<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Fiktif</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/tag/fiktif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 23:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>
		<category><![CDATA[Talqin mayit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[A. Al Kisah Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata : “Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata : “Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_1580422094" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/" data-text="Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan" data-desc="A. Al Kisah Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata : “Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata : “Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/ÙØ¨Ø±.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1580422094&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F27%2Ftalqin-mayit%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><h3><span style="color: #ff6600;">A. Al Kisah</span></h3>
<p>Diriwayatkan dari <strong>Sa’id bin Abdulloh Al Audi</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah kalian ratakan kuburannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata : Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab. Kemudian katakan : Wahai Fulan bin Fulanah, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian <a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-217" title="قبر" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg" alt="" width="155" height="78" /></a>katakan Wahai Fulan anaknya Fulanah, maka dia akan berkata : “Berilah aku petunjuk, semoga Alloh merohmati kalian.” Lalu hendaklah dia katakan : “Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan Nya, dan engkau ridlo Alloh sebagai robb mu, islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabi mu, al Qur’an sebagai imam mu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata : Pergilah, tidak usah duduk pada orang yang sudah di talqinkan hujjahnya.” Dengan ini semua maka Alloh akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya.”</p>
<p style="text-align: center;">Lalu ada salah seorang yang bertanya : “Wahai Rosululloh, Bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya ?</p>
<p style="text-align: center;">maka Rosululloh bersabda : &#8220;Nasabkanlah kepada Hawa’ , katakan fulan bin Hawa.”</p>
</blockquote>
<p><span id="more-209"></span></p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">B. Kemasyhuran kisah ini</span></h3>
<ul>
<li>Kisah inilah yang menjadi dasar berpijak orang-orang yang melakukan prosesi talqin setelah mayit selesai dikuburkan. Mereka duduk disisi kuburan lalu berkata : Wahai bapak / ibu fulan, engkau nanti akan didatangi dua malaikat, keduanya akan menanyakan kepadamu begini dan begitu….”</li>
</ul>
<ul>
<li>Mengingat bahwa perbuatan ini seakan-akan menjadi sebuah kelaziman di negeri kita ini, maka harus diketahui derajat hadits ini sehingga menjadi peringatan bagi semuanya.</li>
</ul>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">C. Derajat kisah</span></h3>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kisah ini Munkar</strong></span></p>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Takhrij kisah :</strong></span></p>
<ul>
<li>Diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Ad Du’a dan Mu’jam al Kabir 8/289 no : 7979 berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Uqoil Anas Al Khoulani</strong> berkata : &#8221; Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Ibrohim al Ala’</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Isma’il bin ‘Ayyasy</strong>, berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdulloh bin Muhammad Al Qurosyi</strong> dan <strong>Yahya bin Abi Katsir</strong> dari <strong>Sa’id bin Abdulloh al Audi</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kisah ini juga diriwayatkan oleh <strong>Al Khol’i</strong> dalam Al Fawa’id 2/55 dari <strong>Abu Darda’ Hasyim bin Muhammad al Anshori</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Utbah bin Sakan</strong> dari <strong>Abu Zakariya</strong> dari <strong>Jabir bin Sa’id Al Azdi</strong> berkata : Saya masuk menemui <strong>Abu Umamah Al Bahili</strong> saat beliau sedang sakarotul maut, &#8211; Kemudian beliau menyebutkan kisah diatas-.</li>
</ul>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Sisi kelemahan kisah ini :</strong></span></p>
<ul>
<li>Adapun sanad riwayat <strong>Ath Thobroni</strong>, maka sisi kelemahannya adalah banyaknya rowi yang majhul, sebagaimana dikatakan oleh <strong>Al Haitsami</strong> dalam Majma’uz Zawa’id 3/45.</li>
<li>Sedangkan riiwayat <strong>Al Khol’i</strong>, maka lebih parah lagi, karena selain banyaknya beberapa rowi yang majhul, ternyata <strong>Utbah bin Sakan</strong> adalah seorang yang ditinggalkan hadisnya bahkan tertuduh memalsukan hadits, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Daruquthni</strong> dan <strong>Baihaqi</strong>.</li>
<li>Oleh karena itulah,  hadits ini dilemahkan oleh para ulama’.</li>
<li>Berkata <strong>al Haitsami</strong> dalam al Majma’ 3/45 : Dalam sanadnya banyak perowi yang tidak saya kenal.</li>
<li>Berkata <strong>Ibnu Sholah</strong> : Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.</li>
<li><strong>Al Imam An Nawawi</strong> juga melemahkannya, sebagaima dalam Al Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan al Fatawa hal : 54.</li>
<li>Berkata <strong>Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah</strong> dalam Majmu’ Fatawa 24/296 : Hadits ini tidak dihukumi shohih.</li>
<li>Berkata <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad  1/523 : “Tidak shohih secara marfu’.&#8221; Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan : “Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”</li>
<li><strong>Imam Al Iroqi</strong> juga melemahkannya dalam takhrij Ihya’ 4/420.</li>
<li>Berkata <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari 10/563 : Lemah sekali.</li>
<li>Hadits ini juga dilemahkan oleh <strong>Zarkasyi</strong> dalam Al La’ali al Manstsuroh hal : 59, <strong>As Suyuthi</strong> dalam Ad Duror al Manstsuroh hal : 25 .</li>
<li>Berkata Imam <strong>Ash Shon’ani</strong> dalam Subulus Salam 2/114 : Dari keterangan para ulama’ tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits ini lemah, maka janganlah ada yang tetipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.”</li>
<li>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> : Kesimpulannya bahwa hadits ini munkar, jika bukan malah palsu.</li>
<li>Berkata Syaikh <strong>Abu Ishaq Al Huwaini</strong> : “Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits</li>
</ul>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan  : Inilah pengkhianatan Fulan bin Fulan.”</p>
<p>(HR. Bukhori Muslim)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Al Bukhori</strong> : “Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.”</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah <strong>Syaikh Al Albani</strong> : 599,  majallah At Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits asuhan <strong>Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini</strong>, serta rubrik Tahdzirud Da’iyah oleh <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Majalah Tauhid Mesir juga edisi Robiul Awal tahun 1428)</p>
</blockquote>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">D. Ganti yang Shohih</span></h3>
<p>Yang merupakan sunnah Rosululloh setelah menguburkan mayit adalah mendo’akan agar si mayit diampuni dosa-dosanya dan diberi kemantapan untuk bisa menjawab fitnah kubur. Sebagaimana hadits :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال: &#8221; كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال: استغفروا لاخيكم، وسلوا له التثبيت، فإنه الان يسإل &#8220;.</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Utsman bin Affan berkata : Apabila Rosululloh telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda : Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud 2/70, Hakim 1/370, Baiaqi 4/56, Abdulloh bin Ahmad dalam Zawaid Zuhd hlm : 129. Berkata Hakim : Sanadnya shohih dan disepakatai oleh Adz Dzahabi, berkata An Nawawi : Sanadnya bagus, Berkata syaikh Al Albani : hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hakim dan Dzahabi. Lihat Ahkamul Janaiz no : 107)</p>
</blockquote>
<h3><span style="color: #ff6600;">F. Faedah:</span></h3>
<p>Sebagian orang berdalih dengan dua kisah berikut untuk melegalkan talqin setelah mengubur mayit :</p>
<p><strong>1.Ucapan Amr bin Ash</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي</h2>
<p style="text-align: center;">“Jika saya meninggal dunia, maka jangan ada yang meratapiku, lalu jika kalian menguburku maka tibunlah akau dengan tanah, kemudian berdirilah sebentar sekedar waktu yang cukup untuk menyembelih seekor unta serta membagikan dagingnya sehingga saya bisa merasa tenang dengan kalian dan saya bisa mengetahui apa yang saya jawab untuk para utusan Robbku (malaikat).”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;">Kisah ini sama sekali bukan dalil talqin, hal ini bisa dilihat dari beberapa sisi :</span></p>
<ul>
<li>Kisah ini hanya mauquf kepada sahabat Amr bin Ash.</li>
<li>Setahu kami, tidak ada yang melakukan ini dari kalangan para sahabat lainnya.</li>
<li>Dalam kisah ini tidak ada perintah talqin.</li>
</ul>
<p><strong>2. Hadits Baro’ bin Azib</strong></p>
<p>Dari <strong>Baro’ bin Azib</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Kami keluar bersama Rosululloh untuk menguburkan jenazah salah seorang sahabat anshor, dan sampailah kami ke pekuburan ternyata lubang kuburnya belum digali, maka Rosululloh duduk menghadap ke kiblat dan kita pun duduk disekeliling beliau seakan-akan dikepala kami ada burung yang hinggap, Rosululloh memegang batang kayu dan menggaris-gariskannya ketanah, lalu beliau melihat ke langit lalu kebumi, beliau juga mengarahkan pandangan keatas kemudian menurunkannya, lalu beliau bersabda : &#8220;Berlindunglah kalian kepada Alloh dari adzab kubur.” lalu beliau berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari adzab kubur ( 3X ), kemudian beliau bersabda : -tentang perjalanan seseorang  mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia-</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih, HR. Abu Dawud , Hakim 1/37, Thoyalisi  : 753, Ahmad 4/287, Lihat takhrij secara lengkap pada Ahkamul Jana’iz oleh Imam Al Albani hal : 202)</p>
</blockquote>
<p>Hadits inipun sama sekali tidak bisa dibawa pada masalah talqin, karena beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Yang dilakukan oleh Rosululloh saat itu hanyalah memberikan wejangan kepada para sahabatnya tentang perjalanan seorang mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia.</li>
<li>Hal itu dilakukan oleh Rosululloh sebelum mayit dikuburkan, tapi beliau melakukannya saat liang lahat masih digali.</li>
</ul>
<p>(Lihat Subulus Salam oleh <strong>Imam Ash Shon’ani</strong> 1/577)</p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">G. Kapan talqin dilakukan ?</span></h3>
<p><strong>Yang merupakan sunnah Rosululloh, bahwa talqin dilakukan saat seseorang akan meninggal dunia</strong>, dengan cara memerintahkannya untuk mengucapkan kalimat ikhlash <span style="color: #ff0000;"><strong>La Ilaha Illalloh</strong></span>.<br />
Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya sabda beliau  :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لقنوا موتا كم لا إله إلا الله، (من كان آخر كلامه لا إله إلا الله عند الموت دخل الجنة يوما من الدهر، وإن أصابه قبل ذلك ما أصابه)</h2>
<p style="text-align: center;">“Talqinlah orang yang akan meninggal dunia diantara kalian dengan La Ilaha Illalloh. Barang siapa yang akhir ucapannya saat akan meninggal dunia La Ilaha Illalloh niscaya dia akan masuk surga suatu ketika, meskipun sebelumnya dia tertimpa sesuatu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Bazzar)</p>
</blockquote>
<p>Dari <strong>Anas</strong> berakata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Rosululloh pernah menjenguk salah seorang sahabat anshor. Beliau bersabda : Wahai paman, katakanlah La Ilaha Illalloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/152 dengan sanad shohih menuut syarat Muslim.)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">Lihat Ahkamul Jana’iz oleh <strong>Syaikh Al Albani</strong> (hlm : 19)</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</em></strong></p>
<p><strong><em>www.ahmadsabiq.com</em></strong></p>
<p><em><br />
</em></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_2054074078" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/" data-text="Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan" data-desc="A. Al Kisah Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata : “Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata : “Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/ÙØ¨Ø±.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_2054074078&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F27%2Ftalqin-mayit%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Nur Muhammad</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 09:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Nur Muhammad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Al Kisah : Ibnu Ishaq berkata : Setelah Abdulloh (bapak Rosululloh) selamat dari penyembelihan dengan dibayar dengan 100 ekor unta, maka Abdul Mutholib mengajaknya pergi. Saat berada dekat ka’bah lewatlah seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza, namanya Ummu Qottal binti Naufal bin Asad, dia adalah saudari Waroqoh bin Naufal. Saat wanita tersebut melihat [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_1799860508" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/" data-text="Perjalanan Nur Muhammad" data-desc="Al Kisah : Ibnu Ishaq berkata : Setelah Abdulloh (bapak Rosululloh) selamat dari penyembelihan dengan dibayar dengan 100 ekor unta, maka Abdul Mutholib mengajaknya pergi. Saat berada dekat ka’bah lewatlah seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza, namanya Ummu Qottal binti Naufal bin Asad, dia" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1799860508&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F26%2Fperjalanan-nur-muhammad%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><h3>Al Kisah :</h3>
<p><strong>Ibnu Ishaq</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Setelah Abdulloh (bapak Rosululloh) selamat dari penyembelihan dengan dibayar dengan 100 ekor unta, maka Abdul Mutholib mengajaknya pergi. Saat berada dekat ka’bah lewatlah seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza, namanya Ummu Qottal binti Naufal bin Asad, dia adalah saudari Waroqoh bin Naufal. Saat wanita tersebut melihat wajah Abdulloh, maka dia berkata : Engkau mau pergi kemana wahai Abdulloh ? Abdulloh menjawab : Saya mau pergi bersama bapakku.” Wanita itu pun berkata : Saya akan memberimu unta sebanyak yang disembelih sebagai gantimu, tapi setubuhilah saya sekarang.” Abdulloh berkata : Saya sedang bersama bapakku dan saya tidak bisa untuk menyelisihi serta berpisah dengannya.”</p>
<p style="text-align: center;">Selanjutnya Abdul Mutholib membawa Abdulloh menemui Wahb bin Abdu Manaf bin Zahroh (dia adalah bapaknya Aminah, ibunda Rosululloh) lalu dia menikahkan putrinya Aminah dengan Abdulloh, dan saat itu Aminah adalah wanita Quraisy yang paling agung nasab dan kedudukannya.</p>
<p style="text-align: center;">Lalu Abdulloh pun mengumpulinya dan Aminah pun hamil Rosululloh, kemudian Abdulloh keluar menemui wanita yang menawarkan dirinya kemarin, dan saat itu wanita tersebut masih berada di tempat semula. Abdulloh berkata : Kenapa engkau tidak menawarkan dirimu sebagaimana yang engkau lakukan kemarin ? Wanita itu menjawab : Cahaya yang ada padamu kemarin telah hilang darimu, maka saya tidak butuh padamu lagi.” Hal ini dilakukan oleh wanita tersebut karena dia mendengar dari saudaranya Waroqoh bin Naufal yang saat itu sudah memeluk agama nashroni, dia berkata bahwa akan muncul dari ummat ini  seorang nabi dari keturunan Isma’il.”</p>
<p style="text-align: center;">Akhirnya dari rahim Aminah binti Wahb lahirlah Rosululloh dengan nasab yang mulia, karena bapaknya adalah Abdulloh bin Abdul Mutholib, sedangkan Abdul Mutholib adalah pemimpin Quraisy, dan ibunya adalah wanita Quraisy yang mulia ditambah lagi dengan cahaya yang terdapat pada diri Abdulloh yang kemudian berpindah pada Aminah.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Siroh Ibnu Hisyam 1/100 dengan sedikit diringkas)</p>
</blockquote>
<p><span id="more-212"></span></p>
<h3>Kemasyhuran kisah ini :</h3>
<p>Kisah ini sangat masyhur dan banyak dikisahkan terutama pada bulan Robiul awal yang merupakan bulan kelahiran Rosululloh. Dimana banyak orang yang merayakan acara <strong>maulid nabawi yang jelas-jelas bid’ah</strong>.</p>
<p>Dalam-acara tersebut sering dikisahkan dan bahkan hal ini sudah menjadi keyakinan mereka bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah Nur (cahaya) Muhammad, kemudian Alloh meletakkanya pada rahim Hawa, kemudian nur inipun pindah dari satu rahim ke rahim lainnya dengan cara pernikahan yang mulia dan pada orang-orang yang mulia, sampai akhirnya sampailah kepada Abdulloh yang kemudian berpindah kepada Aminah, yang kemudian dari nur itulah lahir nabi Muhammad. Kisah inilah yang sering diistilahkan dengan <strong>perjalanan Nur Muhammad</strong>.</p>
<h3>Derajat kisah :</h3>
<p><strong>Kisah ini munkar</strong></p>
<p><strong>Takhrij kisah : </strong>(1)</p>
<p>Kisah ini diriwayatkan dari beberapa jalan :</p>
<p><strong>Pertama : </strong></p>
<p>Kisah diatas diriwayatkan oleh <strong>Imam Baihaqi</strong> dalam Dala’ilun Nubuwwah 1/102, beliau berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Abdillah Al Hafidz</strong>, berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub</strong>, berkata : &#8221; Telah menceritakan kepada kami <strong>Ahmad bin Abdul Jabbar</strong>, berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Yunus bin Bukair</strong> dari <strong>Muhammad bin Ishaq</strong> berkata :  &#8211; sebagaimana kisah diatas-</p>
<p><strong>Sisi kelemahan jalan ini  :</strong></p>
<ul>
<li>Dalam sanadnya terdapat <strong>Ahmad bin Abdul Jabbar</strong>.<br />
<strong>Imam Adz Dzahabi</strong> berkata tentang dia : Bukan hanya satu orang yang melemahkan dia. <strong>Ibnu Adi</strong> berkata : Saya melihat para ulama’ sepakat atas kelemahannya, hanya saja saya tidak mengetahui haditsnya yang munkar.<br />
Berkata <strong>Muthoyyin</strong> : Dia berdusta.<br />
<strong>Abu Hatim</strong> mengomentarinya : Dia bukan orang yang kuat.<br />
Kesimpulannya dia adalah orang yang lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> dalam Taqrib Tahdzib no : 64</li>
<li>Kisah ini bersumber dari <strong>Muhammad bin Ishaq</strong>, dan beliau meriwayatkan dalam Maghozi beliau tanpa sanad.</li>
<li>Matan kisah ini mudlthorib. Hal ini disebabkan tidak jelasnya nama wanita yang menawarkan dirinya pada Abdulloh (bapak Rosululloh), karena kalau dilihat dalam semua riwayat yang menceritakan kisah ini, maka akan ditemukan bahwa nama wanita ini berbeda beda. Ada yang menyebutkan dengan nama <strong>Ummu Qottal</strong>, ada yang <strong>Laila al Adawiyyah</strong>, ada yang menyebutkan bahwa dia adalah seorang wanita dukun dari daerah Tubalah, ada lagi yang menyatakan bahwa dia adalah wanita dari Khots’am dan masih ada beberapa yang lainya.</li>
<li>Dalam kisah ini disebutkan bahwa <strong>Abdulloh</strong> datang lagi kepada wanita tersebut untuk berzina, dan ini bertentangan dengan kaedah umum tentang kesucian nasab para nabi.</li>
</ul>
<p><strong>Kedua :</strong></p>
<p>Dari <strong>Ibnu Abbas</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Ada seorang wanita dari bani Khots’am menawarkan dirinya (untuk berzina) pada waktu musim haji, dia adalah seorang wanita yang cantik, dia datang untuk thowaf di baitulloh sambil membawa sebuah barang seakan-akan ingin menjualnya, lalu dia mendatangi Abdulloh bin Abdul Mutholib (berkata Rowi : Saya sangka bahwa Abdulloh mengagumi kecantikannya) wanita itu berkata : Demi Alloh, saya sebenarnya tidak kepingin thowaf membawa barang ini, dan saya pun tidak butuh kepada harganya, yang saya inginkan hanyalah untu melihat kaum laki-laki, adakah yang cocok buatku, maka kalau engkau menginginkanku segeralah berdiri.” Maka Abdulloh berkata : Kau tunggu saja disini sehingga saya akan kembali.” Lalu Abdulloh pergi dan mengumpuli istrinya, yang akhirnya hamil Rosululloh. Tatkala dia kembali kepada wanita tersebut, maka dia berkata: Kamu masih disini ? wanita itu balik bertanya : Kamu ini siapa ? Abdulloh menjawab : Saya orang yang berjanji denganmu.” Wanita itu menjawab : Tidak, kamu bukan dia, namun jika kamu benar-benar dia, maka tadinya saya melihat ada cahaya di wajahmu yang tidak lagi aku lihat sekarang.”</p>
</blockquote>
<p><strong>Takhrij kisah ini :</strong></p>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Baihaqi</strong> dalam Dala’ilun Nubuwah 1/107 berkata : &#8220;Telah mengkabarkan kepada kami <strong>Abu Abdillah Al Hafidz</strong>, berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdul Baqi bin Qoni’</strong>, berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdul Warits bin Ibrohim Al Askari</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Musaddad</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Maslamah bin Alqomah</strong> dari <strong>Dawud bin Abu Hindun</strong> dari <strong>Ikromah</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> : -dengan riwayat diatas-</p>
<p>Kisah ini juga diriwayatkan oleh <strong>Ibnu Asakir</strong> dari jalan <strong>Hakim</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdul Abqi bin Qoni’</strong> dengan sanad diatas.&#8221;</p>
<p><strong>Sisi kelemahan kisah ini :</strong></p>
<p>Jalan inipun lemah dari dua sisi :</p>
<ul>
<li><strong>Abdul Baqi bin Qoni’</strong><br />
<strong>Ibnu Hazm</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Ibnu Sufyan dari kalangan Malikiyyah sama dengan Ibnu Qoni’ dari kalangan Hanafiyyah, ditemukan kedustaan nyata dalam hadits keduanya, sebagaimana juga ditemukan bencana yang sangat jelas, mungkin karena perubahan atau karena menukil dari para pendusta dan orang-orang yang lemah bahkan mungkin karena mereka berdua sendiri.”</p>
</blockquote>
</li>
<li><strong>Abdul Warits bin Ibrohim al askari</strong>, dia seorang yang tidak dikenal.</li>
</ul>
<p><strong>Ketiga :</strong></p>
<p>Jalan ini diriwayatkan oleh <strong>Ath Thobari</strong> dalam Tarikh beliau 2/24 dan <strong>Abu Nu’aim</strong> dalam Dala’ilun Nubuwwah  hlm : 19 dan <strong>al Khoro’ithi</strong> dalam Al Hawatif dari jalan <strong>Ali bin Harb</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Amaroh al Qurosyi</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Muslim bin Kholid Az Zanji</strong> berkata : &#8221; Telah menceritakan kepada kami <strong>Ibnu Juroij</strong> dari <strong>Atho’</strong> dari <strong>ibnu Abbas</strong> dengan riwayat diatas.</p>
<p><strong>Derajat riwayat ini :</strong></p>
<p>Riwayat inipun lemah, karena tiga sebab :</p>
<ul>
<li><strong>Muslim bin Kholid Az Zanji</strong><br />
Berkata <strong>Imam Bukhori</strong> dalam Adl Dlu’afa’ ash Shoghir : 342 : Dia munkar hadits.<br />
Sedangkan istilah munkar hadits bagi <strong>Imam Bukhori</strong> adalah bagi seorang rowi yang tidak boleh diriwayatkan hadits darinya (Lihat Tadribur Rowi As Suyuthi 1/349)<br />
Dalam Mizanul i’tidal : 8485 disebutkan : <strong>Ibnul Madini</strong> berkata : Dia tidak ada apa-apanya. <strong>As Saji</strong> berkata : Dia banyak salah dan dilemahkan oleh <strong>Abu Dawud</strong>.</li>
<li><strong>Muhammad bin Amaroh</strong> seorang yang tidak dikenal.</li>
<li><strong>Ibnu Juroij</strong> seorang mudallis, sedangan dalam riwayat ini beliau meriwayatkan secara an’anah (meriwayatkan dengan lafadz “an” (dari)” sedangkan telah difahami bersama dalam disiplin ilmu hadits bahwa seorang mudallis kalau meriwayatkan secara an’anah maka riwayatnya lemah.<strong>Ad Daruquthni</strong> berkata :<br />
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Sejelak-jelek tadlis adalah tadlisnya <strong>Ibnu Juroij</strong>, karena tidaklah dia melakukan tadlis kecuali kalau dia mendengar hadits dari orang yang lemah.”</p>
</blockquote>
</li>
</ul>
<p><strong>Keempat :</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Ibnu Sa’d</strong> dalam Thobaqot beliau 1/44 berkata : &#8220;Telah mengkhabarkan kepada kami <strong>Hisyam bin Muhammad bin Sa’ib Al Kalbi</strong> dari bapaknya dari <strong>Abu Sholih</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> : -lalu mengisyarakan pada kisah ini dengan singkat-</p>
<p><strong>Derajat riwayat ini :</strong></p>
<p>Riwayat ini sangat lemah. <strong>As Suyuthi</strong> dalam Tadribur Rowi berkata : &#8220;Sanad yang paling lemah dari <strong>Ibnu Abbas</strong> adalah <strong>Muhammad bin Marwan As Suddi</strong> dari <strong>Al Kalbi</strong> dari <strong>Abu Sholih</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong>.<br />
<strong>Syaikhul Islam Ibnu Hajar</strong> berkata : &#8220;Ini adalah silsilah dusta bukan silsilah emas.”<br />
<strong>Al Jauzajani</strong> dan lainnya mengatakan bahwa <strong>al Kalbi</strong> adalah pensusta. <strong>Ad Daruquthni</strong> dan lainnya berkata : &#8220;Dia seorang yang ditinggalkan haditsnya. (Lihat Mizan : 7574)<br />
<strong>Ibnu Hibban</strong> dalam Al Majruhin 2/255 berkata : &#8220;Madzhab <strong>al Kalbi</strong> serta kedustaannya sangat jelas, tidak perlu dipanjang lebarkan.”</p>
<p><strong>Kelima :</strong></p>
<p>Jalur ini juga diriwayatkan oleh <strong>Ibnu Sa’d</strong> dalam Thobaqot 1/44. Beliau berkata : &#8220;Telah mengkhabarkan kepada kami <strong>Hisyam bin Muhammad bin Sa’ib al Kalbi</strong> dari <strong>Abul Fayyadl al Khots’ami</strong> berkata : “Abdulloh bin Abdul Mutholib melewati seoang wanita dari bani Khots’am ….. (kemudian beliau menyebutkan kisah panjang, yang intinya hampir mirip dengan yang sebelum ini)</p>
<p><strong>Derajat kisah ini :</strong></p>
<p>Kisah ini pun lemah sekali, karena dalam sanadnya terdapat <strong>Al Kalbi</strong> diatas yang dikatakan oleh <strong>Al Jauzajani</strong> bahwa dia seorang pendusta.</p>
<p><strong>Jalan lain :</strong></p>
<p>Kisah ini masih ada dua jalan lagi, tapi dalam sanadnyapun terdapat para pendusta dan orang-orang yang tidak dikenal.</p>
<p><strong>Kesimpulan tentang derajat kisah ini :</strong></p>
<p>Dari pemaparan sanad kisah ini maka dapat disimpulkan bahwa semua sanadnya dipenuhi dengan para pendusta, orang-orang lemah, orang yang tak dikenal dan yang semisalnya. Dengan ini maka kisah ini lemah dan tidak bisa dijadikan dasar dalam mempercayai kisah ini.</p>
<p>Kalau ada yang berkata : “Kenapa tidak dikataan bahwa kisah ini hasan, bukankah kalau sebuah hadits diriwayatkan denga banyak jalan, meskipun semuanya lemah, tapi karena banyak  jalan maka terangkat menjadi hasan ?</p>
<p>Jawab : Kaedah terangkatnya sebuah sanad lemah karena dikuatkan oleh jalan lainnya tidak boleh diterapkan secara mutlak.</p>
<p><strong>Al Hafidz Ibnu Katsir</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Datangnya sebuah hadits dari banyak jalan tidak berkonsekwensi mesti menjadi hasan, karena kelemahan  sebuah hadits ini bertingkat-tingkat, ada yang tidak bisa dihilangkan kelemahannya dengan mutabaah (adanya jalan lain) seperti riwayatnya para pendusta dan orang yang ditinggalkan haditsnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Ikhtishor ulumil Hadits hlm : 23)</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Al Albani</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Merupakan sesuatu yang masyhur dikalangan para ulama’ bahwa sebuah hadits apabila diriwayatkan dari banyak jalan, maka hadits tersebut menjadi kuat  dan boleh dijadikan sebagai hujjah, meskipun satu persatu dari jalan tersebut lemah. Namun kaedah ini tidak berlaku secara mutlak , tapi hal ini hanya khusus bagi hadits yang sisi kelemahanya adalah kelemahan hafalan hafalan rowi, bukan karena tertuduh dalam kejujuran dan agamanya. Jika demikian maka  hadits tersebut tidak bisa menjadi kuat meskipun diriwayatkan dari banyak jalan.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Tamamul Minnah hlm : 31)</p>
</blockquote>
<p><strong>Kelemahan hadits dari sisi matan :</strong></p>
<p>Kalau kita perhatikan matan dari hadits inipun, akan kita dapatkan sisi kelemahan lain, karena dalam hadits ini ada isyarat bahwa <strong>Abdulloh</strong> bapak Rosululloh ingin berzina dengan wanita yang mengajaknya tersebut. Dan ini bertentangan dengan sesuatu yang sudah difahami bersama oleh semua kaum muslimin bahwa nasab para nabi itu suci dan mulia.</p>
<h3>Beberapa hadits lain :</h3>
<p>Hari-hari ini, dalam acara perayaan maulid nabi ataupun lainnya, banyak para penceramah yang menyebutkan tentang sejarah kelahiran Rosululloh. Dan mereka banyak menyebutkan hadits-hadits lemah maupun palsu.</p>
<p>Maka perlu untuk disebutkan disini sebagiannya yang berhubungan dengan nur Muhammad, yaitu :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">أول ما خلق الله نور نبيك يا جابر</h2>
<p style="text-align: center;">“Yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah Nur (cahaya) nabimu wahai Jabir.”</p>
</blockquote>
<p>Hadits ini tidak ada asal usulnya.</p>
<p><strong>Imam As Suyuthi</strong> pernah ditanya tentang hadits ini, maka beliau menjawab : “Hadits ini tidak ada sanadnya yang shohih.”</p>
<p><strong>Syaikh Al Albani</strong> dalam Ash Shohihah no : 458 setelah menyebutkan keshohihan hadits :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">خلقت الملائكة من نور و خلق إبليس من نار السموم و خلق آدم عليه السلام مما قد وصف لكم</h2>
<p style="text-align: center;">“Para malaikat diciptakan dari cahaya, iblis di ciptakan dari api dan Adam tercipta dari apa yang disifatkan untuk kalian.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim: 2996)</p>
</blockquote>
<p>Beliau berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Dalam hadits ini terdapat isyarat atas kebatilan sebuah hadits yang masyhur dikalangan manusia yaitu : “Yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah  nur nabimu wahai Jabir.” Dan hadits-hadits semisalnya yang menyatakan bahwa Rosululloh tercipta dari cahaya. Sesungguhnya hadits ini adalah sebuah dalil yang sangat jelas bahwa hanya para malaikat saja yang tercipta dari cahaya, bukan Adam dan bukan pula anak keturunannnya. Perhatikanlah hal ini dan janganlah kamu menjadi orang yang lalai.”</p>
<p style="text-align: center;">Dan hadits inipun bertentangan dengan sabda Rosululloh :</p>
<h2 style="text-align: center;">إن أول شيء خلقه الله تعالى القلم و أمره أن يكتب كل شيء يكون</h2>
<p style="text-align: center;">Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah pena, dan Alloh memerintahkannya untuk menulis segala sesuatu yang akan terjadi.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Ya’la 1/126, Baihaqi dalam Asma’ was Shifat hlm : 271, Lihat Ash Shohihah : 133)</p>
</blockquote>
<p><strong>Hadits lain :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">كنت نبيا و آدم بين الماء و الطين</h2>
<p style="text-align: center;">Saya adalah seorang nabi padahal saat itu Adam masih antara air dan tanah.</p>
</blockquote>
<p><strong>Hadits ini pun palsu</strong></p>
<p>Disebutkan kepalsuannya oleh <strong>As Suyuthi</strong> dalam Dzail al Ahadits al Maudlu’at hal : 203.</p>
<p>Berkata <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Tidak ada asal usulnya, baik secara naqli maupun akal, tidak ada seorangpun dari kalangan ahli hadits yang  menyebutnya, maknanya juga bathil, karena Nabi Adam tidak pernah antara air dan tanah, namun yang benar bahwa Adam antara ruh dan jasad.”</p>
</blockquote>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Yang dimaksud oleh Syaikhul Islam dengan perkataan beliau : “antara ruh dan jasad” adalah bahwasanya itulah yang shohih, sebagaimana dalam sebuah hadits :</p>
<h2 style="text-align: center;">كنت نبيا و آدم بين الروح و الجسد</h2>
<p style="text-align: center;">“Saya adalah seorang nabi sedangkaan saat itu Adam antara ruh dan jasad.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Ash Shohihah : 1856)</p>
</blockquote>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hanya saja hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau adalah makhluk yang diciptakan pertama kali, sebagaimana yang disangka oleh sebagian kalangan.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adl Dlo’ifah 2/115)</p>
</blockquote>
<p><strong>Hadits lain :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">كنت أول النبيين في الخلق ، و آخرهم في البعث</h2>
<p style="text-align: center;">Saya adalah nabi yang pertama kali diciptakan, namun yang paling akhir diutus.</p>
</blockquote>
<p><strong>Hadits ini lemah</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh dalam fawaid 8/126, <strong>Abu Nu’aim</strong> dalam Dala’il hlm : 6 dan lainnya dari jalan <strong>Sa’id bin Basyir</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Qotadah dari Hasan</strong> dari <strong>Abu Huroiroh</strong> secara marfu’.</p>
<p>Sisi kelemahannya ada dua :</p>
<ul>
<li>Hasan Al Bashri meriwayatkan secara an’anah, padahal beliau adalah seorang mudallis.</li>
<li><strong>Sa’id bin Basyir</strong> seorang yang lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> dalam Taqrib beliau.<br />
(Lihat Adl Dlo’ifah Syaikh Al Albani no : 661)</li>
</ul>
<p><strong>Hadits  lain :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">سأل علي بن أبي طالب رضي الله عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم قائلا: &#8220;سل لنا ربك مم خلقك، فسأل الله ربه قائلا: &#8220;رب مم خلقتني؟&#8221; فقال الله تبارك وتعالى: &#8220;خلقتك من نور وجهي، وإني قسمت نور وجهي إلى ثلاثة أقسام: قسم خلقتك منه، وقسم خلقت منه أزواجك، وقسم خلقت منه من يحبك من أمتك&#8221;</h2>
<p style="text-align: center;">Ali bin Abi Tholib bertanya kepada Rosululloh : “Tanyakan kepada Robb mu dari apa Dia menciptakan engkau ? Maka Rosululloh pun bertanya kepada Alloh : “Ya Alloh, dari apa Engkau menciptakan ku ? Alloh berfirman : “Saya ciptakan engkau dari nur wajahKu, sesungguhnya Saya membagi nur wajah Ku menjadi tiga bagian, satu bagian saya ciptakan engkau, satu bagian lainnya Saya ciptakan istri-istrimu, dan satunya lagi Saya ciptakan umatmu yang mencintaimu.”</p>
</blockquote>
<p><strong>Lajnah Daimah</strong> pernah ditanya tentang hadits ini, maka mereka menjawab :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hadits ini dusta atas nama Rosululloh, tidak ada asal usulnya dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Fatwa lajnah daimah 4/370 no : 1754)</p>
</blockquote>
<p><strong>Faedah :</strong></p>
<p>Termasuk perkara aneh bin ajaib dinegeri kita adalah tersebarnya keyakinan disebagian kaum muslimin bahwa yang pertama kali mengadakan acara maulid nabi adalah <strong>Sholahuddin Al Ayyubi</strong> saat perang Salib untuk menyemangati kaum umuslimin melawan pasukan kafir. Ini adalah sebuah kebohongan, karena yang pertama kali membuat bid’ah ini adalah orang-orang <strong>bathiniyyah</strong> dari kerajaan <strong>Ubaidiyyah</strong> yang mereka menamakannya dengan <strong>daulah Fathimiyyah</strong>. Merekalah yang dikatakan oleh <strong>Imam Al Ghozali</strong> sebagaimana yang dinukil oleh <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> : “Mereka menampakkan sebagai orang Rofidloh syi’ah, padahal sebenarnya mereka adalah murni orang kafir.”</p>
<p>Berkata <strong>Syaikh Abu Hafsh Tajuddin Al Fakihani</strong> (beliau adalah salah satu murid Imam <strong>Ibnu Daqiq ’id</strong>) :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saya tidak mengetahui dalil untuk peringatan maulid nabi ini, baik dari al Qur’an maupun as Sunnah. Dan tidak dinukil bahwa salah satu dari para ulama’ mengamalkannya, padahal mereka adalah panutan dalam kehidupan beragama yang selalu berpegang teguh dengan amal perbuatan para ulama’ sebelumnya. Yang benar bahwa peringatan maulid ini adalah sebuah perbuatan bid’ah  yang diadakan oleh para pengangguran, serta sebuah syahwat nafsu belaka yang dimanfaatkan oleh orang yang hanya mementingkan urusan perut mereka.”</p>
</blockquote>
<p>Saat mengomentari ucapan <strong>Syaikh Al Fakihani</strong> ini, <strong>Syaikh Ali Hasan al Atsari</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Mereka adalah orang-orang dari daulah Ubaidiyyah yang beraqidah bathiniyyah, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Al Maqrizi</strong> dalam Al Khuthoth 1/280, <strong>Al Qolqosynadi</strong> dalam Shubhul A’sya 3/398, <strong>As Sandubi</strong> dalam Tarikh Ihtifal bil Maulid hlm : 69, <strong>Muhamad Bukhait al Muthi’i</strong> dalam Ahsanul Kalam hlm : 44, <strong>Ali Fikri</strong> dalam Muhadlorot beliau hlm : 84 serta <strong>Ali Mahfudz</strong> dalam Al ‘Ibda’ hlm : 126.</p>
</blockquote>
<p>Kalau ada yang masih mempertanyakan : Bukankah tidak hanya seorang ulama’ yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah seorang raja yang adil dan berilmu yaitu <strong>Raja Mudhoffar</strong> penguasa daerah Irbil?</p>
<p>Jawab : Ini adalah sebuah pendapat yang bathil sebagaimana yang dinukil oleh para ulama’ tadi. Sisi kebatilan lainnya adalah bahwa <strong>Imam Abu Syamah</strong> dalam Al Ba’its ‘ala inkaril bida’ wal hawadits hlm : 130 menyebutkan bahwa <strong>Raja Mudhoffar</strong> melakukan itu karena mengikuti <strong>Umar bin Muhammad Al Mula</strong>, dan dialah orang yang pertama kali melakukannya, hal ini juga disebutkan oleh <strong>Sibt ibnul Jauzi</strong> dalam Mir’atuz Zaman 8/310, sedangkan <strong>Umar Al Mula</strong> ini adalah salah seorang pembesar shufiyyah, maka tidaklah mustahil kalau <strong>Syaikh Umar Al Mula</strong> ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.</p>
<p>Sisi kebatilan lainnya bahwa sebuah <strong>perbuatan bid’ah tidak boleh diterima meskipun datang dari siapapun dia</strong>, karena adanya nash-nash yang  tegas mencela perbuatan bid’ah, tidak mungkin kita menentang hadits-hadits ini hanya dengan perbuatan <strong>Raja Mudhoffar</strong>, adapun tentang keberadaan beliau sebagai seorang raja yang adil, maka hal ini sama sekali tidak berkonsekwensi bahwa beliau seorang yang ma’shum, bahkan <strong>Yaqut Al Hamawi</strong> (beliau adalah salah seorang yang hidup sezaman dengan raja Mudhoffar) dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Sifat raja ini banyak kontradksi, dia sering berbuat dholim, tidak memperhatikan rakyatnya serta senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Al Maurid fi ‘amalil Maulid oleh Al Fakihani dengan tahqiq Syaikh Ali –yang tercetak dalam Rosa’il fi hukmil Ihtifal bil Maulid An Nabawi 1/8)</p>
</blockquote>
<p>Wallohu a’lam</p>
<p>_________________________________________</p>
<p>(1) Takhrij ini kami sarikan dari dirosah <strong>Syaikh Ali Hasyisiy</strong> atas kisah ini yang termuat dalam majalah At Tauhid Jamaah Anshor Sunnah Muhammadiyyah Mesir edisi 3 tahun 31 hal : 52 dengan beberapa tambahan</p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1985434005" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/" data-text="Perjalanan Nur Muhammad" data-desc="Al Kisah : Ibnu Ishaq berkata : Setelah Abdulloh (bapak Rosululloh) selamat dari penyembelihan dengan dibayar dengan 100 ekor unta, maka Abdul Mutholib mengajaknya pergi. Saat berada dekat ka’bah lewatlah seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza, namanya Ummu Qottal binti Naufal bin Asad, dia" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1985434005&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F26%2Fperjalanan-nur-muhammad%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 10:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Tsa'labah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Saat menafsirkan firman Alloh : وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77) Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Alloh : [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_2104674971" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/" data-text="Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat" data-desc="Saat menafsirkan firman Alloh : وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_2104674971&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F12%2F15%2Fkritik-kisah-tsalabah%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><p>Saat menafsirkan firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)</h2>
<p style="text-align: center;">Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Alloh : Sesungguhnya jika Alloh memberikan sebagian karunia Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah  dan pastilah kami termasuk orang-orang yang sholeh.” Maka setelah Alloh memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Alloh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Alloh, karena mereka telah memungkiri terhadap Alloh apa yang telah mereka ikrarkan kepada Nya dan juga mereka selalu berdusta.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 75-77)</p>
</blockquote>
<p><span id="more-163"></span><br />
Berkata <strong>Imam Ibnu Jarir Ath Thobari</strong> 14/16987 :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Para ulama’ tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini. Sebagian  mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah Tsa’labah bin Hathib, salah seorang sahabat anshor.”.</p>
</blockquote>
<p>Kemudian beliau meriwayatkan sebuah hadits :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Telah menceritakan kepadaku Mutsanna, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu’aib, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Ma’an bin Rifa’ah as Sulami dari Abu Abdil Malik Ali bin Yazid al Alhani bahwasanya dia menghabarkan dari Qosim bin Abdur Rohman  bahwasannya dia menghabarkan dari Abu Umamah al Bahili dari Tsa’labah bin Hathib bahwasannya dia berkata kepada Rosululloh  : “Berdo’alah kepada Alloh agar Alloh memberikan rizqi harta kepadaku.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Celakalah engkau wahai Tsa’labah, sedikit harta tapi engkau syukuri lebih baik dari banyak harta tapi engkau tidak mampu menanggungnya, tidakkah engkau ridlo menjadi seperti nabi Alloh, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, seandainya saya kepingin  agar gunung itu mengalirkan perak dan emas untukku, niscaya akan mengalir.” Tsa’labah menjawab : “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berdo’a kepada Alloh lalu Alloh memberi rizki harta kepada ku, niscaya akan aku berikan harta itu pada setiap yang berhak.” Maka Rosululloh berdo’a : “Ya Alloh, berilah Tsa’labah harta.” Lalu diapun mengambil kambing, dan ternyata kambing itu berkembang biak dengan pesat seperti ulat, sehingga kota Madinah tidak muat, lalu dia pun pindah ke pinggiran kota, tepatnya pada salah satu lembahnya, sehingga dia cuma bisa sholat  jamaah dhuhur dan ashar dan meninggalkan jamaah sholat lainnya. Kemudian kambing pun semakin berkembang biak sehingga dia pun tidak pernah jamaah sholat lima waktu selain sholat jum’at saja, namun kambingnya pun bertambah banyak yang akhirnya sholat jum’at pun dia tinggalkan, dan dia hanya mencari berita dari para pendatang yang ikut sholat jum’at. Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah.”</p>
</blockquote>
<p>Lalu Alloh menurunkan firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً</h2>
<p style="text-align: center;">“Ambilllah zakat dari harta-harta mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 103)</p>
</blockquote>
<p>yang menunjukkan wajibnya zakat, maka Rosululloh mengutus dua orang untuk mengambil zakat, seorang dari Bani Juhainah dan seorang lagi dari Bani Salim dan Rosululloh menuliskan sebuah surat tentang bagaimana harus mengambil zakat dari kaum muslimin. Rosululloh juga berpesan kepada keduanya : “Mampirlah ke tempat Tsa’labah dan seseorang dari bani Salim lalu ambillah zakat dari keduanya.” Lalu keduanya pergi sehingga bertemu dengan Tsa’labah, lalu minta shodaqohnya  dan keduanya membacakan surat Rosululloh. Namun ternyata Tsa’labah malah berkata : “Ini adalah jizyah 1, ini tiada lain kecuali saudaranya jizyah, saya tidak tahu akan hal ini, pergilah dahulu sehingga kalian selesai menjalankan tugas  lalu balik lagi kesini.” Lalu keduanya pun berangkat, kedatangan keduanya di dengar oleh seseorang yang dari Bani Salim maka dia melihat pada untanya yang paling bagus lalu di ambil untuk zakat dan diapun menyambut kedatangan keduanya, dan tatkala keduanya melihat, maka mereka berdua berkata : “Kamu tidak wajib mengeluarkan ini, kami tidak ingin mengambil yang sebagus ini darimu.” Namun dia berkata : “Ambillah, saya rela mengasihkannya.” Tatkala keduanya selesai menjalankan tugas, maka keduanya balik lagi ke Tsa’abah, lalu dia berkata : “Tunjukkan kepadaku surat yang kalian bawa.” Lalu dia melihatnya seraya berkata : “Ini tiada lain adalah saudaranya jizyah, pergilah sehingga saya menentukan sikapku.” Keduanya pun pulang sehingga sampai kepada Rosululloh, tatkala Rosululloh melihat keduanya, beliau bersabda : &#8220;Celakalah Tsa’labah.”  Ini diucapkan sebelum Rosululloh berbicara kepada kedua dan beliau mendo’akan keberkahan kepada seseorang yang dari Bani Salim, lalu keduanya menghabarkan apa yang dilakukan oleh orang dari Bani Salim tersebut dan apa yang dilakukan oleh Tsa’labah. Maka turunlah firman Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Diantara mereka ada yang berjanji pada Alloh, jika Alloh memberikan keutaman Nya, sungguh kami akan bershodaqoh dan kami akan menjadi orang-orang yang sholih.”</p>
</blockquote>
<p>Sampai pada firman Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan terhadap apa yang mereka dustakan.”</p>
</blockquote>
<p>Disaat itu didekat Rosululloh ada seseorang kerabat Tsa’labah, tatkala dia mendengar ayat ini maka segera mendatangi Tsa’abah  seraya berkata : “Celakalah engkau wahai Tsa’labah, Alloh menurunkan ayat ini dan itu berhubungan denganmu.” Maka Tsa’labah keluar sehingga mendatangi Rosululloh dan meminta beliau menerima shodaqohnya, namun Rosululloh bersabda : &#8220;Alloh melarangku untuk menerima shodaqohmu.” maka dia menaburkan tanah pada kepalanya, namun Rosululloh malah berkata : “Inilah perbuatanmu, saya perintahkan engkau namun tidak engkau ta’ati.” Kemudian Tsa’labah pulang ke rumahnya dan Rosululloh meninggal dunia dalam keadaan tidak mau menerima shodaqohnya. Kemudian dia datang kepada Abu Bakr tatkala beliau menjadi kholifah seraya berkata  : “Engkau mengetahui kedudukanku disisi Rosululloh juga dikalangan anshor, maka terimalah shodaqohku.” Maka Abu Bakr berkata : &#8220;Rosululloh tidak menerimanya, akankah saya menerimanya ?.” Dan Abu Bakr meninggal dunia tetap tidak menerima zakatnya. Dan tatkala Umar menjadi kholifah, dia pun mendatanginya seraya berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku.” Maka Umar berkata : “Rosululloh dan Abu Bakr tidak menerimanya, akankah saya menerimanya ?.”  sehingga Umar pun meninggal dunia, kemudian Utsman menjadi kholifah, dan dia pun mendatanginya  lalu mohon agar di terima shodaqohnya, maka Utsman berkata: “Rosululloh, Abu Bakr dan Umar tidak menerimanya, lalu akankah saya menerimanya ?.” Akhirnya Tsa’labah meninggal dunia pada zaman khilafah Utsman.”</p>
<p><strong>Kisah ini sangat lemah</strong></p>
<h3>Kemasyhuran kisah ini</h3>
<p>Kisah ini sangat terkenal dalam kitab-kitab tafsir saat menafsikan ayat diatas, juga sangat sering disampaikan oleh para khothib dan para penceramah untuk menceritakan tentang akibat dari orang yang enggan membayar zakat. Diantara yang menyebutkan kisah ini dalam kitab-kitab mereka adalah :<br />
<strong>Al Wahidi</strong> dalam Asbabun Nuzul hal : 141, <strong>Ibnu Jarir Ath Thobari</strong> dalam tafsir beliau, kisah inipun disandarkan oleh <strong>As Suyuthi</strong> dalam Jami’ Soghir 2/203 kepada <strong>Al Baghowi</strong>, <strong>Al Barudi</strong>, <strong>Ibnu Qoni’</strong>, <strong>Ibnu Sakan</strong> dan <strong>Ibnu Syahin</strong> dari <strong>Abu Umamah Al Bahili</strong>.</p>
<p>Berkata <strong>Syaikh Ali Hasan</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Kisah inipun disebutkan oleh <strong>Zamakhsari</strong> dalam Al Kasyyaf 2/203, <strong>Ibnul Jauzi</strong> dalam Zadul Masir 3/372, <strong>Ar Rozi</strong> dalam Mafatihul Ghoib 16/130, <strong>Al Khozin</strong> dalam tafsir beliau 3/126, <strong>Al Baidlowi</strong> dalam Anwarut Tanzil 3/75, <strong>Ibnu Katsir</strong> dalam tafsur beliau 2/373, <strong>As Suyuthi</strong> dalam Ad Dur Al Mantsur 3/260 juga dalam al Iklil hal : 121  serta masih banyak lainnya tanpa mereka sebutkan akan kebatilan dan kemungkarannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat At Tashfiyah wat Tarbiyah hal : 54)</p>
</blockquote>
<h3>Sisi kelemahan kisah ini</h3>
<p>Kisah ini lemah bila ditinjau dari sisi sanad maupun matannya, adapun dari sisi sanadnya maka penjelasannya adalah sebagai berikut :</p>
<p>Bahwa dalam sanad hadis ini terdapat dua sisi kelemahan yaitu :</p>
<ol>
<li>Pertama : <strong>Ali bin Yazid Al Alhani</strong><br />
Berkata <strong>Bukhori</strong> : Munkar hadits.<br />
Berkata <strong>Daruquthni</strong> : Matruk.<br />
Berkata <strong>Nasa’i</strong> : Tidak tsiqoh<br />
Berkata <strong>Abu Zur’ah</strong> : Tidak kuat<br />
(Lihat Mizanul i’tidal oleh <strong>Adz Dzahabi</strong> 5/195 dan Tahdzibut Tahdzib 7/396)</li>
<li>Kedua : <strong>Ma’an bin Rifa’ah As Sulami </strong><br />
Berkata <strong>Ibnu Hibban</strong> : Munkar hadits dan dia menceritakan hadits dari orang-orang yang tak dikenal<br />
Berkata <strong>Jauzaqoni</strong> : Tidak bisa dijadikan hujjah.<br />
(Lihat Tahdzibut Tahdzib 10/201, Mizanul i’tidal 6/455, Al Majruhin 3/36)</li>
</ol>
<p>Oleh sebab inilah, maka hadits ini dilemahkan oleh banyak para ulama’ diantaranya adalah :<br />
Berkata <strong>Al Haitsami</strong> : “Diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong>, dan pada sanadnya terdapat <strong>Ali bin Yazid al Alhani</strong>, dia itu orang yang matruk, dan <strong>Ma’an bin Rifa’ah</strong> haditsnya lemah.”<br />
Berkata <strong>Al ‘Iroqi</strong> dalam Takhrij Ihya’ 3/135 : “Sanadnya lemah.”<br />
Berkata <strong>al Hafidl Ibnu Hajar</strong> : Hadits ini lemah tidak dapat digunakan sebagai hujjah (Fathul Bari 3/266, lihat juga  Takhrij Kasyaf 4/77/133)</p>
<p>Yang juga melemahkannya adalah :<br />
<strong>Ibnu Hazm</strong> dalam al Muhalla 12/137<br />
<strong>Al Baihaqi</strong> sebagaimana dinukil dalam Faidlul Qodir 4/527<br />
<strong>Al Qurthubi</strong> dalam tafsir beliau 8/210<br />
<strong>Adz Dzahabi</strong> dalam Tajrid Asma’ Shohabah no : 623.<br />
(Lihat Adl Dlo’ifah oleh <strong>Syaikh al Albani</strong> : 1607, 4081, Qoshosh La Tatsbut <strong>Syaikh Yusuf Al Atiq</strong> 1/47)</p>
<p>Adapun dari sisi matannya, maka hadits inipun lemah dan bathil. Penjelasannya adalah sebagai berikut :</p>
<p>Hadits ini banyak bertentangan dengan nash-nash yang jelas dalam al Qur’an dan as Sunnah, yaitu :</p>
<p><strong>1.Diterimanya taubat</strong></p>
<p>Termasuk sesatu yang jelas dalam syariat islam yang mulia, bahwa Alloh menerima taubat orang yang berbuat kesalahan, sebesar apapun kesalahan tersebut selagi matahari belum terbit dari barat dan selagi nafas belum sampai ditenggorokan.<br />
Alloh berfirman :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</h2>
<p style="text-align: center;">Katakanlah : “Hai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Az Zumar [39] : 53)</p>
</blockquote>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا</h2>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Abu Musa</strong> dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh membentangkan tangan Nya pada waktu malam untuk mengampuni orang yang berbuat jelek pada waktu siang, dan Alloh juga membentangkan tangan Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat jelek pada waktu malam sehingga matahari terbit dari arah barat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 4959 Ahmad : 18708)</p>
</blockquote>
<p>Beliau juga bersabda :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر</h2>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Ibnu Umar</strong> dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selagi nafas belum sampai tengorokan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani)</p>
</blockquote>
<p>Nash-nash ini sangat jelas menunjukkan bahwa taubat seseorang itu diterima, padahal dalam kisah tersebut Rosululloh tidak menerima taubatnya Tsa’labah yang menyadari kesalahannya tatkala enggan membayar zakat, begitu pula dengan ketiga kholifah setelah beliau.</p>
<p><strong>2. Keutamaan orang yang ikut perang Badar</strong></p>
<p>Tsa’labah daam kisah ini nama lengkapnya adalah <strong>Tsa’labah bin Hathib bin Amr bin Ubaid bin Umayah al Anshori</strong>. Beliau adalah termasuk slaah seorang sahabat yang ikut dalam perang badar, sebgaimana hal ini ditegaskan oleh <strong>Imam Ibnu Katsir</strong> dalam al Bidayah wan Nihayah 5/218 juga oleh <strong>Al Hafidl Ibnu Hajar</strong> dalam al Ishobah 1/199 serta yang lainnya.</p>
<p>Padahal sudah merupakan sesuatu yang mapan dalam akidah kaum muslimin bahwa ahli Badar mempunyai keutamaan yang sangat besar yang tidak dapat dicapai oleh sahabat lainnya yang tidak ikut perang Badar.</p>
<p>Diantara keutamaan mereka adalah yang terdapat dalam beberapa hadits berikut :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Tidak akan masuk neraka orang yang ikut perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 14725 dengan sanad shohih, Lihat Ash Shohihah : 2160)</p>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ أَنَّ عَبْدًا لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتَ لَا يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَة</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir berkata : Bahwa seorang budak milik Hathib datang kepada Rosululloh untuk mengadukan perkara Hathib, seraya berkata : Ya Rosululloh, sungguh Hathib akan masuk neraka.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Engkau berdusta, dia ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 2495)</p>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ وَكَانَ أَبُوهُ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ قَالَ جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Mu’adz bin Rifa’ah Az Zuroqi dari bapaknya yang merupakan orang yang ikut perang Badar berkata : &#8220;Jibril datang kepada Rosululloh seraya berkata : Menurut kalian bagaimana dengan orang yang ikut dalam perang Badar ? Maka Rosululloh menjawab : Mereka adalah orang islam yang paling baik, demikian juga dengan para malaikat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3992)</p>
</blockquote>
<p>Inilah sebagian keutamaan ahli badar, lalu bagaimana mungkin Tsa’labah melakukan itu semua, padahal dia adalah saah seorang yang ikut perang badar ? dan anggaplah beliau melakukannya, lalu bagaimana mungkin Alloh tidak mengampuninya, padahal dosa orang yang ikut perang badar telah diampuni oleh Alloh sebesar apapun dosa tersebut. Perhatikanlah kejadian berikut ini :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ وَالزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ وَكُلُّنَا فَارِسٌ قَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ مَعَهَا كِتَابٌ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ فَأَدْرَكْنَاهَا تَسِيرُ عَلَى بَعِيرٍ لَهَا حَيْثُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا الْكِتَابُ فَقَالَتْ مَا مَعَنَا كِتَابٌ فَأَنَخْنَاهَا فَالْتَمَسْنَا فَلَمْ نَرَ كِتَابًا فَقُلْنَا مَا كَذَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُجَرِّدَنَّكِ فَلَمَّا رَأَتِ الْجِدَّ أَهْوَتْ إِلَى حُجْزَتِهَا وَهِيَ مُحْتَجِزَةٌ بِكِسَاءٍ فَأَخْرَجَتْهُ فَانْطَلَقْنَا بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ قَالَ حَاطِبٌ وَاللَّهِ مَا بِي أَنْ لَا أَكُونَ مُؤْمِنًا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ لِي عِنْدَ الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلَّا لَهُ هُنَاكَ مِنْ عَشِيرَتِهِ مَنْ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ وَلَا تَقُولُوا لَهُ إِلَّا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ali berkata : “Rosululloh mengutusku bersama Martsad al Ghonawi dan Zubair bin Awam, dan kami semua adalah para penunggang kuda. Beliau bersabda : “Berangkatlah kalian sehingga sampai di kebuh Khokh, disana nanti ada seorang wanita musyrik membawa surat dari Hathib bin Abi Balta’ah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik.” Maka kami menemukan wanita tersebut sedang naik unta ditempat yang ditunjukkan oleh Rosululloh, lalu kami katakan : “Serahkan surat tersebut.” Dia menjawab : “Saya tidak bawa surat.” Lalu kami mencarinya dan tidak kami temukan adanya surat, namun kami berkata : “Rosululloh tidak berdusta, engkau keluarkan surat itu atau kami telanjangi.” Dan tatkala wanita tersebut melihat keseriusan kami, maka dia mengeluarkan surat tersebut dar kain pengikat sarungnya, lalu kamipun berangkat balik kepada Rosululloh. Maka Umar berkata : “Wahai Rosululloh, Dia telah berkhianat kepada Alloh, Rosul  Nya dan kaum mu’minin, biarkan aku penggal kepalanya.” Tapi Rosululloh malah bertanya kepada Hathib : “Apa yang membuatmu melakukan ini semua ?.” Maka Hathib menjawab : “Demi Alloh, bukannya saya tidak beriman kepada Alloh dan Rosul Nya, saya hanya ingin agar mereka merasa punya budi kepadaku, yang dengan itu bisa untuk menjaga keluarga dan hartaku, sedangkan semua sahabatmu mempunyai kerabat yang bisa menjaga keluarga dan hartanya.” Lalu Rosululloh bersabda : Dia telah berkata benar, jangan kalian katakan kepadanya kecuali kebaikan.” Namun Umar tetap berbicara : “Dia telah berkhianat kepada Alloh dan Rosul Nya serta kaum mu’minin, maka biarkan aku penggal kepalanya.” Maka Rosululloh bersabda : “Bukankah dia adalah termasuk sahabat yang ikut perang Badar ? barangkali Alloh Ta’ala sudah melihat kepada sahabat yang ikut perang Badar, sehingga Dia berfirman  : “Lakukanlah apa yang kalian mau, sungguh kalian akan masuk surga (atau : Sungguh Saya ampuni kalian).” Maka kedua mata Umar pun mencucurkan air mata seraya berkata : “Alloh dan Rosul Nya lebih mengetahui.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3007, 3983 Muslim : 2494)</p>
</blockquote>
<p><strong>Sedangkan sisi kelemahan matan yang ketiga adalah :</strong></p>
<p>Kisah ini bertentangan dengan sebuah syariat tentang orang yang enggan membayar zakat, yaitu diambil zakatnya serta separoh dari hartanya secara paksa.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من أعطاها مؤتجرا بها فله أجرها ومن منعها فإنا آخذوها وشطر ماله عزمة من عزمات ربنا عز وجل</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang menunaikan (zakat) demi mendapatkan pahala , niscaya dia akan mendapatkan pahalanya, namun barang siapa yang tidak membayarnya maka kami akan mengambilnya dan separoh hartanya, sebagai salah satu ketetapan dari ketetapan Robb kami.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 5/2, Abu Dawud 1575, Hakim 1/398 dengan sanad Hasan)</p>
</blockquote>
<p><strong>Dan sisi kelemahan yang keempat</strong> adalah bahwa kisah ini bertentangan dengan siroh para sahabat secara umum, yang mana mereka adalah manusia yang paling utama, sangat cinta pada akhirat dan zuhud pada dunia. Dan hal ini sangat jelas bagi siapapun yang menelaah perjalanan hidup mereka, bagaimana tidak demikian padahal Alloh telah ridlo pada mereka, sebagaimana firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ</h2>
<p style="text-align: center;">Orang yang pertama kali masuk islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, niscaya Alloh akan ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Alloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 100)</p>
</blockquote>
<p>Dan Rosululloh menyebut mereka sebagai manusia yang paling utama, sebagaimana sabda beliau :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ubaidah bin Abdillah bahwasannya Rosululloh bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim )</p>
</blockquote>
<h3>Pengganti yang shohih :</h3>
<p>Setelah mengetahui kelemahan kisah ini, maka tidak boleh bagi seorangpun untuk membawakan kisah ini sebagai ibroh bagi yang enggan membayar zakat. Cukuplah bagi kita ayat al Qur’an dan hadits yang shohih yang menerangkan tentang ancaman bagi yang enggan membayar zakat. Diantaranya adalah :<br />
Firman Alloh Ta’la :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ</h2>
<p style="text-align: center;">QS. At Taubah : 34,35</p>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang diberi harta oleh Alloh lalu dia tidak membayar zakatnya, maka nanti hartanya itu akan dirubah menjadi seekor ular botak yang memiliki dua titik hitam yang nantinya akan mematuknya pada hari kiamat, kemudian dia akan mencengkeramnya dengan kedua taringnya seraya mengatakan : “Saya harta simpananmu, saya adalah hartamu.”</p>
</blockquote>
<p>Kemudian Rosululloh membaca firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ</h2>
<p style="text-align: center;">(QS. Ali Imron : 180)5</p>
<h2 style="text-align: center;">عن أبي هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالْإِبِلُ قَالَ وَلَا صَاحِبُ إِبِلٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا وَمِنْ حَقِّهَا حَلَبُهَا يَوْمَ وِرْدِهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ أَوْفَرَ مَا كَانَتْ لَا يَفْقِدُ مِنْهَا فَصِيلًا وَاحِدًا تَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا وَتَعَضُّهُ بِأَفْوَاهِهَا كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ قَالَ وَلَا صَاحِبُ بَقَرٍ وَلَا غَنَمٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ لَا يَفْقِدُ مِنْهَا شَيْئًا لَيْسَ فِيهَا عَقْصَاءُ وَلَا جَلْحَاءُ وَلَا عَضْبَاءُ تَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Tidak ada seorangpun yang memiliki emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti pada hari kiamat akan dijadikan lempengan dari api lalu dipanaskan di neraka Jahannam, lalu akan  disetrikakan pada samping tubuhnya dan pada dahihnya, setiap kali sudah dingin maka akan diulangi lagi, itu semua dilakukan pada suatu hari  yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun, sehingga akan diselesaikan urusan manusia, lalu dia kan mengetahui jalannya, mungkin ke surga atau mungkin ke neraka.<br />
Dikatakan : Wahai Rosululloh, lalu bagaimana dengan unta ? Beliau menjawab : Tidak pula yang memiliki unta yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti pada hari kiamat dibentangkan baginya sebuah tempat yang sangat luas dan keras, tidak ada satu untapun yang tidak berada disitu, lalu mereka akan menginjaknya dengan kaki kaki mereka serta akan menggigit dengan mulut mereka, setiap kali yang pertama sudah lewat maka akan dikembalikan bagian yang akhirnya, itu semua pada suatu hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun, sehingga akan diselesaikan urusan manuisa, lalu dia akan mengetahui jalannya, mungkin ke surga atau ke neraka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim :987)</p>
<h2 style="text-align: center;">وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  مانع الزكاة يوم القيامة في النار</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Anas bin Malik berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Orang yang enggan membayar zakat akan masuk neraka pada hari kiamat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni dalam ash Shoghir, berkata al Albani : Hasan Shohih, lihar Shohih Targhib : 762)</p>
<h2 style="text-align: center;">وعن بريدة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  ما منع قوم الزكاة إلا ابتلاهم الله بالسنين</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Buroidah berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Tidaklah sebuah kaum enggan membayar zakat kecuali akan diuji oleh Alloh dengan musim paceklik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni dalam al Ausath, Hakim, Baihaqi dengan sanad shohih, lihat shohih Targhib : 763)</p>
</blockquote>
<p>Wallohu a’lam</p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_203734715" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/" data-text="Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat" data-desc="Saat menafsirkan firman Alloh : وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_203734715&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F12%2F15%2Fkritik-kisah-tsalabah%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 10:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Hijrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Sulitnya Rosululloh untuk mengembangkan dakwah islam di kota Mekkah adalah salah satu sebab hijrohnya Rosululloh dan para sahabat beliau ke kota Madinah. Perjalanan hijroh tersebut mengandung ibroh dan pelajaran yang sangat berharga bagi segenap kaum muslimin, namun sangat disayangkan kisah agung itu harus terkotori dengan adanya beberapa kisah lemah yang selalu menempel setiap kali orang [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_1665912984" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/" data-text="Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah" data-desc="Sulitnya Rosululloh untuk mengembangkan dakwah islam di kota Mekkah adalah salah satu sebab hijrohnya Rosululloh dan para sahabat beliau ke kota Madinah. Perjalanan hijroh tersebut mengandung ibroh dan pelajaran yang sangat berharga bagi segenap kaum muslimin, namun sangat disayangkan kisah agung" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/12/Ø·Ø±ÙÙ.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1665912984&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F12%2F15%2Fkritik-kisah-hijrah%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><p><img class="alignleft size-full wp-image-173" title="طريق" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/12/طريق.jpg" alt="طريق" width="150" height="113" />Sulitnya Rosululloh untuk mengembangkan dakwah islam di kota Mekkah adalah salah satu sebab hijrohnya Rosululloh dan para sahabat beliau ke kota Madinah. Perjalanan hijroh tersebut mengandung ibroh dan pelajaran yang sangat berharga bagi segenap kaum muslimin, namun sangat disayangkan kisah agung itu harus <strong>terkotori dengan adanya beberapa kisah lemah</strong> yang selalu menempel setiap kali orang  menyampaikan atau menulis tentang perjalanan hijroh Rosululloh dengan Abu Bakar Ash Shidiq.</p>
<p>Di antara kisah lemah itu adalah <strong>kisah digigitnya Abu Bakar oleh seekor ular</strong> saat berada didalam goa, juga adanya <strong>laba-laba dan burung merpati</strong> yang berada <strong>di mulut goa</strong>.</p>
<p>Semoga pembahasan ini bisa menjadi peringatan bagi semuanya untuk tidak lagi menyampaikan kisah tersebut dalam kisah perjalanan hijroh Rosululloh.</p>
<p>Wallohul Muwaffiq<span id="more-169"></span></p>
<h3 style="text-align: center;">Kisah I: Abu Bakar Digigit Ular</h3>
<p><strong>A. Kemasyhuran kisah ini :</strong></p>
<p>Kalau kita baca kitab-kitab yang menceritakan perjalanan hijroh Rosululloh ke kota madinah dihampir semu kitab sejarah, bisa dipastikan akan menemukan kisah ini, dan betapa sering kita mendengarnya dari tukang penceramah, para ustadz, kyai yang mengisahkan perjalanan agung tersebut. Dan yang semakin membuat kisah ini terkenal adalah bahwa kisah ini disebutkan oleh yang mulia <strong>Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri</strong> dalam kitab beliau Ar Rohiqul Makhtum. Kitab ini menjadi sangat masyhur dikalangan pelajar maupun awam kaum muslimin karena memenangkan sayembara penulisan sejarah hidup Rosululloh yang diadakan Robithoh Alam Islami, lalu diterjemahkan ke banyak bahasa dunia, dan di Indonesia lebih dari satu penerbit yang  menerjemahkan kitab ini. (1)</p>
<p><strong>B. Konon dikisahkan</strong></p>
<ul>
<li>Berkata <strong>Syaikh Shofiyyur Rohman al Mubarokfuri</strong> pada bab :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Tatkala keduanya (Rosululloh dan Abu Bakar) berada di goa : “Tatkala keduanya sampai di goa, maka Abu Bakar berkata : Demi Alloh, jangan engkau masuk sebelum aku masuk terlebih dahulu, kalau nanti ada sesuatu biarlah menimpaku dan  tidak mengenaimu.” Maka Abu Bakar pun masuk dan membersihkannya, dan beliau menemukan ada sebuah lubang, maka beliau merobek kain sarungnya dan menutupnya, namun ternyata masih ada dua lubang lagi, maka beliau memasukkan kedua kedua kaki beliau, kemudian beliau memanggil Rosululloh : Silahkan masuk wahai Rosululloh,.” Rosululloh pun masuk dan beliau membaringkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar dan beliupun tertidur. Tiba-tiba ada ular yang mengigit kaki Abu Bakar dalam lubang, beliau tidak bergerak karena takut membangunkan Rosululloh, tapi akhirnya meneteslah air mata beliau di wajah Rosululloh, lalu beliau bersabda : &#8220;Ada apa dengan engkau wahai Abu Bakar ? Abu Bakar menjawab : Saya digigit.” Maka Rosululloh meludahinya dan segera hilanglah rasa sakitnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Ar Rohiqul Makhtum hal : 148)</p>
</blockquote>
<p><strong>C. Derajat kisah ini :</strong></p>
<ul>
<li><strong>Kisah ini Maudlu</strong></li>
</ul>
<p>Hadits maudlu’ adalah sebuah ucapan yang dibuat-buat kemudian disandarkan kepada Rosululloh secara dusta (Lihat Tadribur Rowi As Suyuthi 1/274) Dalam bahasa Indonesia sering di sebut sebagai hadits palsu.</p>
<ul>
<li><strong>Takhrij hadits </strong>(2)</li>
</ul>
<blockquote><p>Diriwayatkan oleh <strong>Imam Baihaqi</strong> dalam Dala’ilun Nubuwwah 2/476 berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Husain <strong>Ali bin Muhammad bin Abdulloh  bin Busyron</strong>, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Ahmad bin Salman  An Najjar  Al Faqih</strong>, dia berkata : Telah membaca kepadaku<strong> Yahya bin Ja’far</strong> dan saya mendengarnya, dia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku <strong>Abdur Rohman bin Ibroim Ar Rosibi</strong>, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Furot bin Sa’ib</strong> dari <strong>Maimun bin Mahron</strong> dari <strong>Dlobbah bin Mihshon al ‘Anzi</strong> dari <strong>Umar bin Khothob</strong> : Lalu beliau menyebutkan kisah diatas.</p></blockquote>
<ul>
<li><strong>Sisi kepalsuan hadits ini disebabkan oleh dua hal, yaitu :</strong></li>
</ul>
<p><strong>1. Abdur Rohman bin Ibrohim Ar Rosibi </strong></p>
<p>Orang ini disebutkan oleh <strong>Imam Adz Dzahabi</strong> dalam Mizanul I’tidal : 4804 : <strong>Abdur Rohman bin Ibrohim ar Rosibi</strong> meriwayatkan dari <strong>Malik</strong> sebuah hadits panjang namun bathil, dan dialah yang tertuduh memalsukannya. Dia juga meriwayatkan dari <strong>Furot bin Sa’ib</strong> dari <strong>Maimun bin Mahron</strong> dari <strong>Dlobbah bin Mihshon</strong> dari <strong>Abu Musa</strong> dengan kisah kejadian di goa, dan kisah ini serupa dengan hasil pemalsuan orang-orang tarekat shufi.”</p>
<p><strong>Al Hafidh Ibnu Hajar</strong> dalam Lisanul Mizan : 4963 menyetujui apa yang dikatakan oleh Ad Dzahabi bahwa kisah ini serupa dengan hasil pemalsuan orang tarekat shufi.</p>
<p><strong>2. Furot bin Sa’ib </strong></p>
<p>Berkata <strong>Imam Adz Dzahabi</strong> dalam Mizanul i’tidal : 6689 : “<strong>Furot bin Sa’ib</strong> dari <strong>Maimun bin Mahron</strong>. Berkata <strong>Imam Bukhori</strong> : Munkar hadits, Berkata <strong>Ibnu Ma’in</strong> : Tidak ada apa-apanya, berkata <strong>Ad Daruquthni</strong> dan lainnya : Matruk (ditinggalkan).”</p>
<p><strong>al Hafidl Ibnu Hajar</strong> dalam Lisanul Mizan : 6522 menyetujui apa yang dikatakan oleh <strong>imam Adz Dzahabi</strong>, kemudian beliau berkata : Berkata <strong>Abu Hatim As Saji</strong> : Para ulama’ meninggalkannya. Berkata <strong>Nasa’i</strong> : Haditsnya ditinggalkan.”</p>
<p><strong>D. Faedah :</strong></p>
<ul>
<li>Berkata <strong>Al Hafidl</strong> : Madzhabnya <strong>Imam Nasa’i</strong> bahwa beliau tidak meninggalkan haditsnya seorang rowi sehingga para ulama’ sepakat untuk meninggalkannya.” (Syarah Nukhbah : 69)</li>
</ul>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Suyuthi</strong> : <strong>Imam Bukhori</strong> menggunakan kata : “Munkar hadits” pada seorang yang tidak boleh diriwayatkan hadits darinya.” (Tadrib 1/349)</li>
</ul>
<p>==========================================</p>
<h3 style="text-align: center;">Kisah II: Sepasang Burung Merpati dan Lala-laba dimulut Goa</h3>
<p><strong>A. Kemasyhuran Kisah</strong></p>
<p>Hampir sama dengan yang sebelumnya, kisah inipun sangat masyhur dan selalu disebutkan oleh para penceramah setiap kali menyebutkan perjalanan hijrohnya Rosululloh ke kota Madinah, sehingga seakan-akan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kisah hijroh yang agung tersebut.</p>
<p><strong>B. Al kisah :</strong></p>
<p>Saat Rosululloh dan Abu Bakr sudah sampai ke goa, maka beliau bersama Abu Bakar masuk kedalamnya, lalu datanglah seekor laba-laba dan sepasang burung merpati ke mulut goa atas perintah Alloh Ta’ala. Adapun laba-laba maka dia langsung membuat rumah di mulut goa, sedangkan burung merpati segera membuat sarang dan bertelur disitu. Maka tatkala para pemuda Quraisy yang sedang kebingunagn karena kehilangan jejak beliau sudah sampai ke dekat goa, maka salah seorang diantara mereka pergi mendekat, akan tetapi karena melihat dimulut goa ada rumah laba-laba yang belum rusak dan burung merpati yang sedang bertelur, maka dia pun balik dan tidak melihat kedalam goa. Tatkala teman-temannya menanyakan :” Kenapa kok tidak melihat kedalam goa ? maka dia menjawab : Ada seekor laba-laba dan sepasang burung merpati di mulut goa, saya yakin tidak ada siapa-siapa didalamnya.” (3)</p>
<p><strong>C. Derajat kisah :</strong></p>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> dalam Adh Dho’ifah : Hadits munkar</p>
<p><strong>D. Takhrij kisah ini :</strong> (4)</p>
<p>Hadits ini memiliki empat jalan dengan redaksi yang sedikit berbeda :</p>
<p><strong>Pertama : Kisah diatas</strong></p>
<p>Hadits yang menceritakan kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Al Kabir : 1082, Al Bazzar : 1741, Al Uqoili dalam Adh Dhu’afa 1462 dan <strong>Baihaqi</strong> dalam Ad Dala’il 2/213 dari jalan <strong>Aun bin Amr al Qoisi</strong>, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Mush’ab Al Makki</strong> berkata : Saya bertemu dengan <strong>Zaid bin Arqom</strong>, <strong>Mughiroh bin Syu’bah</strong> dan <strong>Anas bin Malik</strong> menceritakan hadits diatas.</p>
<p>Hadits ini hanya diriwayatkan dari jalan <strong>Aun dari Abu Mush’ab</strong>, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Bazzar</strong>, beliau berkata : Kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali <strong>Aun bin Amr</strong> dan dia adalah seorang dari daerah Bashroh yang masyhur. Sedangkan <strong>Abu Mush’ab</strong>, kami tidak mengetahui ada yang menceritakan darinya kecuali Aun.”</p>
<p><strong>Sisi cacat hadits ini :</strong></p>
<p><strong>1. Aun bin Amr Al Qoisi </strong></p>
<p>Berkata <strong>Imam Adz Dzahabi</strong> dalam Mizanul i’tidal : 6535 : Berkata <strong>Ibnu Ma’in</strong> : Tidak ada apa-apanya, berkata <strong>Imam Bukhori</strong> : dia seorang yang munkar hadits dan majhul.”</p>
<p>Imam <strong>Adz Dzahabi</strong> kemudian membuat contoh hadits munkar yang diriwayatkan oleh <strong>Aun</strong>, dan hadits ini adalah salah satunya.</p>
<p><strong>2. Abu Mush’ab </strong></p>
<p>Dia seorang yang majhul ain sebagimana yang dikatakan oleh <strong>Bazzar dan Al Uqoili</strong>. Dan majhul ain adalah seorang yang rowi yang hanya diriwayatkan oleh seorang rowi dan tidak diketahui ketsiqohannya. Hukum hadits majhul ain adalah lemah, sebagaimana yang telah mapan dalam disiplin ilmu hadits.</p>
<p><strong>Jalan kedua :</strong></p>
<p>Kisah diatas namun hanya menyebut laba-laba, tanpa adanya kisah sepasang merpati.</p>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Abu Bakr al Qodli</strong> dalam Musnad Abu Bakr, beliau berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Basysyar al Khoffaf</strong>, dia berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Ja’far bin Sulaiman</strong> , Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Imron</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Mu’alla bin Ziyad</strong> dari <strong>Hasan Al Bashri</strong> berkata : Rosululloh berangkat bersama Abu Bakr ke goa, lalu keduanya masuk, maka datanglah seekor laba-laba lalu membuat  rumah dimulut goa. Lalu datanglah para pemuda Quraisy, namun tatkala mereka melihat ada sarang laba-aba disitu maka mereka mengatakan : Tidak ada seorangpun yang memasukinya.”</p>
<p><strong>Kisah ini lemah sekali</strong></p>
<p><strong>Sisi kelemahan hadits ini :</strong></p>
<p><strong>1.Mursalnya Hasan al Basri</strong>, karena beliau adalah seorang Tabi’in dan langsung menceritakan dari Rosululloh .<br />
Berkata <strong>Imam Ahmad</strong> : Tida ada hadits mursal yang lebih lemah dibandingkan mursalnya Hasan. (Lihat Tadribur Rowi oleh As Suyuthi 1/204)</p>
<p><strong>2. Basyar al Khofaf</strong></p>
<p>Berkata <strong>Nasa’i</strong> : Basyar  : Tidak tsiqoh (Adh Dhu’afa wa Matrukin : 80)<br />
Berkata <strong>Bukhori</strong> : Dia munkar hadits ( At Tarikh Al Kabir : 1935)<br />
Berkata <strong>Yahya bin Ma’in</strong> : Dia seorang yang tidak tsiqoh.<br />
Berkata <strong>imam Adz Dzahabi</strong> : Dia dilemahkan oleh <strong>Abu Zur’ah</strong>.<br />
Berkata <strong>Ibnu Gholabi</strong> :  Dia termasuk para pendusta.</p>
<p><strong>Jalan ketiga : </strong></p>
<p>Singkat cerita : Dari <strong>Ibnu Abbas</strong> berkata : Tatkala orang-orang Quraisy bermusyawarah untuk membunuh Rosululloh, maka Alloh memberitahukan hal itu kepada Rosululloh. Maka Rosululloh memerintahkan Ali bin Abi Tholib untuk tidur di rumah beliau dan beliau pergi  sehingga sampai di goa. Pagi harinya orang-orang Quraisy tatkala menyadari bahwa Rosululloh telah pergi maka mereka mencarinya dan sampai kedekat goa, saat mereka melihat ada rumah laba-laba dimulut goa maka mereka berkata : Seandainya dia masuk sini  maka tidak mungkin ada rumah laba-laba disini.”</p>
<p><strong>Kisah ini lemah </strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Ahmad</strong> 3251, <strong>Abdur Rozaq</strong> : 9743, <strong>Thobroni</strong> 12155 dari jalan <strong>Ma’mar bin Utsman al Jazri</strong> dari <strong>Muqsim dari Ibnu Abbas</strong>.</p>
<p><strong>Sisi kelemahan hadits ini :</strong></p>
<p>Sisi kelemahan hadits ini adalah <strong>Utsman Al Jazri</strong></p>
<p>Berkata <strong>Ibnu Abi Hatim</strong> dalam Jarh wat Ta’dil 2/162 : Dia tidak bisa dijadikan sebagai hujjah<br />
Dia pun dilemahkan oleh <strong>Adz Dzahabi</strong> dalam Mizan 5510 dan <strong>Ibnu Hajar</strong> dalam Lisan : 5526.</p>
<p><strong>Jalan keempat :</strong></p>
<p>Silsilah riwayat : “Saya mencintai laba-laba”</p>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Ad Dailami</strong> dalam Musnad Firdaus.  Berkata telah menceritakan kepadaku bapakku berkata : Saya mencintai lala-laba sejak saya mendengar guruku <strong>Abu Ishaq bin Ibrohim Al Maroghi</strong> dan <strong>Muhammad  bin Ja’far al Muthohhar</strong> – dengan sanad yang panjang semuanya perowinya berkata : “Saya mencintai laba-laba” sampai kepada – <strong>Muhammad bin Sirin</strong> berkata : Saya mencintai laba-laba sejak saya mendengar dari <strong>Abu Huroiroh</strong> berkata : “Saya mencintai laba-laba sejak saya mendengar Abu Bakr  berkata : Saya selalu mencintai laba-laba sejak saya melihat Rosululloh mencintainya dan beliau bersabda : Semoga Alloh membalas sang laba-laba dengan balasan yang baik, dia membuat sarang untuk melindungiku dan Abu Bakr saat berada di gua, sehingga orang-orang musyrik tidak bisa melihat dan menemukan kami.</p>
<p><strong>Derajat hadits ini :</strong></p>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> : Munkar</p>
<p><strong>Sisi kelemahannya :</strong></p>
<p>Didalam sanadnya terdapat seorang rowi bernama <strong>Abduloh bin Musa as Sulami</strong>. Berkata <strong>al Khothib al Baghdadi</strong> : Dia banyak meriwayatkan hadits-hadits aneh dan mungkar.<br />
Beliau juga berkata : Dia meriwayatkan dari siapa saja, baik orang-orang yang majhul  maupun lainnya.<br />
Berkata Imam <strong>Adz Dzahabi</strong> : dia meriwayatkan hadits yang aneh bin ajaib, dia menceritakan hadits yang tidak ada asal usulnya.”<br />
Berkata <strong>Syaikh al Albani</strong> :  di hadits ini juga ada beberapa perowi yang tidak saya kenal.”</p>
<p><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ketahuilah, bahwa hadits tentang laba-laba dan dua burung dara tidak shohih meskipun sangat banyak disebut dalam berbagai kitab dan ceramah seputar kisah hijrohnya Rosululloh  ke Madinah, oleh karena itu ketahuilah hal ini.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah : 1189)</p>
</blockquote>
<p>Wallohu a’lam</p>
<p>____________________________________</p>
<li>(1) Jangan ada yang salah faham bahwa saya mentahdzir kitab ini, kitab Ar Rohiqul Makhtum adalah sebuah kitab yang bagus, namun sebagaimana kata Imam Malik : Semua orang bisa membantah dan dibantah kecuali Rosululloh.” Tidak ada yang ma’shum kecuali beliau dan Alloh tidak berkehendak untuk membuat sebuah kitab sempurna kecuali kitab Nya al Qur’an Al Karim.</li>
<li>(2) Takhrij ini saya ambil dari tulisan Syaikh Ali Hasyisy dalam majalah At Tauhid Mesir edisi 5 tahun 29 hal : 34 dengan beberapa tambahan dari lainnya.</li>
<li>(3) Kisah dengan lafadl semacam ini adalah yang masyhur di Indonesia. Ada sedikit perbedaan redaksi dengan yang terdapat dalam beberapa hadits. Namun inti permasalahannya sama. Walohu a’lam</li>
<li>(4) Takhrij  ini saya sarikan dari Adh Dho’ifah Syaikh Al Albani dan Silsilah Tahdzir Da’iyah oleh Syaikh Ali Al Hasyisy.</li>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_37419178" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/" data-text="Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah" data-desc="Sulitnya Rosululloh untuk mengembangkan dakwah islam di kota Mekkah adalah salah satu sebab hijrohnya Rosululloh dan para sahabat beliau ke kota Madinah. Perjalanan hijroh tersebut mengandung ibroh dan pelajaran yang sangat berharga bagi segenap kaum muslimin, namun sangat disayangkan kisah agung" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/12/Ø·Ø±ÙÙ.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_37419178&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F12%2F15%2Fkritik-kisah-hijrah%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kedustaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I Muqaddimah disusun oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf I. PENGANTAR Insya Alloh, tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kisah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada jiwa seseorang, mulai dari anak kecil sampaipun orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia. Kisah bisa mempengaruhi jiwa sehingga menjadi pemberani, jujur, berpikir optimis [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/' rel='bookmark' title='Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan'>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_692689732" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/" data-text="Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!" data-desc="Bagian I Muqaddimah disusun oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf I. PENGANTAR Insya Alloh, tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kisah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada jiwa seseorang, mulai dari anak kecil sampaipun orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia." data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_692689732&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fmuqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><p style="text-align: center;"><strong>Bagian I</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p style="text-align: center;">disusun oleh:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;"><strong>I. PENGANTAR<br />
</strong></p>
<p>Insya Alloh, tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kisah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada jiwa seseorang, mulai dari anak kecil sampaipun orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia.<br />
Kisah bisa mempengaruhi jiwa sehingga menjadi pemberani, jujur, berpikir optimis dan lainnya, namun disisi lainnya juga bisa mempengaruhinya sehingga menjadi penakut, cengeng, pemalu dan lainnya.<br />
Oleh karena itu Alloh dalam kitab suci Al Qur’an banyak sekali menyebutkan kisah umat terdahulu, baik kisah para nabi dan orang-orang sholih untuk dijadikan ibroh kebaikannya, juga kisah kaum yang dholim untuk dijadikan pelajaran akan akibat perbuatan dholimnya.</p>
<p><span id="more-4"></span><br />
Alloh Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align: center;">لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ</p>
<p style="text-align: center;">“Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat sebuah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Yusuf : 111)</p>
<p style="text-align: center;">فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p style="text-align: center;">“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al A’rof : 176)</p>
<p>begitu pula Rosululloh, beliau sering menceritakan banyak kisah yang terjadi pada ummat yang telah lampau, sebagaimana hal ini diketahui bersama oleh orang-orang yang menelaah sunnah beliau. Begitu pula dengan salafus sholeh dan para ulama’ ahlus sunnah setelahnya</p>
<p><strong>II. ANTARA KISAH SHAHIH DAN LEMAH</strong></p>
<p><strong> </strong>Namun tidak semua kisah yang berkembang dimasyarakat yang dinisbahkan kepada Rosululloh, juga para sahabat, para ulama’ serta lainnya itu benar-benar shohih berasal dari mereka, akan tetapi sebagiannya adalah kisah-kisah palsu, sebagiannya lagi lemah dan sebagiannya lagi ada yang inti kisahnya benar namun dibumbui dengan beberapa tambahan yang tidak ada asal usulnya. Padahal banyak sekali kisah-kisah yang tidak shohih tersebut membahwa pengaruh terhadap penyelewengan yang tidak ringan dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah , akhlak serta lainnya.<br />
Dan bahaya ini semakin nampak tatkala itu adalah cerita yang dinisbahkan kepada Rosululloh, karena itu bisa merupakan sebuah kedustaan atas nama beliau, padahal beliau pernah bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">َمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار</p>
<p style="text-align: center;">“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja , maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”</p>
<p style="text-align: center;">(Hadits mutawatir)</p>
<p>dan seandainyapun kisah itu tidak sampai pada derajat kisah palsu, dan hanya sebuah cerita yang lemah sanadnya, namun menceritakannya pun merupakan sesuatu yang berbahaya dalam pandangan syar’i. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh <strong>Syaikh Al Albani </strong>:</p>
<blockquote><p>“Ketahuilah, bahwa yang melakukan perbuatan ini adalah salah satu diantara dua  kemungkinan :<br />
Pertama : Mungkin orang tersebut mengetahui kelemahan hadits-hadits (yang dalam hal ini adalah hadits Rosululloh yang berupa kisah –pent) tersebut lalu dia tidak menerangkan sisi kelemahannya, maka orang semacam ini menipu kaum muslimin. Dan dia jelas-jelas masuk dalam ancaman sabda Rosululloh :</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِين<br />
َ<br />
“Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia sangka bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim dalam Muqoddimah shohih beliau)</p>
<p>Berkata<strong> Imam Ibnu Hibban</strong> dalam kitab Adl Dlu’afa’ : 1/7-8 :</p>
<p>“Hadits ini menunjukkan bahwa seorang ahli hadits kalau meriwayatkan sebuah hadits yang tidak shohh dari Rosululloh padahal dia mengetahuinya maka dia termasuk salah satu pendusta, padahal dhohirnya hadits tersebut menjelaskan perkara yang lebih besar lagi, dimana Rosululloh bersabda : “Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia sangka bahwa itu dusta ..” dan Rosululloh tidak bersabda : &#8220;Yang dia yakini bahwa itu dusta..” maka semua orang yang masih ragu-ragu pada apa yang dia riwayatkan apakah hadits itu shohih ataukah tidak maka dia termasuk dalam ancaman hadits tersebut.”</p>
<p>[Ucapan Imam Ibnu Hibban ini di nukil oleh Imam Ibnu Abdil Hadi dalam Ash Shorim Al Munki hal : 165-166 dan beliau menyepakatinya]</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> Kedua</strong> : Atau mungkin orang tersebut tidak mengetahui kelemahan sebuah hadits yang diriwayatkannya. Dan kalau begitu, maka dia tetap berdosa juga, karena dia berani menisbahkan sebuah hadits kepada Rosululloh tanpa ilmu. Padahal Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Hafsh bin Ashim bersabda : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 5, Abu Dawud : 4992. Lihat ash Shohihah : 205)</p>
<p>Maka orang ini mendapatkan bagian dosa berdusta atas nama Rosululloh, karena Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang menceritakan semua yang dia dengar akan terjerumus pada berdusta atas nama beliau. Dan dengan sebab inilah dia termasuk salah satu diantara dua pendusta, yang pertama adalah yang membuat kedustaan itu sendiri dan yang kedua adalah yang menyebarkannya.</p>
<p><strong><br />
Imam Ibnu Hibban</strong> berkata lagi 1/9 :</p>
<p>“Hadits ini merupakan ancaman bagi seseorang yang menceritakan semua yang dia dengar sampai dia mengetahui dengan pasti akan keshohihannya.”<br />
Imam Nawawi juga menegaskan bahwa orang yang tidak mengetahui keshohihan sebuah hadits maka tidak boleh untuk berhujjah dengannya tanpa meneliti terlebih dahulu jika dia sanggup melakukanya atau bertanya kepada para ulama’.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Tamamul Minnah ha : 32-34, dan lihat juga Silsilah adl Dlo’ifah 1/10-12)</p>
</blockquote>
<p><strong>III. PERHATIAN PARA ULAMA TERHADAP HADITS, KISAH LEMAH, DAN KISAH PALSU</strong><br />
Para ulama’ ahlus sunnah sangat memberikan perhatian untuk memperingatkan umat dari hadits dan kisah yang lemah dan palsu. Hal ini mereka lakukan agar ummat islam bisa menerima ajaran agama mereka sebagaimana yang benar-benar pernah disampaikan oleh Rosululloh, dan membersihkan semua tambahan dan polusi yang sebabkan oleh tersebarnya hadits dan kisah yang lemah dan palsu.<br />
Mereka berjuang sekuat tenaga untuk melawan hadits dan kisah lemah serta palsu ini dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, diantara yang mereka lakukan adalah :<br />
<strong>1. Meneliti sanad hadits</strong></p>
<ul>
<li> Para sahabat Rosululloh adalah orang-orang terpercaya yang tidak pernah berbohong, bagaimana mungkin mereka berbohong padahal mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Alloh Ta’ala untuk menemani dan membantu Rosululloh dalam mengemban risalah dari Alloh ini ?</li>
</ul>
<ul>
<li> Oleh karena itu kalau salah seorang dari mereka meriwayatkan sebuah hadits dari Rosululloh maka mereka langsung mempercayainya, dan itu pulalah yang dilakukan oleh para tabi’in. Namun setelah muncul fitnah, dan kaum muslimin terpecah belah menjadi berbagai kelompok dan golongan, serta munculnya orang-orang yang berani berdusta atas nama Rosululloh, maka para ulama’ mulai meneliti hadits yang mereka dengar.</li>
</ul>
<ul>
<li> Berkata <strong>Imam Muhammad bin Sirin</strong> :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Kami tidak pernah bertanya tentang sanad, namun tatkala muncul fitnah, maka kami mengatakan : “Sebutkan para perowi kalian.” Lalu dilihat kalau dia dari kalangan ahli sunnah maka haditsnya diterima, namun kalau dari ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.”</p></blockquote>
<ul>
<li> Berkata <strong>Abdulloh bin Mubaro</strong>k :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad niscaya semua orang akan bicara semaunya sendiri.”</p></blockquote>
<p>Perhatian pada sanad ini sangat dikedepankan oleh para ulama’ hadits dalam menerima sebuah riwayat, sehingga mereka tidak menerima kecuali yang benar-benar shohih dari Rosululloh. (Lihat As Sunnah Qoblat Tadwin oleh Muhammad Ajaj Al Khothib hal : 220-225)<br />
<strong>2. Melipatgandakan kesungguhan dalam mencari hadits Rosululloh</strong><br />
Termasuk kemurahan Alloh Ta’ala yang dicurahkan kepada ummat ini adalah Alloh memanjangkan umur sebagian para sahabat Rosululloh, agar mereka bisa menjadi nara sumber yang menunjukkan kepada kaum muslimin sunnah Rosul mereka, mereka bisa menjadi tempat bertanya dan minta fatwa. Namun karena para sahabat tidak berada disatu tempat akan tetapi mereka berpencar disegala penjuru negri, maka itu mengharuskan adanya perjalanan untuk mendapatkan hadits Rosululloh yang dibawa oleh mereka, akhirnya banyak sekali para penuntut ilmu dari kalangan sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka yang mengadakan perjalanan berbulan-bulan demi mendapatkan hadits Rosululloh.<br />
Ambil contoh apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitabul ilmi bahwa Jabir bin Abdillah melakukan perjalanan selama satu bulan penuh untuk mendapatkan satu buah hadits dari Abdulloh bin Unais.</p>
<ul>
<li> Berkata<strong> Sa’id bin Musayyib</strong> :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Saya pernah berjalan berhari-hari demi mendapat satu buah hadits.” (Lihat Jami’ Bayanil Ilmi Wa fadllihi oleh Imam Ibnu Abdil Bar 1/113)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Ibnu Hibban</strong> :</li>
</ul>
<blockquote><p>&#8220;Para ulama’ yang menjaga agamanya kaum muslimin dan memberi petunjuk mereka kepada jalan yang lurus, mereka adalah orang-orang yang lebih mengutamakan menempuh perjalanan melewati padang pasir nan luas daripada harus bersenang-senang dengan tetap tinggal dikampung halaman, semua itu demi mencari sunnah Rosululloh diberbagai penjuru negeri lalu mengumpulkannya dalam kitab dan buku, sampai-sampai salah satu dari mereka ada yang berjalan ribuan kilo meter demi mencari satu hadits, juga ada yang berjalan berhari hari demi mendapatkan sebuah hadits. Ini semua agar tidak ada diantara kaum penyesat yang bisa memasuki mereka, kalau ada yang melakukan itu, maka para ulama’ tersebut segera mengetahui dan membongkar kedoknya.”</p>
<p>(Lihat Al Majruhin oleh Imam Ibnu Hibban 1/27 dengan sedikit perubahan)</p></blockquote>
<p><strong>3. Studi kritis terhadap para perowi hadits</strong><br />
Para ulama’ hadits sangat perhatian untuk mengetahui para perowi hadits, karena dengan cara ini mereka bisa membedakan antara sebuah hadits yang shohih dan hasan dengan sebuah hadits yang lemah dan palsu, oleh karena itu mereka mempelajari biografi setiap perowi hadits, baik yang nampak maupun bukan, baik yang menyenangkan maupun mungkin yang menyakitkan.</p>
<blockquote><p>Pernah ada seseorang yang berkata kepada <strong>Imam Yahya bin Sa’id Al Qothon</strong> :“Tidakkah engkau takut bahwa orang-orang yang tidak engkau ambil haditsnya akan menjadi musuhmu pada hari kiamat kelak ? maka beliau menjawab : “Mereka menjadi musuhku itu jauh lebih baik daripada yang menjadi musuhku adalah Rosululloh, dimana besok beliau akan mengatakan : “Kenapa engkau tidak membersihkan haditsku dari para pendusta ?.” (Lihat Al Kifayah fi Ilmir Riwayah oleh al Khothib al Baghdadi hal : 44)</p></blockquote>
<blockquote><p>Juga pernah ada yang berkata kepada<strong> Imam Ahmad bin Hanbal</strong> : “Sangat berat bagiku untuk mengatakan : “ Si Fulan lemah, si fulan pendusta.” Maka Imam Ahmad berkata : “Jika engkau diam, dan sayapun diam, lalu dari mana orang akan bisa mengetahui mana hadits yang shohih dengan hadits yang lemah ?.” (Lihat Al Kifayah hal : 46)</p></blockquote>
<p>Para ulama’ telah mengerahkan segala kemampuan mereka untuk membedakan mana rowi yang lemah dengan yang terpercaya, mereka menulis banyak kitab, baik kitab yang besar maupun kecil.<br />
Diantara kitab-kitab tersebut adalah :</p>
<ul>
<li>Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Shohih Al Qoshosh An Nabawi</li>
<li> Al Kamal Fi Asma’ir Rijal oleh imam Abdul Ghoni Al Maqdisi</li>
<li>Tahdzibul Kamal oleh Imam Al Mizzi</li>
<li>Tahdzibut Tahdzib oleh al Hafidz Ibnu Hajar</li>
<li>Mizanul I’tidal oleh Imam Adz Dzahabi</li>
<li>Lisanul Mizan oleh Al Hafidl Ibnu Hajar</li>
<li>Siyar a’lamin Nubala’oleh Adz Dzahabi</li>
<li>Thobaqot al Kubro oleh Ibnu Sa’ad</li>
<li>Ats Tsiqot oleh Ibnu Hiban</li>
<li>Al Majruhin oleh Ibnu Hibban</li>
<li>Adl Dlu’afa’ wal Matrukin oleh Imam Ad Daruquthni</li>
<li>At Tarikh al Kabir oleh Imam Bukhori</li>
<li>Al Jarh wat Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim</li>
<li>Adl Dlu’afa’ al Kabir oleh al Uqoili</li>
<li>Al Kamil fidl Dlu’afa’ oleh Ibnu ‘Adi</li>
<li>dan masih banyak lagi kitab lainnya.</li>
</ul>
<p><strong>4. Menulis kitab yang mengumpulkan hadits lemah dan palsu</strong><br />
Para ulama’ sejak zaman dahulu sangat perhatian terhadap pengumpulan hadits-hadits lemah dan palsu dalam sebuah kitab. Tujuan mereka adalah agar kaum muslimin mengetahui bahwa hadits tersebut adalah lemah atau palsu, sehingga bisa menghindarinya.<br />
Diantara kitab-kitab tersebut adalah :</p>
<ul>
<li> Al Maudlu’at minal Ahadits Al Marfu’at oleh Imam Ibnul Jauzi</li>
<li>Al La’ali Al Mashnu’ah fil Ahaditsil Maudlu’ah oleh Imam As Suyuthi</li>
<li>Tanzihusy Syari’ah al Marfu’ah min Akhbar Asy Syani’ah Al Maudlu’ah oleh Syaikh Ibnu ‘Aroq Al Kanani</li>
<li>Al ‘Ilal Al Mutanahiyyah minal Ahaditsil Wahiyah oleh Imam Ibnul Jauzi</li>
<li>Al Fawa’id Al Majmu’ah fil Ahadits al Maudlu’ah oleh Imam Syaukani</li>
<li>Al Manarul Munif fish Shohih wadl Dlo’if oleh Imam Ibnul Qoyyim</li>
<li>Silsilah Ahadits Dlo’ifah wal Maudlu’ah oleh Imam Al Albani</li>
<li>Dan masih banyak kitab lainnya.</li>
</ul>
<p>Dan para ulama’ mu’ashirin banyak yang menuliskan mengenai kisah tak nyata ini dalam sebuah risalah tersendiri, di antaranya adalah :</p>
<ul>
<li>Syaikh Mayhur Hasan Salman dalam kitab beliau : Qoshoshun la tastbut</li>
<li>Syaikh Fauzi bin Abdur Rohman dalam Tabshirotu Ulil Ahlam min Qoshoshin fiha kalam</li>
<li>Syaikh Ali bin Ibrohim Al Hasyisy dalam silsilah “Tahdzirud Da’iyah min Al Qoshosh al Wahiyah” yang beliau tulis secara berurutan dalam majalah At Tauhid di Mesir</li>
<li>Syaikh Yusuf bin Muhammad Al Atiq dalam Qoshosh la Tastbut</li>
</ul>
<p>Dan sebagian ulama’ lainnya ada yang mengumpulkan kisah kisah yang shohih dari Rosululloh, sebagai ganti dari kisah-kisah lemah tersebut, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li> Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Qoshosh Tatsbut</li>
<li>Syaikh Sulaiman Al Asyqor dalam Shohih Al Qoshos an NAbawi</li>
</ul>
<p><strong>5. Meletakkan kaedah untuk mengetahui hadits yang shohih dengan yang lemah</strong><br />
Adanya ilmu mushtholah hadits yang di buat oleh para ulama’ untuk membikin sebuah kaedah untuk bisa dibedakan hadits yang shohih dengan yang lemah. Itu semuanya adalah bukti akan kesungguhan ulama’ islam dalam membela haditsnya Rosululloh.</p>
<p><strong>IV. KISAH TAK NYATA YANG DINISBATKAN KEPADA SELAIN RASULULLAH</strong><br />
Kalau itu bahaya kisah tak nyata yang dinisbahkan kepada Rosululloh,  demikian juga dengan kisah yang dinisbahkan kepada selain Rosululloh, baik itu kepada para sahabat, para ulama’, raja, panglima dan pemimpin kaum muslimin pun <strong>merupakan perkara yang membahayaka</strong>n. Diantara bahaya tersebut adalah :<br />
<strong>1. Berdusta atas nama seorang muslim.</strong><br />
Merupakan sesuatu yang dipahami bersama bahwa dusta terhadap sesama muslim  adalah dosa besar dan salah satu tanda kemunafikan.<br />
Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ</p>
<p style="text-align: center;">“Ada empat perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia itu seorang munafiq yang murni, namun kalau cuma ada salah satunya saja maka berarti dia memiliki bagian dari kemunafikan sehingga dia mau meninggalkannya, yaitu apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji tidak menepati, apabila melakukan perjanjian maka dia berkhianat dan apabila bermusuhan maka dia berbuat melampaui batas.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 38, Muslim : 58 dari Abdulloh bin ‘Amr bin Ash)</p>
</blockquote>
<p><strong>2. Merusak citra mereka</strong><br />
Hal ini sangat nampak pada sebagian cerita, yang insya Alloh akan kita bahas satu persatu, namun cukuplah sebagai sebuah contoh kecil, yaitu:</p>
<ul>
<li>Kisah <strong>Amirul Mu’minin Harun Ar Rosyid</strong>, yang digambarkan bahwa beliau adalah teman karib Abu Nawas (seorang penyair zindiq dan syairnya banyak bicara tentang wanita dan khomer, meskipun dikatakan bahwa dia bertaubat diakhir hayatnya), lalu banyak minum khomer, main wanita, dan lainnya.</li>
</ul>
<p><em>Wallohi</em> ini adalah sebuah kedustaan nyata, karena beliau adalah seorang raja muslim yang dekat dengan para ulama’ dan banyak memberikan perhatian kepada sunnah Rosululloh, meskipun kita tidak menafikan kesalahan-kesalahan beliau, namun <strong>kisah dengan Abu Nawas itu adalah kedustaan</strong>.<br />
<strong>3. Tersebarnya kisah tak nyata dikalangan kaum muslimin</strong><br />
Dan ini hal yang tidak bisa dipungkiri, sehingga akhirnya banyak kisah-kisah yang tidak shohih tersebut banyak dinukil diceramah-ceramah maupun dikitab, padahal semua itu hanyalah kedustaan belaka.<br />
Dan masih banyak bahaya lainnya</p>
<p><strong>VI. CONTOH KISAH TAK NYATA DI NEGERI KITA (INDONESIA)</strong><br />
Jangan kaget kalau saya katakan banyak banyak sekali kisah palsu yang tersebar di Indnesia dan negeri muslim lainnya, dan saya harap jangan ada seorangpun yang berpikir bahwa kisah palsu itu hanyalah dongeng yang banyak disebarkan di buku-buku dan majalah anak-anak atau di pelajaran sekolah dasar, sepertidongeng asal muasal Danau Toba, asal muasal Banyuwangi, cerita tentang kahyangan dengan bidadarinya yang bisa terbang dengan selendangnya dan lainnya, karena itu semua hanyalah dongeng kuno yang <strong>semua mengetahui bahwa itu hanyalah sebuah kedustaan</strong>.<br />
Namun, <strong>yang saya maksud</strong> adalah kisah yang banyak disampaikan oleh para<strong> ‘ustadz, kyai, penceramah’,</strong> di antaranya adalah :<br />
<strong>A. Kisah yang dinisbahkan kepada Rosululloh :</strong></p>
<ul>
<li> kisah tentang perjalanan Nur Muhammad, yang dikatakan pindah dari rahim wanita-wanita suci sampai kepada Abdulloh bapaknya Rosululloh yang kemudian berpindah kepada Aminah ibunda Rosululloh.</li>
<li>kisah seputar kelahiran Rosululloh yang dikatakan bahwa patung-patung tersungkur, yang banyak dibaca dan disampaikan saat peringatan maulid nabi</li>
<li>kisah seputar hijroh Rosululloh yang dikatakan bahwa saat beliau bersama Abu Bakr di gua Tsaur maka ada laba-laba yang membuat rumah dimulut gua, juga ada burung merpati yang juga membuat sarang serta bertelur dimulut gua, serta kisah bahwa saat berada dalam gua Abu Bakr tersengat ular.</li>
<li>Kisah sambutan dengan “<strong>Thola’al badru alaina</strong>&#8221; saat Rosululloh datang kekota Madinah dari Mekkah</li>
<li>Kisah demonstrasi unjuk kekuatan yang dilakukan oleh kaum muslimin saat masuk islamnya Umar bin Khothob</li>
<li>Dan masih banyak lainnya</li>
</ul>
<p><strong>B. Kisah yang dinisbahkan kepada para sahabat</strong></p>
<ul>
<li> Kisah seputar <strong>perang Jamal  dan Shiffin</strong></li>
<li>Kisah Tsa’labah yang tidak mau membayar zakat</li>
<li>Kisah Alqomah yang tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid saat sakarotul maut karena durhaka pada ibunya</li>
<li>Dan kisah lainnya</li>
</ul>
<p><strong>C. Kisah yang dinisbahkan kepada para raja dan panglima muslim</strong></p>
<ul>
<li>Kisah <strong>Harun Ar Rosyid</strong> dengan<strong> Abu Nawas</strong></li>
<li>Kisah seputar kehidupan<strong> Amirul Mu’minin Mu’awiyyah bin Abu Sufyan</strong></li>
<li>Kisah <strong>Thoriq bin Ziyad</strong> yang membakar perahu saat menyerang Andalus (Spanyol)</li>
<li>Kisah<strong> Sholahuddin al Ayyubi</strong> yang dikatakan bahwa beliau adalah yang pertama kali memperingati maulid nabi</li>
<li>Dan lainnya</li>
</ul>
<p><strong>D. Kisah yang dinisbahkan kepada para ulama’<br />
</strong></p>
<ul>
<li> Kisah <strong>Imam Ahmad bin Hambal</strong> dan <strong>Yahya bin Ma’in</strong> dengan seorang tukang cerita</li>
<li>Kisah <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> di atas mimbar Masjid Jami’ Damaskus yang dikatakan bahwa beliau mengatakan : Alloh turun kelangit dunia seperti turunku dari atas mimbar ini.”</li>
<li>Kisah <strong>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab</strong> yang dikatakan bahwa beliau mengkafirkan kaum muslimin serta kedustaan lainnya atas beliau</li>
<li>Kisah <strong>Al Hafizh Ibnu Hajar</strong>, yang diceritakan bahwa belau dulunya santri bodoh lalu bertemu dengan air yang menetes pada batu cadas dan mampu melobanginya, sehingga beliau disebut Ibnu Hajar yang artinya anak batu</li>
</ul>
<p><strong>E. Kisah-kisah seputar Indonesia</strong><br />
Dinegeri kita berkembang banyak cerita yang harus diberi sebuah tanda tanya besar akan keshohihannya, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li> Kisah <strong>Sunan Kalijaga</strong> yang katanya menunggu tongkat sunan Bonang dipinggir kali dalam waktu yang sangat lama sehingga tubuhnya ditumbuhi lumut air dan tumbuhan</li>
<li>Kisah <strong>Syaikh Siti Jenar</strong> yang katanya berasal dari cacing tanah merah</li>
<li>Kisah tentang sebab <strong>perang Pangeran Diponegoro</strong> dengan penjajah Belanda yang katanya hanya karena masalah tanah kuburan yang masuk dalam proyek jalan yang dibuat belanda</li>
<li>Dan banyak kisah lainnya.</li>
</ul>
<p><strong>VII. Tashfiyah dan Tarbiyah</strong><br />
Mudahan sadarnya kembali sebagian ummat islam terutama di kalangan generasi mudanya untuk belajar islam, dibarengi dengan semangat untuk mepelajar islam yang murni berasal dari Rosululloh, terbebas dari hitamnya semua yang mengotori kemurnian islam, termasuk diantaranya hadits-hadits dan kisah-kisah lemah serta palsu, yang banyak mebuat berbagai macam khurofat, bid’ah, kesalahan hukum dan lain sebagainya.<br />
Dan inilah yang selalu didengungkan oleh <strong>Imam Ahlus Sunnah</strong> dan mujaddid abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dengan syi’ar <strong>“At Tashfiyah wat Tarbiyyah” At Tasfiyyah</strong> artinya membersihkan islam dan semua yang mengotori kesucianya dan dengan isam yang sudah di tashfiyah itulah kita mentarbiyyah (mendidik) ummat, ang dengan inilah insya Alloh kaum muslimin sekarang ini akan kembali meraih kejayaanya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ<br />
Dari Ibnu Umar berkata : &#8220;Saya mendengar Rosululloh bersabda : “Apabila kalian jual beli dengan cara ‘inah dan kalian memegang ekor sapi serta kalian ridlo dengan cocok tanam juga kalian tinggalkan jihad maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan menghilangkannya sehingga kalian kembali kepada agama kalian.”<br />
(HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 11)</p></blockquote>
<p>Alangkah benarnya apa yang dikatakan oleh <strong>Imam Malik</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها<br />
&#8220;Tidak akan baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang membuat baik pada awalnya”</p></blockquote>
<p>Wallohu A’lam.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong>&#8212;-bersambung&#8212;</strong></em></p>
</blockquote>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_598082519" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/" data-text="Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!" data-desc="Bagian I Muqaddimah disusun oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf I. PENGANTAR Insya Alloh, tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa kisah mempunyai pengaruh yang sangat besar pada jiwa seseorang, mulai dari anak kecil sampaipun orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia." data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_598082519&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fmuqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/' rel='bookmark' title='Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan'>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

