<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Hak Istri</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/tag/hak-istri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Pengantar Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir Armin [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F11%2Fkeagungan-wanita-dalam-naungan-islam%2F">
										</iframe>
										</div><p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-76" title="keagungan wanita dalam naungan Islam" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga-indah.jpg" alt="keagungan wanita dalam naungan Islam" width="124" height="124" />Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “<em><strong>Door Duisternis Tot Licht</strong></em>” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir <strong>Armin Pane</strong> dengan judul <em><strong>“Habis gelap terbitlah terang”</strong></em>, yang nama ini semua dijadikan sebuah simbol perjuangan wanita untuk memperjuangkan hak–hak mereka yang terdholimi.</p>
<p><span id="more-75"></span>Namun yang menjadikan kita harus mengurut dada, adalah lontaran dan celotehan kotor dari sebagian orang yang mengatakan bahwa agama slam tidak menghormati wanita, dan beberapa hukum islam mendlolimi wanita ? Fasubhanalloh, tahukah mereka hakekat yang mereka ucapkan, ataukah ini hanya membeo pada ucapan orang-orang kafr barat yang memang sangat gencar menyerang islan dengan berusaha memburukanya citra dan keagungannya.</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku , islam datang untuk membawa rohmat bagi seluruh alam, sebagamana firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rohmat bagi seluruh alam.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS.  Al Anbiya’ : 107)</p>
</blockquote>
<p>Wanita adalah bagian utama dalam kehidupan dialam semesta, tidak akan baik sebuah kehiduan tanpa pengagungan dan penghormatan kepada mereka, lalu akankah islam mendloliminya ? Tidak  wallohi tidak.</p>
<p>Dari sini marilah kita telusuri bagaimana sebenarnya islam memperlakukan kaum hawa, baik saat menjadi apapun dia, baik saat masih sebagai seorang anak, menjadi ibu, menjadi saudara wanita, menjadi bibi  atau lainnya.</p>
<p>Mudah-mudahan Alloh memberikan taufiq Nya dan menghilangkan syubuhat kotor yang terpolusi oleh hitamnya isu persamaan gender dan emansipasi.</p>
<p><strong>A. Saat Menjadi Anak</strong></p>
<p>Pada zaman Jahiliyyah, menjadi anak wanita benar-benar terhina, orang tua mereka tidak senang dengan kehadirannya bahkan mereka tega membunuhnya dengan menguburnya hidup hidup. Perhatikanlah gambaran qur’ani berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Dan apabila seseorang dari mereka  diberi khabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan  dirinya dari orang banyak, disebabkan burknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya  dengan menangung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah  hidup-hidup ? ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl: 58, 59)</p>
</blockquote>
<p><strong>Al Hafidl Ibnu Hajar</strong> menyebutkan bahwa orang-orang jahiliyyah saat mengubur hidup-hidup anak wanitanya, mereka menggunakan dua cara :</p>
<ul>
<blockquote>
<li>Pertama : Dia memerinthakan istrinya apabila akan melahirkan  supaya berada di dekat sebuah kubangan, lalu apabila  yang lahir adalah laki-laki maka dia membiarkanya, namun apabila perempuan maka segera dilempar ke kubangan tersebut.</li>
</blockquote>
</ul>
<ul>
<blockquote>
<li>Kedua : Ada sebagian lain, yang membiarkan anak wanitanya hidup sampai sekitar umur enam tahun, lalu saat itu dia berkata kepada istrinya : “Hiasilah dan berilah wewangian pada anak ini, saya akan ajak dia mengunjungi kerabat kita”.  Ternyata anak tersebut di bawa ke tangah padang pasir sehingga sampai ke sebuah sumur, lau dia berkata kepada anak wanita tersebut : Lihatlah kedalam sumur ini.” Dan akhirnya dia mendorong anaknya sehingga jatuh kedalamnya. (Lihat Fathul Bari 10/421)</li>
</blockquote>
</ul>
<p>Namun hal itu sangat berbeda dengan islam yang menganggap bahwa kelahiran seorang anak wanita adalah sebuah kenikmatan agung, dan islam memerintahkan untuk memperhatikan serta mendidik mereka, dan islam memberikan balasan besar bagi yang melakukannya.</p>
<blockquote><p>Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">عن عقبة بن عامر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من كان له ثلاث بنات فصبر عليهن وأطعمهن وسقاهن وكساهن من جدته كن له حجابا من النار يوم القيامة</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Uqbah bin Amir berkata : &#8220;Saya mendengar Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang mempunyai <strong>tiga orang anak wanita</strong> lalu sabar menghadapinya dan memberinya pakaian  dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi p<strong>enghalang baginya dari nereka</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ibnu Majah  : 3669, Bukhori dalam adab Mufrod : 76 dan Ahmad 4/154 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 294)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Anas bin Malik berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang <strong>memelihara dua anak wanita</strong> sehingga baligh, maka dia akan datang pada hari kiamat  dan saat itu saya dan dia seperti ini.” Lalu Rosululloh menyatukan antara jari-jari beliau.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 2631)</p>
</blockquote>
<p>Dan pada riwayat lain dari Jabir bin Abdillah, Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">من كن له ثلاث بنات يؤويهن و يرحمهن و يكفلهن وجبت له الجنة البتة . قيل : يا رسول الله ! فإن كانت اثنتين ؟ قال : و إن كانت اثنتين . قال : فرأى بعض القوم أن لو قالوا له : واحدة ؟ لقال : واحدة &#8220;</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Barang siapa yang memiliki tiga <strong>anak wanita</strong> lalu memelihara, mengasih sayanginya dan menanggung  hidupnya maka dia pasti masuk surga. Lalu ada yang bertanya : Ya Rosululloh , bagaimana kalau hanya dua ? beliau menjawab : Meskipun hanya dua. Maka ada sebagian orang yang mengatakan bahwa seandainya mereka bertanya : Bagamana kalau Cuma satu, niscaya Rosululloh akan menajawabnya : Meskipun Cuma satu.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/303, lihat Ash Shohihah : 2679)</p>
</blockquote>
<p><strong>B. Saat Menjadi Ibu</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi ibu, maka syariat islam benar-benar menghormati dan mengagungkannya. Hal ini sangat nampak sekali dengan wajibnya seorang anak berbakti pada ibunya, berbuat baik padanya, larangan menyakitinya dengan cara apapun, mendoakan kebaikan baginya serta berbagai hal lain yang membawa kebahagiaan serta kehormatan dirinya.</p>
<p>Salah satu gambarannya adalah firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Dan Tuhanmu telah memerintahan supaya kamu jangan menyemba selain Diadan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut  dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan  kepada keduanya perkataan “Ah”dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Ya Alloh, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl : 23, 24)</p>
</blockquote>
<p>bahkan islam lebih mendahulukan menghormati ibu daripada bapak. Sebagaimana hadits berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8220;Datang seseorang kepada Rosululloh lalu bertanya : Wahai Rosululloh, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik padanya ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">Dia bertanya lagi : Lalu siapa ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">dia bertanya lagi : Lalu siapa ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh kembali menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">lalu dia bertanya lagi : Lalu siapa? Rosululloh menjawab : Bapakmu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5971, Muslim : 2548)</p>
</blockquote>
<p>Syariat islam juga menjadikan berbuat bakti kepada orang tua termasuk diantara  amal perbuatan yang paling mulia. Dan ini sangat jelas tergambar dalam beberapa hadits Rosululloh , diantaranya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : &#8221; Saya bertanya kepada Rosululloh : Apakah amal perbuatan yang paling dicintai oleh Alloh ? Rosululloh menjawab : Sholat tepat pada waktunya. Saya bertanya lagi : Lalu apa ? Beliau menjawab : Berbakti kepada kedua oang tua.” Lalu apa lagi : Jihad fisabilillah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5970, Muslim : 85)</p>
</blockquote>
<p>Islam juga menjadikan durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abdur Rohman bin Abu Bakroh dari bapaknya berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Maukah kalian saya tunjukkan kepada perbuatan dosa yang paling besar ? Para sahabat mengatakan : Wahai Rosululloh, Beliau bersabda : &#8220;Berbuat syirik kepada Alloh, durhaka kepada kedua orang tua.” Dan saat itu duduk padahal sebelumnya bersandar : hati-hatilah kalian dengan sumpah palsu.” Rosululloh selalu mengulang-ulanginya sehingga kami mengatakan : Duh, seandainya beliau mau diam.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5976, Muslim : 87)</p>
</blockquote>
<p><strong>C. Saat  Menjadi Istri</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi  istri, maka syariat islam pun sangat memperhatikan hak-haknya serta sangat menghargai dan menghormatinya. Diperintahkan seorang suami untuk berbuat baik kepadanya, tidak menyakitinya, bersabar atas segala kekurangannya, berbuat baik kepada keluarganya, memberinya nafkah dengan cara yang baik, menjaga kehormatannya dan lain sebagainya.</p>
<p>Cukuplah itu semua masuk dalam perintah Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nisa’ : 19)</p>
</blockquote>
<p>Dan perhatikanlah beberapa hadits berikut, niscaya engkau akan mengetahui bagaimana islam sangat menghormati seorang istri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : “ Rosululloh bersabda : &#8220;Berbuat baiklah kalian kepada istri, karena dia <strong>diciptakan dari tulang rusuk</strong>, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, kalau  <strong>engkau meluruskannya berarti engkau mematahkanya namun jika engkau biarkan maka dia akan selalu bengkok</strong>, oleh karena itu berbuat baiklah kalian kepada para istri.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3331, Muslim : 1468)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh  berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, <strong>sebaik-baik kalian yang paling baik terhadap istrinya</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 2/250, Abu Dawud : 4682, Tirmidzi : 1162 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّه قال : قال رسول الله :  فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya Rosululloh bersabda saat khutbah haji wada’ : “Takutlah kalian kepada Alloh tentang urusan istri kalian, karena kalian mengambilnya dengan amanat dari Alloh, dan kalian halalkan farjinya dengan kalimat Alloh, maka hak kalian atas mereka adalah agar mereka kaum istri jangan mengizinkan orang yang kalian benci masuk rumah kalian, kalau sampai mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti, sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berikan nafkah serta pakaiannya dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 1218)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8221; Rosululloh bersabda : &#8220;J<strong>anganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang wanita mu’minah, karena jika dia melihat ada akhlaknya yang tidak disenangi, niscaya dia akan menemukan akhlak lain yang dia senangi</strong>.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 1469)</p>
<p><strong>D. Saat Sebagai Kerabat</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi kerabat, baik sebagai saudara, bibi , keponakan maupun saudara sepupu, maka syariat Alloh dan Rosulnya pun tetap menghormati dan mengagungkannya.</p>
<p>Kaum muslimin diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, di perintah untuk menyambung hubungan kekerabatan, menjaga hak-hak mereka serta lainnya.</p>
<p>Perhatikanlah beberapa nash berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن المقدام بن معد يكرب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الله يوصيكم بأمهاتكم ثلاثا إن الله يوصيكم بآبائكم إن الله يوصيكم بالأقرب فالأقرب .</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Dari Miqdam bin Ma’dikarib bahwasannya Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh berwasiat kepada kalian untuk <strong>berbuat baik kepada ibu-ibu kalian </strong>(tiga kali) , Sesungguhnya Alloh berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, sesungguhnya Alloh berwasiat untuk berbuat baik dengan keluar yang terdekat kemudian yang dekatnya lagi.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori dalam Adab Mufrod : 60, Ibnu Majah : 3661 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 1666)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya orang yang masih punya hubungan keluarga adalah kerabat erat dari Alloh, maka Alloh berfirman : Barang siapa yang menyambungmu maka Aku akan menyambungnya, dan barang siapa yang memutusmu  maka Aku akan memutusnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori  : 5989, Muslim : 2555)</p>
</blockquote>
<p><strong>E. Saat Menjadi Orang Lain</strong></p>
<p>Sampaipun saat seorang wanita hanya menjadi orang lain yang tidak memmpunyai hubungan kekeluargaan dengannya, maka islam masih sangat menghargai dan menghormatinya.</p>
<p>Sebagai sebuah gambaran mudah. Islam memerintahkan untuk <strong>memberikan bantuan saat ada seorang wanita yang membutuhkan</strong>, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ</p>
<p style="text-align: center;">“Orang yang berusaha <strong>membantu para janda</strong> dan orang miskin maka dia berada dijalan Alloh atau seperti orang yang sholat malam dan puasa siang hari.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6007, Muslim : 2982)</p>
</blockquote>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Inilah sekelumit dari samudra keagungan wanita dalam naungan syariat islam, lalu setelah ini semua, masihkah ada orang yang berani untuk mengatakan bahwa islam mendholimi wanita dan tidak memberikan hak-hak mereka ? Mudah-mudahan Alloh tidak menjadikan kita sebagai orang yang buta hati dan akal. <em>Wallohu a’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 06:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf 1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki Rosululloh bersabda : إنما النساء شقائق الرجال “Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya Namun sesuatu yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F06%2Fpernak-pernik-hukum-wanita%2F">
										</iframe>
										</div><p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-65" title="dunia wanita" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/uhibbuka-fillah-3.jpg" alt="dunia wanita" width="95" height="125" /></p>
<p><strong>1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki</strong></p>
<p>Rosululloh bersabda :<span id="more-64"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">إنما النساء شقائق الرجال</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”</strong></p>
</blockquote>
<p>Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya</p>
<p>Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah, karena memang bagaimanapun wanita itu bukan laki-laki, sebagaimana firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Dan laki-laki itu bukan seperti wanita.”</strong></p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ali Imron : 36)</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Mushthofa Al Adawi </strong>berkata:</p>
<blockquote><p>“Hadits di atas berlaku secara umum bagi sebuah masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita maka maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri pada wanita begitu pula hukum tersendiri pada laki-laki.</p></blockquote>
<p><strong>Contoh</strong> :</p>
<ul>
<li>Jangan ada seorangpun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki hanya karna berdasarkan hadits diatas, ini adalah sebuah pendapat yang sangat munkar.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jangan pula ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki, ini adalah sebuah kesalahan nyata.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/12 dengan diringkas)</p>
<p style="text-align: left;">
<p><strong>2. Dzikir yang Menggunakan Lafadz Mudzakkar (maskulin-ed) Apakah Boleh Diucapkan oleh Seorang Wanita dengan Lafadz  Mu’anats (feminin-ed)?</strong></p>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam</strong> pernah ditanya tentang seorang wanita yang mendengar sabda Rosululloh berdo’a :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي عَبْدُك وَابْنُ عَبْدِك نَاصِيَتِي بِيَدِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (laki-laki) Mu dan anak dari hamba (laki-laki) Mu, ubun-ubunku berada diTangan Mu…..”</p>
<p>lalu wanita tersebut selalu mengucapkan dengan lafadz ini, kemudian ada yang mengatakan kepadanya : Katakanlah :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ أَمَتِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu  dan anak wanita dari hamba (wanita) Mu……”</p>
<p>namun wanita tersebut tetap menggunakan lafadz hadits diatas, apakah ini sebuah kesalahan ataukah bukan ?</p></blockquote>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam</strong> menjawab : “Yang <strong>seharusnya dilakukan oleh wanita tersebut</strong> adalah mengucapkan :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ عَبْدِك ابْنِ أَمَتِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu dan saya adalah anak wanita dari hamba (laki-laki) Mu yang merupakan anak laki-laki dari hamba (wanita) Mu …”</p>
<p>maka ini adalah lebih baik dan lebih utama. Meskipun kalau dia mengucapkan : <strong>عَبْدُك ابْنُ عَبْدِك</strong>. maka itu ada sisi benarnya dalam bahasa arab seperti lafadz : <strong>Zauj</strong> <a href="#_ftn1">1</a>. <em>Wallohu a’lam</em></p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 22/488)</p>
</blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>3. Sholat membawa anak kecil</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Qotadah al Anshori bahwasannya Rosululloh sholat sambil membawa Umamah putri Zainab binti Rosululloh dengan Abul Ash bin Robi’ah bin Abdu Syams, lalu apabila Rosululloh sujud beliau meletakkannya dan apabila berdiri maka beliau menggendongnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Nawawi</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<ul>
<li>“Hadits ini menunjukkan pada pendapatnya <strong>Imam Syafi’i</strong> serta para ulama’ yang mengikuti beliau. Bahwa boleh membawa anak laki-laki ataupun wanita juga binatang suci saat sholat wajib maupun sholat sunnah, dan ini boleh dilakukan oleh imam, ma’mum maupun yang sholat sendirian.</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun para ulama’ <strong>Malikiyyah</strong> membawa hadits ini pada sholat sunnah saja, dan mereka melarang melakukan itu pada sholat wajib. Ini adalah sebuah ta’wil yang salah karena lafadz : Beliau mengimami manuisa.” (sebagaimana dalam riwayat lainnya –pent) adalah sebuah keterangan yang tegas menunjukkan bahwa beliau dalam sholat wajib. Maka yang benar dalam masalah ini bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya dilakukan oleh kita dan kebolehan ini berlaku sampai hari kiamat.”</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>4. Wanita yang Sudah Menikah Lalu Berkunjung ke Rumah Orang Tuanya, Apakah Disyariatkan Mengqoshor Sholat ?</strong></p>
<p>Kasus masalah ini adalah seorang wanita yang menikah lalu dia menetap bersama suaminya di tempat yang jauh. Lalu suatu ketika keduanya berkunjung ke tempat orang tua istri, apakah disyariatkan baginya mengqoshor sholat ?</p>
<ul>
<li>Bagi <strong>si suami</strong>,  disyariatkan qoshor sholat kalau dia sholat sendirian atau sebagai imam karena dia sebagai musafir</li>
</ul>
<ul>
<li>adapun bagi<strong> si istri</strong>,  Syaikh Mushthofa al Adawi menjelaskannya sebagai berikut: “Saya tidak menemukan dalil yang shorih (tegas) dalam masalah ini, meskipun yang nampak bagiku bahwa dia mengqoshor sholat, hal ini karena Alloh Ta’ala menyebut rumah suaminya sebagai rumahnya, sebagaimana firman Nya :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan bertaqwalah kalian kepada Robb kalian,<strong> jangan kalian (para suami) mengeluarkan mereka (para istri) dari rumah-rumah mereka</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ath Tholaq : 1)</p>
</blockquote>
<p>juga firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan sebutlah oleh kalian (para wanita) apa yang dibacakan <strong>di dalam rumah-rumah kalian</strong> dari ayat-ayat Alloh …”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 34)</p>
</blockquote>
<ul>
<blockquote>
<li>maka apabila dia berkunjung ke rumah orang tuanya berarti itu sudah bukan rumahnya lagi, maka dia <strong>harus mengqoshor</strong> sholat <strong>di rumah orang tuanya</strong>.” <em>Wallohu a’lam</em></li>
</blockquote>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Mushthofa Al Adawi 1/429)</p>
<p style="text-align: left;">
<p><strong>5. Wanita Memberikan Zakatnya kepada Suami dan Anaknya</strong></p>
<p>Apabila ada seorang<strong> istri yang kaya</strong>, maka <strong>boleh</strong> baginya <strong>memberikan zakat</strong> dan <strong>shodaqohnya</strong> kepada <strong>suaminya</strong> apabila si suami termasuk salah satu dari <strong>delapan golongan</strong> yang berhak menerima zakat. Hal ini dikarenakan seoang istri tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada suami, jadi boleh memberikan harta zakat dan shodaqoh kepadanya.</p>
<p>Ini adalah madzhab Imam Syafi’i, Ats Tauri, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan asy Syaibani, salah satu riwayat dari Malik juga Ahmad bin Hambal.</p>
<p>Dalilnya adalah hadits berikut :</p>
<blockquote><p>عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَوَعَظَ النَّاسَ وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ تَصَدَّقُوا فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ</p>
<p>Dari Abu Sa’id al Khudri berkata : Pada hari raya idul adlha atau idul fithri, Rosululloh keluar ke lapangan sholat, lalu beliau memperingatkan manusia dan memerintahkan mereka untuk bershodaqoh.</p>
<p>Beliau bersabda : Wahai sekalian manusia, bershodaqohlah.”</p>
<p>Lalu beliau melewati jamaah wanita seraya berkata : “<strong>Wahai sekalian kaum wanita, saya melihat kebanyakan kalian adalah penduduk neraka</strong>.”</p>
<p>Para wanita bertanya : “<strong>Kenapa wahai Rosululloh</strong> ?.”</p>
<p>Beliau menjawab : “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri keluarga, dan saya tidak melihat seseorang yang kurang akal dan agamanya namun menghilangkan hati seorang laki-laki yang tegar melebihi salah seorang dari kalian wahai kaum wanita.”</p>
<p>Kemudian, beliau pun pergi. Tatkala sudah sampai rumah, maka Zainab istri Abdulloh ibnu Mas’ud minta izin kepada beliau untuk bertemu, maka dikatakan kepada beliau : “Wahai Rosululloh, ini Zainab.”</p>
<p>Rosululloh bertaya : Zainab siapa ?.”</p>
<p>Dijawab : Istrinya Ibnu Mas’ud.”</p>
<p>Maka Rosululloh berkata : “Silahkan , izinkan dia masuk.”</p>
<p>Zaenab berkata : “Wahai Rosululloh, engkau tadi memerintahkan untuk bershodaqoh, sedangkan saya memiliki perhiasan , dan saya kepingin menshodaqohkannya, namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak untuk diberi harta shodaqoh tersebut.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : “ Ibnu Mas’ud benar, <strong>suami dan anakmu lebih berhak engkau beri shodaqoh</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 1462)</p>
<p>Dalam riwayat lainya Rosululloh bersabda : &#8220;Boleh (memberi shodaqoh kepada suami-pent) dan dia mendapatkan dua pahala, pahala menyambung hubungan kekeluargaan dan pahala shodaqoh.”  (HR. Bukhori : 1466)</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Fathul Bari 3/329, Nailul Author 4/177)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">
<ul>
<li>Namun hukum ini <strong>tidak boleh dibalik</strong>, yaitu<strong> tidak boleh seorang suami memberikan zakat kepada istrinya</strong>, karena suami wajib memberi nafkah kepada istri, yang karena sebab itulah tidak boleh memberikan zakat kepadanya</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Qudamah</strong> berkata: “Adapun istri, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya dengan kesepakaan para ulama’.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Ibnul Mundzir</strong> berkata: “Para ulama’ sepakat bahwa seorang suami tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya.” (Lihat Al Mughni 2/649)</li>
</ul>
<p><strong>6. Jika Suami Pelit</strong></p>
<blockquote><p>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>Dari Aisyah bahwasannya Hindun binti Utbah berkata : &#8220;Ya Rosululloh, Abu Sufyan seorang yang kikir, dia tidak memberikan nafkah yang cukup bagiku dan bagi anak-anakku kecuali apa yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengetahuan dia.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Ambillah apa yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa kalau seorang suami tidak memberikan nafkah yang cukup kepada istri dan anaknya maka boleh bagi mereka untuk mengambil harta suami atau bapaknya tanpa sepengetahuannya, namun yang boleh diambil adalah sekedar yang cukup dengan cara yang baik dan tidak boleh lebih daripada itu.</p>
<p>Berkata<strong> Imam Ibnul Qoyyim</strong> : “Fatwa Rosululloh ini mengandung beberapa hal :</p>
<ol>
<li>Bahwa nafkah kepada istri itu tidak ada ketentuannya, namun      kembali kepada urf yang berlaku.</li>
<li>Bahwa nafkah istri itu sama dengan nafkah anak, kedua      sama-sama menurut urf yang ada.</li>
<li>Hanya bapak yang wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya</li>
<li>Apabila suami dan bapak tidak memberikan nafkah untuk istri      dan anak, maka mereka boleh mengambil sesuatu yang cukup dengan cara yang      baik</li>
<li>Apabila seorang istri masih bisa mengambil nafkah yang cukup      dari suaminya maka dia tidak boleh menuntut cerai</li>
<li>Apabila Alloh dan Rosul Nya tidak menentukan ukuran sebuah      kewajiban, maka dikembalikan kepada urf yang berlaku</li>
<li>Barang siapa yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka bagi      yang seharusnya mendapatkannya boleh mengambilnya sendiri apabila dia      mampu, sebagaimanayang difatwakan oleh Rosululloh kepada Hindun.”</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">(Lihat i’lamul Muwaqqi’in oleh Imam Ibnul Qoyyim)</p>
<p><strong>7. Wanita Mencicipi Makanan Saat Puasa</strong></p>
<ul>
<li>Boleh bagi seorang wanita untuk mencicipi makanan atau mengunyah makanan saat puasa dengan syarat tidak sampai masuk kedalam kerongkongannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Telah datang beberapa atsar dari salaf akan hal ini, diantaranya :</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibnu Abbas berkata: Tidak mengapa mencicipi cuka atau lainnya selagi tidak masuk kedalam kerongkongannya saat puasa.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/47)</li>
</ul>
<ul>
<li>Hal senada datang pula dari Hammad dan Hasan al Bashri serta lainnya.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><em>Wallohu A’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com">www.ahmadsabiq.com</a></p>
<p><strong>CATATAN KAKI:</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Karena lafadz ini bisa digunakan untuk suami dan istri.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Laki-Laki]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Untukmu Wahai Para Suami disusun oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf . I. PENGANTAR Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan yang dihembuskan angin sepoi-sepoi sampai adanya sebuah badai yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fwahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><strong>Untukmu Wahai Para Suami</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-702" title="Aku mencintaimu karena الله" src="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-1.jpg" alt="Aku mencintaimu karena الله" width="130" height="99" /></p>
<p style="text-align: center;">disusun oleh<strong>:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif  Abu Yusuf</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>I. PENGANTAR</strong></p>
<p>Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan yang dihembuskan angin sepoi-sepoi sampai adanya sebuah badai yang dasyat. Bersatunya dua insan  yang punya karakteristik, latar belakang, pendidikan, mental dan lainya yang mungkin serba berbeda akan banyak menimbulkan banyak gesekan. Dari sinilah maka sebuah pertengkaran kecil, perseteruan unik dalam keluarga sudah dianggap sebagai bumbu pelengkap kelezatan hidup dalam kebersamaan.</p>
<p>Namun, kalau hal itu tidak diatasi dan disikapi dengan bagus dan arif, maka yang namanya pertengkaran kecil itu akan menjadi sebuah bumerang yang terkadang bisa mengkandaskan bahtera itu sebelum sampai pada cita-cita impian bersama.</p>
<p>Sangat miris hati ini saat mendengar bahwa para ibu-ibu  banyak yang memakan daging suami mereka sendiri. Banyak suasana ngobrol yang seharusnya bisa diisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, malah menjadi lainnya. Terdorong untuk menasehati sesama muslim karena memang agama ini adalah nasehat, maka hati inipun tergerak untuk menggugah dan tangan inipun mulailah menorehkan untaian kata-kata ini.</p>
<p>Pada awalnya saya agak bingung dari siapa saya harus memulai, apakah dari suami ataukah istri, karena saya yakin masalah ini tidak bisa dibebankan pada salah satu saja, namun karena saya adalah laki-laki yang juga suami, maka lebih baiknya kalau saya mulai dari jenisku sendiri para kaum suami.</p>
<p>Bacalah, resapilah lalu renungkanlah mudah-mudahan ini bisa menjadi setitik obat bagi sebuah luka dan semoga rumah tangga menjadi penuh dengan berkah baik saat senang maupun susah, baik saat lapang maupun sempit.</p>
<p>.</p>
<p><strong>B. PAHAMILAH KARAKTER ISTRIMU</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Muhammad seorang Rosul nan mulia telah menghabarkan kepada kita kaum laki-laki tentang siapa sebenarnya seseorang yang selalu mendampingi kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam sebuah gambaran yang sangat indah beliau pernah bersabda :<span id="more-15"></span></p>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bersabda : &#8220;Berwasiatlah kalian yang baik kepada kaum wanita, karena mereka tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka kalau engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, namun jika engkau membiarkannya maka dia akan selamanya bengkok, oleh karena itu berwasiatlah yang baik kepada wanita.” (HR. Bukhori 5168, Muslim : 1468)</p>
<p>Tahukah engkau bagaimana sebuah tulang rusuk yang bengkok, tulang rusuk dimana-mana itu keras dan kaku, maka butuh cara tertentu untuk bisa meluruskannya, kalau engkau meluruskanya dengan keras dan secara langsung, tidak diragukan lagi bahwa tulang itu akan segera patah ? kalau sekedar patahnya tulang tidaklah mengapa, namun kalau patahnya sebuah keluarga , maka apakah maknanya ?</p>
<p>Namun bukan berarti itu membuat sang suami harus menyerah  beralaskan dengan bengkoknya tulang rusuk, karena Rosululloh pun menandaskan bahwa kalau engkau biarkan maka dia akan selamanya bengkok. Lalu bagaimana solusinya ?</p>
<p>Perhatikanlah hadits berikut :</p>
<p>Dari Samuroh bin Jundub berkata : “Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk, maka jika engkau meluruskannya niscaya engkau akan mematahkanya, oleh karena itu ambillah sikap mudaroh , niscaya engkau akan bisa hidup dengannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ibnu Hibban : 1308 dengan sanad yang shohih)</p>
</blockquote>
<p>Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar, &#8220;<strong>Al Mudaroh&#8221; adalah bersikap basa-basi dan lunak.</strong></p>
<p>Beliau juga berkata :</p>
<blockquote><p>“Hadits ini menunjukkan akan diperintahkan bersikap <strong>mudaroh kepada wanita</strong> untuk <strong>mengambil hati</strong> dan <strong>menggait simpatinya</strong>. Hadits ini juga menunjukan bahwa cara bersikap dengan wanita harus <strong>banyak memaafkan</strong> dan <strong>bersabar akan kebengkokannya</strong>. Dan barang siapa yang <strong>menginginkan</strong> untuk <strong>meluruskannya</strong> niscaya dia <strong>tidak akan bisa hidup </strong>bersama mereka, padahal tidak mungkin ada seorang pun laki-laki yang bisa hidup tanpa wanita, disini <strong>seakan-akan</strong> Rosululloh bersabda  bahwasannya hidup senang bersama seorang istri tidak mungkin bisa dicapai kecuali <strong>harus dengan bersabar atas kekurangannya</strong>.” (Lihat Fathul Bari 9/254 dengan sedikit perubahan)</p></blockquote>
<ul>
<li>Sikap <strong><em>mudaroh</em></strong> yang dituntunkan oleh Rosululloh ini mempunyai konsekwensi berikut ini :</li>
</ul>
<ol>
<li>Bukankah seorang mulim itu lembut tutur kata dan sikapnya ?</li>
<li>Bertuturlah yang lembut kepada istrimu! Kaum laki-laki saja senang dengan kelembutan kata dan ucapan, <strong>apalagi wanita</strong> yang memang <strong>diciptakan</strong> dengan segala <strong>kelemahlembutannya</strong> ?</li>
<li>Bukankah Rosululloh adalah suri tauladan bagi kita semua. Camkanlah hadits berikut ini !</li>
</ol>
<p>عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا لَعَّانًا وَلَا سَبَّابًا</p>
<p>Dari Anas bim Malik berkata : “Rosululloh itu bukan orang keji ucapannya, juga bukan orang yang suka melaknat dan mencela.” (HR. Bukhori : 6046)</p>
<p>Dari sinilah, Rosululloh juga bersabda :</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا</p>
<p>Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh  bersabda : &#8220;Janganlah seorang laki-laki mu’min mencela seorang wanita mu’minah, karena jika dia tidak suka salah satu perangainya maka  dia akan ridlo dengan perangainnya yang lain.”</p>
<p>(HR. Muslim : 1469, Ahmad : 8163)</p>
<p>Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Hasan Al Bashri :</p>
<blockquote><p>“Nikahkanlah anakmu dengan orang yang <strong>agamanya bagus</strong>, karena jika dia mencintainya maka dia akan memuliakannya sedangkan jika tidak mencintainya maka tidak akan mendholiminya.”</p></blockquote>
<p>Lihatlah bagaimana Rosululloh bersikap <strong>lembut kepada istri-istrinya</strong>, <strong>meskipun</strong> dalam suasana yang <strong>melelahkan,</strong> dalam sebuah perjalanan.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-341" title="Apakah kau kira istrimu lebih baik daripada umahatul mukminin?" src="http://abiubaidah.wordpress.com/files/2009/10/bunga-indah.gif" alt="Apakah kau kira istrimu lebih baik daripada umahatul mukminin?" width="278" height="247" />Dari Aisyah berkata : “Saya keluar bersama Rosululloh dalam sebuah berjalanan, dan saat itu  saya masih kecil belum gemuk, maka beliau berkata kepada para sahabat lainnya : “Berangkatlah kalian terlebih dahulu, kemudian beliau berkata kepadaku : “Kemarilah, ayo kita lomba lari.” Maka saya pun meladeni lomba bersama beliau dan saya bisa mendahului beliau, sehingga tatkala saya sudah menjadi gemuk, sayapun keluar lagi bersama Rosululloh dalam sebuah perjalanan, lalu beliau berkata kepada para sahabatanya : “Majulah kalian terlebih dahulu, kemudian beliau berkata kepadaku : “Kemarilah kita lomba lari lagi.” Namun kali ini beliau mendahuluiku. Maka Rosululloh tertawa seraya berkata : “Ini sebagai balasan kekalahan yang dahulu.” (HR. Ahmad 6/264, Abu Dawud : 2578, Ibnu Majah : 1979)</p>
<ul>
<li>Sikap lembutnya Rosululloh sampai pada tingatan beliau<strong> membiarkan Aisyah untuk bermain dengan boneka-boneka mainannya</strong>.</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا قَالَتْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ قَالَتْ بَنَاتِي وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ قَالَتْ فَرَسٌ قَالَ وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ قَالَتْ جَنَاحَانِ قَالَ فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ *</p>
<p>Dari Aisyah berkata : “Rosululloh datang dari perang Tabuk atau Khoibar dan saat itu di kamarku ada kain penutup, lalu berhembuslah angin dan membuka bagian yang tertutupi berupa boneka-boneka kecil milik Aisyah, maka Rosululloh bersabda : &#8220;Apa ini wahai Aisyah ? Aisyah menjawab : “Boneka-boneka milikku.” Lalu Rosululloh melihat diantaranya ada kuda yang punya dua sayap yang terbuat dari kulit, maka Rosululloh bersabda : “Apa yang berada ditengah-tengah itu ? Aisyah menjawab : “Kuda.” “Lalu apa itu ? Tanya Rosululloh selanjutnya. Aisyah menimpali : “Dua sayap.” Maka Rosululloh bertanya lagi : “Emangnya ada kuda yang punya dua sayap ?.” Maka Aisyah menjawab : “Tidakkah engkau mendengar bahwa bahwa Nabi Sulaiman punya kuda yang punya banyak sayap ? maka Rosululloh pun tertawa sampai nampak gigi geraham beliau.”</p>
<p style="text-align: center;">(H.R. Abu Dawud 4932)</p>
</blockquote>
<p>Lihatlah wahai saudaraku bagaimana, Rosululloh bersikap dengan seorang istri, <strong>penuh dengan kelembutan, senda gurau, rilek</strong>s dan lainnya.</p>
<ul>
<li>Tidak sampai disitu saja, bahkan Rosululloh memanggil teman-teman Aisyah untuk bermain boneka bersama.</li>
</ul>
<blockquote><p>Dari Ummul mu&#8217;minin Aisyah berkata : “Saya bermain boneka berbentuk anak wanita disisi Rosululloh, dan saya juga mempunyai teman-teman wanita yang bermain bersamaku, dan jika Rosululloh masuk maka mereka bersembunyi lalu Rosululloh mengutus mereka untuk bersamaku lalu merekapun bermain lagi denganku.”</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>C. APAKAH ISTRIMU LEBIH BAIK DARIPADA UMMAHATUL MUKMININ?</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Saya sangat heran</strong> kepada sebagian ikhwan yang tatkala <strong>sebelum menikah</strong> dia membayangkan bahwa kalau <strong>nantinya dia sudah menikah dengan seorang akhwat yang banyak belajar agama</strong>, maka hidupnya hanya akan berisi ketentraman dan keindahan tanpa adanya pertengkaran , keributan dan lainnya.</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ada yang sering mereka katakan, &#8220;Bukankah para akhwat itu tahu bahwa seorang istri yang sholihat adalah kalau dilihat oleh suami maka akan menyenangkannya, kalau diperintah oleh suami maka akan mentaatinya, kalau ditinggal pergi oleh suami  maka dia akan menjaga diri dan hartanya, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Rosululloh ?</p>
</blockquote>
<p>Untuk ikhwan semacam itu saya katakan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>“</em>A<em>p</em>akah istri anda lebih bagus daripada para wanita sahabat bahkan lebih bagus dari pada para ummahatul mu’minin?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Apakah kehidupan Rosululloh lepas dari permasalahan rumah tangga?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Lihatlah bukankah telah terjadi <strong>perceraian dikalangan para sahabat</strong>?</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Bukankah sampai terjadi <strong>khulu’</strong> (tuntutan cerai dari pihak istri ) di zaman Rosululloh?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Bukankah Rosululloh pernah <strong>bertengkar dengan istrinya selama sebulan penuh</strong>?</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Dan bukankah Rosululloh pernah <strong>menceraikan Hafshoh binti Umar</strong> meskipun kemudian beliau  merujuknya kembali ?</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Wallohi, seseorang yang menginginkan kehidupan <em>kayak</em> begitu, saya khawatir kekecewaan dia akan menjadi sangat besar dan luka dia akan menjadi sangat lebar.</li>
</ul>
<p>Perhatikanlah, <strong>ya akhi</strong> riwayat berikut  ini :</p>
<blockquote><p>Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya Abu Bakr datang minta izin untuk bertemu dengan Rosululloh , dan beliau menemukan para sahabat sedang duduk-duduk dipintu rumah beliau, mereka tidak diizinkan masuk, namun Abu Bakr diizinkan masuk, ternyata beliau menemukan Rosululloh sedang duduk terdiam dan disekitar beliau ada istri-istrinya, lalu Umar pun datang dan beliau diizinkan masuk  dan Rosululloh pun masih duduk terdiam, Abu Bakr berkata : “Wallohi saya akan membuat Rosululloh tertawa.” maka beliau berkata : “Wahai Rosululloh, Apa pendapatmu sendainya  putrinya Khorijah (istri Abu Bakr) minta nafkah kepadaku, namun saya malah bangkit dan menohok lehernya ? maka Rosululloh pun tertawa seraya berkata : “Sebagaimana engkau lihat, semua istriku minta tambahan nafkah kepadaku.” Maka Umar pun bangkit dan menohok leher Hafshoh , begitu pula Abu Bakr dengan Aisyah, keduanya berkata : “Mengapa kalian minta kepada Rosululloh yang tidak beliau punyai ? maka keduanya menjawab : “Wallohi, kami tidak minta yang tidak beliau punyai.” Lalu Rosululloh memisahkan diri dengan mereka selama satu bulan, kemudian turunlah firman Alloh :</p>
<p style="text-align: center;">يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلاً {28} وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ اْلأَخِرَةَ فَإِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيم</p>
<p style="text-align: center;">Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: &#8220;Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut&#8217;ah [1213] dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Alloh dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Alloh menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 28,29 )</p>
<p>Maka Rosululloh memulainya dengan Aisyah : “Saya kepingin menyampaikan kepadamu sebuah perkara, jangan tergesa-gesa memutuskan sebelum engkau minta pendapat kedua orang tuamu.” Aisyah berkata : “Apa itu Wahai Rosululloh.” Maka Rosululloh membaca ayat ini , lalu Aisyah berkata : “Apakah mengenai engkau saya harus minta pendapat kedua orang tuaku, bahkan saya pilih Alloh, Rosul Nya dan kampung akhirat, tapi saya mohon kepada njenengan agar jangan bilang pada satupun istrimu dengan jawabanku ini.” maka Rosululloh menjawab : “Tidak ada seorangun diantara mereka yang bertanya mengenai ini kecuali akan aku jawab, karena saya tidak diutus oleh Alloh untuk menyulitkan namun Alloh mengutusku untuk mengajar dan membuat kemudahan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim :  1478)</p>
</blockquote>
<p><strong> </strong>Lihatlah Fathimah binti Rosululloh, <strong>kesayangan Rosulullo</strong>h dan<strong> penghulu wanita ahli surga</strong>. Namun, lihatlah kasus ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا كَانَ لِعَلِيٍّ اسْمٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَبِي تُرَابٍ وَإِنْ كَانَ لَيَفْرَحُ بِهِ إِذَا دُعِيَ بِهَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام فَلَمْ يَجِدْ عَلِيًّا فِي الْبَيْتِ فَقَالَ أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ فَقَالَتْ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ شَيْءٌ فَغَاضَبَنِي فَخَرَجَ فَلَمْ يَقِلْ عِنْدِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِنْسَانٍ انْظُرْ أَيْنَ هُوَ فَجَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ فِي الْمَسْجِدِ رَاقِدٌ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ قَدْ سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ شِقِّهِ فَأَصَابَهُ تُرَابٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُهُ عَنْهُ وَهُوَ يَقُولُ قُمْ أَبَا تُرَابٍ قُمْ أَبَا تُرَاب</p>
<p style="text-align: center;">Dari Sahl bin Sa’d berkata : “Nama yang paling dicintai Ali bin Abi Tholib  adalah Abu Turob (Bapak tanah) dan dia sangat senang kalau dipanggil dengan nama itu. Karena suatu ketika Rosululloh datang ke rumah Fathimah namun beliau tidak menemukan Ali dirumah, lalu  Rosululloh bertaya : “Dimana sepupumu (Ali) ? Fathimah menjawab : “Kami sedang ada masalah, lalu dia marah kepadaku, kemudian dia keluar dan tidak tidur siang dirumah.” Maka Rosululloh berkata pada seseorang : “Carilah, dimana dia ? Maka orang itupun datang seraya berkata : “Wahai Rosululloh , Ali tidur di masjid.” Maka Rosululloh pun datang dan saat itu baju beliau terjatuh ketanah, maka beliau pun kena tanah, maka Rosululloh mengusapnya dan mengatakan : “Bangun wahai Abu Turob, bangun wahai Abu Turob.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6280, Muslim : 2409)</p>
</blockquote>
<p>Ini cuma dua kasus dari sekian banyak yang ada, yang terjadi pada zaman yang mulia  dan dilakoni oleh orang-orang mulia, <strong>apakah engkau bisa mengambil pelajaran darinya</strong>?</p>
<p>.</p>
<p><strong>C. BELUM TENTU ITU KEWAJIBAN MEREKA</strong></p>
<p>Masak, nyapu rumah, cuci piring, cuci ompol anak  sudah menjadi kelaziman umum bahwa itu tugas istri, saya tidak hendak membahas masalah ini, karena ada tempatnya tersendiri insya Alloh, yang disitu insya Alloh anda akan mengetahui bahwa para ulama’ berselisih tajam  apakah semua itu tugas istri ataukah suami, namun anggaplah kita ambil pendapat yang mengatakan bahwa itu semua adalah<img class="alignright size-full wp-image-342" title="Saya mencintaimu karena الله" src="http://abiubaidah.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-2.jpg" alt="Saya mencintaimu karena الله" width="99" height="127" /> tugas istri dirumah, namun apakah dengan begitu maka berarti seorang <strong>suami lepas tangan  seraya berkata</strong> :</p>
<blockquote><p>“Itukan tugas dan tanggung jawabmu, tugasmu adalah tugasmu dan tugasku adalah tugasku.” kemudia dengan alasan semacam itu, maka selama suami berada dirumah sepulang kerja atau hari libur maka seakan-akan itu adalah waktu istirahat total yang tidak boleh diganggu ?</p></blockquote>
<p><strong>Wallohi, tidak wahai saudaraku</strong> !!! Lihatlah panutan kita Rosululloh, orang yang sangat sibuk ngurusi dakwah sekaligus <em>ngurusi</em> ummat , bagaimanakah beliau dalam rumahnya ?</p>
<p>Aisyah menceritakan kepada kita apa yang beliau kerjakan :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ibrohim bin Aswad berkatanya kepada Aisyah : “Apakah yang dikerjakan oleh Rosululloh saat bersama keluarganya ? Aisyah menjawab : “<strong>Beliau mengerjakan pekerjaan keluarganya</strong>, lalu apabila tiba waktu sholat beliau keluar rumah untuk sholat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6039)</p>
</blockquote>
<p><em>Bukankah Rosululloh juga  pernah menjahit bajunya sendiri &#8230;?<br />
Bukankah para sahabat Rosululloh juga melakukan hal yang sama &#8230; ?</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<ul>
<li>Akhil Aziz, mengaji, ta’lim, kerja kantor dan lainnya adalah sebuah kewajiban, namun <strong><em>ngurusi</em> keluarga juga sebuah kewajiban</strong>, orang yang bijak adalah orang yang bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.</li>
</ul>
<p>Lihatlah hadits Handlolah berikut ini :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ قَالَ وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَاكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ *</p>
<p style="text-align: center;">Dari<strong> Handlolah Al Usayyidi</strong> (beliau adalah salah satu penulis wahyu Rosululloh ) berkata : “Abu Bakr bertemu denganku lalu berkata: “Bagaimana khabarmu wahai Handlolah?</p>
<p>Saya menjawab : “Handlolah telah munafiq.”</p>
<p>Berkata Abu Bakr : “Subhanalloh, apa yang barusan engkau katakan tadi?.”</p>
<p>Saya menjawab : “Kalau kita sedang bersama Rosululloh, lalu beliau mengingatkan kita akan neraka dan surga seakan-akan kita melihatnya secara langsung, namun apabila kita pulang kita tersibukan dengan istri, anak dan pekerjaan, maka banyak yang kita lupakan.”</p>
<p>Maka Abu Bakr berkata : “Wallohi, saya pun demikian.”</p>
<p>Maka saya dan Abu Bakr datang menemui Rosululloh , lalu saya berkata : “Wahai Rosululloh , Handlolah telah munafiq ? Rosululloh bertanya : “Emangnya kenapa ?”</p>
<p>Saya jawab : “Wahai Rosululloh, Kalau kami sedang bersamamu , engkau ingatkan kami akan neraka dan surga maka seakan–akan kami melihatnya secara langsung, namun apabila kita pulang lalu kami tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan maka kami banyak lupa.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda :</p>
<p>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan Nya, seandainya kalian tetap seperti saat kalian bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian saat ditempat tidur maupun di jalanan. Akan tetapi wahai Handlolah, sekali tempo, sekali tempo (tiga kali).”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim  2750)</p>
</blockquote>
<p>Kalau beribadah terus menerus, puasa terus menerus, sholat terus menerus dengan meninggalkan keluarganya saja dilarang oleh Rosululloh, lalu bagaimana dengan lainnya ?</p>
<p><strong>Ummul mu&#8217;minin Aisyah</strong> menceritakan kepada kita tentang <strong>kisah</strong> antara <strong>Utsman bin Madh’un dengan istrinya</strong>, beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Datang kepadaku<strong> Khuwailah  binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin Al Auqoshi as Sulmiyah</strong>, dan dia itu adalah <strong>istrinya Utsman bin Madh’un</strong>, lalu Rosululloh melihat <strong>lusuhnya penampilah</strong> Khuwailah. Maka beliau bertaya : “Wahai Aisyah, alangkah lusuhnya penampilan Khuwailah.”</p>
<p>Maka saya menjawab : “Wahai Rosululloh , dia itu <strong>bagaikan seorang wanita tak bersuami</strong>, karena suaminya selalu berpuasa pada waktu siang dan selalu sholat pada waktu malam, maka dia itu seakan-akan tidak punya suami. Oleh karena itu dia biarkan dirinya dan tidak diurus.”</p>
<p>Maka Rosululloh mengirim utusan memangil Utsman bin Madh’un. Dia pun datang.</p>
<p>Maka, Rosululloh bertanya: “Wahai Utsman , <strong>apakah engkau membenci sunnahku</strong>?</p>
<p>Dia mejawab : Demi Alloh, tidak wahai Rosululloh, bahkan sunnahhmu lah yang saya cari.”</p>
<p>Maka, Rosululloh bersabda : “Namun saya tidur dan sholat, puasa dan berbuka. <strong>Saya juga menikah dengan wanita</strong>. Takutlah engkau kepada Alloh wahai Utsman, karena <strong>keluargamu mempunyai hak yang harus engkau penuhi</strong>, tamumu pun mempunyai hak yang harus engkau penuhi dan dirimu juga mempnyai hak yang harus engkau tunaikan, maka puasa dan berbukalah, sholat dan tidurlah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad : 26839 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p><strong>D. HARGAI DAN JANGAN CARI-CARI KESALAHAN!</strong></p>
<p>Saat Rosululloh pulang dari masjid, lalu datang ke rumah Aisyah dan bertanya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Wahai Aisyah, apakah ada makanan ? Maka, Aisyah menjawab :“Tidak ada makanan apa-apa wahai Rosululloh, maka Rosululloh bersabda : &#8220;Kalau begitu saya puasa.” (HR. Muslim : 1451)</p>
</blockquote>
<p>Terkadang banyak <strong>masalah kecil yang bisa memicu permasalahan suami istri</strong>. Makanan misalnya, mungkin seorang <strong>istri sudah capek-capek masak sambil momong anak</strong>, namun tatkala suami datang dan mencicipi makanan, lalu<strong> dengan enteng dia mengatakan</strong>,</p>
<blockquote><p>&#8220;Masakannya <em>nggak</em> enak&#8221;,</p>
<p>&#8221; Masak masak sayur  rasanya begini&#8221;,</p>
<p>atau kata yang senada&#8230;</p>
<ul>
<li><strong>Tentu akan sangat menyakitkan.</strong></li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>Kenapakah kita tidak berusaha meniru jejak Rosululloh?</strong></p>
<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ *</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah  bahwasannya Rosululloh minta lauk pada keluarganya, namun mereka mengatakan : “Kita tidak punya apa-apa kecuali cuka.” Maka Rosululloh pun tetap memintanya dan beliau makan dengannya, seraya berkata : “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.”</p>
<p>(HR. Muslim : 2052)</p>
<p>Apakah benar bahwa cuka adalah sebaik-baik lauk? Tentu semua orang mengatakan tidak, karena daging, keju dan lainya jauh lebih baik, <strong>namun kenapa Rosululloh mengatakan hal itu pada istrinya</strong>?</p>
<p>Di antara yang bisa ditangkap adalah untuk <strong>menyenangkan</strong> , <strong>menghargai</strong> dan <strong>tidak melukai hatinya</strong>, bukankah beliau yang mengajarkan untuk tidak mencela makanan?</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ *</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata :</p>
<p style="text-align: center;">“Rosululloh sama sekali tidak pernah mencela makanan, jika beliau senang maka beliau makan, namun jika tidak maka beliau tinggalkan.” (HR. Bukhori :5409 , Muslim : 2046)</p>
</blockquote>
<p>Rosululloh juga mengajarkan kepada kita kalau pulang dari perjalanan agar jangan <strong>pulang mendadak tapi harus terlebih dahulu memberitahukan akan kedatangannya</strong>.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah berkata :</p>
<p>“Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila salah seorang diantara kalian pergi lama, maka janganlah dia pulang mendadak pada waktu malam.”</p>
<p>(HR. Bukhori : 5244)</p>
<ul>
<li>Ada apakah gerangan (maksud hadits di atas -ed)? Jawabnya, supaya tidak membuka jalan bagi suami untuk mencari-cari kesalahan si istri, atau mungkin agar suami tidak melihat istrinya dalam keadaan yang tidak menyenangkan.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p><strong>E. DALAM KISAH MEREKA TERDAPAT SEBUAH PELAJARAN</strong></p>
<ul>
<li><strong><img class="alignleft size-full wp-image-343" title="Ya Allah mudahkanlah..." src="http://abiubaidah.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-3.jpg" alt="Ya Allah mudahkanlah..." width="95" height="125" />Syaikh Mahmud Mahdi al Istanbuli</strong> dalam <strong><em>Tuhfatus Arus</em></strong> menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik</li>
</ul>
<blockquote><p>Ada seorang laki-laki yang datang keada Amirul Mu’minin Umar bin Khothob dan berkata : “<strong>Saya sudah tidak lagi mencintai istriku</strong>&#8220;.</p>
<p>Maka, Umar berkata : “Sesungguhnya sebuah rumah tangga itu <strong>tidak cukup dibangun berdasarkan cinta saja</strong>.”</p>
<p>Engkau benar wahai Amirul Mu’minin, memang tidak selamanya dengan cinta, namun ada <strong>pengorbanan</strong>, terdapat <strong>pengabdian</strong> serta ditemukan <strong>perjuangan</strong>.</p></blockquote>
<ul>
<li> <strong>Imam Ibnul Jauzi</strong> dalam <em><strong>Shoidul Khothir</strong></em> menyebutkan sebuah judul yang unik dan menarik : “Bagaimana engkau bersikap pada istri yang tidak engkau cintai.” Ada banyak kisah yang beliau ceritakan , namun saya petik beberapa diantaranya :</li>
</ul>
<blockquote><p>Ada seseorang yang bertanya kepada <strong>Abu Utsman An Naisaburi</strong> : “Apakah amal perbuatanmu yang paling engkau harapkan pahalanya? Dia menjawab : “Dahulu saat saya masih remaja, keluargaku sangat bersemangat menikahkanku namun saya menolak, kemudian datanglah kepadaku seorang wanita dan berkata, “Wahai Abu Utsman , saya mencintaimu, dan saya mohon atas nama Alloh agar engkau menikahiku.</p>
<p>Berkata Abu Utsman, “Lalu sayapun mendatangi bapaknya, ternyata dia itu orang fakir, lalu dia menikahkan aku dan dia sangat gembira. Lalu saat istriku masuk menemuiku ternyata dia itu <strong>WANITA YANG &#8220;SANGAT JELEK&#8221;</strong> namun cara pergaulannya kepadaku membuatku tidak bisa keluar. Maka, saya pun tetap berada di tempat dan<strong> saya tidak menampakkan kebencian</strong> padanya, meskipun sebenarnya <strong>hatiku seperti berada di atas tungku api</strong> karena memendam kebencian padanya. Saya tetap melakukan itu semua selama lima belas tahun sehingga dia meninggal dunia. Oleh karena itu, tidak ada amal perbuatan yang paling saya harapkan pahalanya melainkan <strong>saat aku menjaga perasaan hatinya</strong>.”</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>F. AKHIR KALAM</strong></p>
<p>Tiada kata yang paling pantas untuk ku tutup nasehat ini kecuali sabda Rosululloh :</p>
<p>أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنسائكم</p>
<p>“Orang mu’min yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan <strong>orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya</strong>.”</p>
<p>(HR. Ahmad 2/472 dari Abu Huroiroh dengan sanad shohih)</p>
<p><em>Wallohul Muwaffiq Wallohu A’lam</em></p>
<p>.</p>
<p>www.ahmadsabiq.com<em> </em></p>
<p><em>(Web ini belum diaktifkan)<br />
</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
