<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Dunia Wanita</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/category/wanita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Wanita Karir: Sadarlah!</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 15:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Pemandangan yang kita lihat pada pagi hari, para wanita dengan pakaian rapi pergi menenteng tas untuk menuju ke tempat kerja mereka masing-masing, sudah tidak asing lagi di segenap penjuru negri ini. “Wanita karier” itulah istilah yang mereka sandang. Kayaknya hal ini adalah sesuatu yang sangat lazim dan wajar sehingga tidak perlu dibahas dan dipermasalahkan, namun [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_457884024" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/" data-text="Wanita Karir: Sadarlah!" data-desc="Pemandangan yang kita lihat pada pagi hari, para wanita dengan pakaian rapi pergi menenteng tas untuk menuju ke tempat kerja mereka masing-masing, sudah tidak asing lagi di segenap penjuru negri ini. “Wanita karier” itulah istilah yang mereka sandang. Kayaknya hal ini adalah sesuatu yang sangat lazim dan wajar sehingga tidak perlu dibahas dan dipermasalahkan, namun betapa banyak sebuah kewajaran ini hanya jalaran songko kulino (jawa: karena itulah kebiasaan yang ada). Padahal banyak sesuatu " data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/Ø¹ÙÙ-Ø§ÙÙØ³Ø§Ø¡.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_457884024&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F30%2Fwanita-karir%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p><img class="alignleft size-full wp-image-124" title="عمل النساء" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/عمل-النساء.jpg" alt="عمل النساء" width="130" height="94" />Pemandangan yang kita lihat pada pagi hari, para wanita dengan pakaian rapi pergi menenteng tas untuk menuju ke tempat kerja mereka masing-masing, sudah tidak asing lagi di segenap penjuru negri ini. <em><strong>“Wanita karier”</strong></em> itulah istilah yang mereka sandang. Kayaknya hal ini adalah sesuatu yang sangat lazim dan wajar sehingga tidak perlu dibahas dan dipermasalahkan, namun betapa banyak sebuah kewajaran ini hanya <strong><em>jalaran songko kulino</em></strong> (jawa: karena itulah kebiasaan yang ada). Padahal banyak sesuatu yang dianggap biasa oleh masyarakat sebenarnya adalah sesuatu yang jelas-jelas diharamkan. Ambil misal <strong>membuka rambut bagi wanita di luar rumah</strong> di sebagian daerah adalah sesuatu yang sangat wajar, padahal juga <strong>sangat  jelas haramnya</strong>. Benarlah Alloh Ta’ala tatkala berfirman (yang artinya):<span id="more-123"></span></p>
<p style="text-align: center;">“Jika engkau mengikuti <strong>kebanyakan manusia</strong> di muka bumi, niscaya <strong>mereka</strong> akan <strong>menyesatkanmu</strong> dari jalan Alloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al An’am : 116)</p>
<p>Dari sini saya mengajak segenap wanita mu’minah, yang meyakini Alloh sebagai Tuhannya, Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>n dan As Sunah dengan pemahaman para ulama’ kita. Wallahul Muwaffiq</p>
<p><strong>Rumah istana kaum wanita</strong><br />
Di antara keagungan syariat islam adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang sesuai. Ulama’ diperintah untuk menasehati dan menjawab pertanyaan ummat dengan ilmu, orang awam diperintah untuk bertanya dan belajar, Orang tua disuruh mendidik anaknya dengan baik, anak disuruh berbakti pada keduanya, Suami diwajibkan untuk membimbing istrinya pada jalan kebaikan sedang istri diwajibkan mentaatinya. Dan lain sebagianya. Begitu pula dengan hal dunia laki-laki dan wanita, maka islam menjadikan laki-laki diluar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarganya, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">ولهن عليكم رزقهن و كسوتهن بالمعروف</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan hak para istri atas kalian (suami) agar kalian memberi mereka nafkah  dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim 1218)</p>
<p>disisi lainnya, tempat wanita dijadikan didalam rumah untuk mengurusi anak, mendidiknya, mempersiapkan keperluan suami serta urusan rumah tangga dan lainnya.</p>
<p>Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menggambarkan hal ini dalam sabdanya yang mulia :</p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">والمرأة راعية  في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan wanita adalah pemimpin dirmah suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhori 1/304 Muslim 3/1459)</p>
<p>Ada banyak ayat maupun hadits Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menunjukkan akan hal ini. Namun cukup saya sebutkan beberapa diantaranya, yaitu :</p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<p>“Dan hendaklah kamu tetap dirumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS Al Ahzab : 33)</p>
<p>Juga sabda Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : المرأة عورة , فإذا خرجت استشرفها الشيطان</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dari Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda : “Wanita itu aurot, apabila dia keluar maka akan dibanggakan oleh setan.” (HR. Turmudli 1173 berkata Hasan Shohih ghorib, Ibnu Khuzaimah 3/95, Thobroni dalam Al Kabir 10015)</p>
<p>Menguatkan ini semua perintah Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pada para wanita untuk sholat fardlu dirumah, meskipun dia tinggal dikota Madinah yang mana sholat dimasjid nabawi sama dengan 1000 sholat dimasjid lainnya selain masjidil haram.</p>
<blockquote><p>Dari <strong>Ummu Humaid As Sa’idiyah</strong> <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> sesungguhnya beliau datang kepada Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, lalu berkata : “Wahai Rosululloh, sesunguhnya saya ingin sholat bersamamu.”</p>
<p>Maka beliau menjawab : “Saya tahu bahwasannya kamu ingin sholat bersamaku, akan tetapi <strong>sholatmu di kamar yang khusus bagimu lebih baik  daripada kamu sholat di bagian lain dari rumahmu, dan sholatmu dirumahmu lebih baik daripada kamu sholat  di masid kampungmu, dan sholatmu di masjid kampungmu lebih baik daripada kamu sholat di masjidku ini</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 5/198/1337, Ibnu Khuzaimah 3/95/1689 dengn sanad hasan)</p>
</blockquote>
<p><strong>Wanita Boleh Keluar Rumah</strong></p>
<ul>
<li>Namun hal diatas tidak melazimkan keharaman wanita keluar rumahnya kalau memng ada sebuah keperluan yang harus dikerjakan diluar rumah, meskipun seandainya dia tetap didalam rumahnya maka itulah yang jauh lebih baik.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, ia berkata : “Saudah keluar rumah untuk menunaikan suatu keperluan setelah turunnya ayat  hijab, dan beliau itu adalah seoang wanita yang gemuk, sehinga tidak lagi samar bagi yang pernah mengenalnya, Maka Umar bin Khothob mengetahuinya, lalu diapun berkata : “Wahai Saudah, Demi Alloh engkau tidak lagi samar bagi kami, maka perhatikanlah lagi bagaimana keadaanmu saat engkau keluar.” Maka Saudah pun langsung balik pulang. Saat itu Rosululloh berada dalam rumahku sedang makan malam, dan saat itu beliau sedang memegang makanan, maka Saudah pun masuk lalu berkata : “Wahai Rosululloh, saya keluar untuk menunaikan sebagian keperluanku, namun Umar berkata begini begitu.” Maka Alloh pun mewahyukan kepada beliau, lalu bersabda : “<strong>Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian keluar rumah untuk sebuah keperluan</strong>.” (HR. Bukhori 8/528, Muslim 2170)</li>
</ul>
<p><strong>Apabila Wanita Keluar Rumah</strong></p>
<p>Namun apabila wanita keluar dari rumahnya, wajib baginya untuk beradab sesuai dengan ketentuan syariat islam yang suci, diantaranya :</p>
<p><strong>1.Berpakaian yang syar’I</strong><a href="#_ftn1">1</a></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala  :</p>
<p style="text-align: center;">“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min “Hendaknya mereka menjulurkan pakaiannya keseluruh tubuh mereka” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 59)</p>
<p><strong>2.Tidak memakai parfum</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">عن أبي موسى عن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال   أيما امرأة استعطرت  فمرت على قوم ليجدوا ريحها فهي زانية</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Musa Al Asy’ari dari Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda : “Wanita mana saja yang memakai parfum , lalu lewat pada sebuah kaum untuk dicium baunya maka dia adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad 4/414, Abu Dawud 4173, Turmudzi 2786, Nasa’I 8/153 dengan sanad hasan)</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Dan larangan ini pun tetap berlaku meskipun wanita itu ingin pergi ke masjid untuk mengerjalan sholat berjamaah, lalu bagaimana dengan lainnya ???</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">عن أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم    أيما امرأة أصابت  بخورا فلا تشهد معنا العشاء الآخرة</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata : “Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda : “Wanita mana saja yang memakai minyak wangi, maka jangan ikut sholat isya’ berjamaah bersama kami.” (HR. Muslim 2/85)</p>
</blockquote>
<p><strong>3. Tidak berdandan ala jahiliyah</strong></p>
<p>Firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan hendaklah kamu tetap dirumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS Al Ahzab : 33)</p>
</blockquote>
<p><strong>4.Menundukkan pandangan</strong></p>
<p>Firman Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan katakanlah pada wanita-wanita yang beriman, “hendaklah mereka menahan  dari sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nur : 31)</p>
</blockquote>
<p><strong>5.Berlaku sopan sehingga tidak menimbulkan fitnah, baik dalam gaya jalan, suara atau lainnya.</strong> Perhatikanlah firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Jika kamu (Para wanita) bertaqwa, maka janganlah kamu lembutkan dalam berbicara sehingga berkeinginnan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah ucapan yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 33)</p>
</blockquote>
<p>juga firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan janganlah mereka (Wanita) memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nur : 31)</p>
</blockquote>
<p>Ini semua bukanlah untuk sebuah pengekangan pada kebebasan kaum wanita –sebagaimana yang banyak digemborkan oleh sebagian kalangan- namun ini adalah untuk menjaga kehormatan wanita dari penghinaan  dan pelecehan. Karena mau tidak mau harus diakui bahwa wanita adalah fitnah dunia yang paling besar. Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">عن أسامة رضي الله عنه عن النبي  صلى الله عليه و سلم :قال :  ما تركت بعدي فتنة  هي أضر على الرجال من النساء</h2>
<p style="text-align: center;">“Dari Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dari Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan sepeniggalkku fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melainkan para wanita.” (HR. Bukhori Muslim)</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Wanita Karir dalam Tinjauan Syar&#8217;i</strong></p>
<blockquote><p>Berangkat dari hal diatas bahwa pada dasarnya tugas wanita adalah mengurusi rumah tangga suaminya dan dia harus tetap didalam rumahnya kecuali kalau ada sebuah keperluan untuk keluar, dan apabila keluar rumah harus sesuai dengan ketentuan syar’i baik dalam hal pakaian maupun lainnya,  maka hukum wanita karier bisa dibagi menjadi dua :</p></blockquote>
<p><strong>Kariernya di luar rumah</strong></p>
<blockquote><p>Pada dasarnya hukum <strong>karier wanita di luar rumah</strong> adalah <strong>terlarang</strong>, karena dengan bekerja diluar rumah maka akan ada banyak kewajiban dia yang harus ditinggalkan. Misalnya  melayani keperluan  suami, mengurusi dan mendidik anak serta hal lainnya yang menjadi tugas dan kewajiban seorang istri dan ibu. Padahal semua kewajiban ini sangat melelahkan yang membutuhkan perhatian khusus. Semua kewajiban ini tidak mungkin terpenuhi kecuali kalau seorang wanita tersebut memberi perhatian khusus padanya. (Lihat Al Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah Oleh Syaikh Abdul Karim Zaidan 4/265)</p></blockquote>
<p><strong>Kapan Wanita Berkarir di luar Rumah?</strong></p>
<ul>
<li>Namun kalau memang ada sesuatu yang sangat mendesak untuk berkariernya wanita diluar rumah maka hal ini diperbolehkan. Namun harus difahami bahwa sebuah kebutuhan yang mendesak ini harus ditentukan dengan kadarnya yang sesuai sebagaimana sebuah kaedah fiqhiyah yang masyhur. Dan kebutuhan yang mendesak ini misalnya :</li>
</ul>
<p><strong>1.Rumah tangga memerlukan kebutuhan pokok yang mengharuskan wanita bekerja</strong>,</p>
<ul>
<li>Misalnya karena suaminya atau orang tuanya meninggal dunia atau keluarganya sudah tidak bisa memberi nafkah karena sakit atau lainnya, sedangkan negara tidak memberikan jaminan pada keluarga semacam mereka. Lihatlah kisah yang difirmankan Alloh dalam surat Al Qoshosh 23,24 :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Dan tatkala Musa sampai di sumber air negeri <strong>Madyan</strong>, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan ia menjumpai dibelakang orang yang banyak itu dua orang wanita yang sedang menambat ternaknya.</p>
<p>Musa berkata : “Apa maksud kalian berbuat  demikian ?”</p>
<p>Kedua wanita itu menjawab : “Kami tidak dapat meminumkan ternak kami sebelum penggembala-pengembala itu memulangkan ternaknya, sedang bapak kami adalah orang tua yang telah berumur lanjut, Maka Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya.</p>
<p>Kemudian ia kembali ketempat yang teduh lalu berdo’a : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.</p>
<p>Kemudian datang kepada Musa <strong>salah seorang</strong> dari kedua<strong> wanita itu</strong>,<strong> berjalan dengan penuh rasa malu</strong>, ia berkata : “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu  untuk memberi balasan terhadap kebaikanmu memberi minum ternak kami.”</p></blockquote>
<ul>
<li><strong>Perhatikanlah</strong> perkataan kedua wanita tadi : “<strong>Sedang bapak kami adalah orang tua yang telah berumur lanjut</strong>.” Ini menunjukkan bahwa keduanya melakukan perbuatan tersebut karena <strong>terpaksa</strong>, disebabkan orang tuanya sudah lanjut dan tidak bisa melaksanakan tugas tersebut. (Lihat Tafsir Al Alusi  20/59)</li>
</ul>
<p><strong>2.Tenaga wanita tersebut dibutuhkan oleh masyarakat</strong>, <strong>dan perkerjaan tersebut</strong> <strong>tidak bisa dilakukan oleh laki-laki</strong></p>
<ul>
<li>Hal yang menunjukkan hal ini adalah bahwa di zaman Rosululloh ada para wanita yang bertugas membantu kelahiran, semacam dukun bayi atau bidan pada saat ini. Juga saat itu ada wanita yang mengkhitan anak-anak wanita. Dan yang dhohir bahwa perkerjaan ini mereka lakukan diluar rumah (Lihat Al Mufashol 4/273) Pada zaman ini bisa saya tambahkan yaitu dokter wanita spesialis kandungan, perawat saat bersalin, tenaga pengajar yang khusus mengajar wanita dan yang sejenisnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Diantara pekerjaan wanita yang ada pada zaman Rosululloh adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata : “Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berperang bersama <strong>Ummu Sulaim</strong> dan beberapa wanita anshor, maka mereka memberi minum dan mengobati orang yang terluka.” (HR. Muslim 12/188)</li>
</ul>
<p><strong>Syarat wanita berkarer diluar rumah</strong></p>
<p>Apabila ada keperluan bagi seorang wanita untuk bekerja keluar rumah maka da harus memenuhi beberapa ketentuan syar’I agar kariernya tidak menjadi perkerjaan yang haram. Syarat-syarat itu adaah :</p>
<p><strong>1.Memenuhi adab keluarnya wanita dari rumahnya </strong>baik dalam hal pakaian ataupun lainnya sebagaimana diatas</p>
<p><strong>2.Mendapat izin dari suami atau walinya.</strong></p>
<ul>
<li>Karena suami mempunyai hak terhadap istrinya untuk tidak memperbolehkannya keluar untuk bekerja. Bagaimana tidak, padahal untuk pergi sholat berjamaah ke masjid harus minta izin terlebih dahulu.</li>
</ul>
<p><strong>3.Pekerjaan tersebut tidak ada kholwat dan ikhtilat</strong> (Campur baur) antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote><p>“Dan apabila kalian meminta pada mereka sebuah keperluan, maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al Ahzab : 53)</p></blockquote>
<ul>
<li>Juga  sabda Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم</h2>
<p style="text-align: center;">“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p><strong>4.Tidak menimbulkan fitnah</strong></p>
<ul>
<li>Rosululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">فاتقوا الدنيا و اتقوا النساء فإن أول فتنة بتي إسرائيل كانت في النساء</h2>
<p style="text-align: center;">“Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatiah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 11112 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p><strong>5.Tetap bisa mengerjakan kewajibannya sebagai ibu dan istri bagi keluarganya</strong>,</p>
<ul>
<li>karena itulah kewajibannya yang <strong>asasi</strong>.</li>
</ul>
<blockquote><p>Dari beberapa kreteria di atas, kayaknya sulit kita menemukan karier wanita yang ada saat ini bisa memenuhi ketentuan tesebut kecuali sangat sedikit sekali. Bahkan yang banyak kita saksikan adalah bahwa setiap karier wanita saat ini baik dikantor, pabrik, sales atau lainnya penuh dengan ikhtilat, pakaian yang tidak syar’I dan banyak menimbulkan fitnah. Oleh karena itu, wahai kaum wanita mu’minah, bertaqwalah pada Alloh, takutlah pada adzab Nya yang pedih, janganlah hanya karena beberapa keping uang engkau rela menerjang larangan Alloh dan Rosul Nya. Padahal sebenarnya banyak dari kalangan wanita karier tersebut bukan karena kebutuhan yang mendesak atau karena sebab syar’i lainnya namun mungkin hanya karena mengejar ambisi dunia. (Lihat Al Jami’ Fi Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Al Adawi 4/363)</p></blockquote>
<p><strong>Karier wanita di dalam rumah</strong></p>
<ul>
<li>Adapun kalau karier wanita itu dikerjakan didalam rumahnya sendiri, seperti menjahit atau usaha lainnya yang bisa dikerjakan dirumah, yang akan terbebas dari kholwat, ikhtilat, fitnah dan lainnya, maka hukum asalnya adalah boleh dengan catatan bahwa pekerjaan itu tidak membuatnya melakukan kewajiban asasinya yaitu menunaikan hak suami dan anak-anaknya. (Lihtat Al Mufashol 4/275)</li>
</ul>
<p><strong>Bahaya karier bagi wanita dan masyarakat</strong></p>
<ul>
<li>Semua perkara yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul Nya pasti mengandung hikmah yang sangat agung, begitu pula segala yang dilarang Nya pasti mengandung bahasa yang sangat besar, hanya terkadang banyak orang yang tidak mengetahuinya.</li>
</ul>
<p>Berkata <strong>Imam Abdul Aziz bin Baz</strong> :</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya propaganda untuk terjunnnya wanita dalam lapangan pekerjaan yang menyebabkan banyaknya ikhtilat  baik secara langsung ataupun tidak dengan dalih bahwa ini adalah tuntuan hidup modern adalah sesuatu yang sangat membahayakan yang akan menimbulkan efek yang sangat fatal sekali, disamping bahwa hal ini bertentangan dengan sejumlah nash-nash syar’I yang memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dirumahnya dan mengerjakan pekerjaan khusus baginya..” (Lihat Ats Tsimar Al Yani’ah oeh Syaikh Al Jarulloh hal : 322)</p></blockquote>
<p>Diantara <strong>dampak negatif </strong>itu adalah :</p>
<p><strong>a. Pengaruhnya terhadap harga diri dan kepribadian wanita</strong></p>
<ul>
<li>Banyak perkerjaan saat ini yang apabila diteruni oleh kaum wanita akan mengeluarkanya dari kodrat kewanitaannya, menghilangkan rasa malunya dan mencabutnya dari kefeminimannnya.</li>
</ul>
<p><strong>b. Pengaruhnya pada anak</strong></p>
<ul>
<li>di antara pengaruh negatif bekerjanya wanita diluar rumah bagi anak adalah :</li>
</ul>
<ol>
<li>Anak tidak atau kurang menerima kasih sayang, lembut belaian dari sang ibu, padahal anak sangat membutuhkannya untuk pengembangan kejiwaannya.</li>
<li>Seringnya wanita karier tidak bisa menyusui anaknya secara sempurna, dan ini juga berbahaya bagi si anak</li>
<li>Membiarkan anak dirumah tanpa ada yang mengawasi atau hanya diawasi oleh baby sister akan berakibat buruk.</li>
</ol>
<p><strong>c. Pengaruhnya ada hak suami</strong></p>
<ul>
<li>Seorang istri yang pagi pergi kerja lalu sore pulang, maka sampai rumah ia akan tinggal melepas lelah. Lalu tatkala suaminya pulang dari kerja maka dia tidak akan bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang istri. Jarang atau bahkan tidak ada orang yang mampu memenuhi tugas tersebut sekaligus</li>
</ul>
<p><strong>d. Pengaruhnya pada masyarakat dan perekonomian nasional</strong></p>
<ul>
<li>Masuknya wanita dalam lapangan pekerjaan banyak mengambil bagian laki-laki yang seharusnya bisa mendapatkan pekerjaan, namun terpaksa tidak menemukannya karena sudah diambil alih oleh kaum wanita. Hal ini akan meningkatkan jumlah pengangguran yang akan berakibat pada tindak kriminalitas. (Lihat Fatwa Syaikh bin Baz sebagaimana dalam Ats Tsimat Al Yani;ah hal 322-321, Ekonomi rumah tangga muslim  DR. Husein Syahatah hal 153-163, Mas’uliyatul Mar’ah Al Muslimah hal : 80)</li>
</ul>
<p><strong>Fatwa ulama’ seputar karier wanita</strong></p>
<p><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya</strong> :</p>
<blockquote><p>“Apa pendapat islam tentang wanita yang bekerja dan keluar dengan mengenakan pakaiannya seperti yang kita lihat dijalan-jalan, sekolah dan rumah serta pekerjaan wanita pedesaan dengan suaminya di ladang menurut islam ?</p></blockquote>
<p><strong>Jawab Syaikh</strong> :</p>
<ul>
<li>Tidak diragukan lagi bahwa islam memuliakan wanita, memeliharanya, menjaganya dari manusia yang jahat. Dan menjaga hak-haknya, mengangkat kedudukannya  dan menjadikannya partner laki-laki dalam warisan serta mewajibkan wali untuk minta izinnya dalam pernikahan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Islam juga memberikan hak penuh kepadanya untuk mengurusi hartanya apabila ia berakal. Dan mewajibkan suaminya untuk memberikan hak-haknya yang banyak, mewajibkan kepada bapaknya dan keluarganya untuk memberinya nafkah ketika ia membutuhkan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Islam juga mewajibkannya untuk menutup diri dari pandangan orang lain agar tidak menjadi barang murahan sebagaimana firman Nya :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min “Hendaknya mereka menjulurkan pakaiannya keseluruh tubuh mereka” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS. Al Ahzab : 59)</p></blockquote>
<ul>
<li>Alloh juga berfirman :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Dan hendaklah kalian tetap dirumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orag-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS Al Ahzab : 33)</p></blockquote>
<ul>
<li>Dalam ayat ini Alloh memerintahkan wanita untuk selalu konsisiten berada dirumah karena keluarnya banyak menimbulkan fitnah. Dan dalil syara’ telah menunjukkan bahwa dibolehkannya keluar untuk suatu keperluan dengan menggunakan hijab serta menjauhi perhiasan, tetapi keberadaannya dirumah adalah hukum asal yang lebih baik untuknya dan lebih sesuai serta lebih jauh dari fitnah.</li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun pekerjaan wanita dengan suaminya diladang atau pabrik atau rumah maka tidak ada dosa baginya, dan demikian juga apabila ia bersama dengan mahramnya, yang tidak terdapat didalamnya orang lain sebagaimana hukum pekerjaannya bersama wania-wanita lainnya<strong>. Pekerjaan yang diharamkan baginya hanyalah pekerjaan yang dilakukan dengan orang laki-laki yang bukan mahramnya</strong>, karena hal itu bisa mendatangkan kerusakan dan firnah yang besar.” (Majmu’ Fatwa Wa Maqolat Mutanawwi’ah 4/308 dengan ringkas)</li>
</ul>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Di penghujung tulisan ini, saya nukil penutup <strong>fatwa Syaikh Bin Baz tentang wanita karier</strong> :</p>
<blockquote><p>“Kesimpulannya, Bahwasannya menetapnya wanita di rumah untuk mengerjakan tugas kewanitaannya setelah dia mengerajakan kewajibannya pada Alloh adalah suatu hal yang sesuai dengan fithroh dan kodratnya.</p>
<p>Hal ini akan menyebabkan kebaikan baik bagi pribadinya sendiri, masyarakat maupun pada generasi yang akan datang.</p>
<p>Dan kalau masih mempunyai keluangan waktu maka bisa digunakan untuk bekerja yang sesuai dengan kodrat kewanitaan seperti mengajar wanita, mengobati dan merawat mereka serta perkerjaan lain yang semisalnya.</p>
<p>Ini semua <strong>sudah cukup menyibukkan bagi seorang wanita</strong> dan akan bisa membantu kaum laki-laki dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.</p>
<p>Jangan lupa <strong>peran ummahatul mu’minin</strong> (istri-istri Nabi-ed)yang mana mereka mengajarkan kebaikan pada ummat ini, namun <strong>tetap disertai dengan hijab dan tidak bercampur dengan laki-laki</strong>.</p>
<p>Hanya kepada Alloh lah kita memohon semoga Dia menunjukkan semuanya untuk bisa menunaikan tugas dan kewajibannya masing-masing, dan semoga Alloh menjaga semuanya dari fitnah dan segala tipu daya setan.”</p></blockquote>
<p><em>Wallahu A’lam Bish Showab</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong><br />
</strong></a></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Butuh waktu panjang untuk menjelaskan kriteria pakaian mu’minah yang memenuhi aturan syar’I, namun cukup saya isyaratkan pada kitab Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah.</p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1604566375" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/" data-text="Wanita Karir: Sadarlah!" data-desc="Pemandangan yang kita lihat pada pagi hari, para wanita dengan pakaian rapi pergi menenteng tas untuk menuju ke tempat kerja mereka masing-masing, sudah tidak asing lagi di segenap penjuru negri ini. “Wanita karier” itulah istilah yang mereka sandang. Kayaknya hal ini adalah sesuatu yang sangat lazim dan wajar sehingga tidak perlu dibahas dan dipermasalahkan, namun betapa banyak sebuah kewajaran ini hanya jalaran songko kulino (jawa: karena itulah kebiasaan yang ada). Padahal banyak sesuatu " data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/Ø¹ÙÙ-Ø§ÙÙØ³Ø§Ø¡.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_1604566375&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F30%2Fwanita-karir%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Aborsi</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 23:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[KB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang yang telah mengikuti program KB, akan merasa kecolongan kalau ternyata Alloh Ta’ala mentaqdirkan dia hamil lagi. Bagi orang-orang yang meyakini bahwa ini semua adalah ketentuan dan ketetapan dari Alloh Yang Maha Kuasa akan menerima semuanya dengan tawakkal yang penuh pada Nya, namun sebaliknya bagi yang tidak terlalu memperdulikan halal dan haram, mungkin akan [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/otopsi-bedah/' rel='bookmark' title='Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim'>Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_402766120" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/" data-text="Hukum Aborsi" data-desc="Sebagian orang yang telah mengikuti program KB, akan merasa kecolongan kalau ternyata Alloh Ta’ala mentaqdirkan dia hamil lagi. Bagi orang-orang yang meyakini bahwa ini semua adalah ketentuan dan ketetapan dari Alloh Yang Maha Kuasa akan menerima semuanya dengan tawakkal yang penuh pada Nya, namun sebaliknya bagi yang tidak terlalu memperdulikan halal dan haram, mungkin akan ditempuh jalan pintas untuk tetap tidak memiliki anak kecuali menurut rencana yang sudah terprogam dengan baik –dalam " data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ahmad-sabiq.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_402766120&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F22%2Fhukum-aborsi%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p><img class="alignleft size-full wp-image-129" title="ahmad sabiq" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ahmad-sabiq.jpg" alt="ahmad sabiq" width="120" height="86" />Sebagian orang yang telah mengikuti program <strong>KB</strong>, akan merasa kecolongan kalau ternyata Alloh Ta’ala mentaqdirkan dia hamil lagi. Bagi orang-orang yang meyakini bahwa ini semua adalah ketentuan dan ketetapan dari Alloh Yang Maha Kuasa akan menerima semuanya dengan tawakkal yang penuh pada Nya, namun sebaliknya bagi yang tidak terlalu memperdulikan halal dan haram, mungkin akan ditempuh jalan pintas untuk tetap tidak memiliki anak kecuali menurut rencana yang sudah terprogam dengan baik –dalam anggapannya-, yaitu dengan cara melakukan  tindakan aborsi alias menggugurkan kandungan.<span id="more-127"></span></p>
<p>Ditambah lagi dengan maraknya praktek aborsi seiring dengan semakin meraja lelanya perzinaan wal’iyadzu Billah, hanya sekedar menutupi aib mereka tega untuk membunuh seorang bayi yang suci tanpa dosa. Bagaimanakah pandangan syariat islam yang suci menghadapi masalah ini ?</p>
<p>Kita mohon pada Alloh Ta’ala semoga tetap menjaga hati dak perbuatan kita dari segala tipu daya syaithon.</p>
<p><strong>Kehidupan Janin dalam Perut Ibu</strong></p>
<p>Dalam perut sang ibu, janin anak manusia mengalami empat fase, yaitu :</p>
<ol>
<li>Fase      masih berupa air mani (<strong> نطفة</strong>)</li>
<li>Fase      berupa gumpalan darah (<strong>علقة</strong>)</li>
<li>Fase      berupa gumpalan daging(<strong>مضغة</strong>)</li>
<li>Fase      ditiupkan padanya ruh</li>
</ol>
<p>Keempat fase ini disebutkan oleh Alloh dalam firman Nya :</p>
<p>&#8220;Wahai sekalian manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah , kemudian dari setetes air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang sempurna kejadiannya atau tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan , kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.” (QS. Al Haj : 5)</p>
<p>Juga disebutkan oleh Rosululloh saw :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : حدثنا رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو الصادق المصدوق أن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح و يؤمر بأربع كلمات بكتب رزقه و أجله وعمله وشقي أو سعيد</strong></p>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : Rosululloh menghabarkan kepadaku –dan beliau adalah seseorang yang jujur lagi terpercaya- : “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian akan diutus kepadanya seorang malaikat yang akan meniupkan ruh padanya, dan dia diperintahkan untuk melakukan empat perkara yaitu : menulis rizqinya, ajalnya, amalnya serta apakah dia nanti sengsara ataukah bahagia.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Hukum menggugurkan kandungan.</strong></p>
<p>Menggugurkan kandungan ada dua macam :</p>
<p><strong>I. PERTAMA</strong> &gt;&gt;&gt; Menggugurkan kandungan kalau tidak bertujuan untuk membunuh janin yang masih dalam perut ibu, seperti mengeluarkan janin  dengan paksa bila sudah mencapai umur kelahiran namun tetap tidak keluar, maka hal ini diperbolehkan dengan dua syarat :</p>
<p><strong>A.Tidak membahayakan ibu maupun anak</strong>. Berdasarkan kaedah umum yang disebutkan oleh Rosululloh saw dalan sabda beliau :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>لا ضرر و لا ضرا ر</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Tidak boleh berbuat yang membahayakan diri maupun orang lain.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 5/326, Ibnu Majah 2340, Baihaqi 11166 dengan sanad hasan)</p>
<p><strong>B.Mendapatkan izin dari suam</strong>i.</p>
<p>(Lihat Risalah Fid Dima’ oleh Syaikh Muhammad Al Utsaimin  hal : 60)</p>
<p>Hal ini kalau mengeluarkan paksa janin tersebut tanpa melalui operasi, semacam kalau dengan cara menelan pil pendorong bayi keluar atau lainnya.</p>
<p>Adapun kalau lewat operasi semacam operasi cesar atau operasi lainnya, maka hukumnya harus diperinci. Berkata Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin : “Kalau sampai operasi, maka ada empat kemungkinan hukum, yaitu :</p>
<p><strong>1.Kondisi ibu dan anak masih hidup</strong></p>
<p>Dalam kondisi ini tidak boleh dilakukan operasi , kecuali ada keperluan yang sangat mendesak, seperti kesusahan dalam melahirkan anak yang mengharuskan untuk operasi. Hal ini karena tubuh merupakan amanat dari Alloh yang tidak boleh diperlakukan dengan semaunya kecuali untuk maslahat yang lebih besar.</p>
<p><strong>2.Kondisi ibu dan anak meninggal dunia</strong></p>
<p>Dalam kondisi ini tidak boleh dilakukan operasi karena tidak ada fungsinya.</p>
<p><strong>3.Kondisi ibu masih hidup dan anak sudah meninggal</strong></p>
<p>Dalam kondisi ini diperbolehkan operasi untuk mengeluarkan  bayi, kecuali apabila dikhawatirkan terjadi sesuatu yang membahayakan ibunya. Alasannya, apabila bayi sudah meninggal dalam perut ibunya biasanya tidak akan bisa keluar kecuali melalui operasi <a href="#_ftn1">1</a>. sedangkan menetapnya tubuh bayi yang sudah meninggal dalam perut ibunya akan menghalanginya untuk bisa hamil lagi dikemudian hari.</p>
<p><strong>4.Kondisi ibu sudah meninggal dan bayi masih hidup.</strong></p>
<p>Kondisi ini, jika nyawa bayi itu tidak mungkin bisa diselamatkan  maka tidak boleh dioperasi., namun apabila masih bisa diharapkan kelanjutan hidupnya, maka jika sebagian tubuh bayi sudah keluar maka boleh membedah tubuh ibunya untuk  mengeluarkan sebagiannya lagi yang masih tertinggal, tapi apabila tubuh bayi belum ada yang keluar, sebagian ulama’ Hanabilah menyebutkan bahwa tidak boleh membedah perut ibunya untuk mengeluarkan bayi, karena ini adalah bentuk pencincangan. Namun pendapat yang benar diperbolehkan membedah perut ibunya jika memang tidak bisa diakukan cara lain. Terutama sekali pada zaman ini opeasi bedah bukanlah suatu bentuk pencincangan tubuh, karena nanti setelah dioperasi dijahit kembali, juga karena kehormatan orang yang masih hidup lebih utama daripada kehormatan orang yang sudah meninggal, serta menolong bayi yang merupakan jiwa yang ma’shum dari kebinasaan adalah sebuah kewajiban. (Lihat Risalah Fid Dima’ hal : 61 dengan ringkas, Fatwa-fatwa tentang wanita 3/243.lihat kembali hukum otopsi pada edisi lalu)</p>
<p><strong>I</strong><strong>I. KEDUA</strong> &gt;&gt; Menggugurkan kandungan yang bertujuan untuk membunuh janin bayi</p>
<p>Adapun kalau aborsi itu bertujuan untuk membunuh bayi, maka ada dua kemungkinan :</p>
<ul>
<li><strong><em>Pertama</em></strong>. Kalau bayi itu sudah berumur 120 hari, dalam artian sudah ditiupkan ruh kepadanya, berdasarkan hadits Abduloh bin Mas’ud diatas, maka hukum menggugurkannya haram. Karena itu berarti membunuh jiwa yang ma’shum yang hal itu diharamkan berdasarkan Al qur’an, As Sunnah serta kesepakatan ummat islam. Alloh Ta’ala berfirman :</li>
</ul>
<blockquote><p>“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam, kekal ia didalamnya dan Alloh murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’ : 93)</p>
<p>(Lihat Fatwa-fatwa tentang wanita 3/242)</p></blockquote>
<ul>
<li><strong><em>Kedua</em></strong>.Kalau janin itu belum berumur 120 hari, maka para ulama’ berselisih pendapat mengenai boleh tidaknya menggugurkan kandungan tersebut.</li>
</ul>
<p>Khilaf ini berangkat dari permasalahan kapan kandungan seorang wanita itu disebut janin ?</p>
<ul>
<li>Sebagian ulama’ Hanafiyah, jumhur Malikiyah, Imam Al Ghozali dan Ibnul Amad dari kalangan Syafi’iyah, Ibnul Jauzi dari ulama’ hanabilah dan Dhohiriyah mengatakan bahwa haram menggugurkan kandungan meskipun masih di hari-hari pertama kandungan dan kandungan masih berupa air mani.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sebagian ulama’ Malikiyah dan sebuah riwayat dari madzhab Syafi’iyah mengatakan dibencinya aborsi saat kandungan masih berupa air mani dan haram kalau sudah berupa segumpal darah</li>
</ul>
<ul>
<li>Sebagian Malikiyah dan pendapat yang rajih dalam madzhab Hambali mengatakan dibolehkannya menggugurkan saat fase air mani tapi kalau sudah berupa segumpal darah hukumnya haram.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sebagian ulama’ Syafi’iyah mengatakan dibolehkan menggugurkan pada fase air mani dan segumpal darah namun haram pada fase segumpal daging.</li>
</ul>
<ul>
<li>Terakhir, Madzhab Hanafiyah mengatakan dibolehkannya mengugurkan kandungan selagi belum ditiupkan ruh padanya.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Mukhtashor Al Um oleh Imam Al Muzani 8/249, Mughnil Muhtaj 3/103, Syarah Al kabir oleh Imam Ad Dirdir dengan Hasyiyah Dasuqi 4/268, Al Mughni Imam Ibnu Qudamah 7.802, Ad Durrul Mukhtar Ibnu Abidin 6/590, Al Muhalla Imam Ibnu Hazm 11/31, Al Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah Syaikh Abdul Karim Zaidan 5/383)</p>
<p><strong>Pendapat yang rajih</strong></p>
<p>Setiap kali kita mengahadapi khilaf diantara para ulama, maka kita harus mengembalikan semuanya pada firman Alloh Ta’ala :</p>
<p>“Kemudian  jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu , maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya ).” (QS. An Nisa’ : 59)</p>
<p>dengan tetap menjaga adab dan kehormatan kita pada seluruh para ulama’ ummat islam (Lihat Kitab Rof’ul Malam Anil A’immatil A’lam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)</p>
<p>Pendapat yang paling rajih dalam masalah ini adalah madzhab pertama yang mengatakan bahwa pada dasarnya dilarang menggugurkan kandungan meskipun baru pada fase pertama dan masih di hari-hari awal kehamilan, kecuali untuk suatu kebutuhan yang sangat mendesak semacam kalau tidak digugurkan akan mengancam nyawa ibunya  berdasarkan keterangan dokter yang tsiqoh. karena beberapa hal, dinatarnya :</p>
<ol>
<li>Air mani apabila sudah bertemu dengan sel telur kalau dibiarkan terus maka dengan taqdir dari Alloh, ia akan menjadi bayi yang terjaga kehormatannya dan haram dibunuh.</li>
<li>Tujuan dari pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan, maka pengguguran kandungan menyelisihi tujuan nikah yang mulia ini.</li>
<li>Kalau <em>‘azl</em> disebutkan oleh Rosululloh sebagai penguburan anak wanita hidup-hidup yang tersembunyi, padahal azl cuma menghalangi jalan bertemunya air mani dengan sel telur, maka bagaimana dengan menggugurkan kandungan saat keduanya sudah bertemu ?</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">(Lihat Al Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah 5/407, Ahkamun Nisa’ oleh Imam Ibnul Jauzi hal : 108, Tanbihat Syaikh Al Fauzan hal : 35)</p>
<p><strong>Hukuman bagi pelaku aborsi</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أن امرأتين من هذيل رمت إحداهما الأخرى فطرحت جنينها , فقضى رسول الله صلى الله عليه و سلم فيها بغرة عبد أو أمة</strong></p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : “Sesungguhnya ada dua wanita dari Bani Hudzail, salah satu dari keduanya melempar lainnya sehingga gugur kandungannya. Maka Rosululloh memutuskan harus membayar diyat sebesar seorang budak laki-laki atau budak wanita.’</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori 12/247 dan Muslim 11/175)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>عن عمر بن الخطا ب أنه استشارهم في إملاص المرأة , فقال المغيرة : قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم بالغرة عبدا أو أمة</strong></p>
<p style="text-align: center;">Dari Umar bin Khothob, bahwasannya beliau meminta pendapat para sahabat tentang wanita yang menggugurkan kandungannya. Maka Mughiroh bin Syu’bah berkata : “Rosululloh menghukumi dengan membayar seorang budak laki-laki atau wanita.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori 12/247 dan Muslim 11/179)</p>
<p>Dua hadits ini serta hadits-hadits yang senada memberikan <strong>faedah hukum</strong>, diantaranya :</p>
<ol>
<li>Menggugurkan janin hukumnya haram</li>
<li>Menggugurkan kandungan termasuk dosa besar, karena Rosulloh menyebutkan hukumannya di dunia</li>
<li>Bagi yang menggugurkan kandungan wajib membayar denda seorang budak laki-laki atau budak wanita</li>
<li>Kalau tidak ada budak seperti dizaman sekarang ini, maka wajib membayar sepersepuluh diyat ibunya yaitu lima ekor unta atau lima puluh dinar. <a href="#_ftn2">1</a></li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Selain</strong> membayar <strong>denda</strong> ini, wajib bagi ibu yang mengugurkan kandungannya untuk membayar <strong>kaffaroh</strong>, karena tindakan aborsi ini termasuk <strong>pembunuhan jiwa</strong> tanpa cara yang benar. Dan ini adalah pendapat jumhur para ulama’ diantaranya Imam Syaf’I, Malik, Ahmad, Ibnu Hazm dal lainnya. Bahkan Imam Ibnul Mundzir berkata : “Seluruh para ulama’ yang kami ketahui mewajibkan membayar kaffaroh disamping harus membayar diyat.” (Lihat Al Mughni Imam Ibnu Qudamah 7/815, Al Muhalla Ibnu Hazm 11/30)</li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun<strong> kaffarohnya</strong> adalah memerdekakan <strong>budak muslim</strong>, dan kalau tidak mampu <strong>wajib puasa dua bulan berturut-turut</strong>, dan kalau tidak mampu <strong>memberi makan enam puluh orang miskin</strong> dalam pendapat sebagian para ulama’. (Lihat Al Mufashol fi Ahkamil Mar’ah 5/412) sebagaimana disebutkan Alloh Ta’ala dalam firman Nya (yang artinya):</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain) kecuali karena salah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mu’min karena tersalah hendaklah dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat.”</p>
</blockquote>
<p>Selanjutnya Alloh berfirman (yang artinya) :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut .”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nisa’ : 92)</p>
<p><strong><br />
</strong></p></blockquote>
<p><strong>Fatwa Ulama seputar aborsi</strong></p>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> ditanya tentang wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya dengan dipukul atau minum obat-obatan ?</li>
</ul>
<p><strong>Jawab :</strong>Wajib baginya membayar Ghurroh (Budak baik laki-laki maupun wanita) berdasarkan Sunnah Rosululloh dan kesepakatan kaum muslimin. Budak ini dimiliki oleh ahli waris janin selain ibunya, kalau dia memiliki ayah maka budak itu menjadi miliknya, namun jika ayahnya membebaskan si ibu dari denda itu maka itu hak dia. Harga dari seorang budak adalah sepersepuluh diyat  atau lima puluh dinar. Dalam pandangan jumhur ulama’ juga wajib baginya untuk memerdekakan seorang budak, apabila tidak mampu maka harus berpuasa dua bulan berturut-turut dan apabila juga tidak mampu maka wajib untuk memberi makan eman puluh orang miskin.” (Lihat Majmu’Fatawa 34/161)</p></blockquote>
<p><strong>Syaikh Muhammad Al Utsaimin</strong> berkata  setelah mengisyaratkan adanya khilaf diatas : “Yang lebih selamat, adalah melarang untuk menggugurkannya kecuali jika ada keperluan yang sangat mendesak, seperti jika wanita sakit yang tidak bisa menanggung kehamilan dan sejenisnya. Dalam kondisi ini boleh menggugurkannya sebelum sampai pada fase terbentuknya tubuh manusia.” (Fatwa-fatwa tentang wanita 3/243)</p>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikh Sholih Al Fauzan</strong> di tanya tentang hukum menggugurkan kandungan ?</li>
</ul>
<p>Jawab :</p>
<p>Praktek aborsi yang sering terjadi pada zaman kita ini termasuk perbuatan haram. Bila bayi sudah ditiupkan ruh ke tubunya dan meninggal karena digugurkan, perbuatan ini termasuk pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Aloh untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, yang konsekwensinya harus menanggung hukum kriminalitas. Yaitu membayar diyat yang besarnya sesuai dengan aturan perinciannya. Juga menurut sebagian ulama’ wajib baginya membayar kaffaroh yaitu dengan memerdekakan budak mu’min, bila tidak ada diganti dengan berpuasa dua bulan berturut-turut. Sebagian para ulama’ menyebut perbuatan ini dengan penguburan bayi hidup-hidup secara tersembunyi.</p></blockquote>
<ul>
<blockquote>
<li><strong>Syaikh Muhammad bin Ibrahim</strong> berkata dalam majmu’ fatawa 11/151 : “Usaha untuk menggugurkan kandungan tidak diperbolehkan sebelum ada kejelasan tentang kematian bayi. Apabila telah jelas kematian bayi tersebut, maka diperbolehkan.”    (Tanbihat Ala Ahkam Takhtashu bil Mu’minat hal : 36)</li>
</blockquote>
</ul>
<p><strong>Majlis Hai’ah kibarul Ulama’ Arab Saudi</strong> dalam keputusannya no 140 tanggal 20/6/1407 H menyebutkan  sebagai berikut :</p>
<blockquote>
<ol>
<li>Tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dalam berbagai fasenya kecuali dengan alasan syar’I dan dalam batas-batas yang ketat sekali.</li>
<li>Bila usia kehamilan masih dalam fase pertama, yaitu sampai umur empat puluh hari, dan terdapat maslahah syar’iyah dalam menggugurkannya atau untuk mencegah adanya kemudlorotan, maka boleh menggugurkannya. Tapi mengugurkan dalam fase ini bila dengan alasan takut bisa mendidik bayinya nanti atau takut tidak mampu menanggung biaya kehidupannya dan biaya pendidikannya, khawatir tentang masa depannya, atau sudah merasa cukup punya anak maka tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dengan alasan diatas.</li>
<li>Tidak boleh menggugurkan kandungan jika sudah berbentuk gumpalan darah atau daging hingga ada keterangan jelas dari para dokter yang dapat dipercaya bahwa membiarkan kehamilan akan membahayakan jiwa ibunya, seperti kematiannya. Dalam kondisi ini boleh menggugurkan kandungan  setelah berupaya dengan segala cara untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi atas ibunya.</li>
<li>Setelah fase ketiga dan setelah empat bulan tidak bole menggugurkan kandungan sampai sejumlah dokter spesialis  yang bisa dipercaya menyebukan bahwa membarkan janin dalam perut ibunya bisa menyebabkan kematian sang ibu, setelah berupaya dengan segala cara untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi atas ibunya. Diperbolehkan menggugurkan dengan berbagai syarat tersebut bertujuan untukmencegah terjadinya bahaya yang lebih besar dan upaya untuk mendapatkan maslahah yang lebih besar.    (Fatwa-fatwa tentang wanita 3/245)</li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Akhirnya, kita mohon pada Alloh Ta’ala semoga meneguhkan hati kita pada keimananan. Adapun kesimpulan dari pembahasan ini adalah :</p>
<ol>
<li>Janin dalam perut ibu mengalami empat fase kehidupan</li>
<li>Mengeluarkan paksa kandungan kalau tujuannya bukan untuk membunuh bayi, maka diperbolehkan dengan syarat tidak membahayakan ibu maupun bayi serta mendapat izin dari suami.</li>
<li>Kalau tujuannya untuk membunuh bayi, maka jika bayi itu sudah ditiupkan ruh padanya, haram menggugurkannya dengan kesepakatan ulama’</li>
<li>Adapun jika belum mencapai umur tersebut para ulama’ berselisih madzhab. Yang rajih adalah terlarang kecuali kalau meneruskan kandungan itu akan membahayakan nyawa si ibu.</li>
<li>Bagi yang melakukan aborsi wajib membayar denda yaitu seorang budak atau lima ekor unta atau lima puluh dinar</li>
<li>Di samping itu juga harus membayar kaffaroh dengan perincian diatas.</li>
</ol>
<p><em>Wallahu A’lam.</em></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Namun saat ini alhamdulillah secara medis bisa mengeluarkan janin yang meninggal diperut ibu tanpa operasi. Akan tetapi kalau dalam keadaan tertentu tidak bisa, maka hukumnya kembali pada apa yang dikatakan oleh Syaikh –pent.</p>
<p><a href="#_ftnref2">1</a> Para ulama’ sepakat bahwa diyat wanita adalah separoh diyat laki-laki, berarti diyat wanita adalah lima puluh ekor unta. (lihat Al Ijma’ Imam Ibnul Mundzir hal : 72, Maratibil Ijma’ Imam Ibnu Hazm hal : 140) Adapun ukuran dinar adalah 4,25 gr emas murni (Lihat kembali masalah zakat dalam Al Furqon 3/8)</p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1515738637" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/" data-text="Hukum Aborsi" data-desc="Sebagian orang yang telah mengikuti program KB, akan merasa kecolongan kalau ternyata Alloh Ta’ala mentaqdirkan dia hamil lagi. Bagi orang-orang yang meyakini bahwa ini semua adalah ketentuan dan ketetapan dari Alloh Yang Maha Kuasa akan menerima semuanya dengan tawakkal yang penuh pada Nya, namun sebaliknya bagi yang tidak terlalu memperdulikan halal dan haram, mungkin akan ditempuh jalan pintas untuk tetap tidak memiliki anak kecuali menurut rencana yang sudah terprogam dengan baik –dalam " data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ahmad-sabiq.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_1515738637&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F22%2Fhukum-aborsi%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/otopsi-bedah/' rel='bookmark' title='Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim'>Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 07:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Istri Rosululloh adalah Ibu bagi Kaum Laki-Laki yang Beriman Saja Ataukah juga Ibu bagi Kaum Wanita yang Beriman  ? . Masalah ini muncul karena telah shohih dari Aisyah bahwasanya ada seorang wanita yang datang kepada beliau seraya berkata : Wahai ibuku.” Maka beliau berkata : “Saya adalah ibu  dari kaum laki-laki diantara kalian dan [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_2117310029" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/" data-text="Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]" data-desc="Apakah Istri Rosululloh adalah Ibu bagi Kaum Laki-Laki yang Beriman Saja Ataukah juga Ibu bagi Kaum Wanita yang Beriman  ?
.
 


Masalah ini muncul karena telah shohih dari Aisyah bahwasanya ada seorang wanita yang datang kepada beliau seraya berkata : Wahai ibuku.” Maka beliau berkata : “Saya adalah ibu  dari kaum laki-laki diantara kalian dan bukan ibu bagi kaum wanita.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd dalam Ath Thobaqot al Kubro 8/64 dan Baihaqi dalam  Sunan Al Kubro 7/70)
Para" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_2117310029&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F22%2Fibu-kaum-mukminin-3%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p style="text-align: center;"><strong>Apakah Istri Rosululloh adalah Ibu bagi Kaum Laki-Laki yang Beriman Saja Ataukah juga Ibu bagi Kaum Wanita yang Beriman  ?</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">Masalah ini muncul karena telah shohih dari Aisyah bahwasanya ada seorang wanita yang datang <img class="alignright size-full wp-image-120" title="bunga // ahmadsabiq.com" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga.jpg" alt="bunga // ahmadsabiq.com" width="150" height="112" />kepada beliau seraya berkata : Wahai ibuku.” Maka beliau berkata : “Saya adalah ibu  dari kaum laki-laki diantara kalian dan bukan ibu bagi kaum wanita.”</p>
<p>(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa&#8217;d dalam Ath Thobaqot al Kubro 8/64 dan Baihaqi dalam  Sunan Al Kubro 7/70)<span id="more-117"></span></p></blockquote>
<p style="text-align: left;">Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini menjadi dua pendapat, yaitu :</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pertama</strong> : istri Rosululloh hanya ibu bagi kaum laki-laki saja</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ini adalah madzhab Imam Ibnul Arobi dan saIah satu madzhab Imam Syafi’i (Lihat Tafsir Ibnu katsir 6/381 dan Ahkamul Qur’an oleh Ibnul Arobi 3/542)</li>
</ul>
<ul style="text-align: left;">
<li>Mereka berdalil dengan ucapan Ummul Mu’minin Aisyah diatas.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><strong>Kedua</strong> : Mereka adalah ibu kaum mu’minin baik yang laki-laki maupun wanita</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Mereka berdalil dengan <strong>ucapan Ummu Salamah</strong> :</li>
</ul>
<blockquote style="text-align: left;"><p>“Saya adalah <strong>ibu kalian</strong> baik yang <strong>laki-laki</strong> maupun <strong>wanita</strong>.”</p>
<p>(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thobaqot sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam Ad Dur Al Mantsur)</p></blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong>Imam Al Qurthubi</strong> berkata:</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">“Yang nampak bagiku bahwa mereka adalah ibu bagi kaum laki-laki dan wanita, karena keagungan hak mereka baik atas laki-laki maupun wanita, yang menunjukkan atas hal ini adalah firman Allloh di permulaan ayat : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” Sedangkan ini mencakup laki-laki dan wanita, juga ditunjukan oleh hadits Abu Huroiroh dan Jabir, oleh karena itu maka firman Alloh : Dan istri-istrinya adalah ibu kalian.” Itu kembalinya kepada semua.” (Tafsir Qurthubi 14/84)</p>
</blockquote>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ditambah lagi dengan bacaan <strong>Ubay bin Ka&#8217;b</strong> dan <strong>Ibnu Abbas</strong> yang menyatakan bahwa Rosululloh adalah bapaknya kaum mu’minin dan ini secara pasti bagi kaum laki-laki dan wanita maka begitu pula halnya dengan istri-istri mereka.</li>
</ul>
<ul style="text-align: left;">
<li>Syaikh <strong>Abdur Rozzaq al Abbad</strong> berkata:</li>
</ul>
<blockquote style="text-align: left;"><p>“Pendapatnya Imam Al Qurthubi inilah yang lebh rajih, meskipun bisa saja kita gabungkan antara apa yang diriwayatkan dari Aisyah dengan yang datang dari Ummu Salamah, dengan cara kita katakan:</p>
<ul>
<li>“<em>Kalau yang dimaksud dengan keibuan disini adalah haramnya menikah dengan mereka sepeninggal Rosululloh , juga haramnya melihat dan berkhlowah  dengan mereka, maka ini hanya berlaku bagi kaum laki-laki saja</em>.&#8221;</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun jika yang dimaksud dengan keibuan disini adalah kewajiban menghormati  dan menjalankan hak-hak mereka maka ini berlaku bagi kaum lak-laki dan wanita, maka barangkali yang dimaksud oleh Ummul Mu’minin Aisyah adalah mana yang pertama sedangkan yang dimaksud oleh Ummu Salamah adalah makna yang kedua.”</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8212;-bersambung&#8212;-</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Lihat Artikel Sebelumnya:</strong></p>
<ol>
<li><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/"><strong>Istri Rasululullah adalah Ibu Kaum Mukminin, bag. I [ Sisi Keibuan Istri Rasulullah ] </strong></a></li>
<li><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/"><strong>Istri Rasululullah adalah Ibu Kaum Mukminin, bag. II [ Apakah Rasulullah Boleh Disebut Bapak Kaum Mukminin? ]</strong></a></li>
</ol>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_587711842" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/" data-text="Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]" data-desc="Apakah Istri Rosululloh adalah Ibu bagi Kaum Laki-Laki yang Beriman Saja Ataukah juga Ibu bagi Kaum Wanita yang Beriman  ?
.
 


Masalah ini muncul karena telah shohih dari Aisyah bahwasanya ada seorang wanita yang datang kepada beliau seraya berkata : Wahai ibuku.” Maka beliau berkata : “Saya adalah ibu  dari kaum laki-laki diantara kalian dan bukan ibu bagi kaum wanita.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd dalam Ath Thobaqot al Kubro 8/64 dan Baihaqi dalam  Sunan Al Kubro 7/70)
Para" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_587711842&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F22%2Fibu-kaum-mukminin-3%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 02:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Laki-Laki]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Rosululloh Boleh Disebut Sebagai Bapaknya Kaum Mu’minin ? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Para istri Rosululloh bisa menjadi ibunya kaum mu’minin  adalah karena mengikuti beliau, seandainya Rosululloh bukan bapaknya kaum mu’minin maka meeka tidak mungkin menjadi ibunya kaum mu’minin.” (Lihat Minhajus sunnah 5/237) Bahkan Ibnu Abbas pernah membaca ayat ini dengan lafadz : [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_861134208" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/" data-text="Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]" data-desc="Apakah Rosululloh Boleh Disebut Sebagai Bapaknya Kaum Mu’minin ?




Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Para istri Rosululloh bisa menjadi ibunya kaum mu’minin  adalah karena mengikuti beliau, seandainya Rosululloh bukan bapaknya kaum mu’minin maka meeka tidak mungkin menjadi ibunya kaum mu’minin.” (Lihat Minhajus sunnah 5/237)

Bahkan Ibnu Abbas pernah membaca ayat ini dengan lafadz :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَ" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/cinta-nabi.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_861134208&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F21%2Fibu-kaum-mukminin-ii%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p style="text-align: center;"><strong>Apakah Rosululloh Boleh Disebut Sebagai Bapaknya Kaum Mu</strong><strong>’</strong><strong>minin ?</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><br />
</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-115" title="cinta Nabi adalah dengan mengikuti sunnah " src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/cinta-nabi.jpg" alt="cinta Nabi adalah dengan mengikuti sunnah " width="135" height="87" /><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> berkata : “Para istri Rosululloh bisa menjadi ibunya kaum mu’minin  adalah karena mengikuti beliau, seandainya Rosululloh bukan bapaknya kaum mu’minin maka meeka tidak mungkin menjadi ibunya kaum mu’minin.” (Lihat Minhajus sunnah 5/237)</p>
<p>Bahkan Ibnu Abbas pernah membaca ayat ini dengan lafadz :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَ هو أب لهم وأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan beliau adalah bapak mereka serta  isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">Sebagamana yang diriwayatkan oleh Hakim dalam Al Mustadrok dan beliau mengatakan : Sanadnya shohih hanya saja tidak diriwayatkan oleh Bukhori Muslim.<span id="more-110"></span></p>
<p>Bacaan yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid dan ikrimah  dan lainnya</p>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Katsir</strong> berkata: “Diriwayakan dari Ubay bin Ka&#8217;ab dan Ibnu Abbas bahwa keduanya membaca ayat ini : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan beliau adalah bapak mereka serta  isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” Hal ini juga diriwayatkan dari Mu’awiyah, Mujahid, Ikrimah dan Hasan Al Bashri.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/382, lihat juga Tafsir Ath Thobari 21/122 dan Ad Dur Al Mantsur 21/567)</li>
</ul>
<ul>
<li>Meskipun bacaan ini syadzah (bukan mutawatir)  namun secara makna hal ini diisyaratkan oleh bacaan mutawatir yang terdapat malam mushaf sekarang, karena memang Rosululloh adalah bapaknya umat islam dari sisi kegamaan, dengan makna bahwa beliaulah yang mendidik dan menunjukkan ummat pada kebaikan, bahkan Mujahid pernah mengatakan : Semua Nabi adalah bapak bagi umatnya.”  Sebagaimana yang dinukil oleh al Alusi dalam Ruhul Ma’ani  21/152</li>
</ul>
<p>Yang semakan mengautkan akan hal ini adalah  apa yang dikatakan oleh Rosululloh :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا وَلَا يَسْتَطِبْ بِيَمِينِهِ وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَيَنْهَى عَنِ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ</strong> *</p>
<p>Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya saya seperti orang tua kalian, saya mengajari kalan yaitu jika salah seorang dari kalian  ke WC maka jangalah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya serta janganlah beristinjak dengan tangan kanannya. Rosululloh juga memerintahkan untuk beristinjak dengan tiga batu dan melaang beristijak menggunakan kiotoran binatang dan tulang.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 2/247, Abu Dawud 1/3, Nasa’i 1/38, Ibnu Majah 1/114 dan dihasankan oleh Imam Al Albani dalam Shohihul Jami’ 2/284)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa Rosululloh adalah bapaknya ummat islam dalam makna yang disebutkan hadits ini yatiu Rosululloh mendidik mereka dan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar.</p>
<ul>
<li>Syaikh Abdur Rohman As Sa’di berkata: “Beliau adalah bapaknya ummat islam, sebagaimana dalam sebagain bacaan para sahabat karena beliau mendidik mereka sebagaimana seorang bapak mendidik anak-anaknya.” (Lihat Tafsir AS Sa’di 6/98)</li>
</ul>
<p>Namun ada sebagian para ulama yang tidak membolehkan menamakan Rosululloh sebagai bapaknya ummat islam, berdasarkan pada firman Alloh Ta’ala ;</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 40)</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Pendapat ini dinukil oleh Imam Al Qurthubi, dan setelah memarkan madzhab ini beliau mengometari : “Yang benar adalah bahwa hal ini diperbolehkan untuk mengatakan bahwa beliau adalah bapaknya ummat islam dari sisi kehormatan dan kedudukannya, sedangkan firman Alloh : ”Muhammad itu sekali-kali bukan bapak seorang laki-laki diantara kamu.” Maksudnya adalah bapak secara nasab.” (Lihat Tafsir beliau 14/84 dan Tafsir Ibnu Ktsir 6/382 serta Adlwa’ul bayan oleh Asy Syinqithi 15/570)</li>
</ul>
<ul>
<li>Imam asy Syinqiti saat menyebutkan  adanya pertentangan antara kedua ayat iini dalam kitab beliau : Daf’ iham idltirob , beliau menjawab : “Jawaban atas masalah ini sangat jelas sekali yaitu  sebutan bapak yang ditetapkan adalah bapak dai sisi keagamaan sedangkan yang dinafikan adalah dari sisi nasab.”</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">&#8212;-bersambung&#8212;-</p>
<p style="text-align: left;">Lihat Artikel Sebelumnya:</p>
<p style="text-align: left;">&gt;&gt;&gt; <a title="Ibu kaum Mukminin" href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/">Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukmini [ bagian. I ]</a></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_119976608" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/" data-text="Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]" data-desc="Apakah Rosululloh Boleh Disebut Sebagai Bapaknya Kaum Mu’minin ?




Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Para istri Rosululloh bisa menjadi ibunya kaum mu’minin  adalah karena mengikuti beliau, seandainya Rosululloh bukan bapaknya kaum mu’minin maka meeka tidak mungkin menjadi ibunya kaum mu’minin.” (Lihat Minhajus sunnah 5/237)

Bahkan Ibnu Abbas pernah membaca ayat ini dengan lafadz :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَ" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/cinta-nabi.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_119976608&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F21%2Fibu-kaum-mukminin-ii%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 11:54:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Pembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala dalam surat al Ahzab ayat 6 : النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَآئِكُم مَّعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_1932348928" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/" data-text="Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]" data-desc="Pengantar

Pembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala  dalam surat al Ahzab ayat 6 :

 

 النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْع" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ummul-mukminin1.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_1932348928&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F13%2Fistri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p style="text-align: left;"><strong>Pengantar</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-87" title="ahmad sabiq abu yusuf" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ummul-mukminin1.jpg" alt="ahmad sabiq abu yusuf" width="116" height="116" />Pembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala  dalam surat al Ahzab ayat 6 :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَآئِكُم مَّعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا</strong><strong> </strong></p>
<p>“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Alloh daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik  kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Alloh).”<span id="more-86"></span></p>
<p>Dalam ayat ini Alloh Ta’ala menyebut istri-istri Rosululloh sebagai ibunya kaum mukminin.</p>
<ol>
<li>Apakah yang dimaksud dengan keibuan disini ?</li>
<li>Bagaimana konsekuensinya?</li>
<li>Apa yang harus kita lakukan untuk memenuhi hak mereka?</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al Abbad</strong> telah mengupasnya dengan bagus dalam risalah beliau tersebut, dan inilah kesimpulannya .</li>
</ul>
<h3>I. Sisi keibuan istri-istri Rosululloh</h3>
<p>Secara tegas Alloh menyebut istri-istri Rosululloh sebagai ibunya kaum mu’minin, padahal dalam ayat lainnya Alloh Ta’ala menyebutkan bahwa yang dinamalkan dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita. Sebagaimana dalam firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلاَّ الَّئِى وَلَدْنَهُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Tidaklah ibu-ibu mereka itu kecuali yang telah melahirkan mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Mujadilah : 2)</p>
</blockquote>
<p><strong>II. Lalu apa yang dimaksud dengan keibuan bagi ummat islam ini ?</strong></p>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Jarir</strong> menukil dari<strong> Qotadah</strong> bahwa beliau berkata  tentang ayat ini : “Alloh mengagungkan kedudukan para istri Rosululloh dengan sebutan ini.” (Tafsir Ibnu Jarir 11/122)</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Qotadah</strong> juga pernah berkata  : “Mereka adalah<strong> ibu ummat islam</strong> dalam<strong> sisi kehormatannya</strong>, dan tidak halal bagi seorang muslimpun untuk menikah dengan salah seorang dari mereka pada masa hidup Rosululloh seandainya beliau menceraikanya juga sepeninggal Rosululloh. Pernikahan ini harom atas setiap muslim sebagaimana keharaman menikah dengan ibunya sendiri.” (Lihat Ad Durrul Mantsur oleh As Suyuthi 21/566)</li>
</ul>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Syafi’i </strong>: “Firman Alloh :”Mereka adalah ibunya kaum mukminin.” Ini Cuma berlaku pada sebagian makna keibuan saja, maksudnya adalah tidak halal bagi kaum mukminin menikah dengan mereka namun tidak haram menikah dengan  anak-anak wanita mereka seandainya ada, tidak sebagaimana keharaman menikah dengan anak-anak wanita ibu yang telah melahirkan atau menyusui mereka.</li>
</ul>
<p><strong>Kalau ada yang bertanya</strong> : <em>Apa yang menjadi dasar pemahaman ini ? </em></p>
<p><strong>kami jawab</strong> :</p>
<blockquote><p>Dasarnya adalah Bahwa Rosululloh menikahkan putri beliau Fathimah dengan Ali, menikahkan  Ruqoyyah dan Ummu Khultsum dengan Utsman bin Affan, Zainab binti Ummu Salamah juga menikah, Zubair bin Awam menikah dengan putrinya Abu Bakr dan Thohah bin Ubaidilah menikah dengan putrid beliau lainnya, padahal keduanya adalah saudara ummul mu’minin serta Abdur Rohman bin Auf menikah dengan putrinya Jahsy padahal dia adalah saudaranya Ummul MU’minin Zainab nbinti Jahsy. Para ummahatul mu’minin itu tidak bisa mewarisi kaum mumin begitu pula sebailknya , mereka disebut sebagai ibu karena kedudukan  dan hak mereka atas ummat islam serta tidak bolehnya menikah dengan mereka.” (Lihat Al Umm 5/151)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> : “Ummat islam telah sepakat  atas haramnya menikah dengan  mereka setelah wafatnya Rosululloh, dan atas wajibnya menghormati mereka, karena mereka adalah ibunya ummat islam dari sisi kehormatan dan bukan dari sisi kemahroman, oleh karena itu tidak boleh untuk kholwat dengan mereka sebagaimana kholwatnya sseorang dengan salah satu mahromnya.dari sinilah maka mereka diperintahkan untuk memakai hijab, sebagaiman firman Alloh :</li>
</ul>
<h2 style="text-align: center;">يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ</h2>
<p style="text-align: center;">Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istrinya kaum mu’minin agar mereka menurunkan jilbab-jilbab mereka, karena hal ini lebih dekat agar mereka dikenali dan tidak disakiti.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 59)</p>
<p>Juga firman Nya :</p>
<h2 style="text-align: center;">الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَاكَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللهِ وَلآَأَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللهِ عَظِيمًا</h2>
<p style="text-align: center;">“Kalau kalian minta sesuatu kepada mereka (istri Rosululloh) maa mintalah dari balik hijab. Karena yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka, dan tidak patut bagi kaian untuk menyakiti Rosululloh dan janganlah kalian menikah dengan istri-istrinya setelah wafatny beliau selamanya karena itu adalah sebuah perkara yang besar disisi Alloh.”” (QS. Al Ahzab : 53).”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Minhajus sunnah 4/369)</p>
<ul>
<li>Ucapan yang senada dengan ini semua dikatakan oleh <strong>Imam Ibnu Katsir</strong> dan <strong>Al Qurthubi</strong>, <strong> Asy Syinqithi</strong> serta ulama’ tafsir lainnya.</li>
</ul>
<p>Dengan keterangan ini dapat kta ketahui  bahwa  keberadan mereka sebagai ibu kaum mu’minin tidak bertentangan dengan firman Alloh yang menyatakan bahwa yang dinamakan dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita, karena <strong>ibu dalam islam ada dua macam</strong>, yaitu :</p>
<p><strong>Pertama : Keibuan dari sisi agama</strong></p>
<ul>
<li>Dan ini cuma berlaku pada istri-istri Rosululloh , karena mereka adalah istri Rosululloh yang merupakan bapak dari seluruh ummat islam, juga karena mereka telah berjuang sekuat tenaga untuk menyebarkan hadits-hadits beliau  serta perbuatannya mereka lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dengan ini semua maka wajib untuk menghormati dan menjalankan hak-hak mereka sebagaimana kedudukan seorang ibu.</li>
</ul>
<ul>
<li>Keibuan ini  berkonsekwensi haramnya menikah dengan mereka namun tidak saling mewarisi dan tidak bisa menjadi mahrom sebagaiman keterangan para ulama’ diatas.</li>
</ul>
<p><strong>Kedua : Keibuan dari sisi nasab</strong></p>
<ul>
<li>Inilah yang dimaksud oleh firman Alloh dalam surat Al Mujadilah : 2 , yakni <strong>yang dimaksud dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita</strong>. Adapun kewajiban dan hak-hak mereka sangat masyhur dalam bebagai kitab. (lihat Taisir  Karimir Rohman oleh Syaikh Abdur Rohman As Sa’di 6/98)</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>&#8212;bersambung&#8212;</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>CATATAN</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Pembahasan ini disarikan dari Risalah “<strong><em>Ta’ammulat fi qoulihi Ta’ala : Wa Azwajuhu ummahatuhum</em></strong>.” Oleh <strong>Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al Abbad Al Badr</strong> Hafidlohulloh Ta’ala dengan beberapa tambahan dari referensi lainnnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://abiubaidah.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1191916836" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/" data-text="Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]" data-desc="Pengantar

Pembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala  dalam surat al Ahzab ayat 6 :

 

 النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْع" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/ummul-mukminin1.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_1191916836&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F13%2Fistri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/21/ibu-kaum-mukminin-ii/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. II ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/juga-untukmu-wahai-para-istri/' rel='bookmark' title='Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;'>Juga Untukmu Wahai Para Istri&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Pengantar Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir Armin [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_371216288" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/" data-text="Keagungan Wanita dalam Naungan Islam..." data-desc="Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Pengantar

Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir Armin Pane dengan judul “Habis gelap terbitlah terang”, yang nama ini semua dijadikan sebuah si" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga-indah.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_371216288&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F11%2Fkeagungan-wanita-dalam-naungan-islam%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-76" title="keagungan wanita dalam naungan Islam" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga-indah.jpg" alt="keagungan wanita dalam naungan Islam" width="124" height="124" />Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “<em><strong>Door Duisternis Tot Licht</strong></em>” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir <strong>Armin Pane</strong> dengan judul <em><strong>“Habis gelap terbitlah terang”</strong></em>, yang nama ini semua dijadikan sebuah simbol perjuangan wanita untuk memperjuangkan hak–hak mereka yang terdholimi.</p>
<p><span id="more-75"></span>Namun yang menjadikan kita harus mengurut dada, adalah lontaran dan celotehan kotor dari sebagian orang yang mengatakan bahwa agama slam tidak menghormati wanita, dan beberapa hukum islam mendlolimi wanita ? Fasubhanalloh, tahukah mereka hakekat yang mereka ucapkan, ataukah ini hanya membeo pada ucapan orang-orang kafr barat yang memang sangat gencar menyerang islan dengan berusaha memburukanya citra dan keagungannya.</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku , islam datang untuk membawa rohmat bagi seluruh alam, sebagamana firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rohmat bagi seluruh alam.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS.  Al Anbiya’ : 107)</p>
</blockquote>
<p>Wanita adalah bagian utama dalam kehidupan dialam semesta, tidak akan baik sebuah kehiduan tanpa pengagungan dan penghormatan kepada mereka, lalu akankah islam mendloliminya ? Tidak  wallohi tidak.</p>
<p>Dari sini marilah kita telusuri bagaimana sebenarnya islam memperlakukan kaum hawa, baik saat menjadi apapun dia, baik saat masih sebagai seorang anak, menjadi ibu, menjadi saudara wanita, menjadi bibi  atau lainnya.</p>
<p>Mudah-mudahan Alloh memberikan taufiq Nya dan menghilangkan syubuhat kotor yang terpolusi oleh hitamnya isu persamaan gender dan emansipasi.</p>
<p><strong>A. Saat Menjadi Anak</strong></p>
<p>Pada zaman Jahiliyyah, menjadi anak wanita benar-benar terhina, orang tua mereka tidak senang dengan kehadirannya bahkan mereka tega membunuhnya dengan menguburnya hidup hidup. Perhatikanlah gambaran qur’ani berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Dan apabila seseorang dari mereka  diberi khabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan  dirinya dari orang banyak, disebabkan burknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya  dengan menangung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah  hidup-hidup ? ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl: 58, 59)</p>
</blockquote>
<p><strong>Al Hafidl Ibnu Hajar</strong> menyebutkan bahwa orang-orang jahiliyyah saat mengubur hidup-hidup anak wanitanya, mereka menggunakan dua cara :</p>
<ul>
<blockquote>
<li>Pertama : Dia memerinthakan istrinya apabila akan melahirkan  supaya berada di dekat sebuah kubangan, lalu apabila  yang lahir adalah laki-laki maka dia membiarkanya, namun apabila perempuan maka segera dilempar ke kubangan tersebut.</li>
</blockquote>
</ul>
<ul>
<blockquote>
<li>Kedua : Ada sebagian lain, yang membiarkan anak wanitanya hidup sampai sekitar umur enam tahun, lalu saat itu dia berkata kepada istrinya : “Hiasilah dan berilah wewangian pada anak ini, saya akan ajak dia mengunjungi kerabat kita”.  Ternyata anak tersebut di bawa ke tangah padang pasir sehingga sampai ke sebuah sumur, lau dia berkata kepada anak wanita tersebut : Lihatlah kedalam sumur ini.” Dan akhirnya dia mendorong anaknya sehingga jatuh kedalamnya. (Lihat Fathul Bari 10/421)</li>
</blockquote>
</ul>
<p>Namun hal itu sangat berbeda dengan islam yang menganggap bahwa kelahiran seorang anak wanita adalah sebuah kenikmatan agung, dan islam memerintahkan untuk memperhatikan serta mendidik mereka, dan islam memberikan balasan besar bagi yang melakukannya.</p>
<blockquote><p>Rosululloh bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">عن عقبة بن عامر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من كان له ثلاث بنات فصبر عليهن وأطعمهن وسقاهن وكساهن من جدته كن له حجابا من النار يوم القيامة</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Uqbah bin Amir berkata : &#8220;Saya mendengar Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang mempunyai <strong>tiga orang anak wanita</strong> lalu sabar menghadapinya dan memberinya pakaian  dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi p<strong>enghalang baginya dari nereka</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ibnu Majah  : 3669, Bukhori dalam adab Mufrod : 76 dan Ahmad 4/154 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 294)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Anas bin Malik berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang <strong>memelihara dua anak wanita</strong> sehingga baligh, maka dia akan datang pada hari kiamat  dan saat itu saya dan dia seperti ini.” Lalu Rosululloh menyatukan antara jari-jari beliau.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 2631)</p>
</blockquote>
<p>Dan pada riwayat lain dari Jabir bin Abdillah, Rosululloh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">من كن له ثلاث بنات يؤويهن و يرحمهن و يكفلهن وجبت له الجنة البتة . قيل : يا رسول الله ! فإن كانت اثنتين ؟ قال : و إن كانت اثنتين . قال : فرأى بعض القوم أن لو قالوا له : واحدة ؟ لقال : واحدة &#8220;</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Barang siapa yang memiliki tiga <strong>anak wanita</strong> lalu memelihara, mengasih sayanginya dan menanggung  hidupnya maka dia pasti masuk surga. Lalu ada yang bertanya : Ya Rosululloh , bagaimana kalau hanya dua ? beliau menjawab : Meskipun hanya dua. Maka ada sebagian orang yang mengatakan bahwa seandainya mereka bertanya : Bagamana kalau Cuma satu, niscaya Rosululloh akan menajawabnya : Meskipun Cuma satu.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/303, lihat Ash Shohihah : 2679)</p>
</blockquote>
<p><strong>B. Saat Menjadi Ibu</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi ibu, maka syariat islam benar-benar menghormati dan mengagungkannya. Hal ini sangat nampak sekali dengan wajibnya seorang anak berbakti pada ibunya, berbuat baik padanya, larangan menyakitinya dengan cara apapun, mendoakan kebaikan baginya serta berbagai hal lain yang membawa kebahagiaan serta kehormatan dirinya.</p>
<p>Salah satu gambarannya adalah firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">“Dan Tuhanmu telah memerintahan supaya kamu jangan menyemba selain Diadan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut  dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan  kepada keduanya perkataan “Ah”dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Ya Alloh, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl : 23, 24)</p>
</blockquote>
<p>bahkan islam lebih mendahulukan menghormati ibu daripada bapak. Sebagaimana hadits berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8220;Datang seseorang kepada Rosululloh lalu bertanya : Wahai Rosululloh, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik padanya ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">Dia bertanya lagi : Lalu siapa ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">dia bertanya lagi : Lalu siapa ?</p>
<p style="text-align: center;">Rosululloh kembali menjawab : <strong>Ibumu</strong>,</p>
<p style="text-align: center;">lalu dia bertanya lagi : Lalu siapa? Rosululloh menjawab : Bapakmu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5971, Muslim : 2548)</p>
</blockquote>
<p>Syariat islam juga menjadikan berbuat bakti kepada orang tua termasuk diantara  amal perbuatan yang paling mulia. Dan ini sangat jelas tergambar dalam beberapa hadits Rosululloh , diantaranya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : &#8221; Saya bertanya kepada Rosululloh : Apakah amal perbuatan yang paling dicintai oleh Alloh ? Rosululloh menjawab : Sholat tepat pada waktunya. Saya bertanya lagi : Lalu apa ? Beliau menjawab : Berbakti kepada kedua oang tua.” Lalu apa lagi : Jihad fisabilillah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5970, Muslim : 85)</p>
</blockquote>
<p>Islam juga menjadikan durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abdur Rohman bin Abu Bakroh dari bapaknya berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Maukah kalian saya tunjukkan kepada perbuatan dosa yang paling besar ? Para sahabat mengatakan : Wahai Rosululloh, Beliau bersabda : &#8220;Berbuat syirik kepada Alloh, durhaka kepada kedua orang tua.” Dan saat itu duduk padahal sebelumnya bersandar : hati-hatilah kalian dengan sumpah palsu.” Rosululloh selalu mengulang-ulanginya sehingga kami mengatakan : Duh, seandainya beliau mau diam.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5976, Muslim : 87)</p>
</blockquote>
<p><strong>C. Saat  Menjadi Istri</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi  istri, maka syariat islam pun sangat memperhatikan hak-haknya serta sangat menghargai dan menghormatinya. Diperintahkan seorang suami untuk berbuat baik kepadanya, tidak menyakitinya, bersabar atas segala kekurangannya, berbuat baik kepada keluarganya, memberinya nafkah dengan cara yang baik, menjaga kehormatannya dan lain sebagainya.</p>
<p>Cukuplah itu semua masuk dalam perintah Alloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nisa’ : 19)</p>
</blockquote>
<p>Dan perhatikanlah beberapa hadits berikut, niscaya engkau akan mengetahui bagaimana islam sangat menghormati seorang istri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : “ Rosululloh bersabda : &#8220;Berbuat baiklah kalian kepada istri, karena dia <strong>diciptakan dari tulang rusuk</strong>, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, kalau  <strong>engkau meluruskannya berarti engkau mematahkanya namun jika engkau biarkan maka dia akan selalu bengkok</strong>, oleh karena itu berbuat baiklah kalian kepada para istri.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 3331, Muslim : 1468)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh  berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, <strong>sebaik-baik kalian yang paling baik terhadap istrinya</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 2/250, Abu Dawud : 4682, Tirmidzi : 1162 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّه قال : قال رسول الله :  فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya Rosululloh bersabda saat khutbah haji wada’ : “Takutlah kalian kepada Alloh tentang urusan istri kalian, karena kalian mengambilnya dengan amanat dari Alloh, dan kalian halalkan farjinya dengan kalimat Alloh, maka hak kalian atas mereka adalah agar mereka kaum istri jangan mengizinkan orang yang kalian benci masuk rumah kalian, kalau sampai mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti, sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berikan nafkah serta pakaiannya dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 1218)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : &#8221; Rosululloh bersabda : &#8220;J<strong>anganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang wanita mu’minah, karena jika dia melihat ada akhlaknya yang tidak disenangi, niscaya dia akan menemukan akhlak lain yang dia senangi</strong>.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 1469)</p>
<p><strong>D. Saat Sebagai Kerabat</strong></p>
<p>Saat seorang wanita menjadi kerabat, baik sebagai saudara, bibi , keponakan maupun saudara sepupu, maka syariat Alloh dan Rosulnya pun tetap menghormati dan mengagungkannya.</p>
<p>Kaum muslimin diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, di perintah untuk menyambung hubungan kekerabatan, menjaga hak-hak mereka serta lainnya.</p>
<p>Perhatikanlah beberapa nash berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عن المقدام بن معد يكرب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الله يوصيكم بأمهاتكم ثلاثا إن الله يوصيكم بآبائكم إن الله يوصيكم بالأقرب فالأقرب .</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Dari Miqdam bin Ma’dikarib bahwasannya Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh berwasiat kepada kalian untuk <strong>berbuat baik kepada ibu-ibu kalian </strong>(tiga kali) , Sesungguhnya Alloh berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, sesungguhnya Alloh berwasiat untuk berbuat baik dengan keluar yang terdekat kemudian yang dekatnya lagi.</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori dalam Adab Mufrod : 60, Ibnu Majah : 3661 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah : 1666)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya orang yang masih punya hubungan keluarga adalah kerabat erat dari Alloh, maka Alloh berfirman : Barang siapa yang menyambungmu maka Aku akan menyambungnya, dan barang siapa yang memutusmu  maka Aku akan memutusnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori  : 5989, Muslim : 2555)</p>
</blockquote>
<p><strong>E. Saat Menjadi Orang Lain</strong></p>
<p>Sampaipun saat seorang wanita hanya menjadi orang lain yang tidak memmpunyai hubungan kekeluargaan dengannya, maka islam masih sangat menghargai dan menghormatinya.</p>
<p>Sebagai sebuah gambaran mudah. Islam memerintahkan untuk <strong>memberikan bantuan saat ada seorang wanita yang membutuhkan</strong>, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ</p>
<p style="text-align: center;">“Orang yang berusaha <strong>membantu para janda</strong> dan orang miskin maka dia berada dijalan Alloh atau seperti orang yang sholat malam dan puasa siang hari.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 6007, Muslim : 2982)</p>
</blockquote>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Inilah sekelumit dari samudra keagungan wanita dalam naungan syariat islam, lalu setelah ini semua, masihkah ada orang yang berani untuk mengatakan bahwa islam mendholimi wanita dan tidak memberikan hak-hak mereka ? Mudah-mudahan Alloh tidak menjadikan kita sebagai orang yang buta hati dan akal. <em>Wallohu a’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_1164523902" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/" data-text="Keagungan Wanita dalam Naungan Islam..." data-desc="Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Pengantar

Ditengah gencarnya arus dan gelombang persamaan gender serta emansipasi wanita, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita . Tanggal 21 April  dikenanglah nama Seorang RA Kartini  dengan kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir Armin Pane dengan judul “Habis gelap terbitlah terang”, yang nama ini semua dijadikan sebuah si" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/bunga-indah.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_1164523902&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F11%2Fkeagungan-wanita-dalam-naungan-islam%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 06:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf 1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki Rosululloh bersabda : إنما النساء شقائق الرجال “Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya Namun sesuatu yang [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_1818415637" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/" data-text="Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)" data-desc="Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf


1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki

Rosululloh bersabda :

إنما النساء شقائق الرجال
“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”

Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya

Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya d" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/uhibbuka-fillah-3.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_1818415637&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F06%2Fpernak-pernik-hukum-wanita%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-65" title="dunia wanita" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/uhibbuka-fillah-3.jpg" alt="dunia wanita" width="95" height="125" /></p>
<p><strong>1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki</strong></p>
<p>Rosululloh bersabda :<span id="more-64"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">إنما النساء شقائق الرجال</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”</strong></p>
</blockquote>
<p>Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya</p>
<p>Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah, karena memang bagaimanapun wanita itu bukan laki-laki, sebagaimana firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Dan laki-laki itu bukan seperti wanita.”</strong></p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ali Imron : 36)</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Mushthofa Al Adawi </strong>berkata:</p>
<blockquote><p>“Hadits di atas berlaku secara umum bagi sebuah masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita maka maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri pada wanita begitu pula hukum tersendiri pada laki-laki.</p></blockquote>
<p><strong>Contoh</strong> :</p>
<ul>
<li>Jangan ada seorangpun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki hanya karna berdasarkan hadits diatas, ini adalah sebuah pendapat yang sangat munkar.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jangan pula ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki, ini adalah sebuah kesalahan nyata.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/12 dengan diringkas)</p>
<p style="text-align: left;">
<p><strong>2. Dzikir yang Menggunakan Lafadz Mudzakkar (maskulin-ed) Apakah Boleh Diucapkan oleh Seorang Wanita dengan Lafadz  Mu’anats (feminin-ed)?</strong></p>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam</strong> pernah ditanya tentang seorang wanita yang mendengar sabda Rosululloh berdo’a :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي عَبْدُك وَابْنُ عَبْدِك نَاصِيَتِي بِيَدِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (laki-laki) Mu dan anak dari hamba (laki-laki) Mu, ubun-ubunku berada diTangan Mu…..”</p>
<p>lalu wanita tersebut selalu mengucapkan dengan lafadz ini, kemudian ada yang mengatakan kepadanya : Katakanlah :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ أَمَتِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu  dan anak wanita dari hamba (wanita) Mu……”</p>
<p>namun wanita tersebut tetap menggunakan lafadz hadits diatas, apakah ini sebuah kesalahan ataukah bukan ?</p></blockquote>
<blockquote>
<ul>
<li><strong>Syaikhul Islam</strong> menjawab : “Yang <strong>seharusnya dilakukan oleh wanita tersebut</strong> adalah mengucapkan :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ عَبْدِك ابْنِ أَمَتِك</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu dan saya adalah anak wanita dari hamba (laki-laki) Mu yang merupakan anak laki-laki dari hamba (wanita) Mu …”</p>
<p>maka ini adalah lebih baik dan lebih utama. Meskipun kalau dia mengucapkan : <strong>عَبْدُك ابْنُ عَبْدِك</strong>. maka itu ada sisi benarnya dalam bahasa arab seperti lafadz : <strong>Zauj</strong> <a href="#_ftn1">1</a>. <em>Wallohu a’lam</em></p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 22/488)</p>
</blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>3. Sholat membawa anak kecil</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا</p>
<p style="text-align: center;">Dari Qotadah al Anshori bahwasannya Rosululloh sholat sambil membawa Umamah putri Zainab binti Rosululloh dengan Abul Ash bin Robi’ah bin Abdu Syams, lalu apabila Rosululloh sujud beliau meletakkannya dan apabila berdiri maka beliau menggendongnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Nawawi</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<ul>
<li>“Hadits ini menunjukkan pada pendapatnya <strong>Imam Syafi’i</strong> serta para ulama’ yang mengikuti beliau. Bahwa boleh membawa anak laki-laki ataupun wanita juga binatang suci saat sholat wajib maupun sholat sunnah, dan ini boleh dilakukan oleh imam, ma’mum maupun yang sholat sendirian.</li>
</ul>
<ul>
<li>Namun para ulama’ <strong>Malikiyyah</strong> membawa hadits ini pada sholat sunnah saja, dan mereka melarang melakukan itu pada sholat wajib. Ini adalah sebuah ta’wil yang salah karena lafadz : Beliau mengimami manuisa.” (sebagaimana dalam riwayat lainnya –pent) adalah sebuah keterangan yang tegas menunjukkan bahwa beliau dalam sholat wajib. Maka yang benar dalam masalah ini bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya dilakukan oleh kita dan kebolehan ini berlaku sampai hari kiamat.”</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>4. Wanita yang Sudah Menikah Lalu Berkunjung ke Rumah Orang Tuanya, Apakah Disyariatkan Mengqoshor Sholat ?</strong></p>
<p>Kasus masalah ini adalah seorang wanita yang menikah lalu dia menetap bersama suaminya di tempat yang jauh. Lalu suatu ketika keduanya berkunjung ke tempat orang tua istri, apakah disyariatkan baginya mengqoshor sholat ?</p>
<ul>
<li>Bagi <strong>si suami</strong>,  disyariatkan qoshor sholat kalau dia sholat sendirian atau sebagai imam karena dia sebagai musafir</li>
</ul>
<ul>
<li>adapun bagi<strong> si istri</strong>,  Syaikh Mushthofa al Adawi menjelaskannya sebagai berikut: “Saya tidak menemukan dalil yang shorih (tegas) dalam masalah ini, meskipun yang nampak bagiku bahwa dia mengqoshor sholat, hal ini karena Alloh Ta’ala menyebut rumah suaminya sebagai rumahnya, sebagaimana firman Nya :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan bertaqwalah kalian kepada Robb kalian,<strong> jangan kalian (para suami) mengeluarkan mereka (para istri) dari rumah-rumah mereka</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ath Tholaq : 1)</p>
</blockquote>
<p>juga firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: center;">“Dan sebutlah oleh kalian (para wanita) apa yang dibacakan <strong>di dalam rumah-rumah kalian</strong> dari ayat-ayat Alloh …”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ahzab : 34)</p>
</blockquote>
<ul>
<blockquote>
<li>maka apabila dia berkunjung ke rumah orang tuanya berarti itu sudah bukan rumahnya lagi, maka dia <strong>harus mengqoshor</strong> sholat <strong>di rumah orang tuanya</strong>.” <em>Wallohu a’lam</em></li>
</blockquote>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Mushthofa Al Adawi 1/429)</p>
<p style="text-align: left;">
<p><strong>5. Wanita Memberikan Zakatnya kepada Suami dan Anaknya</strong></p>
<p>Apabila ada seorang<strong> istri yang kaya</strong>, maka <strong>boleh</strong> baginya <strong>memberikan zakat</strong> dan <strong>shodaqohnya</strong> kepada <strong>suaminya</strong> apabila si suami termasuk salah satu dari <strong>delapan golongan</strong> yang berhak menerima zakat. Hal ini dikarenakan seoang istri tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada suami, jadi boleh memberikan harta zakat dan shodaqoh kepadanya.</p>
<p>Ini adalah madzhab Imam Syafi’i, Ats Tauri, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan asy Syaibani, salah satu riwayat dari Malik juga Ahmad bin Hambal.</p>
<p>Dalilnya adalah hadits berikut :</p>
<blockquote><p>عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَوَعَظَ النَّاسَ وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ تَصَدَّقُوا فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ</p>
<p>Dari Abu Sa’id al Khudri berkata : Pada hari raya idul adlha atau idul fithri, Rosululloh keluar ke lapangan sholat, lalu beliau memperingatkan manusia dan memerintahkan mereka untuk bershodaqoh.</p>
<p>Beliau bersabda : Wahai sekalian manusia, bershodaqohlah.”</p>
<p>Lalu beliau melewati jamaah wanita seraya berkata : “<strong>Wahai sekalian kaum wanita, saya melihat kebanyakan kalian adalah penduduk neraka</strong>.”</p>
<p>Para wanita bertanya : “<strong>Kenapa wahai Rosululloh</strong> ?.”</p>
<p>Beliau menjawab : “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri keluarga, dan saya tidak melihat seseorang yang kurang akal dan agamanya namun menghilangkan hati seorang laki-laki yang tegar melebihi salah seorang dari kalian wahai kaum wanita.”</p>
<p>Kemudian, beliau pun pergi. Tatkala sudah sampai rumah, maka Zainab istri Abdulloh ibnu Mas’ud minta izin kepada beliau untuk bertemu, maka dikatakan kepada beliau : “Wahai Rosululloh, ini Zainab.”</p>
<p>Rosululloh bertaya : Zainab siapa ?.”</p>
<p>Dijawab : Istrinya Ibnu Mas’ud.”</p>
<p>Maka Rosululloh berkata : “Silahkan , izinkan dia masuk.”</p>
<p>Zaenab berkata : “Wahai Rosululloh, engkau tadi memerintahkan untuk bershodaqoh, sedangkan saya memiliki perhiasan , dan saya kepingin menshodaqohkannya, namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak untuk diberi harta shodaqoh tersebut.”</p>
<p>Maka Rosululloh bersabda : “ Ibnu Mas’ud benar, <strong>suami dan anakmu lebih berhak engkau beri shodaqoh</strong>.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 1462)</p>
<p>Dalam riwayat lainya Rosululloh bersabda : &#8220;Boleh (memberi shodaqoh kepada suami-pent) dan dia mendapatkan dua pahala, pahala menyambung hubungan kekeluargaan dan pahala shodaqoh.”  (HR. Bukhori : 1466)</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Fathul Bari 3/329, Nailul Author 4/177)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">
<ul>
<li>Namun hukum ini <strong>tidak boleh dibalik</strong>, yaitu<strong> tidak boleh seorang suami memberikan zakat kepada istrinya</strong>, karena suami wajib memberi nafkah kepada istri, yang karena sebab itulah tidak boleh memberikan zakat kepadanya</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Imam Ibnu Qudamah</strong> berkata: “Adapun istri, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya dengan kesepakaan para ulama’.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Ibnul Mundzir</strong> berkata: “Para ulama’ sepakat bahwa seorang suami tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya.” (Lihat Al Mughni 2/649)</li>
</ul>
<p><strong>6. Jika Suami Pelit</strong></p>
<blockquote><p>عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>Dari Aisyah bahwasannya Hindun binti Utbah berkata : &#8220;Ya Rosululloh, Abu Sufyan seorang yang kikir, dia tidak memberikan nafkah yang cukup bagiku dan bagi anak-anakku kecuali apa yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengetahuan dia.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Ambillah apa yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa kalau seorang suami tidak memberikan nafkah yang cukup kepada istri dan anaknya maka boleh bagi mereka untuk mengambil harta suami atau bapaknya tanpa sepengetahuannya, namun yang boleh diambil adalah sekedar yang cukup dengan cara yang baik dan tidak boleh lebih daripada itu.</p>
<p>Berkata<strong> Imam Ibnul Qoyyim</strong> : “Fatwa Rosululloh ini mengandung beberapa hal :</p>
<ol>
<li>Bahwa nafkah kepada istri itu tidak ada ketentuannya, namun      kembali kepada urf yang berlaku.</li>
<li>Bahwa nafkah istri itu sama dengan nafkah anak, kedua      sama-sama menurut urf yang ada.</li>
<li>Hanya bapak yang wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya</li>
<li>Apabila suami dan bapak tidak memberikan nafkah untuk istri      dan anak, maka mereka boleh mengambil sesuatu yang cukup dengan cara yang      baik</li>
<li>Apabila seorang istri masih bisa mengambil nafkah yang cukup      dari suaminya maka dia tidak boleh menuntut cerai</li>
<li>Apabila Alloh dan Rosul Nya tidak menentukan ukuran sebuah      kewajiban, maka dikembalikan kepada urf yang berlaku</li>
<li>Barang siapa yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka bagi      yang seharusnya mendapatkannya boleh mengambilnya sendiri apabila dia      mampu, sebagaimanayang difatwakan oleh Rosululloh kepada Hindun.”</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">(Lihat i’lamul Muwaqqi’in oleh Imam Ibnul Qoyyim)</p>
<p><strong>7. Wanita Mencicipi Makanan Saat Puasa</strong></p>
<ul>
<li>Boleh bagi seorang wanita untuk mencicipi makanan atau mengunyah makanan saat puasa dengan syarat tidak sampai masuk kedalam kerongkongannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Telah datang beberapa atsar dari salaf akan hal ini, diantaranya :</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibnu Abbas berkata: Tidak mengapa mencicipi cuka atau lainnya selagi tidak masuk kedalam kerongkongannya saat puasa.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/47)</li>
</ul>
<ul>
<li>Hal senada datang pula dari Hammad dan Hasan al Bashri serta lainnya.</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><em>Wallohu A’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com">www.ahmadsabiq.com</a></p>
<p><strong>CATATAN KAKI:</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Karena lafadz ini bisa digunakan untuk suami dan istri.</p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_15743927" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/" data-text="Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)" data-desc="Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf


1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki

Rosululloh bersabda :

إنما النساء شقائق الرجال
“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”

Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya

Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya d" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/11/uhibbuka-fillah-3.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_15743927&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F11%2F06%2Fpernak-pernik-hukum-wanita%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/ibu-kaum-mukminin-3/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]'>Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. III ]</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/' rel='bookmark' title='Zakat Perhiasan Wanita'>Zakat Perhiasan Wanita</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Perhiasan Wanita</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 16:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Penyusun: Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Sudah merupakan kodrat seorang wanita menyenangi perhiasan, baik yang terbuat dari emas perak maupun lainnya. Oleh Karena itulah syariat islam menghalalkan berbagai macam perhiasan itu bagi mereka dan mengharamkan sebagiannya seperti emas dan pakaian sutra bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rosululloh : عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ [...]
Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin:5px 0px 5px 0px" id="linksalpha_tag_796975703" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/" data-text="Zakat Perhiasan Wanita" data-desc="Penyusun:
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf


Sudah merupakan kodrat seorang wanita menyenangi perhiasan, baik yang terbuat dari emas perak maupun lainnya. Oleh Karena itulah syariat islam menghalalkan berbagai macam perhiasan itu bagi mereka dan mengharamkan sebagiannya seperti emas dan pakaian sutra bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rosululloh :

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ع" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/10/cincin.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_796975703&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F30%2Fzakat-perhiasan-wanita%2F&gplus=1&twitter=1&fblike=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=0&digg=0&stumbleupon=0&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fblikelang=en_US&gbuzzlang=en&fblikeverb=like&fblikefont=arial&fblikeref=linksalpha&gplusctr=1&twitterctr=1&linkedinctr=1&gbuzzctr=1&redditctr=1&pinterestctr=1&diggctr=1&stumbleuponctr=1&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p align="center">Penyusun:</p>
<p align="center"><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</strong></a></p>
<p align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-43" title="zakat perhiasan wanita [ahmadsabiq.com]" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/10/cincin.jpg" alt="zakat perhiasan wanita [ahmadsabiq.com]" width="124" height="98" /></p>
<p>Sudah merupakan kodrat seorang wanita menyenangi perhiasan, baik yang terbuat dari emas perak maupun lainnya. Oleh Karena itulah syariat islam menghalalkan berbagai macam perhiasan itu bagi mereka dan mengharamkan sebagiannya seperti emas dan pakaian sutra bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Musa al Asy’ari bahwasannya Rosululloh bersabda : “Diharamkan pakiaian sutra dan emas bagi kaum laki-laki dari ummatku dan halal bagi wanita mereka.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud : 4057, Tirmidzi : 1720, Nasai 8/160  dan Ibnu Majah : 3595 dengan sanad shohih)<span id="more-42"></span></p>
<p>Namun, karena berbagai macam perhiasan ini adalah sebuah barang mahal dan berharga, apakah wajib dikeluarkan zakatnya ataukah tidak ? dan kalau memang wajib bagaimana cara mengeluarkannya ?</p>
<p>Inilah yang insya Alloh akan kita bahas pada edisi kali ini. Semoga Alloh menjadikannya bermanfaat. <em>Wallohul Muwaffiq</em></p>
<p><strong>Perhiasan yang terbuat dari emas dan perak.</strong></p>
<p>Sudah maklum bersama bahwasannya orang yang memiliki emas dan perak wajib mengeluarkan zakatnya kalau sudah mencapai satu nishob dan sudah dimiliki selama satu tahun. Berdasarkan hadits :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ قَالَ إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Ali bin Abi Tholib  dari Rosululloh bersabda : &#8220;Jika engkau memiliki 200 dirham  dan sudah lewat satu tahun , maka wajib mengeluarkan zakat lima dirham. Dan engkau tidak wajib mengeluarkan apapun  sehingga engkau memiliki dua puluh dinar, namun jika engkau memiliki dua puluh dinar dan sudah lewat satu tahun, maka wajib mengeluarkan setengah dinar.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud : 1558, Tirmidzi : 616, Nasa’i 5/37, Ibnu Majah : 1790 dengan sanad shohih sebagaimana dinyatakan oleh Imam Bukhori, al Hafidz Ibnu Hajar dan al Albani)</p>
</blockquote>
<p>Hal ini adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama’, namun mereka berselisih tentang masalah perhiasan wanita, apakah masuk dalam hukum ini ataukah tidak.</p>
<p>Namun sebelum beranjak lebih lanjut, harus diketahui bahwa perhiasan itu ada tiga macam :</p>
<ol>
<li>Ada yang dipakai</li>
<li>Ada yang disimpan</li>
<li>Ada yang dijadikan sebagai barang      perdagangan</li>
</ol>
<p>Untuk perhiasan emas dan perak yang di simpan, maka ini wajib di keluarkan zakatnya, sedangkan yang dijadikan barang perdagangan, maka hukumnya kembali pada zakat perdagangan.</p>
<p>Adapun <strong>yang dipakai oleh seorang wanita</strong>, maka inilah yang terdapat khilaf dikalangan para ulama’ menjadi <strong>empat pendapat</strong>, yaitu :</p>
<ol>
<li>Tidak wajib dikeluarkan zakatnya,  ini adalah madzhab jumhur ulama’, serta      merupakan madzhab dari Ibnu Umar, Jabir bin Abdillah, Aisyah dan Asma’      binti Abu Bakr.</li>
<li>Wajib di keluarkan zakatnya, dan ini      adalah madzhab Hanafiyyah, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Ibnu Hazm      serta merupakan pendapat Ibnu Mas’ud, Umar bin Khothob, Abdulloh bin Amr      bin Ash dan salah satu riwayat dari Aisyah. Dan madzhab inilah yang      dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz, AL Albani dan Syaikh Ibnu al Utsaimin.</li>
<li>Wajib di zakati sekali saja untuk      selamanya</li>
<li>Zakat perhiasan adalah dengan      meminjamkannya kepada orang lain</li>
</ol>
<p>Dari keempat madzhab ini yang dikuatkan oleh dalil adalah dua pendapat yang pertama, adapun dua pendapat yang terakhir, maka tidak ditemukan dalil yang mendukungnya, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Syaikh Mushthofa Al Adawi dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ meskipun didapatkan beberapa atsar tentang hal tersebut dari sebagian  salaf.</p>
<p>Oleh karena itu pembahasan ini saya pusatkan pada <strong>dua pendapat pertama</strong> saja.</p>
<p>.</p>
<p><strong>I. PENDAPAT ZAKAT PERHIASAN TIDAK WAJIB</strong></p>
<p>Adapun para ulama yang berpendapat <strong>tidak wajibnya zakat perhiasan</strong> yang dipakai, mereka berdalil dengan beberapa hal berkut :</p>
<p><strong>1. Hadits :</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>ليس في الحلي زكاة</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Tidak ada zakat pada perhiasan.”</strong></p>
</blockquote>
<p>Namun <strong>hadits ini bathil</strong> sebagaimana dikatakan oleh Imam Baihaqi dan lainnya, yang shohih bahwa lafadz ini ucapannya Jabir bin Abdillah (Lihat Irwa’ul Gholil oleh Syaikh al Albani : 817)</p>
<p><strong>2. Beberapa atsar dari salaf :</strong></p>
<ul>
<li>Dari Nafi’ berkata bahwasannya Abdulloh ibnu Umar memakaikan perhiasan emas kepada anak-anak wanita dan budak wanitanya  dan beliau tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Malik : 585, Baihaqi 4/138 dengan sanad shohih sampai pada beliau)</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibnu Umar juga pernah berkata : “Tidak ada zakat pada perhiasan.” (HR. Abdur Rozzaq 4/72, Ibnu Abi Syaibah 3/154, Daruquthni 2/109 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Jabir bin Abdillah pernah di tanya tentang masalah perhiasan : “Apakah ada zakatnya ?.” beliau menjawab : “Tidak ada” dia bertanya lagi : Meskpun sebanyak seribu dinar ? Jabir menjawab : Meskipun banyak.” (HR. Abdur Rozzaq 4/82, Baihaqi 4/138 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Aisyah bahwasannya beliau mengurusi beberapa keponakannya yang yatim, mereka memiliki perhiasan, namun beliau tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Malik : 584, Abdur Rozzaq 4/138 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Asma’ binti Abu Bakr bahwasannya beliau tidak mengeluarkan zakat perhiasan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/155d dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<p><strong>3. Dalil qiyasi</strong></p>
<p>Mereka mengatakan bahwasannya zakat itu cuma wajib pada harta yang bisa berkembang, sedangkan perhiasan wanita itu tidak bisa berkembang, maka berarti mirip dengan baju yang di pakai yang tidak wajib dikeluarkan zakatnya meskipun baju tersebut mahal. Hal ini berbeda kalau emas tersebut memang untuk di simpan, atau di perdagangkan, karena itu merupakan harta yang berkembang.</p>
<p>.</p>
<p><strong>B. PENDAPAT ZAKAT PERHIASAN WAJIB</strong></p>
<p>Adapun para ulama’ yang mengatakan wajibnya zakat perhiasan, mereka berdalil dengan beberapa dalil berikut :</p>
<p><strong>1. Dalil keumuman wajibnya zakat emas dan perak</strong></p>
<ul>
<li>sebagaimana firman Alloh :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون</p>
<p style="text-align: center;">“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Alloh, maka beritahukanlah kepaa mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari di panaskan emas perak itu dalam neraka jahannam , lalu di bakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. At Taubah : 34, 35)</p>
</blockquote>
<p>yang dimaksud dengan kanzun adalah harta benda yang tidak dikeluarkan zakatnya. Berkata Ibnu Umar : “Harta benda yang sudah dikeluarkan zakatnya bukan termasuk kanzun meskipun berada di adasar bumi, sedangkan harta yang nampak namun tidak dikeluarkan zaatnya maka itulah kanzun.” (HR. Abdur Rozzaq 4/107 dengan sanad shohih)</p>
<ul>
<li>juga sabda Rosululloh :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh bahwasannya Rosululloh bersabda : &#8220;Tidaklah orang yang memiliki emas dan perak lalu tidak menunaikan kewajibannya, kecuali nanti pada hari kiamat akan di jadikan lempengan dari api neraka lalu di panaskan dan di setrikakan kepada lambung, dahi dan punggung mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 987, Abu Dawud : 1642)</p>
</blockquote>
<p><strong>2. Beberapa dalil khusus tentang wajibnya zakat perhiasan :</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِي يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهَا أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا قَالَتْ لَا قَالَ أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ قَالَ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَتْ هُمَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Amr bin Syu’aib dari bapak dari kakeknya bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepada Rosululloh bersama anak wanitanya, yang ditangannya terdapat dua gelang besar yang terbuat dari emas. Maka Rosululloh bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah mengeluarkan zakat ini ?.” dia menjawab : “Belum.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Apakah engkau senang kalau nantinya Alloh akan menggelangkan kepadamu pada hari kiamat dengan dua gelang dari api neraka.” Maka wanita itupun melepas keduanya dan memberikannya kepada Rosululloh seraya berkata : “Keduanya untuk Alloh dan Rosul Nya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud : 1563, Nasa’i 5/38, Tirmidzi : 637, Ahmad 2/178 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى فِي يَدَيَّ فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ فَقُلْتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ قُلْتُ لَا أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ هُوَ حَسْبُكِ مِنَ النَّارِ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Syadad bin Hadi berkata : Kami masuk menemui Aisyah Istrinya Rosululloh, lalu beliau berkata : “Rosululloh masuk menemuiku lalu beliau melihat ditanganku beberapa cincin dari perak, lalu beliau bertanya : “Apakah ini wahai Aisyah ?.” maka saya jawab : “Saya memakainya demi berhias untukmu wahai Rosululloh.” Lalu beliau bertanya lagi : “Apakah sudah engkau keluarkan zakatnya ?.” Belum, jawabku. Maka beliau bersabda : “Cukuplah itu untuk memasukkanmu dalam api neraka.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. HR. Ahmad 6/461, Thobroni dalam Al Kabir 24/181 dengan sanad hasan)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ دَخَلْتُ أَنَا وَخَالَتِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَنَا أَتُعْطِيَانِ زَكَاتَهُ قَالَتْ فَقُلْنَا لَا قَالَ أَمَا تَخَافَانِ أَنْ يُسَوِّرَكُمَا اللَّهُ أَسْوِرَةً مِنْ نَارٍ أَدِّيَا زَكَاتَهُ</p>
<p style="text-align: center;">Dari Asma’ binti Yazid berkata : “Saya masuk bersama bibiku menemui Rosululloh, dan saat itu bibiku memakai beberapa gelang dari emas. Maka Rosululloh bertanya kepada kami : “Apakah kalian sudah mengeluarkan zakat ini ?.” kami jawab : “Tidak.” Rosululloh bersabda : &#8220;Tidakkah kalian takut kalau nantinya Alloh akan memakaikan kepada kalian gelang dari apai neraka, keluarkanlah zakatnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 6/461, Thobroni dalam al Kabir 24/181 dengan sanad hasan)</p>
</blockquote>
<p><strong>3. Beberapa atsar dari salaf :</strong></p>
<ul>
<li>Dari Ibnu Mas’ud bahwasannya ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau tentang zakat perhiasan, maka beliau menjawab : Apabila sudah mencapai dua ratus dirham maka keluarkan zakatnya.” Wanita tadi bertanya lagi : Dirumahku ada beberapa anak yatim, apakah saya boleh untuk memberikan zakatnya kepada mereka ? Beliau menjawab : Boleh.” (HR. Abdur Rozaq 4/83, Thobroni 9/371 dengan sanad shohih)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Abdullloh bin Amr bin Ash bahwasannya beliau memerintahkan kepada bendaharanya untuk mengeluarkan zakat perhiasan anak-anak wanitanya setiap tahun.” (HR. Daruquthni dengan sanad hasan)</li>
</ul>
<ul>
<li>Dari Aisyah bahwasannya beliau berkata : “Tidak mengapa memakai perhiasan apabila dikeluakan zakatnya.” (HR. Daruquthni 2/107, Baihaqi 4/139 dengan sanad hasan)</li>
</ul>
<ul>
<li>Selain atsar dari para sahabat tersebut, juga di temukan beberapa atsar dari para tabi’in tentang wajibnya  zakat perhiasan. Diantaranya adalah : datang dari Sa’id bin Musayyib, Sa’id bin Jubair, Ibrohim An Nakho’i, Atho’ bin Abi Robah, Zuhri, Abdulloh bin Syadad, Sufyan Ats Tsauri dan lainnya (Lihat perinciannya pada <em><strong>Jami’ Ahkamin Nisa’</strong></em> )</li>
</ul>
<p><strong>PENDAPAT YANG KUAT</strong></p>
<p>Setelah pemaparan madzhab para ulama’ ini, maka yang nampak bagi kami insya Alloh adalah madzhab kedua yang menyatakan wajibnya mengeluarkan zakat perhiasan apabila telah mencapai satu nishob dan mencapai satu tahun, karena beberapa hal berikut :</p>
<ol>
<li>Keumuman dalil yang mewajibkan zakat emas dan perak, sedangkan perhiasan juga terbuat dari emas dan perak. Padahal sudah maklum dalam ilmu ushul Fiqh bahwa sebuah lafadz umum harus di bawa pada keumuman sampai ada yang mengkhususkan. Lalu dalil apa yang mengkhususkan perhiasan dari keumuman wajibnya zakat ? setahu kami tidak ada dalil yang mengkhususkan, karena hadits yang di jadikan dalil madzhab pertama adalah sebuah hadts yang lemah, sedangkan ucapan para sahabat tidak bisa untuk mengkhususkan al Qur’an dan As Sunnah.</li>
<li>Adanya dalil khusus tentang wajibnya zakat perhiasan emas dan perak adalah sebuah dalil yang tak terbantahkan.</li>
<li>Mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak itu sikap yang lebih hati-hati dalam menjalankan perintah syar’i .</li>
<li>Adapun mengenai dalil yang digunakan oleh jumhur ulama’, maka bisa di katakan : bahwa haditsnya lemah. Sedangkan atsar dari para sahabat tidak bsa dijadikan hujjah karena bertentangan dengan Al Qur’an dan as sunnah juga bertentangan dengan ucapan sahabat lainnya.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;"><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>Perhiasan yang terbuat dari selain emas dan perak</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Adapun perhiasan yang terbuat dari selain emas dan perak, seperti permata, zamrud atau lainnya, maka tidak ada khilaf dikalangan para ulama’ bahwa itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali kalau digunakan sebagai barang perdagangan maka wajib di zakati zakat perdagangan.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat al Umm oleh Imam Syafi’i 2/36, Jami’ ahkamin nisa’ Syaijkh Mushthofa al Adawi 2/ 143-165, Shohih fiqhis sunnah oleh Syaikh Abu Malik 2/26)</p>
</blockquote>
<p><strong>FAEDAH</strong></p>
<p>1. Tidak wajib mengeluarkan zakat perhiasan kecuali sudah mencapai satu nishob.</p>
<ul>
<li><strong>Nishob emas</strong> adalah<strong> 20 Dinar</strong>, dan setiap <strong>satu dinar</strong> adalah <strong>4,25 (empat seperempat) gram emas</strong>. Jadi <strong>20 dinar</strong> sama dengan <strong>85 gram emas</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ada sebuah <strong>pertanyaan</strong> yang sering muncul : Bagaimana mungkin seorang wanita memakai perhiasan sebanyak itu ?</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Jawabnya</strong> : Yang dimaksud dengan nishob disini bukan berarti harus dipakai semuanya, namun yang penting <strong>dia memiliki emas sebanyak itu</strong>. Misalkan : Dia memiliki emas, yang dia pakai hanya 15 gram, sedangkan yang dia simpan  sebanyak 70 gram, maka berarti dia memiliki satu nishob.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sedangkan <strong>nishob perak </strong>adalah <strong>200 dirham</strong> yang setara dengan <strong>595 gram perak</strong>.</li>
</ul>
<p>2. Tidak wajib zakat kecuali emas dan perak itu sudah <strong>dimilikinya</strong> selama <strong>satu tahun</strong>. Dan yang dimaksud tahun adalah<strong> tahun hijriyah, bukan masehi</strong>, karena semua ketentuan syar’i yang berhubungan dengan tanggal adalah dengan tanggal hijriyyah.</p>
<p>3. Perhiasan<strong> emas</strong> yang dipakai oleh kaum <strong>laki-laki </strong>hukumnya <strong>harom</strong>. Maka wajib dikeluarkan zakatnya dengan kesepakatan para ulama’. Khilaf diatas hanya berlaku pada perhiasan yang dipakai kaum wanita secara halal.</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p><a href="http://ahmadsabiq.com"><strong>www.ahmadsabiq.com</strong></a></p>
<div style="margin:0px 0px 0px 0px" id="linksalpha_tag_73376871" class="linksalpha-email-button" data-url="http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/" data-text="Zakat Perhiasan Wanita" data-desc="Penyusun:
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf


Sudah merupakan kodrat seorang wanita menyenangi perhiasan, baik yang terbuat dari emas perak maupun lainnya. Oleh Karena itulah syariat islam menghalalkan berbagai macam perhiasan itu bagi mereka dan mengharamkan sebagiannya seperti emas dan pakaian sutra bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rosululloh :

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ع" data-image="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2009/10/cincin.jpg" data-site="Ahmad Sabiq Abu Yusuf"></div><script type="text/javascript" src="http://www.linksalpha.com/social/loader?script_type=buttons_counters&tag_id=linksalpha_tag_73376871&link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2009%2F10%2F30%2Fzakat-perhiasan-wanita%2F&gplus=1&twitter=1&fbsend=1&linkedin=1&gbuzz=0&tumblr=0&reddit=0&pinterest=1&digg=0&stumbleupon=1&gpluslang=en-US&twitterlang=en&fbsendlang=en_US&gbuzzlang=en&twittermention=&twitterrelated1=&twitterrelated2=&halign=center"></script><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/06/pernak-pernik-hukum-wanita/' rel='bookmark' title='Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)'>Pernak-Pernik Hukum Wanita (Bag. I)</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/wanita-karir/' rel='bookmark' title='Wanita Karir: Sadarlah!'>Wanita Karir: Sadarlah!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/13/istri-istri-rasululloh-adalah-ibu-kaum-mukminin-bag-i/' rel='bookmark' title='Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]'>Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ Bag. I ]</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/zakat-perhiasan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

