<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Cinta</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 15:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilath]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Kata sebagian orang : “Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. Mudahan-mudahan tidak salah kalau saya katakan bahwa setiap kali istilah ini disebut maka yang terlintas [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/01/ikhtilath-dosa-besar-yang-mulai-diremehkan/' rel='bookmark' title='Ikhtilath: Kemaksiatan yang Mulai Diremehkan'>Ikhtilath: Kemaksiatan yang Mulai Diremehkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/' rel='bookmark' title='Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya'>Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_769133381" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/" data-text="Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!" data-desc="Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Kata sebagian orang : “Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. Mudahan-mudahan" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/risalah-gambar.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_769133381&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F02%2Fpacaran-islami%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><p style="text-align: center;"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-52" title="ahmadsabiq.com" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/risalah-gambar.jpg" alt="ahmadsabiq.com" width="123" height="123" /></p>
<p>Kata sebagian orang : <strong>“Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas</strong>”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. <span id="more-49"></span>Mudahan-mudahan tidak salah kalau saya katakan bahwa setiap kali istilah ini disebut maka yang terlintas dibenak kita adalah sepasang anak manusia –tertama kawula muda dan para remaja- yang tengah dilanda cinta dan dimabuk asmara, saling mengungkapkan rasa sayang, cinta dan rindu, yang kemudian akhirnya biduk ini akan menuju pada pantai pernikahan. Inilah paling tidak anggapan dan harapan sebagian pelakunya. Namun ada satu hal yang banyak luput dari banyak kalangan bahwa segala sesuatu itu ada etika dan aturannya, kalau masuk terminal saja ada aturannya, akankah masalah cinta yang kata sebagian orang “suci” ini tanpa aturan ???</p>
<p>.</p>
<p><strong>Cinta Tabiat Anak Manusia: Jangan Dibunuh, Jangan pula Diumbar!</strong></p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align: center;">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ</p>
<p style="text-align: center;">“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang dia ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia. Dan disisi Alloh lah tempat kembali yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ali Imron  : 14)</p>
<p>Inilah tabiat dan fithroh kita sebagai anak Adam. Anak cinta orang tua, orang tua cinta anak, kita cinta pada uang, kaum hawa cinta pada perhiasan  de el el. Begitu pula cinta pada lawan jenis, semua diantara kita yang laki-laki mencintai wanita dan yang wanita cinta laki-laki, barang siapa yang tidak memilikinya maka dipertanyakan kejantanan dan kefemininannya. <strong><em>Setuju nggak ???</em></strong></p>
<p>.</p>
<p><strong>Bila si Cinta dengan Gaun Merah Jambu itu Hadir!!</strong></p>
<p>Saya tidak tahu persis sejak kapan warna merah jambu dan daun waru dinobatkan sebagai lambang cinta, apapun jawabannya, itu tidak terlalu penting bagi kita. Namun yang sangat penting adalah bahwasannya bila masa kanak-kanak itu telah beranjak pergi meninggalkan kehidupan kita, lalu kitapun menyandang predikat baru sebagai remaja untuk menyongsong kehidupan manusia dewasa yang mandiri. Ada sesuatu yang terasa hadir mengisi indahnya hidup ini. Itulah cinta. Yang jelas cinta ini bukan lagi cinta pada mainan atau jajan bungkusan anak-anak, namun cinta pada sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Saat itu tersenyumlah seraya berucap : “<strong>Selamat datang cinta</strong>.”</p>
<p><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>Kasihan si Cinta: Sering Dijadikan kambing Hitam!</strong></p>
<p>Cinta adalah sesuatu yang agung, Dengan cinta seorang yang pengecut menjadi pemberani, orang yang bakhil menjadi dermawan, yang bodoh menjadi pintar, menjadikan orang pandai merangkai kata dan tulisan. Begitulah kira-kira yang diungkapkan para dokter cinta. Oleh karena jangan salahkan cinta, kasihan dia. Bukankah karena cinta seseorang bisa masuk sorga. Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rosululloh tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya : “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Dia menjawab : .”Cinta Alloh dan Rosul Nya.” maka beliaupun menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Maka Anas bin Malik perowi hadits ini pun berseru gembira : “Demi Alloh, Saya mencintai Rosululloh, Mencintai Abu Bakr dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka disurga,” (Bukhori Muslim)</p>
<p>Cinta itu akan menjadi sangat agung kalau diletakkan pada tempatnya, namun bisa menjadi bencana kalau disalah gunakan. Oleh karena itu berhati-hatilah.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Cinta kepada Alloh: Rabb Semesta Alam</strong></p>
<p>Cukuplah bagi kita merenungi ayat berikut :</p>
<h3 style="text-align: center;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</h3>
<p style="text-align: center;">“Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Alloh maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Robbnya mereka bertawakkal.”</p>
<p style="text-align: center;">(Al Anfal : 2)</p>
<p>Bertanyalah pada diri kita masing-masing, hatimu bergetar saat disebut nama-Nya ataukah nama nya ???  “Mintalah fatwa pada dirimu sendiri” begitulah kata Rosululloh.</p>
<p>Bukankah cinta ini yang menjadikan Handlolah meninggalkan malam pertamanya untuk pergi perang lalu meninggal dalam keadaan masih junub ? Bukankah cinta ini yang menjadikan Bilal bin Robah mampu menahan derita yang tak terkira ? begitu pulalah Ammar bin Yasir, Kholid bin Walid dan lainnya.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Cinta Kepada Rasululloh</strong></p>
<p>Lelaki agung itu, yang meskipun beliau sudah meninggal 14 abad yang lalu , namun masih kita rasakan cinta dan kasihnya. Lihatlah gambaran Al Qur’an ini :</p>
<h3 style="text-align: center;">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</h3>
<p style="text-align: center;">“Sungguh telah datang pada kalian, seorang rosul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keselamatan bagi kalian, amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”</p>
<p style="text-align: center;">(At Taubah : 128)</p>
<p>oleh karena itu tidak mengherankan kalau beliau bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sehingga saya lebih dia cintai dari pada cintanya pada orang tuanya, anak-anaknya dan semua manusia.”(Bukhori Muslim)</p>
<p>Cinta pada sunnahnya, itulah bentuk cinta pada beliau. Sangat ironis sekali ummat islam sekarang yang mana setiap kali disebut sunnah beliau, maka mereka dengan langsung memprotes : “Kan Cuma sunnah ???” lalu kalau tidak sunnah beliau mau sunnah siapa ???</p>
<p>Firman Alloh :</p>
<p style="text-align: center;">“Sungguh ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik.”</p>
<p>.</p>
<p><strong>Cinta karena Alloh</strong></p>
<p>Akhi, Ukhti, saya mencintaimu karena Alloh.” Begitulah Rosululloh mengajarkan ummatnya untuk cinta ada orang lain karena Alloh, dalam artian kalau orang itu semakin membuat kita dekat pada Nya maka cintailah dia, dan begitu pula sebaliknya kalau ada orang yang semakin menjauhkan kita dari Nya, maka jauhilah dia. Bukankah orang yang melakukannya akan merasakan manisnya iman dan akan mendapatkan mimbar cahaya yang diingingkan oleh para Nabi dan Syuhada’ ???</p>
<p>Mencintai tokoh idola anda, juga lakukan atas dasar cinta pada Alloh dan Rosulnya.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Itulah Agungnya Cinta: Jangan Diperkosa!</strong></p>
<p>“Pemerkosaan arti cinta” -maaf kalau kalimat ini kedengaran kasar- namun itulah kenyataannya. Betapa banyak wanita yang menyerahkan mahkota hidupnya kepada orang yang belum berhak lalu dia berucap ini sebagai tanda cintaku padanya, sebaliknya betapa banyak kaum laki-laki yang harus melakukan kemaksiatan atas nama cinta. Subhanalloh !!! akankah cinta kita pada Alloh Dzat yang Maha Agung dikalahkan oleh cinta pada seseorang yang berasal dari air mani yang kotor, saat hidupnya selalu membawa kotoran, dan saat meninggal pun akan berubah menjadi sesuatu yang sangat menjijikkan ??? Malulah pada Nabiyulloh Yusuf Alaihis Salam, yang mampu mempertahankan kehormatannya dihadapan seorang wanita cantik, kaya raya, bangsawan lagi. Jangan engkau berkata : “Diakan seorang Nabi ?.” karena kisah serupa pun dialami oleh  Abdur Rohman bin Abu Bakr, Muhammad al Miski dan lainnya</p>
<p>.</p>
<p><strong>TIDAK!!! Islam Tidak Mengharamkan Cinta, Islam Hanya Mengaturnya!</strong></p>
<p>Islam sebagai agama paripurna, tidak membiarkan satupun masalah tanpa aturan. Lha wong cara berpakaian, mandi, buang air dan hal-hal kecil lainnya ada aturanya, maka bagaimana mungkin urusan cinta yang menjadi keharusan hidup manusia normal akan tanpa aturan. Itu mustahil. Benarlah Salman Al Farisi tatkala ditanya : “Apakah nabimu sudah mengajarkan segala sesuatu sampai masalah adab buang air besar ? maka beliau menjawab : Ya, Rosululloh sudah mengajarkannya, beliau melarang kami untuk menghadap dan membelakangi kiblat dan memerintahkan kami untuk beristinjak dengan tiga batu dan melarang kami untuk beristinjak dengan kotorang dan tulang.”</p>
<p>Alloh Berfirman :</p>
<h3 style="text-align: center;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</h3>
<p style="text-align: center;">“Pada Hari ini telah kusempurnakan agama kalian, dan telah Ku sempurnakan nikmatku kepadamu dan Aku rela islam sebagai agamamu.”</p>
<p style="text-align: center;">(Al Maidah : 3)</p>
<p>Oleh karena itu kalau mau bercinta alias pacaran, saya tawarkan sebuah ‘pacaran islami’ biar berpahala. Setuju nggak ??? selamat mencoba !!!</p>
<p>Ada beberapa aturan yang harus dipenuhi kalau mau berpacaran yang ‘islami’ yaitu :</p>
<p>.</p>
<p><strong>1.Menutup aurot</strong></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</p>
<p style="text-align: center;">Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min “Hendaknya mereka <strong>menjulurkan pakaiannya keseluruh tubuh mereka</strong>” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 59)</p>
</blockquote>
<p>Bahkan saking pentingnya masalah ini, Rosululloh juga mengaturnya walaupun antar jenis.</p>
<p>Dari Abu Said Al Khudri berkata  : “Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Janganlah seorang laki-laki itu melihat aurat laki-laki dan jangan seorang wania melihat aurat wanita.”</p>
<p style="text-align: center;">(H.R. Muslim)</p>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>2.Menundukkan pandangan</strong></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p style="text-align: center;">“Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka serta menjaga kemaluan mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">“Dan katakan kepada para wanita mu’minah, agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dan menjaga farji mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nur : 30,31)</p>
</blockquote>
<p>Dari Jarir bin Abdillah berkata : “Saya bertanya pada Rosululloh tentang<strong> pandangan yang mendadak tak sengaja</strong>, maka beliau memerintahkanku untuk <strong>memalingkan pandangan</strong> itu.” (Muslim)</p>
<p>.</p>
<p><strong>3.Tidak bersolek ala jahiliyah</strong></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align: center;">وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى</h3>
<p style="text-align: center;">“Dan <strong>menetaplah kalian dalam rumah-rumah kalian</strong>, dan janganlah bersolek seperti bersoleknya orang-orang jahiliyah yang dahulu.”</p>
<p style="text-align: center;">QS. Al Ahzab : 33)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : “Rosululloh bersabda : “Ada dua golongan manusia ahli neraka yang saya belum pernah melihatnya, yang pertama : orang-orang yang memegang cambuk untuk memukul orang lian, yang kedua : Para<strong> wanita yang berpakaian tapi telanjang</strong>, mereka berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan pernah masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.”</p>
<p style="text-align: center;">(Muslim)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>Alangkah meruginya orang yang semacam ini !!!</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>4.Ada pembatas antara laki-laki dan wanita</strong></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align: center;">وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ</h3>
<p style="text-align: center;">Dan apabila kalian meminta sesuatu pada mereka (para istri Rosululloh ) maka<strong> mintalah dari balik hijab</strong>. Karena yang demikan itu lebih suci bagi hati kalian serta bagi hati mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS.Al Ahzab : 53)</p>
<p style="text-align: left;">.</p>
<p><strong>5.Jangan berdua-duaan, karena yang ketiganya adalah setan</strong></p>
<p>Begitulah kira-kira bunyi hadits Rosululloh riwayat imam Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Huroiroh dengan sanad hasan</p>
<p>.</p>
<p><strong>6.Jangan lembutkan ucapan</strong></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<h3 style="text-align: center;">يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</h3>
<p style="text-align: center;">“<strong>Janganlah kalian (Para wanita) melembutkan ucapan</strong>, sehingga akan rakus orang-orang yang punya penyakit hati, namun ucapkanlah yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)</p>
<p style="text-align: left;">.</p>
<p><strong>7.Kulitmu masih haram bagiku</strong></p>
<p>Dari Ma’qil bin Yasar berkata : Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Seandainya <strong>ditusuk</strong> pada <strong>kepala</strong> salah seorang <strong>kalian</strong> dengan <strong>jarum besi panas</strong>, maka itu<strong> lebih baik</strong> dari pada <strong>menyentuh wanita</strong> yang tidak halal baginya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni, Lihat As Shohihah : 226)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">.</p>
<blockquote>
<ul>
<li>Saudaraku, k<strong>alau anda mampu memenuhi syarat ini</strong>, <strong>teruskan pacaran anda</strong>.</li>
<li>Namun kalau tidak, maka pilihlah engkau lebih mencintai dia ataukah Alloh yang telah menciptakanmu, memberimu rizqi, melimpahkan kasih sayangNya padamu  dan memberimu hidayah menjadi orang islam ???</li>
<li>Segera tinggalkan transaksi harammu itu, sebelum kemurkaan Alloh benar-benar datang. Atau saya punya usul , bagaimana kalau engkau cepat-cepat menikah, itupun kalau engkau sudah siap. Bagaimana ???</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>STOP!! Ini Bukan Area Anda! Jangan Berzina!!</strong></p>
<p>Jangan ada yang berfikir bahwasannya yang terlarang dalam islam hanyalah zina dalam pengertian masuknya timba dalam sumur sebagaimana bahasa hadits Rosululloh. Namun yang terlarang adalah semua hal yang mendekati pada perzinaan tersebut. Perhatikanlah firman Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>“Janganlah kalian <strong>mendekati</strong> zina”</em></p>
</blockquote>
<p>Juga Sabda Rosululloh saw :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Sesungguhnya Alloh telah menetapkan pada setiap anak adam bagianya dari zina yang pasti akan menemuinya, zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah berucap, jiwa dengan berharap dan berkhayal, yang semua itu dibenarkan atau didustakan oleh kemaluan.”</p>
<p style="text-align: center;">(Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>Hamil dulu baru nikah atau nikah dulu baru hamil?</strong></p>
<p>Hamil setelah pernikahan yang sah adalah sebuah kebanggaan dan keagungan, semua orang yang memasuki biduk pernikahan pasti menginginkan kehamilan istrinya. Banyak klinik yang  mengaku bisa mengobati kemandulan adalah salah satu buktinya.</p>
<blockquote><p>Di sisi lain, wanita yang hamil<strong> tanpa tahu harus kemana dia harus memanggil “Suamiku”</strong> akan sangat gelisah.</p>
<p>Masyarakat yang terkadang <strong><em>dholim</em></strong> akan bisa dengan segera memaafkan<strong> laki-laki </strong>yang berbuat <strong>kurang ajar itu</strong>, namun<strong> tidak terhadap wanita</strong>. Dia akan <strong>menanggung aib</strong> itu sepanjang zaman dan akan terkenallah ia sebagai <strong>wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya</strong>.</p>
<p>Begitulah yang dikatakan oleh Syaikh Ali Ath Thonthowi.</p></blockquote>
<p>Kalau dia menikah kelak, bukankah suaminya akan dengan mudah mengatakan : “Sudah berapa laki-laki yang tidur denganmu sebelum menikah denganku ?</p>
<p>Anak yang terlahir, dia akan terlahir sebagai anak yang tidak di harapkan kehadirannya, Tidak ada sentuhan kasih dan sayang.</p>
<p>Dari sisi Fiqh, Imam Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa wanita hamil dari hasil perzinaan tidak boleh dinikahi selama hamil, dan kalau sudah terlanjur dinikahi maka harus diadakan pernikahan ulang.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Peringatan Penting Bagi yang masih Punya hati&#8230;</strong></p>
<p>Anda kepingin mendapatkan seorang pasangan hidup yang baik, setia, sholih dan sholihah ??? perhatikanlah resep Ilahi ini :</p>
<p style="text-align: center;">لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ</p>
<p style="text-align: center;">“Wanita yang jelek untuk laki-laki yang jelek, lelaki yang jelek untuk wanita yang jelek, begitu pula dengan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nur : 26)</p>
<p>Kata para ulama’ : “Balasan itu sejenis dengan amal perbuatannya.”</p>
<blockquote>
<ul>
<li>Akan menjadi sebuah <strong>mimpi disiang bolong</strong> kalau anda menginginkan <strong>istri seperti Fathimah binti Abdul Malik</strong> kalau anda <strong>tidak bisa menjadi Umar bin Abdul Aziz</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jangan pula <strong>mimpi bersuamikan Ali bin Abi Tholib</strong> kalau engkau <strong>tidak menjadi Fathimah binti Muhammad</strong>. Perbaikilah dirimu dahulu sebelum engkau berharap mendapatkan pasangan hidup yang engkau idamkan !!!</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>Jangan Katakan ini!</strong></p>
<p>Jangan engkau berkata padaku :</p>
<blockquote><p>“Aku berpacaran <em>kan</em> untuk <strong>tahap penjajagan</strong>, biar saling memahami karakter masing-masing, sehingga tidak akan terjadi penyesalan setelah memasuki maghligai pernikahan, karena bagaimanapun juga kegagalan dalan berpacaran jauh lebih ringan daripada kegagalan dalam pernikahan.”</p></blockquote>
<p>Jangan engkau katakan itu padaku, karena itu hanyalah <strong>topengmu belaka</strong>.</p>
<ul>
<li>Tanyalah pada dirimu sendiri apakah engkau selama pacaran, mencoba untuk memahami masing-masing dan belajar untuk menjadi suami istri yang baik?</li>
<li>Ataukah yang engkau lakukan adalah berusaha menjadi baik saat berada dekat sang pacar? Bukankah ini sebuah <strong>penipuan kepribadian</strong> ??? <strong>persis <em>kayak</em> penjual yang takut ditinggal pembeli</strong>, yang mana ia harus berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Lalu apa yang engkau sisakan nanti kalau memasuki dunia pernikahan, bukankah semuanya sudah engkau rasakan ? saling memadu rasa kasih sayang, mengungkapkan rasa cinta, berjalan bareng, nonton bareng, rekreasi bareng, bahkan mungkin hubungan suami istripun sudah dilakukan. Lalu apa yang akan engkau sisakan setelah menikah ??? malam pertamamu akan terasa hambar, tidak ada yang beda pada malam itu karena semua sudah dilakukan, bahkan mungkin akan terasa pahit, karena selama ini engkau berhubungan bukan cuma berdua, tapi bertiga, Yah …. Engkau bersama setan yang selalu membumbui semua kemaksiatan menjadi kenikmatan.</li>
</ul>
<blockquote><p><em><strong>Bandingkan dengan yang malam pertamanya adalah benar-benar malam pertama. Dan bulan madunya benar benar semanis madu. Ah !!! saya tidak mau terlalu jauh mengenang masa-masa indah itu ….. kasihan yang belum nikah, he… he …</strong></em></p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>Jangan Anggap Ini Keras!</strong></p>
<p>Mungkin ada diantara kalian yang berkata : “<strong>ustadznya terlalu keras</strong>.”</p>
<p>Wahai saudaraku seiman !!! cobalah renungkan kembali ayat-ayat dan hadits diatas dengan pikiran jernih, kepala dingin dan penuh rasionalitas, lalu ambilah kesimpulan, manakah yang keras ??? <strong>bukankah itu semua tuntutan syariat agama yang kita anut bersama </strong>?</p>
<p>Atau jangan-jangan engkau sedang kena penyakit <em>mag</em> sehingga <strong>nasi yang lembek pun terasa keras</strong>, itulah kemungkinan yang paling dekat. Hatimu sedang berpenyakit, sehingga engkau merasa sakit dan keras dengan sesuatu yang sebenarnya lembek. Bukankah Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saya diutus untuk membawa syariat yang lurus dan mudah.”</p>
<p style="text-align: center;">(Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Dipenghujung tulisan ini, saya teringat bahwa beberapa hari lagi kita memasuki bulan Romadlon. Belajar dari orang yang berpuasa yang dia menahan lapar dahaga sehari penuh, namun saat berbuka, akan terasa sangat nikmat air putih meskipun tanpa gula.</p>
<p>Inilah puasa panjang syahwat kita, yang akan engkau rasakan nikmatnya tatkala engkau berbuka dimaghligai pernikahan.</p>
<p>Saat melalui puasa panjang ini laluilah dengan :</p>
<p>Banyak berdzikir, menyebut kebesaran Ilahi</p>
<p>Sabar dan sholatlah</p>
<p>Ikutilah kajian-kajian keagamaan</p>
<p>Bertemanlah dengan orang-orang sholih yang akan menolongmu tegar dalam jalan Nya</p>
<p>Sibukkan diri dengan aktivitas surgawi</p>
<p>Kalau masih kebelet juga, perbanyaklah puasa karena sesunguhnya puasa adalah benteng yang kokoh.</p>
<p>Ya Alloh, tunjukkanlah kepada kami sebuah kebenaran itu sebagai sesuatu yang benar dan berilah kami kekuatan untuk menjalankannya. Dan tunjukkanlah kepada kami sebuah kesalahan itu sebagai sesuatu yang salah dan berilah kami kekuatan untuk meninggalkannya.</p>
<p><em>Wa akhiru da’wana ‘anil Hamdi lillahi Robbil Alamin.</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1123456292" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/" data-text="Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!" data-desc="Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Kata sebagian orang : “Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas”. Istilah pacaran adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab ditelinga serta lengket dalam pandangan mata. Namun saya masih agak kesulitan untuk mendefinisikannya. Mudahan-mudahan" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/risalah-gambar.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1123456292&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F02%2Fpacaran-islami%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/01/ikhtilath-dosa-besar-yang-mulai-diremehkan/' rel='bookmark' title='Ikhtilath: Kemaksiatan yang Mulai Diremehkan'>Ikhtilath: Kemaksiatan yang Mulai Diremehkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/' rel='bookmark' title='Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya'>Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Laki-Laki]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Untukmu Wahai Para Suami disusun oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf . I. PENGANTAR Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan yang dihembuskan angin sepoi-sepoi sampai adanya sebuah badai yang [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_945888242" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/" data-text="Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?" data-desc="Untukmu Wahai Para Suami disusun oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf . I. PENGANTAR Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan" data-image="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-1.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_945888242&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fwahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><p style="text-align: center;"><strong>Untukmu Wahai Para Suami</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-702" title="Aku mencintaimu karena الله" src="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-1.jpg" alt="Aku mencintaimu karena الله" width="130" height="99" /></p>
<p style="text-align: center;">disusun oleh<strong>:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif  Abu Yusuf</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong>I. PENGANTAR</strong></p>
<p>Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan yang dihembuskan angin sepoi-sepoi sampai adanya sebuah badai yang dasyat. Bersatunya dua insan  yang punya karakteristik, latar belakang, pendidikan, mental dan lainya yang mungkin serba berbeda akan banyak menimbulkan banyak gesekan. Dari sinilah maka sebuah pertengkaran kecil, perseteruan unik dalam keluarga sudah dianggap sebagai bumbu pelengkap kelezatan hidup dalam kebersamaan.</p>
<p>Namun, kalau hal itu tidak diatasi dan disikapi dengan bagus dan arif, maka yang namanya pertengkaran kecil itu akan menjadi sebuah bumerang yang terkadang bisa mengkandaskan bahtera itu sebelum sampai pada cita-cita impian bersama.</p>
<p>Sangat miris hati ini saat mendengar bahwa para ibu-ibu  banyak yang memakan daging suami mereka sendiri. Banyak suasana ngobrol yang seharusnya bisa diisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, malah menjadi lainnya. Terdorong untuk menasehati sesama muslim karena memang agama ini adalah nasehat, maka hati inipun tergerak untuk menggugah dan tangan inipun mulailah menorehkan untaian kata-kata ini.</p>
<p>Pada awalnya saya agak bingung dari siapa saya harus memulai, apakah dari suami ataukah istri, karena saya yakin masalah ini tidak bisa dibebankan pada salah satu saja, namun karena saya adalah laki-laki yang juga suami, maka lebih baiknya kalau saya mulai dari jenisku sendiri para kaum suami.</p>
<p>Bacalah, resapilah lalu renungkanlah mudah-mudahan ini bisa menjadi setitik obat bagi sebuah luka dan semoga rumah tangga menjadi penuh dengan berkah baik saat senang maupun susah, baik saat lapang maupun sempit.</p>
<p>.</p>
<p><strong>B. PAHAMILAH KARAKTER ISTRIMU</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Muhammad seorang Rosul nan mulia telah menghabarkan kepada kita kaum laki-laki tentang siapa sebenarnya seseorang yang selalu mendampingi kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam sebuah gambaran yang sangat indah beliau pernah bersabda :<span id="more-15"></span></p>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bersabda : &#8220;Berwasiatlah kalian yang baik kepada kaum wanita, karena mereka tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka kalau engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, namun jika engkau membiarkannya maka dia akan selamanya bengkok, oleh karena itu berwasiatlah yang baik kepada wanita.” (HR. Bukhori 5168, Muslim : 1468)</p>
<p>Tahukah engkau bagaimana sebuah tulang rusuk yang bengkok, tulang rusuk dimana-mana itu keras dan kaku, maka butuh cara tertentu untuk bisa meluruskannya, kalau engkau meluruskanya dengan keras dan secara langsung, tidak diragukan lagi bahwa tulang itu akan segera patah ? kalau sekedar patahnya tulang tidaklah mengapa, namun kalau patahnya sebuah keluarga , maka apakah maknanya ?</p>
<p>Namun bukan berarti itu membuat sang suami harus menyerah  beralaskan dengan bengkoknya tulang rusuk, karena Rosululloh pun menandaskan bahwa kalau engkau biarkan maka dia akan selamanya bengkok. Lalu bagaimana solusinya ?</p>
<p>Perhatikanlah hadits berikut :</p>
<p>Dari Samuroh bin Jundub berkata : “Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk, maka jika engkau meluruskannya niscaya engkau akan mematahkanya, oleh karena itu ambillah sikap mudaroh , niscaya engkau akan bisa hidup dengannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ibnu Hibban : 1308 dengan sanad yang shohih)</p>
</blockquote>
<p>Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar, &#8220;<strong>Al Mudaroh&#8221; adalah bersikap basa-basi dan lunak.</strong></p>
<p>Beliau juga berkata :</p>
<blockquote><p>“Hadits ini menunjukkan akan diperintahkan bersikap <strong>mudaroh kepada wanita</strong> untuk <strong>mengambil hati</strong> dan <strong>menggait simpatinya</strong>. Hadits ini juga menunjukan bahwa cara bersikap dengan wanita harus <strong>banyak memaafkan</strong> dan <strong>bersabar akan kebengkokannya</strong>. Dan barang siapa yang <strong>menginginkan</strong> untuk <strong>meluruskannya</strong> niscaya dia <strong>tidak akan bisa hidup </strong>bersama mereka, padahal tidak mungkin ada seorang pun laki-laki yang bisa hidup tanpa wanita, disini <strong>seakan-akan</strong> Rosululloh bersabda  bahwasannya hidup senang bersama seorang istri tidak mungkin bisa dicapai kecuali <strong>harus dengan bersabar atas kekurangannya</strong>.” (Lihat Fathul Bari 9/254 dengan sedikit perubahan)</p></blockquote>
<ul>
<li>Sikap <strong><em>mudaroh</em></strong> yang dituntunkan oleh Rosululloh ini mempunyai konsekwensi berikut ini :</li>
</ul>
<ol>
<li>Bukankah seorang mulim itu lembut tutur kata dan sikapnya ?</li>
<li>Bertuturlah yang lembut kepada istrimu! Kaum laki-laki saja senang dengan kelembutan kata dan ucapan, <strong>apalagi wanita</strong> yang memang <strong>diciptakan</strong> dengan segala <strong>kelemahlembutannya</strong> ?</li>
<li>Bukankah Rosululloh adalah suri tauladan bagi kita semua. Camkanlah hadits berikut ini !</li>
</ol>
<p>عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا لَعَّانًا وَلَا سَبَّابًا</p>
<p>Dari Anas bim Malik berkata : “Rosululloh itu bukan orang keji ucapannya, juga bukan orang yang suka melaknat dan mencela.” (HR. Bukhori : 6046)</p>
<p>Dari sinilah, Rosululloh juga bersabda :</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا</p>
<p>Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh  bersabda : &#8220;Janganlah seorang laki-laki mu’min mencela seorang wanita mu’minah, karena jika dia tidak suka salah satu perangainya maka  dia akan ridlo dengan perangainnya yang lain.”</p>
<p>(HR. Muslim : 1469, Ahmad : 8163)</p>
<p>Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Hasan Al Bashri :</p>
<blockquote><p>“Nikahkanlah anakmu dengan orang yang <strong>agamanya bagus</strong>, karena jika dia mencintainya maka dia akan memuliakannya sedangkan jika tidak mencintainya maka tidak akan mendholiminya.”</p></blockquote>
<p>Lihatlah bagaimana Rosululloh bersikap <strong>lembut kepada istri-istrinya</strong>, <strong>meskipun</strong> dalam suasana yang <strong>melelahkan,</strong> dalam sebuah perjalanan.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-341" title="Apakah kau kira istrimu lebih baik daripada umahatul mukminin?" src="http://abiubaidah.wordpress.com/files/2009/10/bunga-indah.gif" alt="Apakah kau kira istrimu lebih baik daripada umahatul mukminin?" width="278" height="247" />Dari Aisyah berkata : “Saya keluar bersama Rosululloh dalam sebuah berjalanan, dan saat itu  saya masih kecil belum gemuk, maka beliau berkata kepada para sahabat lainnya : “Berangkatlah kalian terlebih dahulu, kemudian beliau berkata kepadaku : “Kemarilah, ayo kita lomba lari.” Maka saya pun meladeni lomba bersama beliau dan saya bisa mendahului beliau, sehingga tatkala saya sudah menjadi gemuk, sayapun keluar lagi bersama Rosululloh dalam sebuah perjalanan, lalu beliau berkata kepada para sahabatanya : “Majulah kalian terlebih dahulu, kemudian beliau berkata kepadaku : “Kemarilah kita lomba lari lagi.” Namun kali ini beliau mendahuluiku. Maka Rosululloh tertawa seraya berkata : “Ini sebagai balasan kekalahan yang dahulu.” (HR. Ahmad 6/264, Abu Dawud : 2578, Ibnu Majah : 1979)</p>
<ul>
<li>Sikap lembutnya Rosululloh sampai pada tingatan beliau<strong> membiarkan Aisyah untuk bermain dengan boneka-boneka mainannya</strong>.</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا قَالَتْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ قَالَتْ بَنَاتِي وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ قَالَتْ فَرَسٌ قَالَ وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ قَالَتْ جَنَاحَانِ قَالَ فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ *</p>
<p>Dari Aisyah berkata : “Rosululloh datang dari perang Tabuk atau Khoibar dan saat itu di kamarku ada kain penutup, lalu berhembuslah angin dan membuka bagian yang tertutupi berupa boneka-boneka kecil milik Aisyah, maka Rosululloh bersabda : &#8220;Apa ini wahai Aisyah ? Aisyah menjawab : “Boneka-boneka milikku.” Lalu Rosululloh melihat diantaranya ada kuda yang punya dua sayap yang terbuat dari kulit, maka Rosululloh bersabda : “Apa yang berada ditengah-tengah itu ? Aisyah menjawab : “Kuda.” “Lalu apa itu ? Tanya Rosululloh selanjutnya. Aisyah menimpali : “Dua sayap.” Maka Rosululloh bertanya lagi : “Emangnya ada kuda yang punya dua sayap ?.” Maka Aisyah menjawab : “Tidakkah engkau mendengar bahwa bahwa Nabi Sulaiman punya kuda yang punya banyak sayap ? maka Rosululloh pun tertawa sampai nampak gigi geraham beliau.”</p>
<p style="text-align: center;">(H.R. Abu Dawud 4932)</p>
</blockquote>
<p>Lihatlah wahai saudaraku bagaimana, Rosululloh bersikap dengan seorang istri, <strong>penuh dengan kelembutan, senda gurau, rilek</strong>s dan lainnya.</p>
<ul>
<li>Tidak sampai disitu saja, bahkan Rosululloh memanggil teman-teman Aisyah untuk bermain boneka bersama.</li>
</ul>
<blockquote><p>Dari Ummul mu&#8217;minin Aisyah berkata : “Saya bermain boneka berbentuk anak wanita disisi Rosululloh, dan saya juga mempunyai teman-teman wanita yang bermain bersamaku, dan jika Rosululloh masuk maka mereka bersembunyi lalu Rosululloh mengutus mereka untuk bersamaku lalu merekapun bermain lagi denganku.”</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>C. APAKAH ISTRIMU LEBIH BAIK DARIPADA UMMAHATUL MUKMININ?</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Saya sangat heran</strong> kepada sebagian ikhwan yang tatkala <strong>sebelum menikah</strong> dia membayangkan bahwa kalau <strong>nantinya dia sudah menikah dengan seorang akhwat yang banyak belajar agama</strong>, maka hidupnya hanya akan berisi ketentraman dan keindahan tanpa adanya pertengkaran , keributan dan lainnya.</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ada yang sering mereka katakan, &#8220;Bukankah para akhwat itu tahu bahwa seorang istri yang sholihat adalah kalau dilihat oleh suami maka akan menyenangkannya, kalau diperintah oleh suami maka akan mentaatinya, kalau ditinggal pergi oleh suami  maka dia akan menjaga diri dan hartanya, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Rosululloh ?</p>
</blockquote>
<p>Untuk ikhwan semacam itu saya katakan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>“</em>A<em>p</em>akah istri anda lebih bagus daripada para wanita sahabat bahkan lebih bagus dari pada para ummahatul mu’minin?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Apakah kehidupan Rosululloh lepas dari permasalahan rumah tangga?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Lihatlah bukankah telah terjadi <strong>perceraian dikalangan para sahabat</strong>?</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Bukankah sampai terjadi <strong>khulu’</strong> (tuntutan cerai dari pihak istri ) di zaman Rosululloh?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Bukankah Rosululloh pernah <strong>bertengkar dengan istrinya selama sebulan penuh</strong>?</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Dan bukankah Rosululloh pernah <strong>menceraikan Hafshoh binti Umar</strong> meskipun kemudian beliau  merujuknya kembali ?</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Wallohi, seseorang yang menginginkan kehidupan <em>kayak</em> begitu, saya khawatir kekecewaan dia akan menjadi sangat besar dan luka dia akan menjadi sangat lebar.</li>
</ul>
<p>Perhatikanlah, <strong>ya akhi</strong> riwayat berikut  ini :</p>
<blockquote><p>Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya Abu Bakr datang minta izin untuk bertemu dengan Rosululloh , dan beliau menemukan para sahabat sedang duduk-duduk dipintu rumah beliau, mereka tidak diizinkan masuk, namun Abu Bakr diizinkan masuk, ternyata beliau menemukan Rosululloh sedang duduk terdiam dan disekitar beliau ada istri-istrinya, lalu Umar pun datang dan beliau diizinkan masuk  dan Rosululloh pun masih duduk terdiam, Abu Bakr berkata : “Wallohi saya akan membuat Rosululloh tertawa.” maka beliau berkata : “Wahai Rosululloh, Apa pendapatmu sendainya  putrinya Khorijah (istri Abu Bakr) minta nafkah kepadaku, namun saya malah bangkit dan menohok lehernya ? maka Rosululloh pun tertawa seraya berkata : “Sebagaimana engkau lihat, semua istriku minta tambahan nafkah kepadaku.” Maka Umar pun bangkit dan menohok leher Hafshoh , begitu pula Abu Bakr dengan Aisyah, keduanya berkata : “Mengapa kalian minta kepada Rosululloh yang tidak beliau punyai ? maka keduanya menjawab : “Wallohi, kami tidak minta yang tidak beliau punyai.” Lalu Rosululloh memisahkan diri dengan mereka selama satu bulan, kemudian turunlah firman Alloh :</p>
<p style="text-align: center;">يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلاً {28} وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ اْلأَخِرَةَ فَإِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيم</p>
<p style="text-align: center;">Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: &#8220;Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut&#8217;ah [1213] dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Alloh dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Alloh menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 28,29 )</p>
<p>Maka Rosululloh memulainya dengan Aisyah : “Saya kepingin menyampaikan kepadamu sebuah perkara, jangan tergesa-gesa memutuskan sebelum engkau minta pendapat kedua orang tuamu.” Aisyah berkata : “Apa itu Wahai Rosululloh.” Maka Rosululloh membaca ayat ini , lalu Aisyah berkata : “Apakah mengenai engkau saya harus minta pendapat kedua orang tuaku, bahkan saya pilih Alloh, Rosul Nya dan kampung akhirat, tapi saya mohon kepada njenengan agar jangan bilang pada satupun istrimu dengan jawabanku ini.” maka Rosululloh menjawab : “Tidak ada seorangun diantara mereka yang bertanya mengenai ini kecuali akan aku jawab, karena saya tidak diutus oleh Alloh untuk menyulitkan namun Alloh mengutusku untuk mengajar dan membuat kemudahan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim :  1478)</p>
</blockquote>
<p><strong> </strong>Lihatlah Fathimah binti Rosululloh, <strong>kesayangan Rosulullo</strong>h dan<strong> penghulu wanita ahli surga</strong>. Namun, lihatlah kasus ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا كَانَ لِعَلِيٍّ اسْمٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَبِي تُرَابٍ وَإِنْ كَانَ لَيَفْرَحُ بِهِ إِذَا دُعِيَ بِهَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام فَلَمْ يَجِدْ عَلِيًّا فِي الْبَيْتِ فَقَالَ أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ فَقَالَتْ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ شَيْءٌ فَغَاضَبَنِي فَخَرَجَ فَلَمْ يَقِلْ عِنْدِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِنْسَانٍ انْظُرْ أَيْنَ هُوَ فَجَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ فِي الْمَسْجِدِ رَاقِدٌ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ قَدْ سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ شِقِّهِ فَأَصَابَهُ تُرَابٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُهُ عَنْهُ وَهُوَ يَقُولُ قُمْ أَبَا تُرَابٍ قُمْ أَبَا تُرَاب</p>
<p style="text-align: center;">Dari Sahl bin Sa’d berkata : “Nama yang paling dicintai Ali bin Abi Tholib  adalah Abu Turob (Bapak tanah) dan dia sangat senang kalau dipanggil dengan nama itu. Karena suatu ketika Rosululloh datang ke rumah Fathimah namun beliau tidak menemukan Ali dirumah, lalu  Rosululloh bertaya : “Dimana sepupumu (Ali) ? Fathimah menjawab : “Kami sedang ada masalah, lalu dia marah kepadaku, kemudian dia keluar dan tidak tidur siang dirumah.” Maka Rosululloh berkata pada seseorang : “Carilah, dimana dia ? Maka orang itupun datang seraya berkata : “Wahai Rosululloh , Ali tidur di masjid.” Maka Rosululloh pun datang dan saat itu baju beliau terjatuh ketanah, maka beliau pun kena tanah, maka Rosululloh mengusapnya dan mengatakan : “Bangun wahai Abu Turob, bangun wahai Abu Turob.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6280, Muslim : 2409)</p>
</blockquote>
<p>Ini cuma dua kasus dari sekian banyak yang ada, yang terjadi pada zaman yang mulia  dan dilakoni oleh orang-orang mulia, <strong>apakah engkau bisa mengambil pelajaran darinya</strong>?</p>
<p>.</p>
<p><strong>C. BELUM TENTU ITU KEWAJIBAN MEREKA</strong></p>
<p>Masak, nyapu rumah, cuci piring, cuci ompol anak  sudah menjadi kelaziman umum bahwa itu tugas istri, saya tidak hendak membahas masalah ini, karena ada tempatnya tersendiri insya Alloh, yang disitu insya Alloh anda akan mengetahui bahwa para ulama’ berselisih tajam  apakah semua itu tugas istri ataukah suami, namun anggaplah kita ambil pendapat yang mengatakan bahwa itu semua adalah<img class="alignright size-full wp-image-342" title="Saya mencintaimu karena الله" src="http://abiubaidah.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-2.jpg" alt="Saya mencintaimu karena الله" width="99" height="127" /> tugas istri dirumah, namun apakah dengan begitu maka berarti seorang <strong>suami lepas tangan  seraya berkata</strong> :</p>
<blockquote><p>“Itukan tugas dan tanggung jawabmu, tugasmu adalah tugasmu dan tugasku adalah tugasku.” kemudia dengan alasan semacam itu, maka selama suami berada dirumah sepulang kerja atau hari libur maka seakan-akan itu adalah waktu istirahat total yang tidak boleh diganggu ?</p></blockquote>
<p><strong>Wallohi, tidak wahai saudaraku</strong> !!! Lihatlah panutan kita Rosululloh, orang yang sangat sibuk ngurusi dakwah sekaligus <em>ngurusi</em> ummat , bagaimanakah beliau dalam rumahnya ?</p>
<p>Aisyah menceritakan kepada kita apa yang beliau kerjakan :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ibrohim bin Aswad berkatanya kepada Aisyah : “Apakah yang dikerjakan oleh Rosululloh saat bersama keluarganya ? Aisyah menjawab : “<strong>Beliau mengerjakan pekerjaan keluarganya</strong>, lalu apabila tiba waktu sholat beliau keluar rumah untuk sholat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6039)</p>
</blockquote>
<p><em>Bukankah Rosululloh juga  pernah menjahit bajunya sendiri &#8230;?<br />
Bukankah para sahabat Rosululloh juga melakukan hal yang sama &#8230; ?</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<ul>
<li>Akhil Aziz, mengaji, ta’lim, kerja kantor dan lainnya adalah sebuah kewajiban, namun <strong><em>ngurusi</em> keluarga juga sebuah kewajiban</strong>, orang yang bijak adalah orang yang bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.</li>
</ul>
<p>Lihatlah hadits Handlolah berikut ini :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ قَالَ وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَاكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ *</p>
<p style="text-align: center;">Dari<strong> Handlolah Al Usayyidi</strong> (beliau adalah salah satu penulis wahyu Rosululloh ) berkata : “Abu Bakr bertemu denganku lalu berkata: “Bagaimana khabarmu wahai Handlolah?</p>
<p>Saya menjawab : “Handlolah telah munafiq.”</p>
<p>Berkata Abu Bakr : “Subhanalloh, apa yang barusan engkau katakan tadi?.”</p>
<p>Saya menjawab : “Kalau kita sedang bersama Rosululloh, lalu beliau mengingatkan kita akan neraka dan surga seakan-akan kita melihatnya secara langsung, namun apabila kita pulang kita tersibukan dengan istri, anak dan pekerjaan, maka banyak yang kita lupakan.”</p>
<p>Maka Abu Bakr berkata : “Wallohi, saya pun demikian.”</p>
<p>Maka saya dan Abu Bakr datang menemui Rosululloh , lalu saya berkata : “Wahai Rosululloh , Handlolah telah munafiq ? Rosululloh bertanya : “Emangnya kenapa ?”</p>
<p>Saya jawab : “Wahai Rosululloh, Kalau kami sedang bersamamu , engkau ingatkan kami akan neraka dan surga maka seakan–akan kami melihatnya secara langsung, namun apabila kita pulang lalu kami tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan maka kami banyak lupa.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda :</p>
<p>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan Nya, seandainya kalian tetap seperti saat kalian bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian saat ditempat tidur maupun di jalanan. Akan tetapi wahai Handlolah, sekali tempo, sekali tempo (tiga kali).”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim  2750)</p>
</blockquote>
<p>Kalau beribadah terus menerus, puasa terus menerus, sholat terus menerus dengan meninggalkan keluarganya saja dilarang oleh Rosululloh, lalu bagaimana dengan lainnya ?</p>
<p><strong>Ummul mu&#8217;minin Aisyah</strong> menceritakan kepada kita tentang <strong>kisah</strong> antara <strong>Utsman bin Madh’un dengan istrinya</strong>, beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Datang kepadaku<strong> Khuwailah  binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin Al Auqoshi as Sulmiyah</strong>, dan dia itu adalah <strong>istrinya Utsman bin Madh’un</strong>, lalu Rosululloh melihat <strong>lusuhnya penampilah</strong> Khuwailah. Maka beliau bertaya : “Wahai Aisyah, alangkah lusuhnya penampilan Khuwailah.”</p>
<p>Maka saya menjawab : “Wahai Rosululloh , dia itu <strong>bagaikan seorang wanita tak bersuami</strong>, karena suaminya selalu berpuasa pada waktu siang dan selalu sholat pada waktu malam, maka dia itu seakan-akan tidak punya suami. Oleh karena itu dia biarkan dirinya dan tidak diurus.”</p>
<p>Maka Rosululloh mengirim utusan memangil Utsman bin Madh’un. Dia pun datang.</p>
<p>Maka, Rosululloh bertanya: “Wahai Utsman , <strong>apakah engkau membenci sunnahku</strong>?</p>
<p>Dia mejawab : Demi Alloh, tidak wahai Rosululloh, bahkan sunnahhmu lah yang saya cari.”</p>
<p>Maka, Rosululloh bersabda : “Namun saya tidur dan sholat, puasa dan berbuka. <strong>Saya juga menikah dengan wanita</strong>. Takutlah engkau kepada Alloh wahai Utsman, karena <strong>keluargamu mempunyai hak yang harus engkau penuhi</strong>, tamumu pun mempunyai hak yang harus engkau penuhi dan dirimu juga mempnyai hak yang harus engkau tunaikan, maka puasa dan berbukalah, sholat dan tidurlah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad : 26839 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p><strong>D. HARGAI DAN JANGAN CARI-CARI KESALAHAN!</strong></p>
<p>Saat Rosululloh pulang dari masjid, lalu datang ke rumah Aisyah dan bertanya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Wahai Aisyah, apakah ada makanan ? Maka, Aisyah menjawab :“Tidak ada makanan apa-apa wahai Rosululloh, maka Rosululloh bersabda : &#8220;Kalau begitu saya puasa.” (HR. Muslim : 1451)</p>
</blockquote>
<p>Terkadang banyak <strong>masalah kecil yang bisa memicu permasalahan suami istri</strong>. Makanan misalnya, mungkin seorang <strong>istri sudah capek-capek masak sambil momong anak</strong>, namun tatkala suami datang dan mencicipi makanan, lalu<strong> dengan enteng dia mengatakan</strong>,</p>
<blockquote><p>&#8220;Masakannya <em>nggak</em> enak&#8221;,</p>
<p>&#8221; Masak masak sayur  rasanya begini&#8221;,</p>
<p>atau kata yang senada&#8230;</p>
<ul>
<li><strong>Tentu akan sangat menyakitkan.</strong></li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>Kenapakah kita tidak berusaha meniru jejak Rosululloh?</strong></p>
<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ *</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah  bahwasannya Rosululloh minta lauk pada keluarganya, namun mereka mengatakan : “Kita tidak punya apa-apa kecuali cuka.” Maka Rosululloh pun tetap memintanya dan beliau makan dengannya, seraya berkata : “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.”</p>
<p>(HR. Muslim : 2052)</p>
<p>Apakah benar bahwa cuka adalah sebaik-baik lauk? Tentu semua orang mengatakan tidak, karena daging, keju dan lainya jauh lebih baik, <strong>namun kenapa Rosululloh mengatakan hal itu pada istrinya</strong>?</p>
<p>Di antara yang bisa ditangkap adalah untuk <strong>menyenangkan</strong> , <strong>menghargai</strong> dan <strong>tidak melukai hatinya</strong>, bukankah beliau yang mengajarkan untuk tidak mencela makanan?</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ *</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata :</p>
<p style="text-align: center;">“Rosululloh sama sekali tidak pernah mencela makanan, jika beliau senang maka beliau makan, namun jika tidak maka beliau tinggalkan.” (HR. Bukhori :5409 , Muslim : 2046)</p>
</blockquote>
<p>Rosululloh juga mengajarkan kepada kita kalau pulang dari perjalanan agar jangan <strong>pulang mendadak tapi harus terlebih dahulu memberitahukan akan kedatangannya</strong>.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah berkata :</p>
<p>“Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila salah seorang diantara kalian pergi lama, maka janganlah dia pulang mendadak pada waktu malam.”</p>
<p>(HR. Bukhori : 5244)</p>
<ul>
<li>Ada apakah gerangan (maksud hadits di atas -ed)? Jawabnya, supaya tidak membuka jalan bagi suami untuk mencari-cari kesalahan si istri, atau mungkin agar suami tidak melihat istrinya dalam keadaan yang tidak menyenangkan.</li>
</ul>
<p>.</p>
<p><strong>E. DALAM KISAH MEREKA TERDAPAT SEBUAH PELAJARAN</strong></p>
<ul>
<li><strong><img class="alignleft size-full wp-image-343" title="Ya Allah mudahkanlah..." src="http://abiubaidah.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-3.jpg" alt="Ya Allah mudahkanlah..." width="95" height="125" />Syaikh Mahmud Mahdi al Istanbuli</strong> dalam <strong><em>Tuhfatus Arus</em></strong> menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik</li>
</ul>
<blockquote><p>Ada seorang laki-laki yang datang keada Amirul Mu’minin Umar bin Khothob dan berkata : “<strong>Saya sudah tidak lagi mencintai istriku</strong>&#8220;.</p>
<p>Maka, Umar berkata : “Sesungguhnya sebuah rumah tangga itu <strong>tidak cukup dibangun berdasarkan cinta saja</strong>.”</p>
<p>Engkau benar wahai Amirul Mu’minin, memang tidak selamanya dengan cinta, namun ada <strong>pengorbanan</strong>, terdapat <strong>pengabdian</strong> serta ditemukan <strong>perjuangan</strong>.</p></blockquote>
<ul>
<li> <strong>Imam Ibnul Jauzi</strong> dalam <em><strong>Shoidul Khothir</strong></em> menyebutkan sebuah judul yang unik dan menarik : “Bagaimana engkau bersikap pada istri yang tidak engkau cintai.” Ada banyak kisah yang beliau ceritakan , namun saya petik beberapa diantaranya :</li>
</ul>
<blockquote><p>Ada seseorang yang bertanya kepada <strong>Abu Utsman An Naisaburi</strong> : “Apakah amal perbuatanmu yang paling engkau harapkan pahalanya? Dia menjawab : “Dahulu saat saya masih remaja, keluargaku sangat bersemangat menikahkanku namun saya menolak, kemudian datanglah kepadaku seorang wanita dan berkata, “Wahai Abu Utsman , saya mencintaimu, dan saya mohon atas nama Alloh agar engkau menikahiku.</p>
<p>Berkata Abu Utsman, “Lalu sayapun mendatangi bapaknya, ternyata dia itu orang fakir, lalu dia menikahkan aku dan dia sangat gembira. Lalu saat istriku masuk menemuiku ternyata dia itu <strong>WANITA YANG &#8220;SANGAT JELEK&#8221;</strong> namun cara pergaulannya kepadaku membuatku tidak bisa keluar. Maka, saya pun tetap berada di tempat dan<strong> saya tidak menampakkan kebencian</strong> padanya, meskipun sebenarnya <strong>hatiku seperti berada di atas tungku api</strong> karena memendam kebencian padanya. Saya tetap melakukan itu semua selama lima belas tahun sehingga dia meninggal dunia. Oleh karena itu, tidak ada amal perbuatan yang paling saya harapkan pahalanya melainkan <strong>saat aku menjaga perasaan hatinya</strong>.”</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>F. AKHIR KALAM</strong></p>
<p>Tiada kata yang paling pantas untuk ku tutup nasehat ini kecuali sabda Rosululloh :</p>
<p>أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنسائكم</p>
<p>“Orang mu’min yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan <strong>orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya</strong>.”</p>
<p>(HR. Ahmad 2/472 dari Abu Huroiroh dengan sanad shohih)</p>
<p><em>Wallohul Muwaffiq Wallohu A’lam</em></p>
<p>.</p>
<p>www.ahmadsabiq.com<em> </em></p>
<p><em>(Web ini belum diaktifkan)<br />
</em></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_420555141" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/" data-text="Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?" data-desc="Untukmu Wahai Para Suami disusun oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf . I. PENGANTAR Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan" data-image="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/uhibbuka-fillah-1.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_420555141&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fwahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Suami]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat Untuk Para Istri Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf A. PENGANTAR Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya. Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang para [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_1396351855" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/" data-text="Juga Untukmu Wahai Para Istri..." data-desc="Nasehat Untuk Para Istri Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf A. PENGANTAR Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya. Kisah" data-image="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/risalah-hub.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1396351855&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fjuga-untukmu-wahai-para-istri%2F&halign=center&fblikeverb=like&fblikeref=linksalpha&fblikefont=arial&v=1&twitterw=110&facebookw=90&googleplus=1&facebook=1&twitter=1&linkedin=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Cfacebook%2Ctwitter%2Clinkedin&gpluslang=en-US&twitterlang=en&xinglang=de&fblikelang=en_US&googleplusctr=1&facebookctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1"></script><p style="text-align: center;"><strong>Nasehat Untuk Para Istri<br />
</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-708" title="nasihati lin-nisa" src="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/risalah-hub.jpg" alt="nasihati lin-nisa" width="135" height="101" /></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.facebook.com/pages/Ahmad-Sabiq-bin-Abdul-Lathif-Abu-Yusuf/208606579464?ref=mf" rel="nofollow"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ff6600;"><strong>A. PENGANTAR</strong></span></p>
<p>Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya.</p>
<p>Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang para ibu-ibu yang memakan daging suami mereka sendiri dalam suasana obrolan mereka dengan lainnya tidak mesti hanya kesalahan suami mereka, bahkan sangat mungkin si suami sudah berbuat yang benar namun si istri lah yang tidak pernah mengerti dan memahami.</p>
<p>Maka pada edisi ini saya tujukan untaian nasehat ini kepada para istri, semoga semuanya bisa menjalankan apa seharusnya dia kerjakan, sehingga yang lainnya akan mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan.</p>
<p><em>Wallohul Muwaffiq</em></p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>B. TERIMA KODRATMU DAN PAHAMILAH POSISIMU</strong></span></p>
<p>Semoga Alloh merohmati orang yang bisa menempatkan dirinya pada tempatnya yang tepat, saat sebagai suami dia mengetahui bahwa dia adalah seorang suami yang wajib mempergauli istrinya dengan baik, demikian juga tatkala dia sebagai istri, dia mengetahui hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya yang besar dengan benar.</p>
<p>Sangat <strong>miris hati ini</strong> tatkala ada sebagian istri yang mengatakan :</p>
<blockquote><p>“Enak ya jadi suami, setiap hari keluar rumah, bisa berganti-ganti suasana, berbeda dengan istri yang setiap hari di rumah dan hanya berkutat dengan dapur dan anak.”</p>
<p>Atau kalimat yang senada</p></blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;">Ketauhilah wahai ukhtil muslimah !!!</span></p>
<p>Alloh Ta’ala dan Rosululloh telah menempatkanmu pada posisi yang mulia. Perhatikanlah hadits berikut ini :<span id="more-6"></span></p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila seorang <strong>wanita</strong> sholat lima waktu, puasa bulan Romadhon, menjaga farjinya, mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : <strong>Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja engkau kehendaki</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 1664 dengan sanad hasan. Lihat adabuz Zafaf oleh Syaikh Al Albani hal : 286)</p>
<p>Jalan menuju surga, tempat yang penuh dengan ketenangan dan keindahan nan kekal dan abadi telah dibentangkan dihadapanmu, yang salah satu jalanya adalah taat pada suami</p>
<p>Sadarilah olehmu bahwa dimanapun Alloh dan Rosululloh menyebutkan tentang dirimu pasti menyebutkan tentang ketaatan kepada suami. Terlalu banyak ayat dan hadts yang membicarakan tentang ini dan saya kira engkau sudah megetahuinya.</p>
<p>Maka sadarlah, bahwa engkau adalah seorang istri&#8230;.</p>
<p>Sekali lagi engkau adalah seorang istri yang seharusnya selalu taat kepada suamimu selagi dia tidak memerintahkan kepada kemaksiatan&#8230;.</p>
<p>.<span style="color: #ff6600;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>C. PAHAMILAH SUAMIMU</strong></span></p>
<ul>
<li>Seorang suami telah dikodratkan oleh Alloh untuk menjadi kepala keluarga, dialah yang diberi kewajiban oleh Alloh dan Rosul Nya untuk memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Yang mana hal ini berkonsekwensi wajib bagi dia untuk mencari pekerjaan, yang terkadang pada zaman seperti sekarang ini tidak semua orang mendapatkan usaha yang sesuai dengan bidangnya. Betapa banyak sarjana yang pekerjaanya di luar keahliannya, apalagi lainnya !!!</li>
</ul>
<ul>
<li>Sulitnya mencari pekerjaan dan capeknya bekerja diluar rumah bagi sang suami <strong>akan terasa ringan kalau didukung secara moril oleh si istri</strong>, beban dia akan menjadi sedikit ringan secara psikologis kalau istrinya ikut mendukung dan senang dengan apa yang dia kerjakan sekarang.</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun kalau kebalikannya? Cobaah bayangkan, kalau suami sudah capek-capek cari pekerjaan, sudah sangat lelah diluar rumah tiba-tiba sampai rumah ditumpuki lagi dengan sikap istrinya yang sangat tidak mengenakkan.</li>
</ul>
<p><strong>Wahai saudariku ….</strong></p>
<blockquote><p>Yang harus engkau perhatikan juga, bahwa sebuah pernikahan adalah mengumpulkan dua insan yang berbeda, berbeda dalam jenis kelaminnya, berbeda dalam karakter dasarnya, berbeda dalam latar belakang keluarganya, berbeda dalam latar belakang lingkungan dan pendidikannya, berbeda dalam unsur-unsur yang mempengaruhi jiwa dan pikirannya, dan mungkin berbeda dalam cara pandang dan cita-citanya serta perbedaan-perbedaan lainnya.</p></blockquote>
<p>Akan sangat<strong> mustahi</strong> kalau ditemukan sepasang <strong>suami istri</strong> yang <strong>benar-benar sama dalam segala sesuatu</strong>.</p>
<ul>
<li>Siapakah contoh keluarga yang benar-benar kita jadikan panutan ? bukankah keluarganya <strong>Rosululloh</strong>? Meskipun begitu, <strong>apakah selamat dari berbagai macam perbedaan semacam ini</strong> ? Tidak wahai saudariku.</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang bisa dilakukan adalah saling memamami dan menghargai, wahai suami pahamilah istrimu dan wahai istri pahamilah suamimu.</p>
</blockquote>
<p>Saat si suami harus keluar malam, saat dia harus meningalkan rumah barang satu mingu atau dua minggu untuk sebuah  keperluan yang bermanfaat, maka sadarilah kalau memang itu adalah tugas dan kewajibannya yang butuh dukungan dan kerelaan darimu</p>
<p>Bukankah Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Sebaik-baik wanita adalah  yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, mentaatimu saat engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Thobroni dengan sanad shohih, Lihat Shohihul Jami’ : 3299)</p>
</blockquote>
<blockquote><p>Begitu pula sebaliknya, saat si istri harus <em>ngambek</em>, karena ada sesuatu yang membuatnya tidak senang, maka wahai suami sadarilah bahwa itu adalah <strong>pembawaan fithroh  wanita</strong> yang tercipta dari <strong>tulang rusuk yang bengkok</strong>, yang kalau engkau <strong>sikapi</strong> dengan <strong>keras</strong> saat itu maka segera <strong>akan patah dan rusak</strong>.</p></blockquote>
<p>Jangan pernah berpikir bahwa salah satu dari suami maupun istri berfikir bahwa yang lainnya harus sama persis dengannya <em>kayak</em> kertas foto copi, karena kalau itu yang engkau inginkan, maka bukannya akan membuatmu senang namun akan semakin sensitif dengan segala perbedaan.</p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>D. TEGANYA KAU MAKAN DAGING SUAMIMU SENDIRI</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Suatu ketika Rosululloh berjalan-jalan bersama  Ummul Mu’minin Aisyah, Lalu Aisyah mengatakan : “Cukuplah bagimu bahwa Shofiyah itu begini dan begitu (maksudnya bahwa dia itu pendek).”</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Engkau barusan mengucapkan sebuah kalimat, seandainya dicelupkan ke lautan pasti akan berubah warnanya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Perhatikanlah ucapan <strong>ghibah</strong> yang &#8220;<strong>tidak seberapa</strong>&#8221; ini yang dikatakan oleh Aisyah, wanita yang <strong>paling dicintai</strong> oleh Rosululloh. Namun, beliau <strong>tetap</strong> mengatakan sebagaimana di atas. Lalu, bagaimana kalau seandainya yang melakukan hal ini adalah seorang <strong>istri untuk membongkar aib suaminya sendiri</strong>?</p>
<p>Kalau seandainya engkau membongkar aib suamimu untuk mencari sebuah solusi, dengan cara menyampaikannya kepada seseorang yang diperkirakan dapat membantunya menasehati si suami, atau menahan kedlolimannya kalau memang dia begitu, maka itu adalah sesuatu yang sangat baik, sebagaimana pernah dilakukan oleh <strong>Hindun Binti Utbah</strong>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p style="text-align: left;">Dari Aisyah bahwasannya Hindun Binti Utbah berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang sangat kikir, dia tidak memberikan kepadaku nafkah yang cukup bagiku dan bagi anakku kecuali kalau saya mengambilnya tanpa sepengetahuan dirinya.”</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Ambillah yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5346, Muslim : 1714)</p>
</blockquote>
<p>Alloh Ta’ala menggambarkan bahwa orang yang <strong>mengghibah</strong> orang lain adalah seperti <strong>memakan daging bangkainya</strong>, perhatikanlah firman Aloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ</p>
<p style="text-align: center;">Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian diantara kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentunya kamu merasa jijik dengannya. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Hujurot : )</p>
</blockquote>
<p>Kalau memang begitu  tegakah engkau memakan daging bangkai seseorang yang banyak berbuat kebaikan kepadamu ???</p>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>D. SUNGGUH! HAKNYA ATAS DIRIMU SANGATLAH BESAR&#8230;</strong></span></p>
<p>Bagi yang sedikit saja mengetahui ayat-ayat Alloh dan Sunnah Rosululloh tentang hubungan suami istri, niscaya akan mengetahui bahwa hak suami atas istrinya sangatlah besar. Saya sebutkan beberapa diantaranya sebagai sebuah nasehat dan peringatan bagi semuanya karena memang agama ini adalah sebuah nasehat sebagai sabda Rosululloh kita.</p>
<p>Alloh juga berfirman :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Berilah peringatan, karena sebuah peringatan itu akan bermanfaat bagi insan yang beriman.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Adz Dzariyat : 55)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Di antara hak suamimu yang seharusnya engkau tunaikan adalah :</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1</strong>. <strong>Jagalah kehormatan dan harga dirinya, juga urusilah anak-anak, rumah dan hartanya</strong></span></p>
<p>Perhatikanlah firman Alloh :</p>
<p style="text-align: center;">فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ</p>
<p style="text-align: center;">“Wanita yang sholihat adalah yang taat kepada Alloh lagi <strong>memelihara diri ketika suaminya tidak ada</strong> karena Alloh telah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)</p>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Seorang wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan bertangung jawab atas kepemimpinannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2. Berpenampilanlah yang menyenangkan dihadapannya, senyumlah jangan masam muka, bersikap manislah dan jangan menyebalkan</strong></span></p>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Sebaik-baik wanita adalah  yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, mentaatimu saat engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.”</p>
<p>(HR. Thobroni dengan sanad shohih, Lihat Shohihul Jami’ : 3299)</p></blockquote>
<p>Berkata <strong>Syaikh Abdul Adhim al Badawi</strong> :</p>
<blockquote><p>“Sesuatu yang sangat mengherankan kalau seorang istri tidak memperhatikan penampilannya dihadapan suaiminya, namun kalau mau keluar dia sangat perhatian dengan penampilannya, sehingga benarlah kalau ada yang mengatakan : “Kera kalau dirumah namun kijang kalau dijalanan <a href="#_ftn1">1</a>.” , Wahai hamba wanita Alloh, takutlah kalian kepada Alloh daam hak suamimu atas dirimu.”</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3. Jangan izinkan masuk rumahmu seseorang yang dibenci suamimu</strong></span></p>
<p>Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote><p>“Hak kalian (para suami) atas para  istri adalah tidak mengizinkan masuk rumah kalian orang-orang yang kalian benci.”</p>
<p>(Potongan khutbah haji wada’ Rosululloh yang panjang)</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4. Jangan bilang kepada siapapun tentang sesuatu yang menjadi rahasia kalian berdua, terutama yang berhubungan dengan urusan ranjang.</strong></span></p>
<p>Perhatikanlah riwayat hadits berikut :</p>
<p>Dari <strong>Asma’ binti Yazid</strong> berkata :</p>
<blockquote><p>“Banyak laki-laki dan wanita yang duduk-duduk bersama Rosululloh, lalu Rosululloh bersabda : &#8220;Barangkali ada seorang laki—laki yang menceritakan sesuatu yang dia lakukan dengan istrinya, begitu juga istri barangkali ada yang menceritakan apa yang dia lakukan dengan suminya.”</p>
<p>Saya berkata : “Wahai Rosululloh, demi Alloh, baik suami maupun istri banyak yang melakukannya.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Janganah kalian lakukan, permisalan orang semacam itu adalah <strong>semacam setan yang bertemu dengan setan wanita dijalan lalu berhubungan badan padahal orang-orang melihatnya</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 16/223 dengan sanad shohih, lihat adabuz zafaf hal : 72)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>5. Berusahalah untuk menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, jangan sampai engkau minta cerai tanpa sebuah sebab syar’i.</strong></span></p>
<ul>
<li>Dari Tsauban berkata : &#8220;Rosululloh bersabda :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“<strong>Wanita</strong> manapun yang <strong>minta cerai</strong> pada suaminya tanpa sebab, maka <strong>haram</strong> baginya mencium bau <strong>surga</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. HR. Tirmidzi 1199, Abu Dawud : 2209 dengan sanad shohih, lihat Al Irwa’ : 2035)</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Rosululloh juga bersabda :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Wanita yang mengajukan <strong>khulu’ (Menggugat cerai)</strong> adalah para <strong>wanita munafik.</strong>”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Tirmidzi : 1198, Ash Shohihah : 632)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #ff0000;">Wahai wanita muslimah…!!!</span></p>
<p>Inilah hak-hak suamimu atas dirimu, berusahalah untuk menjalankannya, maafkanlah semua kekurangan suamimu, hargailah segala kelebihannya dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan untukmu. Insya Alloh bahtera rumah tanggamu akan berlayar dengan tenang bersama hembusan sepoi-sepoinya angin laut.</p>
<p><span style="color: #ff0000;">Wahai para ibu…!!!</span></p>
<p>Ajarkanlah kepada putri-putri kalian tentang hak dan kewajibannya atas suaminya kalau dia menikah kelak. Inilah sunnahnya para wanita salafush sholih sebagaimana yang dilakukan oleh Umamah binti Harits terhadap otrinya menjelang pernikahanya.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Al Wajiz oleh Syaikh Abdul Adlim Al Badawi hal : 30 dan seterusnya)</p>
<p><span style="color: #ff6600;">.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>E. CUKUPLAH BAGIMU GAMBARAN INI</strong></span></p>
<p>Sebagai kalimat penutup, renungkanlah beberaa kejadian pada zaman Rosululloh ini, semoga Alloh menunjukkan kita &#8216;tuk meniti jalan yang diridloi Nya :</p>
<blockquote><p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ  *</p>
<p>Dari Abdulloh bin Abi Aufa berkata :</p>
<p>“Tatkala Mu’adz bin Jabal datang dari Syam maka dia bersujud kepada Rosululloh.</p>
<p>Lalu Rosululloh bersabda : &#8220;Apa yang barusan engkau lakukan ini wahai Mu’adz ?.</p>
<p>” Mu’adz menjawab : “Saya datang ke negeri Syam dan saya lihat penduduknya sujud kepada pendeta  tokoh mereka, maka saya kepingin untuk melakukan hal itu terhadapmu.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : &#8220;<span style="color: #0000ff;">Jangan lakukan itu, seandainya saya memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Alloh pasti saya perintahkan wanita untuk sujud pada suaminya, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan Nya, seorang wanita tidak mungkin menunaikan hak Tuhannya selagi tidak mengerjakan hak suaminya, seandainya suaminya memintanya padahal saat itu sedang berada di dapur maka janganlah menolaknya</span>.”</p>
<p style="text-align: center;">(Ibnu Majah 1853, dan Ahmad dengan lafadz yang mirip 23950 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">عَنْ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَهْلُ بَيْتٍ مِنَ الْأَنْصَارِ لَهُمْ جَمَلٌ يَسْنُونَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْجَمَلَ اسْتُصْعِبَ عَلَيْهِمْ فَمَنَعَهُمْ ظَهْرَهُ وَإِنَّ الْأَنْصَارَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا إِنَّهُ كَانَ لَنَا جَمَلٌ نُسْنِي عَلَيْهِ وَإِنَّهُ اسْتُصْعِبَ عَلَيْنَا وَمَنَعَنَا ظَهْرَهُ وَقَدْ عَطِشَ الزَّرْعُ وَالنَّخْلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ قُومُوا فَقَامُوا فَدَخَلَ الْحَائِطَ وَالْجَمَلُ فِي نَاحِيَةٍ فَمَشَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ فَقَالَتِ الْأَنْصَارُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّهُ قَدْ صَارَ مِثْلَ الْكَلْبِ الْكَلِبِ وَإِنَّا نَخَافُ عَلَيْكَ صَوْلَتَهُ فَقَالَ لَيْسَ عَلَيَّ مِنْهُ بَأْسٌ فَلَمَّا نَظَرَ الْجَمَلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ نَحْوَهُ حَتَّى خَرَّ سَاجِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَاصِيَتِهِ أَذَلَّ مَا كَانَتْ قَطُّ حَتَّى أَدْخَلَهُ فِي الْعَمَلِ فَقَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ بَهِيمَةٌ لَا تَعْقِلُ تَسْجُدُ لَكَ وَنَحْنُ نَعْقِلُ فَنَحْنُ أَحَقُّ أَنْ نَسْجُدَ لَكَ فَقَالَ لَا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ قُرْحَةً تَنْبَجِسُ بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ</p>
<p style="text-align: left;">Dari Anas bin Malik berkata : “Para keluarga dari kalangan sahabat anshor mempunyai unta untuk mengairi sawah mereka. Namun, ada seekor unta yang tidak mau di tungangi. Lalu, mereka datang kepada Rosululloh seraya berkata: “Kami mempunyai unta untu mengairi sawah namun sekarang tidak mau ditunggani padahal tanaman sudah waktunya diairi.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Maka, Rosululloh bersabda kepada para sahabatnya: “Bangunlah!”</p>
<p style="text-align: left;">Akhirnya, mereka pun bangun lalu beliau masuk kebun , dan saat itu unta tersebut sedang berada di pojok kebun.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu, Rosululloh pun berjalan mendekatinya.</p>
<p style="text-align: left;">Para sahabat anshor berkata: “Wahai Rosululloh, unta itu sekarang sudah mirip dengan <em>aning gola</em>, kami takut anda diserang olehnya.</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Dia tidak akan membahayakanku.”</p>
<p style="text-align: left;">Dan tatkala unta tersebut melihata kedatangan Rosululloh, maka diapun segera berjalan menuju Rosululloh lalu bersujud dihadapannya, maka Rosululloh pun memegang ubun-ubunnya dan unta itupun menjadi sangat jinak untuk bs digunakan bekerja.</p>
<p style="text-align: left;">Demi melihat kejadian itu, para sahabat berkata : “Waai Rosululloh, kalau binatang yang tidak berakal saja bersujud kepadamu, maka kami yang berakal ini lebih pantas untuk bersujud kepadamu ?.”</p>
<p style="text-align: left;">Maka Rosululloh bersabda : &#8220;<span style="color: #0000ff;">Tidak layak bagi seseorang untuk bersujud kepada manusia lainnya, seandainya ada  manusia yang layak untuk bersujud kepada lainnya niscaya saya akan memerintahkan waniat untuk sujud kepada suaminya karena hak suaminya yang sangat besar. Demi Alloh, Dzat yang jiwaku berada ditangan Nya, seandainya seluruh badan si suami itu dari ujung rambut sampai ujung kaki terdapat luka bernanah, lalu si istri itu mendatanginya dan menjilatinya maka dia beum bisa menunaikan hak suaminya<strong>.</strong></span>”</p>
<p style="text-align: center;">(Ahmad 12203 dengan sanad sahih, Liha shohihul Jami’ : 3148)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Adakah yang bisa engkau ambil pelajaran dari hadits berharga ini ???</strong></p>
<p><em>Wallohul A’lam wallohul Muwaffiq</em></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/pages/Ahmad-Sabiq-bin-Abdul-Lathif-Abu-Yusuf/208606579464?ref=mf">www.ahmadsabiq.com</a><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;">(web ini belum diterbitkan)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Kijang dalam konteks bahasa arab adalah seekor binatang yang sering diserupakan dengan wanita yang cantik.</p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1587253264" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/" data-text="Juga Untukmu Wahai Para Istri..." data-desc="Nasehat Untuk Para Istri Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf A. PENGANTAR Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya. Kisah" data-image="http://alashree.wordpress.com/files/2009/10/risalah-hub.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?tag_id=linksalpha_tag_1587253264&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F29%2Fjuga-untukmu-wahai-para-istri%2F&halign=center&v=1&twitterw=55&googleplus=1&twitter=1&linkedin=1&stumbleupon=1&pinterest=1&identica=1&yammer=1&gmail=1&yahoomail=1&hotmail=1&aolmail=1&mailru=1&email=1&print=1&delicious=1&diigo=1&posterous=1&myspace=1&evernote=1&instapaper=1&readitlater=1&msn=1&livejournal=1&sonico=1&netlog=1&hyves=1&xing=1&vkontakte=1&weibo=1&button=googleplus%2Ctwitter%2Clinkedin%2Cstumbleupon%2Cpinterest&gpluslang=en-US&fbsendlang=en_US&twitterlang=en&xinglang=de"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

