Dari Abu Sa’id al Khudri berkata : Pada hari raya idul adlha atau idul fithri, Rosululloh keluar ke lapangan sholat, lalu beliau memperingatkan manusia dan memerintahkan mereka untuk bershodaqoh.</p>
<p>Beliau bersabda : Wahai sekalian manusia, bershodaqohlah.”</p>
<p>Lalu beliau melewati jamaah wanita seraya berkata : “<strong>Wahai sekalian kaum wanita, saya melihat kebanyakan kalian adalah penduduk neraka</strong>.”</p>
<p>Para wanita bertanya : “<strong>Kenapa wahai Rosululloh</strong> ?.”</p>
<p>Beliau menjawab : “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri keluarga, dan saya tidak melihat seseorang yang kurang akal dan agamanya namun menghilangkan hati seorang laki-laki yang tegar melebihi salah seorang dari kalian wahai kaum wanita.”</p>
<p>Kemudian, beliau pun pergi. Tatkala sudah sampai rumah, maka Zainab istri Abdulloh ibnu Mas’ud minta izin kepada beliau untuk bertemu, maka dikatakan kepada beliau : “Wahai Rosululloh, ini Zainab.”</p>
<p>Rosululloh bertaya : Zainab siapa ?.”</p>
<p>Dijawab : Istrinya Ibnu Mas’ud.”</p>
<p>Maka Rosululloh berkata : “Silahkan , izinkan dia masuk.”</p>
<p>Zaenab berkata : “Wahai Rosululloh, engkau tadi memerintahkan untuk bershodaqoh, sedangkan saya memiliki perhiasan , dan saya kepingin menshodaqohkannya, namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak untuk diberi harta shodaqoh tersebut.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : “ Ibnu Mas’ud benar, <strong>suami dan anakmu lebih berhak engkau beri shodaqoh</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 1462)</p>
<p>Dalam riwayat lainya Rosululloh bersabda : &#8220;Boleh (memberi shodaqoh kepada suami-pent) dan dia mendapatkan dua pahala, pahala menyambung hubungan kekeluargaan dan pahala shodaqoh.”  (HR. Bukhori : 1466)</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Fathul Bari 3/329, Nailul Author 4/177)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">
<ul>
<li>Namun hukum ini <strong>tidak boleh dibalik</strong>, yaitu<strong> tidak boleh seorang suami memberikan zakat kepada istrinya</strong>, karena suami wajib memberi nafkah kepada istri, yang karena sebab itulah tidak boleh memberikan zakat kepadanya</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Qudamah</strong> berkata: “Adapun istri, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya dengan kesepakaan para ulama’.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Ibnul Mundzir</strong> berkata: “Para ulama’ sepakat bahwa seorang suami tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya.” (Lihat Al Mughni 2/649)</li>
</ul>
<p><strong>6. Jika Suami Pelit</strong></p>
<blockquote><p>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>Dari Aisyah bahwasannya Hindun binti Utbah berkata : &#8220;Ya Rosululloh, Abu Sufyan seorang yang kikir, dia tidak memberikan nafkah yang cukup bagiku dan bagi anak-anakku kecuali apa yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengetahuan dia.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Ambillah apa yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa kalau seorang suami tidak memberikan nafkah yang cukup kepada istri dan anaknya maka boleh bagi mereka untuk mengambil harta suami atau bapaknya tanpa sepengetahuannya, namun yang boleh diambil adalah sekedar yang cukup dengan cara yang baik dan tidak boleh lebih daripada itu.</p>
<p>Berkata<strong> Imam Ibnul Qoyyim</strong> : “Fatwa Rosululloh ini mengandung beberapa hal :</p>
<ol>
<li>Bahwa nafkah kepada istri itu tidak ada ketentuannya, namun      kembali kepada urf yang berlaku.</li>
<li>Bahwa nafkah istri itu sama dengan nafkah anak, kedua      sama-sama menurut urf yang ada.</li>
<li>Hanya bapak yang wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya</li>
<li>Apabila suami dan bapak tidak memberikan nafkah untuk istri      dan anak, maka mereka boleh mengambil sesuatu yang cukup dengan cara yang      baik</li>
<li>Apabila seorang istri masih bisa mengambil nafkah yang cukup      dari suaminya maka dia tidak boleh menuntut cerai</li>
<li>Apabila Alloh dan Rosul Nya tidak menentukan ukuran sebuah      kewajiban, maka dikembalikan kepada urf yang berlaku</li>
<li>Barang siapa yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka bagi      yang seharusnya mendapatkannya boleh mengambilnya sendiri apabila dia      mampu, sebagaimanayang difatwakan oleh Rosululloh kepada Hindun.”</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">(Lihat i’lamul Muwaqqi’in oleh Imam Ibnul Qoyyim)</p>
<p><strong>7. Wanita Mencicipi Makanan Saat Puasa</strong></p>
<ul>
<li>Boleh bagi seorang wanita untuk mencicipi makanan atau mengunyah makanan saat puasa dengan syarat tidak sampai masuk kedalam kerongkongannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Telah datang beberapa atsar dari salaf akan hal ini, diantaranya :</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibnu Abbas berkata: Tidak mengapa mencicipi cuka atau lainnya selagi tidak masuk kedalam kerongkongannya saat puasa.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/47)</li>
</ul>
<ul>
<li>Hal senada datang pula dari Hammad dan Hasan al Bashri serta lainnya.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><em>Wallohu A’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com">www.ahmadsabiq.com</a></p>
<p><strong>CATATAN KAKI:</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Karena lafadz ini bisa digunakan untuk suami dan istri.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Perhiasan Wanita</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 16:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Penyusun: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Sudah merupakan kodrat seorang wanita menyenangi perhiasan, baik yang terbuat dari emas perak maupun lainnya. Oleh Karena itulah syariat islam menghalalkan berbagai macam perhiasan itu bagi mereka dan mengharamkan sebagiannya seperti emas dan pakaian sutra bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rosululloh : عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F30%2Fzakat-perhiasan-wanita%2F">
										</iframe>
										</div><p align="center">Penyusun:</p>
<p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-43" title="zakat perhiasan wanita [ahmadsabiq.com]" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/10/cincin.jpg" alt="zakat perhiasan wanita [ahmadsabiq.com]" width="124" height="98" /></p>
<p>Sudah merupakan kodrat seorang wanita menyenangi perhiasan, baik yang terbuat dari emas perak maupun lainnya. Oleh Karena itulah syariat islam menghalalkan berbagai macam perhiasan itu bagi mereka dan mengharamkan sebagiannya seperti emas dan pakaian sutra bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Musa al Asy’ari bahwasannya Rosululloh bersabda : “Diharamkan pakiaian sutra dan emas bagi kaum laki-laki dari ummatku dan halal bagi wanita mereka.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud : 4057, Tirmidzi : 1720, Nasai 8/160  dan Ibnu Majah : 3595 dengan sanad shohih)<span id="more-42"></span></p>
<p>Namun, karena berbagai macam perhiasan ini adalah sebuah barang mahal dan berharga, apakah wajib dikeluarkan zakatnya ataukah tidak ? dan kalau memang wajib bagaimana cara mengeluarkannya ?</p>
<p>Inilah yang insya Alloh akan kita bahas pada edisi kali ini. Semoga Alloh menjadikannya bermanfaat. <em>Wallohul Muwaffiq</em></p>
<p><strong>Perhiasan yang terbuat dari emas dan perak.</strong></p>
<p>Sudah maklum bersama bahwasannya orang yang memiliki emas dan perak wajib mengeluarkan zakatnya kalau sudah mencapai satu nishob dan sudah dimiliki selama satu tahun. Berdasarkan hadits :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ قَالَ إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Ali bin Abi Tholib  dari Rosululloh bersabda : &#8220;Jika engkau memiliki 200 dirham  dan sudah lewat satu tahun , maka wajib mengeluarkan zakat lima dirham. Dan engkau tidak wajib mengeluarkan apapun  sehingga engkau memiliki dua puluh dinar, namun jika engkau memiliki dua puluh dinar dan sudah lewat satu tahun, maka wajib mengeluarkan setengah dinar.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud : 1558, Tirmidzi : 616, Nasa’i 5/37, Ibnu Majah : 1790 dengan sanad shohih sebagaimana dinyatakan oleh Imam Bukhori, al Hafidz Ibnu Hajar dan al Albani)</p>
</blockquote>
<p>Hal ini adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama’, namun mereka berselisih tentang masalah perhiasan wanita, apakah masuk dalam hukum ini ataukah tidak.</p>
<p>Namun sebelum beranjak lebih lanjut, harus diketahui bahwa perhiasan itu ada tiga macam :</p>
<ol>
<li>Ada yang dipakai</li>
<li>Ada yang disimpan</li>
<li>Ada yang dijadikan sebagai barang      perdagangan</li>
</ol>
<p>Untuk perhiasan emas dan perak yang di simpan, maka ini wajib di keluarkan zakatnya, sedangkan yang dijadikan barang perdagangan, maka hukumnya kembali pada zakat perdagangan.</p>
<p>Adapun <strong>yang dipakai oleh seorang wanita</strong>, maka inilah yang terdapat khilaf dikalangan para ulama’ menjadi <strong>empat pendapat</strong>, yaitu :</p>
<ol>
<li>Tidak wajib dikeluarkan zakatnya,  ini adalah madzhab jumhur ulama’, serta      merupakan madzhab dari Ibnu Umar, Jabir bin Abdillah, Aisyah dan Asma’      binti Abu Bakr.</li>
<li>Wajib di keluarkan zakatnya, dan ini      adalah madzhab Hanafiyyah, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Ibnu Hazm      serta merupakan pendapat Ibnu Mas’ud, Umar bin Khothob, Abdulloh bin Amr      bin Ash dan salah satu riwayat dari Aisyah. Dan madzhab inilah yang      dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz, AL Albani dan Syaikh Ibnu al Utsaimin.</li>
<li>Wajib di zakati sekali saja untuk      selamanya</li>
<li>Zakat perhiasan adalah dengan      meminjamkannya kepada orang lain</li>
</ol>
<p>Dari keempat madzhab ini yang dikuatkan oleh dalil adalah dua pendapat yang pertama, adapun dua pendapat yang terakhir, maka tidak ditemukan dalil yang mendukungnya, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Syaikh Mushthofa Al Adawi dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ meskipun didapatkan beberapa atsar tentang hal tersebut dari sebagian  salaf.</p>
<p>Oleh karena itu pembahasan ini saya pusatkan pada <strong>dua pendapat pertama</strong> saja.</p>
<p>.</p>
<p><strong>I. PENDAPAT ZAKAT PERHIASAN TIDAK WAJIB</strong></p>
<p>Adapun para ulama yang berpendapat <strong>tidak wajibnya zakat perhiasan</strong> yang dipakai, mereka berdalil dengan beberapa hal berkut :</p>
<p><strong>1. Hadits :</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>ليس في الحلي زكاة</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Tidak ada zakat pada perhiasan.”</strong></p>
</blockquote>
<p>Namun <strong>hadits ini bathil</strong> sebagaimana dikatakan oleh Imam Baihaqi dan lainnya, yang shohih bahwa lafadz ini ucapannya Jabir bin Abdillah (Lihat Irwa’ul Gholil oleh Syaikh al Albani : 817)</p>
<p><strong>2. Beberapa atsar dari salaf :</strong></p>
<ul>
<li>Dari Nafi’ berkata bahwasannya Abdulloh ibnu Umar memakaikan perhiasan emas kepada anak-anak wanita dan budak wanitanya  dan beliau tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Malik : 585, Baihaqi 4/138 dengan sanad shohih sampai pada beliau)</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibnu Umar juga pernah berkata : “Tidak ada zakat pada perhiasan.” (HR. Abdur Rozzaq 4/72, Ibnu Abi Syaibah 3/154, Daruquthni 2/109 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Jabir bin Abdillah pernah di tanya tentang masalah perhiasan : “Apakah ada zakatnya ?.” beliau menjawab : “Tidak ada” dia bertanya lagi : Meskpun sebanyak seribu dinar ? Jabir menjawab : Meskipun banyak.” (HR. Abdur Rozzaq 4/82, Baihaqi 4/138 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Aisyah bahwasannya beliau mengurusi beberapa keponakannya yang yatim, mereka memiliki perhiasan, namun beliau tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Malik : 584, Abdur Rozzaq 4/138 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Asma’ binti Abu Bakr bahwasannya beliau tidak mengeluarkan zakat perhiasan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/155d dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<p><strong>3. Dalil qiyasi</strong></p>
<p>Mereka mengatakan bahwasannya zakat itu cuma wajib pada harta yang bisa berkembang, sedangkan perhiasan wanita itu tidak bisa berkembang, maka berarti mirip dengan baju yang di pakai yang tidak wajib dikeluarkan zakatnya meskipun baju tersebut mahal. Hal ini berbeda kalau emas tersebut memang untuk di simpan, atau di perdagangkan, karena itu merupakan harta yang berkembang.</p>
<p>.</p>
<p><strong>B. PENDAPAT ZAKAT PERHIASAN WAJIB</strong></p>
<p>Adapun para ulama’ yang mengatakan wajibnya zakat perhiasan, mereka berdalil dengan beberapa dalil berikut :</p>
<p><strong>1. Dalil keumuman wajibnya zakat emas dan perak</strong></p>
<ul>
<li>sebagaimana firman Alloh :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون</p>
<p style="text-align: center;">“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Alloh, maka beritahukanlah kepaa mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari di panaskan emas perak itu dalam neraka jahannam , lalu di bakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 34, 35)</p>
</blockquote>
<p>yang dimaksud dengan kanzun adalah harta benda yang tidak dikeluarkan zakatnya. Berkata Ibnu Umar : “Harta benda yang sudah dikeluarkan zakatnya bukan termasuk kanzun meskipun berada di adasar bumi, sedangkan harta yang nampak namun tidak dikeluarkan zaatnya maka itulah kanzun.” (HR. Abdur Rozzaq 4/107 dengan sanad shohih)</p>
<ul>
<li>juga sabda Rosululloh :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh bahwasannya Rosululloh bersabda : &#8220;Tidaklah orang yang memiliki emas dan perak lalu tidak menunaikan kewajibannya, kecuali nanti pada hari kiamat akan di jadikan lempengan dari api neraka lalu di panaskan dan di setrikakan kepada lambung, dahi dan punggung mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 987, Abu Dawud : 1642)</p>
</blockquote>
<p><strong>2. Beberapa dalil khusus tentang wajibnya zakat perhiasan :</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِي يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهَا أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا قَالَتْ لَا قَالَ أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ قَالَ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَتْ هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Amr bin Syu’aib dari bapak dari kakeknya bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepada Rosululloh bersama anak wanitanya, yang ditangannya terdapat dua gelang besar yang terbuat dari emas. Maka Rosululloh bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah mengeluarkan zakat ini ?.” dia menjawab : “Belum.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Apakah engkau senang kalau nantinya Alloh akan menggelangkan kepadamu pada hari kiamat dengan dua gelang dari api neraka.” Maka wanita itupun melepas keduanya dan memberikannya kepada Rosululloh seraya berkata : “Keduanya untuk Alloh dan Rosul Nya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud : 1563, Nasa’i 5/38, Tirmidzi : 637, Ahmad 2/178 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى فِي يَدَيَّ فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ فَقُلْتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ قُلْتُ لَا أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Syadad bin Hadi berkata : Kami masuk menemui Aisyah Istrinya Rosululloh, lalu beliau berkata : “Rosululloh masuk menemuiku lalu beliau melihat ditanganku beberapa cincin dari perak, lalu beliau bertanya : “Apakah ini wahai Aisyah ?.” maka saya jawab : “Saya memakainya demi berhias untukmu wahai Rosululloh.” Lalu beliau bertanya lagi : “Apakah sudah engkau keluarkan zakatnya ?.” Belum, jawabku. Maka beliau bersabda : “Cukuplah itu untuk memasukkanmu dalam api neraka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. HR. Ahmad 6/461, Thobroni dalam Al Kabir 24/181 dengan sanad hasan)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ دَخَلْتُ أَنَا وَخَالَتِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَنَا أَتُعْطِيَانِ زَكَاتَهُ قَالَتْ فَقُلْنَا لَا قَالَ أَمَا تَخَافَانِ أَنْ يُسَوِّرَكُمَا اللَّهُ أَسْوِرَةً مِنْ نَارٍ أَدِّيَا زَكَاتَهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Asma’ binti Yazid berkata : “Saya masuk bersama bibiku menemui Rosululloh, dan saat itu bibiku memakai beberapa gelang dari emas. Maka Rosululloh bertanya kepada kami : “Apakah kalian sudah mengeluarkan zakat ini ?.” kami jawab : “Tidak.” Rosululloh bersabda : &#8220;Tidakkah kalian takut kalau nantinya Alloh akan memakaikan kepada kalian gelang dari apai neraka, keluarkanlah zakatnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 6/461, Thobroni dalam al Kabir 24/181 dengan sanad hasan)</p>
</blockquote>
<p><strong>3. Beberapa atsar dari salaf :</strong></p>
<ul>
<li>Dari Ibnu Mas’ud bahwasannya ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau tentang zakat perhiasan, maka beliau menjawab : Apabila sudah mencapai dua ratus dirham maka keluarkan zakatnya.” Wanita tadi bertanya lagi : Dirumahku ada beberapa anak yatim, apakah saya boleh untuk memberikan zakatnya kepada mereka ? Beliau menjawab : Boleh.” (HR. Abdur Rozaq 4/83, Thobroni 9/371 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Abdullloh bin Amr bin Ash bahwasannya beliau memerintahkan kepada bendaharanya untuk mengeluarkan zakat perhiasan anak-anak wanitanya setiap tahun.” (HR. Daruquthni dengan sanad hasan)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Aisyah bahwasannya beliau berkata : “Tidak mengapa memakai perhiasan apabila dikeluakan zakatnya.” (HR. Daruquthni 2/107, Baihaqi 4/139 dengan sanad hasan)</li>
</ul>
<ul>
<li>Selain atsar dari para sahabat tersebut, juga di temukan beberapa atsar dari para tabi’in tentang wajibnya  zakat perhiasan. Diantaranya adalah : datang dari Sa’id bin Musayyib, Sa’id bin Jubair, Ibrohim An Nakho’i, Atho’ bin Abi Robah, Zuhri, Abdulloh bin Syadad, Sufyan Ats Tsauri dan lainnya (Lihat perinciannya pada <em><strong>Jami’ Ahkamin Nisa’</strong></em> )</li>
</ul>
<p><strong>PENDAPAT YANG KUAT</strong></p>
<p>Setelah pemaparan madzhab para ulama’ ini, maka yang nampak bagi kami insya Alloh adalah madzhab kedua yang menyatakan wajibnya mengeluarkan zakat perhiasan apabila telah mencapai satu nishob dan mencapai satu tahun, karena beberapa hal berikut :</p>
<ol>
<li>Keumuman dalil yang mewajibkan zakat emas dan perak, sedangkan perhiasan juga terbuat dari emas dan perak. Padahal sudah maklum dalam ilmu ushul Fiqh bahwa sebuah lafadz umum harus di bawa pada keumuman sampai ada yang mengkhususkan. Lalu dalil apa yang mengkhususkan perhiasan dari keumuman wajibnya zakat ? setahu kami tidak ada dalil yang mengkhususkan, karena hadits yang di jadikan dalil madzhab pertama adalah sebuah hadts yang lemah, sedangkan ucapan para sahabat tidak bisa untuk mengkhususkan al Qur’an dan As Sunnah.</li>
<li>Adanya dalil khusus tentang wajibnya zakat perhiasan emas dan perak adalah sebuah dalil yang tak terbantahkan.</li>
<li>Mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak itu sikap yang lebih hati-hati dalam menjalankan perintah syar’i .</li>
<li>Adapun mengenai dalil yang digunakan oleh jumhur ulama’, maka bisa di katakan : bahwa haditsnya lemah. Sedangkan atsar dari para sahabat tidak bsa dijadikan hujjah karena bertentangan dengan Al Qur’an dan as sunnah juga bertentangan dengan ucapan sahabat lainnya.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;"><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>Perhiasan yang terbuat dari selain emas dan perak</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Adapun perhiasan yang terbuat dari selain emas dan perak, seperti permata, zamrud atau lainnya, maka tidak ada khilaf dikalangan para ulama’ bahwa itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali kalau digunakan sebagai barang perdagangan maka wajib di zakati zakat perdagangan.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat al Umm oleh Imam Syafi’i 2/36, Jami’ ahkamin nisa’ Syaijkh Mushthofa al Adawi 2/ 143-165, Shohih fiqhis sunnah oleh Syaikh Abu Malik 2/26)</p>
</blockquote>
<p><strong>FAEDAH</strong></p>
<p>1. Tidak wajib mengeluarkan zakat perhiasan kecuali sudah mencapai satu nishob.</p>
<ul>
<li><strong>Nishob emas</strong> adalah<strong> 20 Dinar</strong>, dan setiap <strong>satu dinar</strong> adalah <strong>4,25 (empat seperempat) gram emas</strong>. Jadi <strong>20 dinar</strong> sama dengan <strong>85 gram emas</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ada sebuah <strong>pertanyaan</strong> yang sering muncul : Bagaimana mungkin seorang wanita memakai perhiasan sebanyak itu ?</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Jawabnya</strong> : Yang dimaksud dengan nishob disini bukan berarti harus dipakai semuanya, namun yang penting <strong>dia memiliki emas sebanyak itu</strong>. Misalkan : Dia memiliki emas, yang dia pakai hanya 15 gram, sedangkan yang dia simpan  sebanyak 70 gram, maka berarti dia memiliki satu nishob.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sedangkan <strong>nishob perak </strong>adalah <strong>200 dirham</strong> yang setara dengan <strong>595 gram perak</strong>.</li>
</ul>
<p>2. Tidak wajib zakat kecuali emas dan perak itu sudah <strong>dimilikinya</strong> selama <strong>satu tahun</strong>. Dan yang dimaksud tahun adalah<strong> tahun hijriyah, bukan masehi</strong>, karena semua ketentuan syar’i yang berhubungan dengan tanggal adalah dengan tanggal hijriyyah.</p>
<p>3. Perhiasan<strong> emas</strong> yang dipakai oleh kaum <strong>laki-laki </strong>hukumnya <strong>harom</strong>. Maka wajib dikeluarkan zakatnya dengan kesepakatan para ulama’. Khilaf diatas hanya berlaku pada perhiasan yang dipakai kaum wanita secara halal.</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Suami]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat Untuk Para Istri Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf A. PENGANTAR Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya. Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang para [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fjuga-untukmu-wahai-para-istri%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><strong>Nasehat Untuk Para Istri<br />
</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-708" title="nasihati lin-nisa" src="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/risalah-hub.jpg" alt="nasihati lin-nisa" width="135" height="101" /></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.facebook.com/pages/Ahmad-Sabiq-bin-Abdul-Lathif-Abu-Yusuf/208606579464?ref=mf" rel="nofollow"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ff6600;"><strong>A. PENGANTAR</strong></span></p>
<p>Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya.</p>
<p>Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang para ibu-ibu yang memakan daging suami mereka sendiri dalam suasana obrolan mereka dengan lainnya tidak mesti hanya kesalahan suami mereka, bahkan sangat mungkin si suami sudah berbuat yang benar namun si istri lah yang tidak pernah mengerti dan memahami.</p>
<p>Maka pada edisi ini saya tujukan untaian nasehat ini kepada para istri, semoga semuanya bisa menjalankan apa seharusnya dia kerjakan, sehingga yang lainnya akan mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan.</p>
<p><em>Wallohul Muwaffiq</em></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>B. TERIMA KODRATMU DAN PAHAMILAH POSISIMU</strong></span></p>
<p>Semoga Alloh merohmati orang yang bisa menempatkan dirinya pada tempatnya yang tepat, saat sebagai suami dia mengetahui bahwa dia adalah seorang suami yang wajib mempergauli istrinya dengan baik, demikian juga tatkala dia sebagai istri, dia mengetahui hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya yang besar dengan benar.</p>
<p>Sangat <strong>miris hati ini</strong> tatkala ada sebagian istri yang mengatakan :</p>
<blockquote><p>“Enak ya jadi suami, setiap hari keluar rumah, bisa berganti-ganti suasana, berbeda dengan istri yang setiap hari di rumah dan hanya berkutat dengan dapur dan anak.”</p>
<p>Atau kalimat yang senada</p></blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;">Ketauhilah wahai ukhtil muslimah !!!</span></p>
<p>Alloh Ta’ala dan Rosululloh telah menempatkanmu pada posisi yang mulia. Perhatikanlah hadits berikut ini :<span id="more-6"></span></p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila seorang <strong>wanita</strong> sholat lima waktu, puasa bulan Romadhon, menjaga farjinya, mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : <strong>Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja engkau kehendaki</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 1664 dengan sanad hasan. Lihat adabuz Zafaf oleh Syaikh Al Albani hal : 286)</p>
<p>Jalan menuju surga, tempat yang penuh dengan ketenangan dan keindahan nan kekal dan abadi telah dibentangkan dihadapanmu, yang salah satu jalanya adalah taat pada suami</p>
<p>Sadarilah olehmu bahwa dimanapun Alloh dan Rosululloh menyebutkan tentang dirimu pasti menyebutkan tentang ketaatan kepada suami. Terlalu banyak ayat dan hadts yang membicarakan tentang ini dan saya kira engkau sudah megetahuinya.</p>
<p>Maka sadarlah, bahwa engkau adalah seorang istri&#8230;.</p>
<p>Sekali lagi engkau adalah seorang istri yang seharusnya selalu taat kepada suamimu selagi dia tidak memerintahkan kepada kemaksiatan&#8230;.</p>
<p>.<span style="color: #ff6600;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>C. PAHAMILAH SUAMIMU</strong></span></p>
<ul>
<li>Seorang suami telah dikodratkan oleh Alloh untuk menjadi kepala keluarga, dialah yang diberi kewajiban oleh Alloh dan Rosul Nya untuk memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Yang mana hal ini berkonsekwensi wajib bagi dia untuk mencari pekerjaan, yang terkadang pada zaman seperti sekarang ini tidak semua orang mendapatkan usaha yang sesuai dengan bidangnya. Betapa banyak sarjana yang pekerjaanya di luar keahliannya, apalagi lainnya !!!</li>
</ul>
<ul>
<li>Sulitnya mencari pekerjaan dan capeknya bekerja diluar rumah bagi sang suami <strong>akan terasa ringan kalau didukung secara moril oleh si istri</strong>, beban dia akan menjadi sedikit ringan secara psikologis kalau istrinya ikut mendukung dan senang dengan apa yang dia kerjakan sekarang.</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun kalau kebalikannya? Cobaah bayangkan, kalau suami sudah capek-capek cari pekerjaan, sudah sangat lelah diluar rumah tiba-tiba sampai rumah ditumpuki lagi dengan sikap istrinya yang sangat tidak mengenakkan.</li>
</ul>
<p><strong>Wahai saudariku ….</strong></p>
<blockquote><p>Yang harus engkau perhatikan juga, bahwa sebuah pernikahan adalah mengumpulkan dua insan yang berbeda, berbeda dalam jenis kelaminnya, berbeda dalam karakter dasarnya, berbeda dalam latar belakang keluarganya, berbeda dalam latar belakang lingkungan dan pendidikannya, berbeda dalam unsur-unsur yang mempengaruhi jiwa dan pikirannya, dan mungkin berbeda dalam cara pandang dan cita-citanya serta perbedaan-perbedaan lainnya.</p></blockquote>
<p>Akan sangat<strong> mustahi</strong> kalau ditemukan sepasang <strong>suami istri</strong> yang <strong>benar-benar sama dalam segala sesuatu</strong>.</p>
<ul>
<li>Siapakah contoh keluarga yang benar-benar kita jadikan panutan ? bukankah keluarganya <strong>Rosululloh</strong>? Meskipun begitu, <strong>apakah selamat dari berbagai macam perbedaan semacam ini</strong> ? Tidak wahai saudariku.</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang bisa dilakukan adalah saling memamami dan menghargai, wahai suami pahamilah istrimu dan wahai istri pahamilah suamimu.</p>
</blockquote>
<p>Saat si suami harus keluar malam, saat dia harus meningalkan rumah barang satu mingu atau dua minggu untuk sebuah  keperluan yang bermanfaat, maka sadarilah kalau memang itu adalah tugas dan kewajibannya yang butuh dukungan dan kerelaan darimu</p>
<p>Bukankah Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Sebaik-baik wanita adalah  yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, mentaatimu saat engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni dengan sanad shohih, Lihat Shohihul Jami’ : 3299)</p>
</blockquote>
<blockquote><p>Begitu pula sebaliknya, saat si istri harus <em>ngambek</em>, karena ada sesuatu yang membuatnya tidak senang, maka wahai suami sadarilah bahwa itu adalah <strong>pembawaan fithroh  wanita</strong> yang tercipta dari <strong>tulang rusuk yang bengkok</strong>, yang kalau engkau <strong>sikapi</strong> dengan <strong>keras</strong> saat itu maka segera <strong>akan patah dan rusak</strong>.</p></blockquote>
<p>Jangan pernah berpikir bahwa salah satu dari suami maupun istri berfikir bahwa yang lainnya harus sama persis dengannya <em>kayak</em> kertas foto copi, karena kalau itu yang engkau inginkan, maka bukannya akan membuatmu senang namun akan semakin sensitif dengan segala perbedaan.</p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>D. TEGANYA KAU MAKAN DAGING SUAMIMU SENDIRI</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Suatu ketika Rosululloh berjalan-jalan bersama  Ummul Mu’minin Aisyah, Lalu Aisyah mengatakan : “Cukuplah bagimu bahwa Shofiyah itu begini dan begitu (maksudnya bahwa dia itu pendek).”</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Engkau barusan mengucapkan sebuah kalimat, seandainya dicelupkan ke lautan pasti akan berubah warnanya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Perhatikanlah ucapan <strong>ghibah</strong> yang &#8220;<strong>tidak seberapa</strong>&#8221; ini yang dikatakan oleh Aisyah, wanita yang <strong>paling dicintai</strong> oleh Rosululloh. Namun, beliau <strong>tetap</strong> mengatakan sebagaimana di atas. Lalu, bagaimana kalau seandainya yang melakukan hal ini adalah seorang <strong>istri untuk membongkar aib suaminya sendiri</strong>?</p>
<p>Kalau seandainya engkau membongkar aib suamimu untuk mencari sebuah solusi, dengan cara menyampaikannya kepada seseorang yang diperkirakan dapat membantunya menasehati si suami, atau menahan kedlolimannya kalau memang dia begitu, maka itu adalah sesuatu yang sangat baik, sebagaimana pernah dilakukan oleh <strong>Hindun Binti Utbah</strong>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p style="text-align: left;">Dari Aisyah bahwasannya Hindun Binti Utbah berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang sangat kikir, dia tidak memberikan kepadaku nafkah yang cukup bagiku dan bagi anakku kecuali kalau saya mengambilnya tanpa sepengetahuan dirinya.”</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Ambillah yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5346, Muslim : 1714)</p>
</blockquote>
<p>Alloh Ta’ala menggambarkan bahwa orang yang <strong>mengghibah</strong> orang lain adalah seperti <strong>memakan daging bangkainya</strong>, perhatikanlah firman Aloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ</p>
<p style="text-align: center;">Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian diantara kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentunya kamu merasa jijik dengannya. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Hujurot : )</p>
</blockquote>
<p>Kalau memang begitu  tegakah engkau memakan daging bangkai seseorang yang banyak berbuat kebaikan kepadamu ???</p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>D. SUNGGUH! HAKNYA ATAS DIRIMU SANGATLAH BESAR&#8230;</strong></span></p>
<p>Bagi yang sedikit saja mengetahui ayat-ayat Alloh dan Sunnah Rosululloh tentang hubungan suami istri, niscaya akan mengetahui bahwa hak suami atas istrinya sangatlah besar. Saya sebutkan beberapa diantaranya sebagai sebuah nasehat dan peringatan bagi semuanya karena memang agama ini adalah sebuah nasehat sebagai sabda Rosululloh kita.</p>
<p>Alloh juga berfirman :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Berilah peringatan, karena sebuah peringatan itu akan bermanfaat bagi insan yang beriman.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Adz Dzariyat : 55)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Di antara hak suamimu yang seharusnya engkau tunaikan adalah :</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1</strong>. <strong>Jagalah kehormatan dan harga dirinya, juga urusilah anak-anak, rumah dan hartanya</strong></span></p>
<p>Perhatikanlah firman Alloh :</p>
<p style="text-align: center;">فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ</p>
<p style="text-align: center;">“Wanita yang sholihat adalah yang taat kepada Alloh lagi <strong>memelihara diri ketika suaminya tidak ada</strong> karena Alloh telah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)</p>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Seorang wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan bertangung jawab atas kepemimpinannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2. Berpenampilanlah yang menyenangkan dihadapannya, senyumlah jangan masam muka, bersikap manislah dan jangan menyebalkan</strong></span></p>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Sebaik-baik wanita adalah  yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, mentaatimu saat engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.”</p>
<p>(HR. Thobroni dengan sanad shohih, Lihat Shohihul Jami’ : 3299)</p></blockquote>
<p>Berkata <strong>Syaikh Abdul Adhim al Badawi</strong> :</p>
<blockquote><p>“Sesuatu yang sangat mengherankan kalau seorang istri tidak memperhatikan penampilannya dihadapan suaiminya, namun kalau mau keluar dia sangat perhatian dengan penampilannya, sehingga benarlah kalau ada yang mengatakan : “Kera kalau dirumah namun kijang kalau dijalanan <a href="#_ftn1">1</a>.” , Wahai hamba wanita Alloh, takutlah kalian kepada Alloh daam hak suamimu atas dirimu.”</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3. Jangan izinkan masuk rumahmu seseorang yang dibenci suamimu</strong></span></p>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Hak kalian (para suami) atas para  istri adalah tidak mengizinkan masuk rumah kalian orang-orang yang kalian benci.”</p>
<p>(Potongan khutbah haji wada’ Rosululloh yang panjang)</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4. Jangan bilang kepada siapapun tentang sesuatu yang menjadi rahasia kalian berdua, terutama yang berhubungan dengan urusan ranjang.</strong></span></p>
<p>Perhatikanlah riwayat hadits berikut :</p>
<p>Dari <strong>Asma’ binti Yazid</strong> berkata :</p>
<blockquote><p>“Banyak laki-laki dan wanita yang duduk-duduk bersama Rosululloh, lalu Rosululloh bersabda : &#8220;Barangkali ada seorang laki—laki yang menceritakan sesuatu yang dia lakukan dengan istrinya, begitu juga istri barangkali ada yang menceritakan apa yang dia lakukan dengan suminya.”</p>
<p>Saya berkata : “Wahai Rosululloh, demi Alloh, baik suami maupun istri banyak yang melakukannya.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Janganah kalian lakukan, permisalan orang semacam itu adalah <strong>semacam setan yang bertemu dengan setan wanita dijalan lalu berhubungan badan padahal orang-orang melihatnya</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 16/223 dengan sanad shohih, lihat adabuz zafaf hal : 72)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>5. Berusahalah untuk menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, jangan sampai engkau minta cerai tanpa sebuah sebab syar’i.</strong></span></p>
<ul>
<li>Dari Tsauban berkata : &#8220;Rosululloh bersabda :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“<strong>Wanita</strong> manapun yang <strong>minta cerai</strong> pada suaminya tanpa sebab, maka <strong>haram</strong> baginya mencium bau <strong>surga</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. HR. Tirmidzi 1199, Abu Dawud : 2209 dengan sanad shohih, lihat Al Irwa’ : 2035)</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Rosululloh juga bersabda :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Wanita yang mengajukan <strong>khulu’ (Menggugat cerai)</strong> adalah para <strong>wanita munafik.</strong>”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Tirmidzi : 1198, Ash Shohihah : 632)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;">Wahai wanita muslimah…!!!</span></p>
<p>Inilah hak-hak suamimu atas dirimu, berusahalah untuk menjalankannya, maafkanlah semua kekurangan suamimu, hargailah segala kelebihannya dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan untukmu. Insya Alloh bahtera rumah tanggamu akan berlayar dengan tenang bersama hembusan sepoi-sepoinya angin laut.</p>
<p><span style="color: #ff0000;">Wahai para ibu…!!!</span></p>
<p>Ajarkanlah kepada putri-putri kalian tentang hak dan kewajibannya atas suaminya kalau dia menikah kelak. Inilah sunnahnya para wanita salafush sholih sebagaimana yang dilakukan oleh Umamah binti Harits terhadap otrinya menjelang pernikahanya.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Al Wajiz oleh Syaikh Abdul Adlim Al Badawi hal : 30 dan seterusnya)</p>
<p><span style="color: #ff6600;">.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>E. CUKUPLAH BAGIMU GAMBARAN INI</strong></span></p>
<p>Sebagai kalimat penutup, renungkanlah beberaa kejadian pada zaman Rosululloh ini, semoga Alloh menunjukkan kita &#8216;tuk meniti jalan yang diridloi Nya :</p>
<blockquote><p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ  *</p>
<p>Dari Abdulloh bin Abi Aufa berkata :</p>
<p>“Tatkala Mu’adz bin Jabal datang dari Syam maka dia bersujud kepada Rosululloh.</p>
<p>Lalu Rosululloh bersabda : &#8220;Apa yang barusan engkau lakukan ini wahai Mu’adz ?.</p>
<p>” Mu’adz menjawab : “Saya datang ke negeri Syam dan saya lihat penduduknya sujud kepada pendeta  tokoh mereka, maka saya kepingin untuk melakukan hal itu terhadapmu.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : &#8220;<span style="color: #0000ff;">Jangan lakukan itu, seandainya saya memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Alloh pasti saya perintahkan wanita untuk sujud pada suaminya, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan Nya, seorang wanita tidak mungkin menunaikan hak Tuhannya selagi tidak mengerjakan hak suaminya, seandainya suaminya memintanya padahal saat itu sedang berada di dapur maka janganlah menolaknya</span>.”</p>
<p style="text-align: center;">(Ibnu Majah 1853, dan Ahmad dengan lafadz yang mirip 23950 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">عَنْ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَهْلُ بَيْتٍ مِنَ الْأَنْصَارِ لَهُمْ جَمَلٌ يَسْنُونَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْجَمَلَ اسْتُصْعِبَ عَلَيْهِمْ فَمَنَعَهُمْ ظَهْرَهُ وَإِنَّ الْأَنْصَارَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا إِنَّهُ كَانَ لَنَا جَمَلٌ نُسْنِي عَلَيْهِ وَإِنَّهُ اسْتُصْعِبَ عَلَيْنَا وَمَنَعَنَا ظَهْرَهُ وَقَدْ عَطِشَ الزَّرْعُ وَالنَّخْلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ قُومُوا فَقَامُوا فَدَخَلَ الْحَائِطَ وَالْجَمَلُ فِي نَاحِيَةٍ فَمَشَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ فَقَالَتِ الْأَنْصَارُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّهُ قَدْ صَارَ مِثْلَ الْكَلْبِ الْكَلِبِ وَإِنَّا نَخَافُ عَلَيْكَ صَوْلَتَهُ فَقَالَ لَيْسَ عَلَيَّ مِنْهُ بَأْسٌ فَلَمَّا نَظَرَ الْجَمَلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ نَحْوَهُ حَتَّى خَرَّ سَاجِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَاصِيَتِهِ أَذَلَّ مَا كَانَتْ قَطُّ حَتَّى أَدْخَلَهُ فِي الْعَمَلِ فَقَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ بَهِيمَةٌ لَا تَعْقِلُ تَسْجُدُ لَكَ وَنَحْنُ نَعْقِلُ فَنَحْنُ أَحَقُّ أَنْ نَسْجُدَ لَكَ فَقَالَ لَا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ قُرْحَةً تَنْبَجِسُ بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ</p>
<p style="text-align: left;">Dari Anas bin Malik berkata : “Para keluarga dari kalangan sahabat anshor mempunyai unta untuk mengairi sawah mereka. Namun, ada seekor unta yang tidak mau di tungangi. Lalu, mereka datang kepada Rosululloh seraya berkata: “Kami mempunyai unta untu mengairi sawah namun sekarang tidak mau ditunggani padahal tanaman sudah waktunya diairi.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Maka, Rosululloh bersabda kepada para sahabatnya: “Bangunlah!”</p>
<p style="text-align: left;">Akhirnya, mereka pun bangun lalu beliau masuk kebun , dan saat itu unta tersebut sedang berada di pojok kebun.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu, Rosululloh pun berjalan mendekatinya.</p>
<p style="text-align: left;">Para sahabat anshor berkata: “Wahai Rosululloh, unta itu sekarang sudah mirip dengan <em>aning gola</em>, kami takut anda diserang olehnya.</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Dia tidak akan membahayakanku.”</p>
<p style="text-align: left;">Dan tatkala unta tersebut melihata kedatangan Rosululloh, maka diapun segera berjalan menuju Rosululloh lalu bersujud dihadapannya, maka Rosululloh pun memegang ubun-ubunnya dan unta itupun menjadi sangat jinak untuk bs digunakan bekerja.</p>
<p style="text-align: left;">Demi melihat kejadian itu, para sahabat berkata : “Waai Rosululloh, kalau binatang yang tidak berakal saja bersujud kepadamu, maka kami yang berakal ini lebih pantas untuk bersujud kepadamu ?.”</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;<span style="color: #0000ff;">Tidak layak bagi seseorang untuk bersujud kepada manusia lainnya, seandainya ada  manusia yang layak untuk bersujud kepada lainnya niscaya saya akan memerintahkan waniat untuk sujud kepada suaminya karena hak suaminya yang sangat besar. Demi Alloh, Dzat yang jiwaku berada ditangan Nya, seandainya seluruh badan si suami itu dari ujung rambut sampai ujung kaki terdapat luka bernanah, lalu si istri itu mendatanginya dan menjilatinya maka dia beum bisa menunaikan hak suaminya<strong>.</strong></span>”</p>
<p style="text-align: center;">(Ahmad 12203 dengan sanad sahih, Liha shohihul Jami’ : 3148)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Adakah yang bisa engkau ambil pelajaran dari hadits berharga ini ???</strong></p>
<p><em>Wallohul A’lam wallohul Muwaffiq</em></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/pages/Ahmad-Sabiq-bin-Abdul-Lathif-Abu-Yusuf/208606579464?ref=mf">www.ahmadsabiq.com</a><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;">(web ini belum diterbitkan)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Kijang dalam konteks bahasa arab adalah seekor binatang yang sering diserupakan dengan wanita yang cantik.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
