<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Kritik</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/tag/kritik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 23:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>
		<category><![CDATA[Talqin mayit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[A. Al Kisah Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata : “Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata : “Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F27%2Ftalqin-mayit%2F">
										</iframe>
										</div><h3><span style="color: #ff6600;">A. Al Kisah</span></h3>
<p>Diriwayatkan dari <strong>Sa’id bin Abdulloh Al Audi</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah kalian ratakan kuburannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata : Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab. Kemudian katakan : Wahai Fulan bin Fulanah, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian <a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-217" title="قبر" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg" alt="" width="155" height="78" /></a>katakan Wahai Fulan anaknya Fulanah, maka dia akan berkata : “Berilah aku petunjuk, semoga Alloh merohmati kalian.” Lalu hendaklah dia katakan : “Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan Nya, dan engkau ridlo Alloh sebagai robb mu, islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabi mu, al Qur’an sebagai imam mu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata : Pergilah, tidak usah duduk pada orang yang sudah di talqinkan hujjahnya.” Dengan ini semua maka Alloh akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya.”</p>
<p style="text-align: center;">Lalu ada salah seorang yang bertanya : “Wahai Rosululloh, Bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya ?</p>
<p style="text-align: center;">maka Rosululloh bersabda : &#8220;Nasabkanlah kepada Hawa’ , katakan fulan bin Hawa.”</p>
</blockquote>
<p><span id="more-209"></span></p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">B. Kemasyhuran kisah ini</span></h3>
<ul>
<li>Kisah inilah yang menjadi dasar berpijak orang-orang yang melakukan prosesi talqin setelah mayit selesai dikuburkan. Mereka duduk disisi kuburan lalu berkata : Wahai bapak / ibu fulan, engkau nanti akan didatangi dua malaikat, keduanya akan menanyakan kepadamu begini dan begitu….”</li>
</ul>
<ul>
<li>Mengingat bahwa perbuatan ini seakan-akan menjadi sebuah kelaziman di negeri kita ini, maka harus diketahui derajat hadits ini sehingga menjadi peringatan bagi semuanya.</li>
</ul>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">C. Derajat kisah</span></h3>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kisah ini Munkar</strong></span></p>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Takhrij kisah :</strong></span></p>
<ul>
<li>Diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Ad Du’a dan Mu’jam al Kabir 8/289 no : 7979 berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Uqoil Anas Al Khoulani</strong> berkata : &#8221; Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Ibrohim al Ala’</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Isma’il bin ‘Ayyasy</strong>, berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdulloh bin Muhammad Al Qurosyi</strong> dan <strong>Yahya bin Abi Katsir</strong> dari <strong>Sa’id bin Abdulloh al Audi</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kisah ini juga diriwayatkan oleh <strong>Al Khol’i</strong> dalam Al Fawa’id 2/55 dari <strong>Abu Darda’ Hasyim bin Muhammad al Anshori</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Utbah bin Sakan</strong> dari <strong>Abu Zakariya</strong> dari <strong>Jabir bin Sa’id Al Azdi</strong> berkata : Saya masuk menemui <strong>Abu Umamah Al Bahili</strong> saat beliau sedang sakarotul maut, &#8211; Kemudian beliau menyebutkan kisah diatas-.</li>
</ul>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Sisi kelemahan kisah ini :</strong></span></p>
<ul>
<li>Adapun sanad riwayat <strong>Ath Thobroni</strong>, maka sisi kelemahannya adalah banyaknya rowi yang majhul, sebagaimana dikatakan oleh <strong>Al Haitsami</strong> dalam Majma’uz Zawa’id 3/45.</li>
<li>Sedangkan riiwayat <strong>Al Khol’i</strong>, maka lebih parah lagi, karena selain banyaknya beberapa rowi yang majhul, ternyata <strong>Utbah bin Sakan</strong> adalah seorang yang ditinggalkan hadisnya bahkan tertuduh memalsukan hadits, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Daruquthni</strong> dan <strong>Baihaqi</strong>.</li>
<li>Oleh karena itulah,  hadits ini dilemahkan oleh para ulama’.</li>
<li>Berkata <strong>al Haitsami</strong> dalam al Majma’ 3/45 : Dalam sanadnya banyak perowi yang tidak saya kenal.</li>
<li>Berkata <strong>Ibnu Sholah</strong> : Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.</li>
<li><strong>Al Imam An Nawawi</strong> juga melemahkannya, sebagaima dalam Al Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan al Fatawa hal : 54.</li>
<li>Berkata <strong>Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah</strong> dalam Majmu’ Fatawa 24/296 : Hadits ini tidak dihukumi shohih.</li>
<li>Berkata <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad  1/523 : “Tidak shohih secara marfu’.&#8221; Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan : “Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”</li>
<li><strong>Imam Al Iroqi</strong> juga melemahkannya dalam takhrij Ihya’ 4/420.</li>
<li>Berkata <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari 10/563 : Lemah sekali.</li>
<li>Hadits ini juga dilemahkan oleh <strong>Zarkasyi</strong> dalam Al La’ali al Manstsuroh hal : 59, <strong>As Suyuthi</strong> dalam Ad Duror al Manstsuroh hal : 25 .</li>
<li>Berkata Imam <strong>Ash Shon’ani</strong> dalam Subulus Salam 2/114 : Dari keterangan para ulama’ tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits ini lemah, maka janganlah ada yang tetipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.”</li>
<li>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> : Kesimpulannya bahwa hadits ini munkar, jika bukan malah palsu.</li>
<li>Berkata Syaikh <strong>Abu Ishaq Al Huwaini</strong> : “Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits</li>
</ul>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan  : Inilah pengkhianatan Fulan bin Fulan.”</p>
<p>(HR. Bukhori Muslim)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Al Bukhori</strong> : “Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.”</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah <strong>Syaikh Al Albani</strong> : 599,  majallah At Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits asuhan <strong>Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini</strong>, serta rubrik Tahdzirud Da’iyah oleh <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Majalah Tauhid Mesir juga edisi Robiul Awal tahun 1428)</p>
</blockquote>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">D. Ganti yang Shohih</span></h3>
<p>Yang merupakan sunnah Rosululloh setelah menguburkan mayit adalah mendo’akan agar si mayit diampuni dosa-dosanya dan diberi kemantapan untuk bisa menjawab fitnah kubur. Sebagaimana hadits :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال: &#8221; كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال: استغفروا لاخيكم، وسلوا له التثبيت، فإنه الان يسإل &#8220;.</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Utsman bin Affan berkata : Apabila Rosululloh telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda : Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud 2/70, Hakim 1/370, Baiaqi 4/56, Abdulloh bin Ahmad dalam Zawaid Zuhd hlm : 129. Berkata Hakim : Sanadnya shohih dan disepakatai oleh Adz Dzahabi, berkata An Nawawi : Sanadnya bagus, Berkata syaikh Al Albani : hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hakim dan Dzahabi. Lihat Ahkamul Janaiz no : 107)</p>
</blockquote>
<h3><span style="color: #ff6600;">F. Faedah:</span></h3>
<p>Sebagian orang berdalih dengan dua kisah berikut untuk melegalkan talqin setelah mengubur mayit :</p>
<p><strong>1.Ucapan Amr bin Ash</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي</h2>
<p style="text-align: center;">“Jika saya meninggal dunia, maka jangan ada yang meratapiku, lalu jika kalian menguburku maka tibunlah akau dengan tanah, kemudian berdirilah sebentar sekedar waktu yang cukup untuk menyembelih seekor unta serta membagikan dagingnya sehingga saya bisa merasa tenang dengan kalian dan saya bisa mengetahui apa yang saya jawab untuk para utusan Robbku (malaikat).”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;">Kisah ini sama sekali bukan dalil talqin, hal ini bisa dilihat dari beberapa sisi :</span></p>
<ul>
<li>Kisah ini hanya mauquf kepada sahabat Amr bin Ash.</li>
<li>Setahu kami, tidak ada yang melakukan ini dari kalangan para sahabat lainnya.</li>
<li>Dalam kisah ini tidak ada perintah talqin.</li>
</ul>
<p><strong>2. Hadits Baro’ bin Azib</strong></p>
<p>Dari <strong>Baro’ bin Azib</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Kami keluar bersama Rosululloh untuk menguburkan jenazah salah seorang sahabat anshor, dan sampailah kami ke pekuburan ternyata lubang kuburnya belum digali, maka Rosululloh duduk menghadap ke kiblat dan kita pun duduk disekeliling beliau seakan-akan dikepala kami ada burung yang hinggap, Rosululloh memegang batang kayu dan menggaris-gariskannya ketanah, lalu beliau melihat ke langit lalu kebumi, beliau juga mengarahkan pandangan keatas kemudian menurunkannya, lalu beliau bersabda : &#8220;Berlindunglah kalian kepada Alloh dari adzab kubur.” lalu beliau berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari adzab kubur ( 3X ), kemudian beliau bersabda : -tentang perjalanan seseorang  mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia-</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih, HR. Abu Dawud , Hakim 1/37, Thoyalisi  : 753, Ahmad 4/287, Lihat takhrij secara lengkap pada Ahkamul Jana’iz oleh Imam Al Albani hal : 202)</p>
</blockquote>
<p>Hadits inipun sama sekali tidak bisa dibawa pada masalah talqin, karena beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Yang dilakukan oleh Rosululloh saat itu hanyalah memberikan wejangan kepada para sahabatnya tentang perjalanan seorang mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia.</li>
<li>Hal itu dilakukan oleh Rosululloh sebelum mayit dikuburkan, tapi beliau melakukannya saat liang lahat masih digali.</li>
</ul>
<p>(Lihat Subulus Salam oleh <strong>Imam Ash Shon’ani</strong> 1/577)</p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">G. Kapan talqin dilakukan ?</span></h3>
<p><strong>Yang merupakan sunnah Rosululloh, bahwa talqin dilakukan saat seseorang akan meninggal dunia</strong>, dengan cara memerintahkannya untuk mengucapkan kalimat ikhlash <span style="color: #ff0000;"><strong>La Ilaha Illalloh</strong></span>.<br />
Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya sabda beliau  :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لقنوا موتا كم لا إله إلا الله، (من كان آخر كلامه لا إله إلا الله عند الموت دخل الجنة يوما من الدهر، وإن أصابه قبل ذلك ما أصابه)</h2>
<p style="text-align: center;">“Talqinlah orang yang akan meninggal dunia diantara kalian dengan La Ilaha Illalloh. Barang siapa yang akhir ucapannya saat akan meninggal dunia La Ilaha Illalloh niscaya dia akan masuk surga suatu ketika, meskipun sebelumnya dia tertimpa sesuatu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Bazzar)</p>
</blockquote>
<p>Dari <strong>Anas</strong> berakata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Rosululloh pernah menjenguk salah seorang sahabat anshor. Beliau bersabda : Wahai paman, katakanlah La Ilaha Illalloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/152 dengan sanad shohih menuut syarat Muslim.)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">Lihat Ahkamul Jana’iz oleh <strong>Syaikh Al Albani</strong> (hlm : 19)</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</em></strong></p>
<p><strong><em>www.ahmadsabiq.com</em></strong></p>
<p><em><br />
</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 10:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Tsa'labah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Saat menafsirkan firman Alloh : وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77) Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Alloh : [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F12%2F15%2Fkritik-kisah-tsalabah%2F">
										</iframe>
										</div><p>Saat menafsirkan firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)</h2>
<p style="text-align: center;">Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Alloh : Sesungguhnya jika Alloh memberikan sebagian karunia Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah  dan pastilah kami termasuk orang-orang yang sholeh.” Maka setelah Alloh memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Alloh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Alloh, karena mereka telah memungkiri terhadap Alloh apa yang telah mereka ikrarkan kepada Nya dan juga mereka selalu berdusta.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 75-77)</p>
</blockquote>
<p><span id="more-163"></span><br />
Berkata <strong>Imam Ibnu Jarir Ath Thobari</strong> 14/16987 :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Para ulama’ tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini. Sebagian  mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah Tsa’labah bin Hathib, salah seorang sahabat anshor.”.</p>
</blockquote>
<p>Kemudian beliau meriwayatkan sebuah hadits :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Telah menceritakan kepadaku Mutsanna, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu’aib, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Ma’an bin Rifa’ah as Sulami dari Abu Abdil Malik Ali bin Yazid al Alhani bahwasanya dia menghabarkan dari Qosim bin Abdur Rohman  bahwasannya dia menghabarkan dari Abu Umamah al Bahili dari Tsa’labah bin Hathib bahwasannya dia berkata kepada Rosululloh  : “Berdo’alah kepada Alloh agar Alloh memberikan rizqi harta kepadaku.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Celakalah engkau wahai Tsa’labah, sedikit harta tapi engkau syukuri lebih baik dari banyak harta tapi engkau tidak mampu menanggungnya, tidakkah engkau ridlo menjadi seperti nabi Alloh, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, seandainya saya kepingin  agar gunung itu mengalirkan perak dan emas untukku, niscaya akan mengalir.” Tsa’labah menjawab : “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berdo’a kepada Alloh lalu Alloh memberi rizki harta kepada ku, niscaya akan aku berikan harta itu pada setiap yang berhak.” Maka Rosululloh berdo’a : “Ya Alloh, berilah Tsa’labah harta.” Lalu diapun mengambil kambing, dan ternyata kambing itu berkembang biak dengan pesat seperti ulat, sehingga kota Madinah tidak muat, lalu dia pun pindah ke pinggiran kota, tepatnya pada salah satu lembahnya, sehingga dia cuma bisa sholat  jamaah dhuhur dan ashar dan meninggalkan jamaah sholat lainnya. Kemudian kambing pun semakin berkembang biak sehingga dia pun tidak pernah jamaah sholat lima waktu selain sholat jum’at saja, namun kambingnya pun bertambah banyak yang akhirnya sholat jum’at pun dia tinggalkan, dan dia hanya mencari berita dari para pendatang yang ikut sholat jum’at. Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah.”</p>
</blockquote>
<p>Lalu Alloh menurunkan firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً</h2>
<p style="text-align: center;">“Ambilllah zakat dari harta-harta mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 103)</p>
</blockquote>
<p>yang menunjukkan wajibnya zakat, maka Rosululloh mengutus dua orang untuk mengambil zakat, seorang dari Bani Juhainah dan seorang lagi dari Bani Salim dan Rosululloh menuliskan sebuah surat tentang bagaimana harus mengambil zakat dari kaum muslimin. Rosululloh juga berpesan kepada keduanya : “Mampirlah ke tempat Tsa’labah dan seseorang dari bani Salim lalu ambillah zakat dari keduanya.” Lalu keduanya pergi sehingga bertemu dengan Tsa’labah, lalu minta shodaqohnya  dan keduanya membacakan surat Rosululloh. Namun ternyata Tsa’labah malah berkata : “Ini adalah jizyah 1, ini tiada lain kecuali saudaranya jizyah, saya tidak tahu akan hal ini, pergilah dahulu sehingga kalian selesai menjalankan tugas  lalu balik lagi kesini.” Lalu keduanya pun berangkat, kedatangan keduanya di dengar oleh seseorang yang dari Bani Salim maka dia melihat pada untanya yang paling bagus lalu di ambil untuk zakat dan diapun menyambut kedatangan keduanya, dan tatkala keduanya melihat, maka mereka berdua berkata : “Kamu tidak wajib mengeluarkan ini, kami tidak ingin mengambil yang sebagus ini darimu.” Namun dia berkata : “Ambillah, saya rela mengasihkannya.” Tatkala keduanya selesai menjalankan tugas, maka keduanya balik lagi ke Tsa’abah, lalu dia berkata : “Tunjukkan kepadaku surat yang kalian bawa.” Lalu dia melihatnya seraya berkata : “Ini tiada lain adalah saudaranya jizyah, pergilah sehingga saya menentukan sikapku.” Keduanya pun pulang sehingga sampai kepada Rosululloh, tatkala Rosululloh melihat keduanya, beliau bersabda : &#8220;Celakalah Tsa’labah.”  Ini diucapkan sebelum Rosululloh berbicara kepada kedua dan beliau mendo’akan keberkahan kepada seseorang yang dari Bani Salim, lalu keduanya menghabarkan apa yang dilakukan oleh orang dari Bani Salim tersebut dan apa yang dilakukan oleh Tsa’labah. Maka turunlah firman Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Diantara mereka ada yang berjanji pada Alloh, jika Alloh memberikan keutaman Nya, sungguh kami akan bershodaqoh dan kami akan menjadi orang-orang yang sholih.”</p>
</blockquote>
<p>Sampai pada firman Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan terhadap apa yang mereka dustakan.”</p>
</blockquote>
<p>Disaat itu didekat Rosululloh ada seseorang kerabat Tsa’labah, tatkala dia mendengar ayat ini maka segera mendatangi Tsa’abah  seraya berkata : “Celakalah engkau wahai Tsa’labah, Alloh menurunkan ayat ini dan itu berhubungan denganmu.” Maka Tsa’labah keluar sehingga mendatangi Rosululloh dan meminta beliau menerima shodaqohnya, namun Rosululloh bersabda : &#8220;Alloh melarangku untuk menerima shodaqohmu.” maka dia menaburkan tanah pada kepalanya, namun Rosululloh malah berkata : “Inilah perbuatanmu, saya perintahkan engkau namun tidak engkau ta’ati.” Kemudian Tsa’labah pulang ke rumahnya dan Rosululloh meninggal dunia dalam keadaan tidak mau menerima shodaqohnya. Kemudian dia datang kepada Abu Bakr tatkala beliau menjadi kholifah seraya berkata  : “Engkau mengetahui kedudukanku disisi Rosululloh juga dikalangan anshor, maka terimalah shodaqohku.” Maka Abu Bakr berkata : &#8220;Rosululloh tidak menerimanya, akankah saya menerimanya ?.” Dan Abu Bakr meninggal dunia tetap tidak menerima zakatnya. Dan tatkala Umar menjadi kholifah, dia pun mendatanginya seraya berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku.” Maka Umar berkata : “Rosululloh dan Abu Bakr tidak menerimanya, akankah saya menerimanya ?.”  sehingga Umar pun meninggal dunia, kemudian Utsman menjadi kholifah, dan dia pun mendatanginya  lalu mohon agar di terima shodaqohnya, maka Utsman berkata: “Rosululloh, Abu Bakr dan Umar tidak menerimanya, lalu akankah saya menerimanya ?.” Akhirnya Tsa’labah meninggal dunia pada zaman khilafah Utsman.”</p>
<p><strong>Kisah ini sangat lemah</strong></p>
<h3>Kemasyhuran kisah ini</h3>
<p>Kisah ini sangat terkenal dalam kitab-kitab tafsir saat menafsikan ayat diatas, juga sangat sering disampaikan oleh para khothib dan para penceramah untuk menceritakan tentang akibat dari orang yang enggan membayar zakat. Diantara yang menyebutkan kisah ini dalam kitab-kitab mereka adalah :<br />
<strong>Al Wahidi</strong> dalam Asbabun Nuzul hal : 141, <strong>Ibnu Jarir Ath Thobari</strong> dalam tafsir beliau, kisah inipun disandarkan oleh <strong>As Suyuthi</strong> dalam Jami’ Soghir 2/203 kepada <strong>Al Baghowi</strong>, <strong>Al Barudi</strong>, <strong>Ibnu Qoni’</strong>, <strong>Ibnu Sakan</strong> dan <strong>Ibnu Syahin</strong> dari <strong>Abu Umamah Al Bahili</strong>.</p>
<p>Berkata <strong>Syaikh Ali Hasan</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Kisah inipun disebutkan oleh <strong>Zamakhsari</strong> dalam Al Kasyyaf 2/203, <strong>Ibnul Jauzi</strong> dalam Zadul Masir 3/372, <strong>Ar Rozi</strong> dalam Mafatihul Ghoib 16/130, <strong>Al Khozin</strong> dalam tafsir beliau 3/126, <strong>Al Baidlowi</strong> dalam Anwarut Tanzil 3/75, <strong>Ibnu Katsir</strong> dalam tafsur beliau 2/373, <strong>As Suyuthi</strong> dalam Ad Dur Al Mantsur 3/260 juga dalam al Iklil hal : 121  serta masih banyak lainnya tanpa mereka sebutkan akan kebatilan dan kemungkarannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat At Tashfiyah wat Tarbiyah hal : 54)</p>
</blockquote>
<h3>Sisi kelemahan kisah ini</h3>
<p>Kisah ini lemah bila ditinjau dari sisi sanad maupun matannya, adapun dari sisi sanadnya maka penjelasannya adalah sebagai berikut :</p>
<p>Bahwa dalam sanad hadis ini terdapat dua sisi kelemahan yaitu :</p>
<ol>
<li>Pertama : <strong>Ali bin Yazid Al Alhani</strong><br />
Berkata <strong>Bukhori</strong> : Munkar hadits.<br />
Berkata <strong>Daruquthni</strong> : Matruk.<br />
Berkata <strong>Nasa’i</strong> : Tidak tsiqoh<br />
Berkata <strong>Abu Zur’ah</strong> : Tidak kuat<br />
(Lihat Mizanul i’tidal oleh <strong>Adz Dzahabi</strong> 5/195 dan Tahdzibut Tahdzib 7/396)</li>
<li>Kedua : <strong>Ma’an bin Rifa’ah As Sulami </strong><br />
Berkata <strong>Ibnu Hibban</strong> : Munkar hadits dan dia menceritakan hadits dari orang-orang yang tak dikenal<br />
Berkata <strong>Jauzaqoni</strong> : Tidak bisa dijadikan hujjah.<br />
(Lihat Tahdzibut Tahdzib 10/201, Mizanul i’tidal 6/455, Al Majruhin 3/36)</li>
</ol>
<p>Oleh sebab inilah, maka hadits ini dilemahkan oleh banyak para ulama’ diantaranya adalah :<br />
Berkata <strong>Al Haitsami</strong> : “Diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong>, dan pada sanadnya terdapat <strong>Ali bin Yazid al Alhani</strong>, dia itu orang yang matruk, dan <strong>Ma’an bin Rifa’ah</strong> haditsnya lemah.”<br />
Berkata <strong>Al ‘Iroqi</strong> dalam Takhrij Ihya’ 3/135 : “Sanadnya lemah.”<br />
Berkata <strong>al Hafidl Ibnu Hajar</strong> : Hadits ini lemah tidak dapat digunakan sebagai hujjah (Fathul Bari 3/266, lihat juga  Takhrij Kasyaf 4/77/133)</p>
<p>Yang juga melemahkannya adalah :<br />
<strong>Ibnu Hazm</strong> dalam al Muhalla 12/137<br />
<strong>Al Baihaqi</strong> sebagaimana dinukil dalam Faidlul Qodir 4/527<br />
<strong>Al Qurthubi</strong> dalam tafsir beliau 8/210<br />
<strong>Adz Dzahabi</strong> dalam Tajrid Asma’ Shohabah no : 623.<br />
(Lihat Adl Dlo’ifah oleh <strong>Syaikh al Albani</strong> : 1607, 4081, Qoshosh La Tatsbut <strong>Syaikh Yusuf Al Atiq</strong> 1/47)</p>
<p>Adapun dari sisi matannya, maka hadits inipun lemah dan bathil. Penjelasannya adalah sebagai berikut :</p>
<p>Hadits ini banyak bertentangan dengan nash-nash yang jelas dalam al Qur’an dan as Sunnah, yaitu :</p>
<p><strong>1.Diterimanya taubat</strong></p>
<p>Termasuk sesatu yang jelas dalam syariat islam yang mulia, bahwa Alloh menerima taubat orang yang berbuat kesalahan, sebesar apapun kesalahan tersebut selagi matahari belum terbit dari barat dan selagi nafas belum sampai ditenggorokan.<br />
Alloh berfirman :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</h2>
<p style="text-align: center;">Katakanlah : “Hai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Az Zumar [39] : 53)</p>
</blockquote>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا</h2>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Abu Musa</strong> dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh membentangkan tangan Nya pada waktu malam untuk mengampuni orang yang berbuat jelek pada waktu siang, dan Alloh juga membentangkan tangan Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat jelek pada waktu malam sehingga matahari terbit dari arah barat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 4959 Ahmad : 18708)</p>
</blockquote>
<p>Beliau juga bersabda :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر</h2>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Ibnu Umar</strong> dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selagi nafas belum sampai tengorokan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani)</p>
</blockquote>
<p>Nash-nash ini sangat jelas menunjukkan bahwa taubat seseorang itu diterima, padahal dalam kisah tersebut Rosululloh tidak menerima taubatnya Tsa’labah yang menyadari kesalahannya tatkala enggan membayar zakat, begitu pula dengan ketiga kholifah setelah beliau.</p>
<p><strong>2. Keutamaan orang yang ikut perang Badar</strong></p>
<p>Tsa’labah daam kisah ini nama lengkapnya adalah <strong>Tsa’labah bin Hathib bin Amr bin Ubaid bin Umayah al Anshori</strong>. Beliau adalah termasuk slaah seorang sahabat yang ikut dalam perang badar, sebgaimana hal ini ditegaskan oleh <strong>Imam Ibnu Katsir</strong> dalam al Bidayah wan Nihayah 5/218 juga oleh <strong>Al Hafidl Ibnu Hajar</strong> dalam al Ishobah 1/199 serta yang lainnya.</p>
<p>Padahal sudah merupakan sesuatu yang mapan dalam akidah kaum muslimin bahwa ahli Badar mempunyai keutamaan yang sangat besar yang tidak dapat dicapai oleh sahabat lainnya yang tidak ikut perang Badar.</p>
<p>Diantara keutamaan mereka adalah yang terdapat dalam beberapa hadits berikut :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Tidak akan masuk neraka orang yang ikut perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 14725 dengan sanad shohih, Lihat Ash Shohihah : 2160)</p>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ أَنَّ عَبْدًا لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتَ لَا يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَة</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir berkata : Bahwa seorang budak milik Hathib datang kepada Rosululloh untuk mengadukan perkara Hathib, seraya berkata : Ya Rosululloh, sungguh Hathib akan masuk neraka.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Engkau berdusta, dia ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 2495)</p>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ وَكَانَ أَبُوهُ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ قَالَ جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Mu’adz bin Rifa’ah Az Zuroqi dari bapaknya yang merupakan orang yang ikut perang Badar berkata : &#8220;Jibril datang kepada Rosululloh seraya berkata : Menurut kalian bagaimana dengan orang yang ikut dalam perang Badar ? Maka Rosululloh menjawab : Mereka adalah orang islam yang paling baik, demikian juga dengan para malaikat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3992)</p>
</blockquote>
<p>Inilah sebagian keutamaan ahli badar, lalu bagaimana mungkin Tsa’labah melakukan itu semua, padahal dia adalah saah seorang yang ikut perang badar ? dan anggaplah beliau melakukannya, lalu bagaimana mungkin Alloh tidak mengampuninya, padahal dosa orang yang ikut perang badar telah diampuni oleh Alloh sebesar apapun dosa tersebut. Perhatikanlah kejadian berikut ini :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ وَالزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ وَكُلُّنَا فَارِسٌ قَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ مَعَهَا كِتَابٌ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ فَأَدْرَكْنَاهَا تَسِيرُ عَلَى بَعِيرٍ لَهَا حَيْثُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا الْكِتَابُ فَقَالَتْ مَا مَعَنَا كِتَابٌ فَأَنَخْنَاهَا فَالْتَمَسْنَا فَلَمْ نَرَ كِتَابًا فَقُلْنَا مَا كَذَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُجَرِّدَنَّكِ فَلَمَّا رَأَتِ الْجِدَّ أَهْوَتْ إِلَى حُجْزَتِهَا وَهِيَ مُحْتَجِزَةٌ بِكِسَاءٍ فَأَخْرَجَتْهُ فَانْطَلَقْنَا بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ قَالَ حَاطِبٌ وَاللَّهِ مَا بِي أَنْ لَا أَكُونَ مُؤْمِنًا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ لِي عِنْدَ الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلَّا لَهُ هُنَاكَ مِنْ عَشِيرَتِهِ مَنْ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ وَلَا تَقُولُوا لَهُ إِلَّا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ali berkata : “Rosululloh mengutusku bersama Martsad al Ghonawi dan Zubair bin Awam, dan kami semua adalah para penunggang kuda. Beliau bersabda : “Berangkatlah kalian sehingga sampai di kebuh Khokh, disana nanti ada seorang wanita musyrik membawa surat dari Hathib bin Abi Balta’ah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik.” Maka kami menemukan wanita tersebut sedang naik unta ditempat yang ditunjukkan oleh Rosululloh, lalu kami katakan : “Serahkan surat tersebut.” Dia menjawab : “Saya tidak bawa surat.” Lalu kami mencarinya dan tidak kami temukan adanya surat, namun kami berkata : “Rosululloh tidak berdusta, engkau keluarkan surat itu atau kami telanjangi.” Dan tatkala wanita tersebut melihat keseriusan kami, maka dia mengeluarkan surat tersebut dar kain pengikat sarungnya, lalu kamipun berangkat balik kepada Rosululloh. Maka Umar berkata : “Wahai Rosululloh, Dia telah berkhianat kepada Alloh, Rosul  Nya dan kaum mu’minin, biarkan aku penggal kepalanya.” Tapi Rosululloh malah bertanya kepada Hathib : “Apa yang membuatmu melakukan ini semua ?.” Maka Hathib menjawab : “Demi Alloh, bukannya saya tidak beriman kepada Alloh dan Rosul Nya, saya hanya ingin agar mereka merasa punya budi kepadaku, yang dengan itu bisa untuk menjaga keluarga dan hartaku, sedangkan semua sahabatmu mempunyai kerabat yang bisa menjaga keluarga dan hartanya.” Lalu Rosululloh bersabda : Dia telah berkata benar, jangan kalian katakan kepadanya kecuali kebaikan.” Namun Umar tetap berbicara : “Dia telah berkhianat kepada Alloh dan Rosul Nya serta kaum mu’minin, maka biarkan aku penggal kepalanya.” Maka Rosululloh bersabda : “Bukankah dia adalah termasuk sahabat yang ikut perang Badar ? barangkali Alloh Ta’ala sudah melihat kepada sahabat yang ikut perang Badar, sehingga Dia berfirman  : “Lakukanlah apa yang kalian mau, sungguh kalian akan masuk surga (atau : Sungguh Saya ampuni kalian).” Maka kedua mata Umar pun mencucurkan air mata seraya berkata : “Alloh dan Rosul Nya lebih mengetahui.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3007, 3983 Muslim : 2494)</p>
</blockquote>
<p><strong>Sedangkan sisi kelemahan matan yang ketiga adalah :</strong></p>
<p>Kisah ini bertentangan dengan sebuah syariat tentang orang yang enggan membayar zakat, yaitu diambil zakatnya serta separoh dari hartanya secara paksa.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من أعطاها مؤتجرا بها فله أجرها ومن منعها فإنا آخذوها وشطر ماله عزمة من عزمات ربنا عز وجل</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang menunaikan (zakat) demi mendapatkan pahala , niscaya dia akan mendapatkan pahalanya, namun barang siapa yang tidak membayarnya maka kami akan mengambilnya dan separoh hartanya, sebagai salah satu ketetapan dari ketetapan Robb kami.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 5/2, Abu Dawud 1575, Hakim 1/398 dengan sanad Hasan)</p>
</blockquote>
<p><strong>Dan sisi kelemahan yang keempat</strong> adalah bahwa kisah ini bertentangan dengan siroh para sahabat secara umum, yang mana mereka adalah manusia yang paling utama, sangat cinta pada akhirat dan zuhud pada dunia. Dan hal ini sangat jelas bagi siapapun yang menelaah perjalanan hidup mereka, bagaimana tidak demikian padahal Alloh telah ridlo pada mereka, sebagaimana firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ</h2>
<p style="text-align: center;">Orang yang pertama kali masuk islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, niscaya Alloh akan ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Alloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 100)</p>
</blockquote>
<p>Dan Rosululloh menyebut mereka sebagai manusia yang paling utama, sebagaimana sabda beliau :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ubaidah bin Abdillah bahwasannya Rosululloh bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim )</p>
</blockquote>
<h3>Pengganti yang shohih :</h3>
<p>Setelah mengetahui kelemahan kisah ini, maka tidak boleh bagi seorangpun untuk membawakan kisah ini sebagai ibroh bagi yang enggan membayar zakat. Cukuplah bagi kita ayat al Qur’an dan hadits yang shohih yang menerangkan tentang ancaman bagi yang enggan membayar zakat. Diantaranya adalah :<br />
Firman Alloh Ta’la :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ</h2>
<p style="text-align: center;">QS. At Taubah : 34,35</p>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang diberi harta oleh Alloh lalu dia tidak membayar zakatnya, maka nanti hartanya itu akan dirubah menjadi seekor ular botak yang memiliki dua titik hitam yang nantinya akan mematuknya pada hari kiamat, kemudian dia akan mencengkeramnya dengan kedua taringnya seraya mengatakan : “Saya harta simpananmu, saya adalah hartamu.”</p>
</blockquote>
<p>Kemudian Rosululloh membaca firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ</h2>
<p style="text-align: center;">(QS. Ali Imron : 180)5</p>
<h2 style="text-align: center;">عن أبي هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالْإِبِلُ قَالَ وَلَا صَاحِبُ إِبِلٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا وَمِنْ حَقِّهَا حَلَبُهَا يَوْمَ وِرْدِهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ أَوْفَرَ مَا كَانَتْ لَا يَفْقِدُ مِنْهَا فَصِيلًا وَاحِدًا تَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا وَتَعَضُّهُ بِأَفْوَاهِهَا كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ قَالَ وَلَا صَاحِبُ بَقَرٍ وَلَا غَنَمٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ لَا يَفْقِدُ مِنْهَا شَيْئًا لَيْسَ فِيهَا عَقْصَاءُ وَلَا جَلْحَاءُ وَلَا عَضْبَاءُ تَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Tidak ada seorangpun yang memiliki emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti pada hari kiamat akan dijadikan lempengan dari api lalu dipanaskan di neraka Jahannam, lalu akan  disetrikakan pada samping tubuhnya dan pada dahihnya, setiap kali sudah dingin maka akan diulangi lagi, itu semua dilakukan pada suatu hari  yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun, sehingga akan diselesaikan urusan manusia, lalu dia kan mengetahui jalannya, mungkin ke surga atau mungkin ke neraka.<br />
Dikatakan : Wahai Rosululloh, lalu bagaimana dengan unta ? Beliau menjawab : Tidak pula yang memiliki unta yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti pada hari kiamat dibentangkan baginya sebuah tempat yang sangat luas dan keras, tidak ada satu untapun yang tidak berada disitu, lalu mereka akan menginjaknya dengan kaki kaki mereka serta akan menggigit dengan mulut mereka, setiap kali yang pertama sudah lewat maka akan dikembalikan bagian yang akhirnya, itu semua pada suatu hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun, sehingga akan diselesaikan urusan manuisa, lalu dia akan mengetahui jalannya, mungkin ke surga atau ke neraka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim :987)</p>
<h2 style="text-align: center;">وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  مانع الزكاة يوم القيامة في النار</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Anas bin Malik berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Orang yang enggan membayar zakat akan masuk neraka pada hari kiamat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni dalam ash Shoghir, berkata al Albani : Hasan Shohih, lihar Shohih Targhib : 762)</p>
<h2 style="text-align: center;">وعن بريدة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  ما منع قوم الزكاة إلا ابتلاهم الله بالسنين</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Buroidah berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Tidaklah sebuah kaum enggan membayar zakat kecuali akan diuji oleh Alloh dengan musim paceklik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni dalam al Ausath, Hakim, Baihaqi dengan sanad shohih, lihat shohih Targhib : 763)</p>
</blockquote>
<p>Wallohu a’lam</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kedustaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I Muqaddimah disusun oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf I. PENGANTAR Insya Alloh, tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kisah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada jiwa seseorang, mulai dari anak kecil sampaipun orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia. Kisah bisa mempengaruhi jiwa sehingga menjadi pemberani, jujur, berpikir optimis [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fmuqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><strong>Bagian I</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p style="text-align: center;">disusun oleh:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;"><strong>I. PENGANTAR<br />
</strong></p>
<p>Insya Alloh, tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kisah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada jiwa seseorang, mulai dari anak kecil sampaipun orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia.<br />
Kisah bisa mempengaruhi jiwa sehingga menjadi pemberani, jujur, berpikir optimis dan lainnya, namun disisi lainnya juga bisa mempengaruhinya sehingga menjadi penakut, cengeng, pemalu dan lainnya.<br />
Oleh karena itu Alloh dalam kitab suci Al Qur’an banyak sekali menyebutkan kisah umat terdahulu, baik kisah para nabi dan orang-orang sholih untuk dijadikan ibroh kebaikannya, juga kisah kaum yang dholim untuk dijadikan pelajaran akan akibat perbuatan dholimnya.</p>
<p><span id="more-4"></span><br />
Alloh Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align: center;">لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ</p>
<p style="text-align: center;">“Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat sebuah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Yusuf : 111)</p>
<p style="text-align: center;">فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p style="text-align: center;">“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al A’rof : 176)</p>
<p>begitu pula Rosululloh, beliau sering menceritakan banyak kisah yang terjadi pada ummat yang telah lampau, sebagaimana hal ini diketahui bersama oleh orang-orang yang menelaah sunnah beliau. Begitu pula dengan salafus sholeh dan para ulama’ ahlus sunnah setelahnya</p>
<p><strong>II. ANTARA KISAH SHAHIH DAN LEMAH</strong></p>
<p><strong> </strong>Namun tidak semua kisah yang berkembang dimasyarakat yang dinisbahkan kepada Rosululloh, juga para sahabat, para ulama’ serta lainnya itu benar-benar shohih berasal dari mereka, akan tetapi sebagiannya adalah kisah-kisah palsu, sebagiannya lagi lemah dan sebagiannya lagi ada yang inti kisahnya benar namun dibumbui dengan beberapa tambahan yang tidak ada asal usulnya. Padahal banyak sekali kisah-kisah yang tidak shohih tersebut membahwa pengaruh terhadap penyelewengan yang tidak ringan dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah , akhlak serta lainnya.<br />
Dan bahaya ini semakin nampak tatkala itu adalah cerita yang dinisbahkan kepada Rosululloh, karena itu bisa merupakan sebuah kedustaan atas nama beliau, padahal beliau pernah bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">َمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار</p>
<p style="text-align: center;">“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja , maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”</p>
<p style="text-align: center;">(Hadits mutawatir)</p>
<p>dan seandainyapun kisah itu tidak sampai pada derajat kisah palsu, dan hanya sebuah cerita yang lemah sanadnya, namun menceritakannya pun merupakan sesuatu yang berbahaya dalam pandangan syar’i. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh <strong>Syaikh Al Albani </strong>:</p>
<blockquote><p>“Ketahuilah, bahwa yang melakukan perbuatan ini adalah salah satu diantara dua  kemungkinan :<br />
Pertama : Mungkin orang tersebut mengetahui kelemahan hadits-hadits (yang dalam hal ini adalah hadits Rosululloh yang berupa kisah –pent) tersebut lalu dia tidak menerangkan sisi kelemahannya, maka orang semacam ini menipu kaum muslimin. Dan dia jelas-jelas masuk dalam ancaman sabda Rosululloh :</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِين<br />
َ<br />
“Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia sangka bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim dalam Muqoddimah shohih beliau)</p>
<p>Berkata<strong> Imam Ibnu Hibban</strong> dalam kitab Adl Dlu’afa’ : 1/7-8 :</p>
<p>“Hadits ini menunjukkan bahwa seorang ahli hadits kalau meriwayatkan sebuah hadits yang tidak shohh dari Rosululloh padahal dia mengetahuinya maka dia termasuk salah satu pendusta, padahal dhohirnya hadits tersebut menjelaskan perkara yang lebih besar lagi, dimana Rosululloh bersabda : “Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia sangka bahwa itu dusta ..” dan Rosululloh tidak bersabda : &#8220;Yang dia yakini bahwa itu dusta..” maka semua orang yang masih ragu-ragu pada apa yang dia riwayatkan apakah hadits itu shohih ataukah tidak maka dia termasuk dalam ancaman hadits tersebut.”</p>
<p>[Ucapan Imam Ibnu Hibban ini di nukil oleh Imam Ibnu Abdil Hadi dalam Ash Shorim Al Munki hal : 165-166 dan beliau menyepakatinya]</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> Kedua</strong> : Atau mungkin orang tersebut tidak mengetahui kelemahan sebuah hadits yang diriwayatkannya. Dan kalau begitu, maka dia tetap berdosa juga, karena dia berani menisbahkan sebuah hadits kepada Rosululloh tanpa ilmu. Padahal Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Hafsh bin Ashim bersabda : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 5, Abu Dawud : 4992. Lihat ash Shohihah : 205)</p>
<p>Maka orang ini mendapatkan bagian dosa berdusta atas nama Rosululloh, karena Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang menceritakan semua yang dia dengar akan terjerumus pada berdusta atas nama beliau. Dan dengan sebab inilah dia termasuk salah satu diantara dua pendusta, yang pertama adalah yang membuat kedustaan itu sendiri dan yang kedua adalah yang menyebarkannya.</p>
<p><strong><br />
Imam Ibnu Hibban</strong> berkata lagi 1/9 :</p>
<p>“Hadits ini merupakan ancaman bagi seseorang yang menceritakan semua yang dia dengar sampai dia mengetahui dengan pasti akan keshohihannya.”<br />
Imam Nawawi juga menegaskan bahwa orang yang tidak mengetahui keshohihan sebuah hadits maka tidak boleh untuk berhujjah dengannya tanpa meneliti terlebih dahulu jika dia sanggup melakukanya atau bertanya kepada para ulama’.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Tamamul Minnah ha : 32-34, dan lihat juga Silsilah adl Dlo’ifah 1/10-12)</p>
</blockquote>
<p><strong>III. PERHATIAN PARA ULAMA TERHADAP HADITS, KISAH LEMAH, DAN KISAH PALSU</strong><br />
Para ulama’ ahlus sunnah sangat memberikan perhatian untuk memperingatkan umat dari hadits dan kisah yang lemah dan palsu. Hal ini mereka lakukan agar ummat islam bisa menerima ajaran agama mereka sebagaimana yang benar-benar pernah disampaikan oleh Rosululloh, dan membersihkan semua tambahan dan polusi yang sebabkan oleh tersebarnya hadits dan kisah yang lemah dan palsu.<br />
Mereka berjuang sekuat tenaga untuk melawan hadits dan kisah lemah serta palsu ini dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, diantara yang mereka lakukan adalah :<br />
<strong>1. Meneliti sanad hadits</strong></p>
<ul>
<li> Para sahabat Rosululloh adalah orang-orang terpercaya yang tidak pernah berbohong, bagaimana mungkin mereka berbohong padahal mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Alloh Ta’ala untuk menemani dan membantu Rosululloh dalam mengemban risalah dari Alloh ini ?</li>
</ul>
<ul>
<li> Oleh karena itu kalau salah seorang dari mereka meriwayatkan sebuah hadits dari Rosululloh maka mereka langsung mempercayainya, dan itu pulalah yang dilakukan oleh para tabi’in. Namun setelah muncul fitnah, dan kaum muslimin terpecah belah menjadi berbagai kelompok dan golongan, serta munculnya orang-orang yang berani berdusta atas nama Rosululloh, maka para ulama’ mulai meneliti hadits yang mereka dengar.</li>
</ul>
<ul>
<li> Berkata <strong>Imam Muhammad bin Sirin</strong> :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Kami tidak pernah bertanya tentang sanad, namun tatkala muncul fitnah, maka kami mengatakan : “Sebutkan para perowi kalian.” Lalu dilihat kalau dia dari kalangan ahli sunnah maka haditsnya diterima, namun kalau dari ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.”</p></blockquote>
<ul>
<li> Berkata <strong>Abdulloh bin Mubaro</strong>k :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad niscaya semua orang akan bicara semaunya sendiri.”</p></blockquote>
<p>Perhatian pada sanad ini sangat dikedepankan oleh para ulama’ hadits dalam menerima sebuah riwayat, sehingga mereka tidak menerima kecuali yang benar-benar shohih dari Rosululloh. (Lihat As Sunnah Qoblat Tadwin oleh Muhammad Ajaj Al Khothib hal : 220-225)<br />
<strong>2. Melipatgandakan kesungguhan dalam mencari hadits Rosululloh</strong><br />
Termasuk kemurahan Alloh Ta’ala yang dicurahkan kepada ummat ini adalah Alloh memanjangkan umur sebagian para sahabat Rosululloh, agar mereka bisa menjadi nara sumber yang menunjukkan kepada kaum muslimin sunnah Rosul mereka, mereka bisa menjadi tempat bertanya dan minta fatwa. Namun karena para sahabat tidak berada disatu tempat akan tetapi mereka berpencar disegala penjuru negri, maka itu mengharuskan adanya perjalanan untuk mendapatkan hadits Rosululloh yang dibawa oleh mereka, akhirnya banyak sekali para penuntut ilmu dari kalangan sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka yang mengadakan perjalanan berbulan-bulan demi mendapatkan hadits Rosululloh.<br />
Ambil contoh apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitabul ilmi bahwa Jabir bin Abdillah melakukan perjalanan selama satu bulan penuh untuk mendapatkan satu buah hadits dari Abdulloh bin Unais.</p>
<ul>
<li> Berkata<strong> Sa’id bin Musayyib</strong> :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Saya pernah berjalan berhari-hari demi mendapat satu buah hadits.” (Lihat Jami’ Bayanil Ilmi Wa fadllihi oleh Imam Ibnu Abdil Bar 1/113)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Ibnu Hibban</strong> :</li>
</ul>
<blockquote><p>&#8220;Para ulama’ yang menjaga agamanya kaum muslimin dan memberi petunjuk mereka kepada jalan yang lurus, mereka adalah orang-orang yang lebih mengutamakan menempuh perjalanan melewati padang pasir nan luas daripada harus bersenang-senang dengan tetap tinggal dikampung halaman, semua itu demi mencari sunnah Rosululloh diberbagai penjuru negeri lalu mengumpulkannya dalam kitab dan buku, sampai-sampai salah satu dari mereka ada yang berjalan ribuan kilo meter demi mencari satu hadits, juga ada yang berjalan berhari hari demi mendapatkan sebuah hadits. Ini semua agar tidak ada diantara kaum penyesat yang bisa memasuki mereka, kalau ada yang melakukan itu, maka para ulama’ tersebut segera mengetahui dan membongkar kedoknya.”</p>
<p>(Lihat Al Majruhin oleh Imam Ibnu Hibban 1/27 dengan sedikit perubahan)</p></blockquote>
<p><strong>3. Studi kritis terhadap para perowi hadits</strong><br />
Para ulama’ hadits sangat perhatian untuk mengetahui para perowi hadits, karena dengan cara ini mereka bisa membedakan antara sebuah hadits yang shohih dan hasan dengan sebuah hadits yang lemah dan palsu, oleh karena itu mereka mempelajari biografi setiap perowi hadits, baik yang nampak maupun bukan, baik yang menyenangkan maupun mungkin yang menyakitkan.</p>
<blockquote><p>Pernah ada seseorang yang berkata kepada <strong>Imam Yahya bin Sa’id Al Qothon</strong> :“Tidakkah engkau takut bahwa orang-orang yang tidak engkau ambil haditsnya akan menjadi musuhmu pada hari kiamat kelak ? maka beliau menjawab : “Mereka menjadi musuhku itu jauh lebih baik daripada yang menjadi musuhku adalah Rosululloh, dimana besok beliau akan mengatakan : “Kenapa engkau tidak membersihkan haditsku dari para pendusta ?.” (Lihat Al Kifayah fi Ilmir Riwayah oleh al Khothib al Baghdadi hal : 44)</p></blockquote>
<blockquote><p>Juga pernah ada yang berkata kepada<strong> Imam Ahmad bin Hanbal</strong> : “Sangat berat bagiku untuk mengatakan : “ Si Fulan lemah, si fulan pendusta.” Maka Imam Ahmad berkata : “Jika engkau diam, dan sayapun diam, lalu dari mana orang akan bisa mengetahui mana hadits yang shohih dengan hadits yang lemah ?.” (Lihat Al Kifayah hal : 46)</p></blockquote>
<p>Para ulama’ telah mengerahkan segala kemampuan mereka untuk membedakan mana rowi yang lemah dengan yang terpercaya, mereka menulis banyak kitab, baik kitab yang besar maupun kecil.<br />
Diantara kitab-kitab tersebut adalah :</p>
<ul>
<li>Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Shohih Al Qoshosh An Nabawi</li>
<li> Al Kamal Fi Asma’ir Rijal oleh imam Abdul Ghoni Al Maqdisi</li>
<li>Tahdzibul Kamal oleh Imam Al Mizzi</li>
<li>Tahdzibut Tahdzib oleh al Hafidz Ibnu Hajar</li>
<li>Mizanul I’tidal oleh Imam Adz Dzahabi</li>
<li>Lisanul Mizan oleh Al Hafidl Ibnu Hajar</li>
<li>Siyar a’lamin Nubala’oleh Adz Dzahabi</li>
<li>Thobaqot al Kubro oleh Ibnu Sa’ad</li>
<li>Ats Tsiqot oleh Ibnu Hiban</li>
<li>Al Majruhin oleh Ibnu Hibban</li>
<li>Adl Dlu’afa’ wal Matrukin oleh Imam Ad Daruquthni</li>
<li>At Tarikh al Kabir oleh Imam Bukhori</li>
<li>Al Jarh wat Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim</li>
<li>Adl Dlu’afa’ al Kabir oleh al Uqoili</li>
<li>Al Kamil fidl Dlu’afa’ oleh Ibnu ‘Adi</li>
<li>dan masih banyak lagi kitab lainnya.</li>
</ul>
<p><strong>4. Menulis kitab yang mengumpulkan hadits lemah dan palsu</strong><br />
Para ulama’ sejak zaman dahulu sangat perhatian terhadap pengumpulan hadits-hadits lemah dan palsu dalam sebuah kitab. Tujuan mereka adalah agar kaum muslimin mengetahui bahwa hadits tersebut adalah lemah atau palsu, sehingga bisa menghindarinya.<br />
Diantara kitab-kitab tersebut adalah :</p>
<ul>
<li> Al Maudlu’at minal Ahadits Al Marfu’at oleh Imam Ibnul Jauzi</li>
<li>Al La’ali Al Mashnu’ah fil Ahaditsil Maudlu’ah oleh Imam As Suyuthi</li>
<li>Tanzihusy Syari’ah al Marfu’ah min Akhbar Asy Syani’ah Al Maudlu’ah oleh Syaikh Ibnu ‘Aroq Al Kanani</li>
<li>Al ‘Ilal Al Mutanahiyyah minal Ahaditsil Wahiyah oleh Imam Ibnul Jauzi</li>
<li>Al Fawa’id Al Majmu’ah fil Ahadits al Maudlu’ah oleh Imam Syaukani</li>
<li>Al Manarul Munif fish Shohih wadl Dlo’if oleh Imam Ibnul Qoyyim</li>
<li>Silsilah Ahadits Dlo’ifah wal Maudlu’ah oleh Imam Al Albani</li>
<li>Dan masih banyak kitab lainnya.</li>
</ul>
<p>Dan para ulama’ mu’ashirin banyak yang menuliskan mengenai kisah tak nyata ini dalam sebuah risalah tersendiri, di antaranya adalah :</p>
<ul>
<li>Syaikh Mayhur Hasan Salman dalam kitab beliau : Qoshoshun la tastbut</li>
<li>Syaikh Fauzi bin Abdur Rohman dalam Tabshirotu Ulil Ahlam min Qoshoshin fiha kalam</li>
<li>Syaikh Ali bin Ibrohim Al Hasyisy dalam silsilah “Tahdzirud Da’iyah min Al Qoshosh al Wahiyah” yang beliau tulis secara berurutan dalam majalah At Tauhid di Mesir</li>
<li>Syaikh Yusuf bin Muhammad Al Atiq dalam Qoshosh la Tastbut</li>
</ul>
<p>Dan sebagian ulama’ lainnya ada yang mengumpulkan kisah kisah yang shohih dari Rosululloh, sebagai ganti dari kisah-kisah lemah tersebut, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li> Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Qoshosh Tatsbut</li>
<li>Syaikh Sulaiman Al Asyqor dalam Shohih Al Qoshos an NAbawi</li>
</ul>
<p><strong>5. Meletakkan kaedah untuk mengetahui hadits yang shohih dengan yang lemah</strong><br />
Adanya ilmu mushtholah hadits yang di buat oleh para ulama’ untuk membikin sebuah kaedah untuk bisa dibedakan hadits yang shohih dengan yang lemah. Itu semuanya adalah bukti akan kesungguhan ulama’ islam dalam membela haditsnya Rosululloh.</p>
<p><strong>IV. KISAH TAK NYATA YANG DINISBATKAN KEPADA SELAIN RASULULLAH</strong><br />
Kalau itu bahaya kisah tak nyata yang dinisbahkan kepada Rosululloh,  demikian juga dengan kisah yang dinisbahkan kepada selain Rosululloh, baik itu kepada para sahabat, para ulama’, raja, panglima dan pemimpin kaum muslimin pun <strong>merupakan perkara yang membahayaka</strong>n. Diantara bahaya tersebut adalah :<br />
<strong>1. Berdusta atas nama seorang muslim.</strong><br />
Merupakan sesuatu yang dipahami bersama bahwa dusta terhadap sesama muslim  adalah dosa besar dan salah satu tanda kemunafikan.<br />
Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ</p>
<p style="text-align: center;">“Ada empat perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia itu seorang munafiq yang murni, namun kalau cuma ada salah satunya saja maka berarti dia memiliki bagian dari kemunafikan sehingga dia mau meninggalkannya, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji tidak menepati, apabila melakukan perjanjian maka dia berkhianat dan apabila bermusuhan maka dia berbuat melampaui batas.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 38, Muslim : 58 dari Abdulloh bin ‘Amr bin Ash)</p>
</blockquote>
<p><strong>2. Merusak citra mereka</strong><br />
Hal ini sangat nampak pada sebagian cerita, yang insya Alloh akan kita bahas satu persatu, namun cukuplah sebagai sebuah contoh kecil, yaitu:</p>
<ul>
<li>Kisah <strong>Amirul Mu’minin Harun Ar Rosyid</strong>, yang digambarkan bahwa beliau adalah teman karib Abu Nawas (seorang penyair zindiq dan syairnya banyak bicara tentang wanita dan khomer, meskipun dikatakan bahwa dia bertaubat diakhir hayatnya), lalu banyak minum khomer, main wanita, dan lainnya.</li>
</ul>
<p><em>Wallohi</em> ini adalah sebuah kedustaan nyata, karena beliau adalah seorang raja muslim yang dekat dengan para ulama’ dan banyak memberikan perhatian kepada sunnah Rosululloh, meskipun kita tidak menafikan kesalahan-kesalahan beliau, namun <strong>kisah dengan Abu Nawas itu adalah kedustaan</strong>.<br />
<strong>3. Tersebarnya kisah tak nyata dikalangan kaum muslimin</strong><br />
Dan ini hal yang tidak bisa dipungkiri, sehingga akhirnya banyak kisah-kisah yang tidak shohih tersebut banyak dinukil diceramah-ceramah maupun dikitab, padahal semua itu hanyalah kedustaan belaka.<br />
Dan masih banyak bahaya lainnya</p>
<p><strong>VI. CONTOH KISAH TAK NYATA DI NEGERI KITA (INDONESIA)</strong><br />
Jangan kaget kalau saya katakan banyak banyak sekali kisah palsu yang tersebar di Indnesia dan negeri muslim lainnya, dan saya harap jangan ada seorangpun yang berpikir bahwa kisah palsu itu hanyalah dongeng yang banyak disebarkan di buku-buku dan majalah anak-anak atau di pelajaran sekolah dasar, sepertidongeng asal muasal Danau Toba, asal muasal Banyuwangi, cerita tentang kahyangan dengan bidadarinya yang bisa terbang dengan selendangnya dan lainnya, karena itu semua hanyalah dongeng kuno yang <strong>semua mengetahui bahwa itu hanyalah sebuah kedustaan</strong>.<br />
Namun, <strong>yang saya maksud</strong> adalah kisah yang banyak disampaikan oleh para<strong> ‘ustadz, kyai, penceramah’,</strong> di antaranya adalah :<br />
<strong>A. Kisah yang dinisbahkan kepada Rosululloh :</strong></p>
<ul>
<li> kisah tentang perjalanan Nur Muhammad, yang dikatakan pindah dari rahim wanita-wanita suci sampai kepada Abdulloh bapaknya Rosululloh yang kemudian berpindah kepada Aminah ibunda Rosululloh.</li>
<li>kisah seputar kelahiran Rosululloh yang dikatakan bahwa patung-patung tersungkur, yang banyak dibaca dan disampaikan saat peringatan maulid nabi</li>
<li>kisah seputar hijroh Rosululloh yang dikatakan bahwa saat beliau bersama Abu Bakr di gua Tsaur maka ada laba-laba yang membuat rumah dimulut gua, juga ada burung merpati yang juga membuat sarang serta bertelur dimulut gua, serta kisah bahwa saat berada dalam gua Abu Bakr tersengat ular.</li>
<li>Kisah sambutan dengan “<strong>Thola’al badru alaina</strong>&#8221; saat Rosululloh datang kekota Madinah dari Mekkah</li>
<li>Kisah demonstrasi unjuk kekuatan yang dilakukan oleh kaum muslimin saat masuk islamnya Umar bin Khothob</li>
<li>Dan masih banyak lainnya</li>
</ul>
<p><strong>B. Kisah yang dinisbahkan kepada para sahabat</strong></p>
<ul>
<li> Kisah seputar <strong>perang Jamal  dan Shiffin</strong></li>
<li>Kisah Tsa’labah yang tidak mau membayar zakat</li>
<li>Kisah Alqomah yang tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid saat sakarotul maut karena durhaka pada ibunya</li>
<li>Dan kisah lainnya</li>
</ul>
<p><strong>C. Kisah yang dinisbahkan kepada para raja dan panglima muslim</strong></p>
<ul>
<li>Kisah <strong>Harun Ar Rosyid</strong> dengan<strong> Abu Nawas</strong></li>
<li>Kisah seputar kehidupan<strong> Amirul Mu’minin Mu’awiyyah bin Abu Sufyan</strong></li>
<li>Kisah <strong>Thoriq bin Ziyad</strong> yang membakar perahu saat menyerang Andalus (Spanyol)</li>
<li>Kisah<strong> Sholahuddin al Ayyubi</strong> yang dikatakan bahwa beliau adalah yang pertama kali memperingati maulid nabi</li>
<li>Dan lainnya</li>
</ul>
<p><strong>D. Kisah yang dinisbahkan kepada para ulama’<br />
</strong></p>
<ul>
<li> Kisah <strong>Imam Ahmad bin Hambal</strong> dan <strong>Yahya bin Ma’in</strong> dengan seorang tukang cerita</li>
<li>Kisah <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> di atas mimbar Masjid Jami’ Damaskus yang dikatakan bahwa beliau mengatakan : Alloh turun kelangit dunia seperti turunku dari atas mimbar ini.”</li>
<li>Kisah <strong>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab</strong> yang dikatakan bahwa beliau mengkafirkan kaum muslimin serta kedustaan lainnya atas beliau</li>
<li>Kisah <strong>Al Hafizh Ibnu Hajar</strong>, yang diceritakan bahwa belau dulunya santri bodoh lalu bertemu dengan air yang menetes pada batu cadas dan mampu melobanginya, sehingga beliau disebut Ibnu Hajar yang artinya anak batu</li>
</ul>
<p><strong>E. Kisah-kisah seputar Indonesia</strong><br />
Dinegeri kita berkembang banyak cerita yang harus diberi sebuah tanda tanya besar akan keshohihannya, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li> Kisah <strong>Sunan Kalijaga</strong> yang katanya menunggu tongkat sunan Bonang dipinggir kali dalam waktu yang sangat lama sehingga tubuhnya ditumbuhi lumut air dan tumbuhan</li>
<li>Kisah <strong>Syaikh Siti Jenar</strong> yang katanya berasal dari cacing tanah merah</li>
<li>Kisah tentang sebab <strong>perang Pangeran Diponegoro</strong> dengan penjajah Belanda yang katanya hanya karena masalah tanah kuburan yang masuk dalam proyek jalan yang dibuat belanda</li>
<li>Dan banyak kisah lainnya.</li>
</ul>
<p><strong>VII. Tashfiyah dan Tarbiyah</strong><br />
Mudahan sadarnya kembali sebagian ummat islam terutama di kalangan generasi mudanya untuk belajar islam, dibarengi dengan semangat untuk mepelajar islam yang murni berasal dari Rosululloh, terbebas dari hitamnya semua yang mengotori kemurnian islam, termasuk diantaranya hadits-hadits dan kisah-kisah lemah serta palsu, yang banyak mebuat berbagai macam khurofat, bid’ah, kesalahan hukum dan lain sebagainya.<br />
Dan inilah yang selalu didengungkan oleh <strong>Imam Ahlus Sunnah</strong> dan mujaddid abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dengan syi’ar <strong>“At Tashfiyah wat Tarbiyyah” At Tasfiyyah</strong> artinya membersihkan islam dan semua yang mengotori kesucianya dan dengan isam yang sudah di tashfiyah itulah kita mentarbiyyah (mendidik) ummat, ang dengan inilah insya Alloh kaum muslimin sekarang ini akan kembali meraih kejayaanya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ<br />
Dari Ibnu Umar berkata : &#8220;Saya mendengar Rosululloh bersabda : “Apabila kalian jual beli dengan cara ‘inah dan kalian memegang ekor sapi serta kalian ridlo dengan cocok tanam juga kalian tinggalkan jihad maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan menghilangkannya sehingga kalian kembali kepada agama kalian.”<br />
(HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 11)</p></blockquote>
<p>Alangkah benarnya apa yang dikatakan oleh <strong>Imam Malik</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها<br />
&#8220;Tidak akan baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang membuat baik pada awalnya”</p></blockquote>
<p>Wallohu A’lam.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong>&#8212;-bersambung&#8212;</strong></em></p>
</blockquote>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
