<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Sabiq Abu Yusuf &#187; Admin</title>
	<atom:link href="http://ahmadsabiq.com/author/jati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadsabiq.com</link>
	<description>Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 02:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Zina]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengantar Beberapa waktu yang lalu pada suatu kajian, saat saya menyampaikan bahwa&#8230;. Tidak ada hubungan nasab antara laki-laki dengan anak yang lahir karena hasil zinanya, keduanya tidak saling mewarisi, tidak boleh anak tersebut di nasabkan kepadanya, tidak ada kewajiban memberi nafkah dan lainnya, &#8230;. ada sebuah pertanyaan yang terlontar, yaitu : Kalau memang tidak [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/09/fiqh-anak-zina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Anak Zina Anak Haram ?'>Anak Zina Anak Haram ?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!'>Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F07%2F20%2Fnikahi-anak-hasil-zina%2F">
										</iframe>
										</div><h4><strong><span style="color: #0000ff;">A. Pengantar</span></strong></h4>
<p>Beberapa waktu yang lalu pada suatu kajian, saat saya menyampaikan bahwa&#8230;.</p>
<ul>
<li>Tidak ada hubungan nasab antara laki-laki dengan anak yang lahir karena hasil zinanya,</li>
<li>keduanya tidak saling mewarisi,</li>
<li>tidak boleh anak tersebut di nasabkan kepadanya,</li>
<li>tidak ada kewajiban memberi nafkah dan lainnya,</li>
</ul>
<p>&#8230;. ada sebuah pertanyaan yang terlontar, yaitu :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong><em>Kalau memang tidak ada hubungan nasab antara keduanya, lalu bolehkah bagi seorang bapak untuk menikah dengan seorang anak wanita yang merupakan hasil dari zinanya sendiri?</em></strong></span></p>
</blockquote>
<p>Pertanyaan ini kelihatannya aneh, karena kayaknya secara <strong>fithroh</strong> manusia, seseorang tidak akan berfikir untuk melakukan itu. Namun terbersit dalam pikiran saya, bahwa pertanyaan semacam ini mungkin saja nongol di benak sebagian kaum muslimin di belahan bumi lainnya, dari sinilah maka pembahasannya saya munculkan di edisi kali ini, mudah-mudahan Alloh menjadikannya bermanfaat.<span id="more-247"></span></p>
<h4><strong><span style="color: #0000ff;">B. Zina perbuatan keji dan munkar</span></strong></h4>
<p>Berzina adalah perbuatan keji dan munkar dalam pandangan semua agama, tidak pernah ada agama satupun yang membolehkannya. Dan Alloh Ta’ala dengan tegas mengharamkannya  juga mengharamkan semua jalan yang menuju pada perbuatan keji ini.</p>
<p>Alloh berfirman :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, karena itu adalah perbuatan keji dan jalan yang  jelek.” (QS. Al Isro’ : 32)</p>
</blockquote>
<p>oleh karena itu Rosululloh menjadikan zina ini adalah diantara salah satu penyebab seorang muslim boleh untuk dibunuh</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِاللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمَارِقُ مِنَ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Mas’ud dari Rosululloh bersabda : &#8220;Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Alloh dan sesungguhnya saya adalah Rosululloh kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Membunuh jiwa,  orang yang sudah pernah nikah lalu berzina dan orang yang meninggalkan agamanya dan menyelisihi jamaah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori  6878, Muslim 1676)</p>
</blockquote>
<p>perbuatan zina ini sebagaimana bertentangan dengan syara’, juga bertentangan dengan akal sehat, sampaipun akalnya para binatang. Perhatikanlah kisah aneh yang dikisahkah oleh Imam Bukhori no : 3849</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Amr bin Maimum Al Audi berkata : &#8220;Saya melihat pada zaman jahiliyyah kera-kera mengepung seekor kera yang berzina. Lalu mereka merajamnya , maka saya pun ikut merajamnya.”</p>
</blockquote>
<p>Subhanalloh, wahai orang yang melakukan dan melegalisasikan perzinaan, apakah kalian tidak malu denga si kera, yang merajam temannya sendiri karena berzina ataukah kalian lebih rendah daripada si kera ? wal iyadzu billah dari kerusakan akal dan hati.</p>
<p>Oleh karena itu Alloh menjadikan hukuman perbuatan zina ini sangat berat, lebih berat dari pada hukuman pembunuhan, pencurian dan lainnya. Bagi orang yang muhshon (sudah pernah  menikah secara halal) maka hukumannya adalah dirajam sampai meninggal dunia sedangkan bagi yang belum menikah maka dicambuk seratus kali lalu diasingkan selama setahun.</p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ</h2>
<p style="text-align: center;">“Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, maka cambuklah keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Alloh.” (QS. An Nur : 2)</p>
</blockquote>
<p>Dari Jabir bin Abdillah al Anshori : bahwasanya ada seseorang dari kabilah Aslam datang kepada Rosululloh dan mengatakan bahwa dirinya telah berzina, dan dia bersaksi empat kali atas hal itu, maka Rosululloh memerintahkannya untuk dirajam. Dan dia itu adalah seorang yang muhshon.” (HR. Tirmidzi : 1454, Abu Dawud : 4407 lihat Shohih Abu Dawud : 3725)</p>
<p>Dan tidak sampai disini saja, tapi Rosululloh juga menafikan nama iman bagi orang yang berzina, sebagaimana dalam hadits</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ibnu Abbas berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Tidaklah seorang hamba berzina saat dia berzina dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhori  : 6772)</p>
</blockquote>
<h4><strong><span style="color: #0000ff;">C. Nasab anak zina</span></strong></h4>
<p>Namun dengan keharaman yang sangat keras tersebut, bisa saja seorang muslim karena kelemahan imannya terjerumus kedalamnya. Yang dari hubungan haram tersebut sangat dimungkinkan lahirnya seorang anak, lalu <strong>bagaimanakah dengan masalah nasabnya</strong> ?</p>
<p>Para ulama’ sepakat bahwa apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, lalu dia hamil dari hasil zina tersebut dan melahirkan seorang anak, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan tidak ada hubungan nasab sama sekali antara dia dengan laki-laki yang menghamili ibunya.</p>
<p>(Lihat masalah ini pada At Tamhid oleh Imam Ibnu Abdi  Bar 7/183, Al Istidzkar oleh beliau juga 22/177, Al Majmu’ Syarah Muhadzab oleh Imam Nawawi 19/48, Al Muhalla oleh Ibnu Hazm 10/323, Zadul MA’ad oleh Imam Ibnul Qoyyim)</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits berikut :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا لَاعَنَ امْرَأَتَهُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا فَفَرَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُمَا وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالْمَرْأَةِ</h2>
<p style="text-align: center;">Daro Abduloih bin Umar berkata : &#8220;Sesungguhnya seorang laki-laki meli’an <a href="#_ftn1">1</a> isrtinya pada zaman Rosululloh dan tidak mengakui anaknya, maka belia memisahkan antara keduanya da n menasabkan anak tersebut kepada ibunya.” (HR. Bukhori : 6748, Muslim : 1494)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari <strong>Aisyah</strong> berkata : <strong>Sa’ad bin Abi Waqqosh</strong> dan <strong>Abd bin Zam’ah</strong> bertengkar mengenai seorang anak, Sa’d berkata : Wahai Rosululloh,, ini adalah keponakanku (anak saudaraku)  yang bernama <strong>Utbah bin Abi Waqqosh</strong>, dia berpesan kepadaku bahwa ini ini adalah anaknya, lihatlah pada kemiripan antara keduanya.”</p>
<p style="text-align: center;">Lalu <strong>Abd bin Zam’ah</strong> berkata : “Wahai Rosululloh, ini adalah saudaraku, dia terlahir di <strong><em>firosy</em></strong> <a href="#_ftn2">2</a> bapakku dari budak wanitannya.”</p>
<p style="text-align: center;">Maka, Rosululloh pun memandanganya dengan cermat dan beliau melihat adanya kemiripan yang jelas  antara  dia dengan Utbah bin Abi Waqqosh, namun beliau bersabda : “<span style="color: #ff0000;">Dia saudaramu wahai Abd bin Zam’ah, Anak itu milik yang memiliki firosy, dan bagi seorang pezina hanyalah kerugian</span>.” (HR. Bukhori : 6750, Muslim 2/180)</p>
</blockquote>
<p>Sisi pengambilan dalil dari hadits ini adalah sabda Rosululloh : &#8220;Dan bagi seorang pezina hanyalah kerugian.&#8221; Yang mana konsekwensinya bahwa seorang yang berzina tidak memiliki nasab anak tersebut, karena dia tidak memiliki firosy.</p>
<p>Adapun kenapa kok di nasabkan kepada ibunya ? maka jawabannya jelas yaitu karena anak itu memang terlahirdari rahim ibu tersebut, sama saja apakah lahir karena nikah syar’i ataukah kerena zina. (Lihat Fathul Bari 10/36, Al Majmu’ Syarah Muhadzab 19/38)</p>
<p>Yang mana konsekwensi dari tidak adanya hubungan nasab antara keduanya adalah keduanya tidak saling mewarisi, laki-laki tersebut tidak boleh menjadi wali pernikahan anak  perempuan dari hasil zinanya dan beberapa hal lainnya yang seharusnya di perbolehkan bagi seorang bapak pada anaknya.</p>
<h4><strong><span style="color: #0000ff;">D. Lalu bagaimana dengan menikahinya?</span></strong></h4>
<p>Dinukil adanya dua pendapat ulama’ dalam masalah ini.</p>
<ul>
<li><strong>Imam Syafi’i</strong> dan <strong>Malik</strong> dalam riwayat yang masyhur dalam madzhab mereka membolehkan menikah dengan anak perempuan dari hasil zinanya. (Lihat Al Um oleh Imam Syafi’i 5/42 <a href="#_ftn3">3</a>, Al Majmu’ oleh Nawawi 17/386, Roudlotuth Tholibin 5/447, At Tamhid oleh Ibnu Abdil Barr 8/191). Hanya saja <strong>Imam Ahmad</strong> mengingkari bahwa hal ini pernah di katakan oleh Imam Syafi’i dan Malik (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 32/142) juga Imam Ibnul Qoyyim dan Syaikh Al Albani mengingkari pendapat ini pernah dikatakan oleh Imam Syafi’i (Lihat i’lamul Muwaqqi’in 1/47, Tahdzirus Sajid hal : 53)</li>
</ul>
<p>Dalil yang mereka gunakan adalah bahwa anak perempuan hasil zina tersebut bukan anak perempuannya secara hukum syar’i, oleh karena itu keduanya tidak saling mewarisi, tidak wajib memberi nafkah dan tidak boleh menjadi wali dalam pernikahan anak wanita tersebut serta tidak berlaku seluruh hubungan nasab antara keduanya, maka kalau memang anak wanita tersebut secara syar’i bukan anaknya, berarti tidak masuk dalam keumuman firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…” (QS. An Nisa’ :23)</p>
</blockquote>
<p>dan malah kebalikannya termasuk dalam keumuman firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan dihalakan bagi kalian semua selain yang demikian.” (QS. An Nisa’ : 24)</p>
</blockquote>
<ul>
<li>Sedangkan <strong>Imam Abu Hanifah</strong>, <strong>Imam Ahmad </strong>dan <strong><em>jumhur Ulama’</em></strong> melarang seorang laki-laki menikah dengan anak wanita hasil zinanya dengan dalil bahwa dia termasuk dalam keumuman firman Alloh Ta’ala, yang artinya :</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…” (QS. An Nisa’ : 23)</p>
</blockquote>
<p>karena lafadz :  “<em>anak-anak perempuan kalian</em>.” <span style="text-decoration: underline;">Mencakup semua anak perempuannya</span> dan anak tersebut memang tercipta dari air maninya. (Lihat Al Mughni oleh Imam Ibnu Qudamah 9/529, Bada’i Shona’i oleh Al Kasani 3/1385)<br />
<strong>dan madzhab inilah yang benar –insya Alloh -.</strong><br />
<strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> setelah memaparkan kedua madzhab berkata :</p>
<blockquote><p>“Dan pendapat (kedua) inilah yang benar, sehingga jumhur ulama’ berselisih pendapat apakah orang yang melakukan pernikahan tersebut dihukum  bunuh ataukah tidak ? mereka berselisih menjadi dua pendapat. Imam Ahmad menyatakan bahwa yang melakukannya dibunuh apabila tanpa alasan.” (Majmu’ Fatawa 32/134)</p></blockquote>
<h4><strong><span style="color: #0000ff;">E. Bantahan kepada mazhab pertama :</span></strong></h4>
<p>Adapun apa yang mereka katakan bahwa antara keduanya tidak ada hubungan nasab, maka telah dibantah dengan sangat bagus oleh Syaikhul Islam,  Beliau berkata : “Adapun dalil madzhab jumhur Ulama’  adalah firman Alloh (yang artinya):</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nisa’ : 23)</p>
</blockquote>
<p>Ayat ini <span style="text-decoration: underline;">mencakup</span> semua yang disebut sebagai “<em><strong>anak wanita</strong></em>” baik secara <span style="text-decoration: underline;">hakiki</span> maupun <span style="text-decoration: underline;">majazi</span>, sama saja apakah antara kedanya terdapat hubungan saling mewarisi dan hukum-hukum nasab lainnya ataukah tidak ? karena keumuman yang terdapat pada ayat tahrim (wanita yang diharamkan menikahinya, yang terdapat pada An Nisa’ : 22-25) itu bukan seperti keumuman yang terdapat pada ayat warisan serta ayat lainnya seperti pada firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ</h2>
<p style="text-align: center;">(QS An Nisa’ : 11)</p>
</blockquote>
<p>hal ini bisa dijelaskan dari tiga sisi :</p>
<p><strong>Pertama :</strong></p>
<p>Bahwa ayat tahrim mencakup anak wanita, cucu wanita dari anak laki-laki, cucu wanita dari anak wanita, sebagaimana  kata : “bibi” juga mencakup bibinya bapak, juga mencakup ibu dan kakeknya bapak. Demikian juga mencakup anak wanita dari saudara wanita, serta anak wanita dari keponakan laki-laki dan anak wanita dari keponakan wanita. Dan keumuman seperti ini tidak terdapat dalam  ayat warisan juga ayat lainnya yang berhubungan dengan hukum nasab.</p>
<p><strong>Kedua :</strong></p>
<p>Sesungguhnya haramnya menikah bisa terjadi karena sebab susuan, sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Diharamkan karena hubungan  persusuan sebagaimana diharamkan karena hubungan nasab.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Hadits ini disepakati keshohihannya serta diamalkan oleh seluruh para ulama’. Dari sini Alloh mengharamkan seorang wanita untuk menikah dengan seorang laki-laki yang pernah dia beri minum air susunya, juga tidak boleh baginya untuk menikah dengan anak keturunan anak tersebut, dan anak tersebut tidak boleh menikah dengan ibu serta bibi dari ibu susunya, bahkan anak susu wanita haram menikah dengan suami ibu susunya, maka jika seorang laki-laki haram menikah dengan anak wanita yang disusui istrinya  padahal antara keduanya tidak ada hubungan nasab apapun selain sekedar menjadi mahrom saja, lalu bagaimana halal menikah dengan anak wanita hasil zinanya ? padahal dia tercipta dari air maninya ? mana yang lebih berat antara yang tercipta dari air maninya ataukah yang sekedar minum air susu istrinya ?</p>
<p><strong>Ketiga :</strong></p>
<p>Alloh berfirman :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan istri anak-anak kandung kalian.” (QS. An Nisa’ : 23)</p>
</blockquote>
<p>Para ulama’ berkata : Hal ini untuk mengeluarkan anak angkatnya, sebagaimana dalam firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan Alloh tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kalian(QS. Al Ahzab : 4)</p>
</blockquote>
<p>dan diketahui bersama bahwa orang-orang pada zaman jahiliyyah mereka menganggap anak zina sebagai anaknya itu lebih mereka utamakan daripada anak angkat, maka kalau Alloh mengkhususkan keharaman hanya untuk anak anak kandung, berarti lafadz : “<span style="text-decoration: underline;"><em>anak-anak wanita kalian</em></span>.” Mencakup semua anak wanita yang masuk dalam cakupan bahasa mereka saat itu.</p>
<p>Adapun yang mereka katakan bahwa keduanya tidak saling mewarisi, maka jawabannya bahwa hukum nasab itu bisa terpisah-pisah, mungkin saja berlaku sebagian hukum nasab tanpa sebagian lainnya, sebagaimana sebagian besar yang menentang jumhur ulama; dalam masalah ini sepakat bahwa anak yang di <em><strong>li’an</strong></em> itu haram bagi bapak yang meli’annya namun tidak mewarisinya, juga sebagaimana kisah <strong>Abd ibnu Zam’ah</strong>, dimana setelah Rosululloh menghukumi bahwa anak itu adalah saudara <strong>Abd ibnu Zam’ah</strong>, namun beliau berkata kepada <strong>Saudah binti Zam’ah</strong> :<strong> “Berhijablah engkau darinya wahai Saudah</strong>.”</p>
<p>Di hadits ini Rosululloh menjadikannya sebagai<strong> saudara Saudah </strong>dalam hal <strong>saling mewarisi</strong> namun <strong>tidak dalam ke<em>mahroman</em></strong>.” (Lihat Majmu’ Fatawa 32/142 dengan sedikit diringkas, dan lihat pula Tafsir Ibnu Katsir  1/469, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/43)</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><a href="http://ahmadsabiq.com">ahmadsabiq.com</a></strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> <em><strong>Li’an</strong></em> adalah kalau seorang suami menuduh istrinya berbuat zina sedangkan dia tidak bisa mendatangkan empat saksi dan istrinya tidak mau mengaku, maka hukumnya si suami dihukum cambuk 80 kali karena telah menuduh zina tanpa bukti, namun agar dia tidak dicambuk maka dia bersumpah empat kali bahwa dia benar dalam tuduhannya dan yang kelima bahwa laknat Alloh akan menimpanya kalau dia berdusta, begitu pula si istri bersumpah empat kali kalau tuduhan suaminya dusta dan yang kelima bahwa kemarahan Alloh akan menimpanya kalau tuduhan itu benar.</p>
<p><a href="#_ftnref2">2</a> <em><strong>Firosy</strong></em> adalah istri atau budak wanita, artinya bahwa seseorang yang dilahirkan oleh seorang wanita maka dia adalah anak suami atau tuan dari wanita tersebut, baik ada kemiripan antara keduanya ataukah tidak</p>
<p><a href="#_ftnref3">3</a> Beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Kalau ada seorang wanita yang hamil dari hasil zina , baik yang berzina dengannya mengaku ataupun tidak mengaku, lalu si wanita tersebut menyusuinya, maka anak tersebut adalah anaknya dan bukan anak laki-laki yag berzina dengannya. Dan saya benci  -untuk sebagai sikap waro’ – bagi laki-laki tersebut untuk menikahi anak wanita dari hasil zinanya, namun jika dia menikah dengan anak zinanya tersebut maka tidak saya pisahkan keduanya karena dia memang bukan anaknya sebagaimana dihukumi oleh Rosululloh.”</p></blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/09/fiqh-anak-zina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Anak Zina Anak Haram ?'>Anak Zina Anak Haram ?</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/22/hukum-aborsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hukum Aborsi'>Hukum Aborsi</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/02/pacaran-islami/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!'>Kalau Mau Pacaran, yang “Islami” Saja !!!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/wahai-para-suami-apakah-kau-kira-istrimu-lebih-baik-daripada-istri-istri-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?'>Wahai Para Suami! Apakah Kau Kira Istrimu Lebih Baik daripada Istri-Istri Nabi?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 10:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Al Kisah Singkat cerita, Umar bin Khothob berkata: ”Saat Alloh memberiku hidayah untuk masuk islam, sayapun mengucapkan kalimat La Ilaha Illallohu, tidak ada seorangpun yang lebih saya cintai melebihi Rosululloh. Lalu saya bertanya kepada saudariku: Dimanakah Rosululloh berada ?.” Dia menjawab: Beliau berada di rumah Arqom bin Abil Arqom, dibukit Shofa.” Sayapun berangkat ke sana, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F06%2F30%2Fdemonstrasi-saat-umar-masuk-islam%2F">
										</iframe>
										</div><h2>Al Kisah</h2>
<p>Singkat cerita, <strong>Umar bin Khothob</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>”Saat Alloh memberiku hidayah untuk masuk islam, sayapun mengucapkan kalimat La Ilaha Illallohu, tidak ada seorangpun yang lebih saya cintai melebihi Rosululloh. Lalu saya bertanya kepada saudariku: Dimanakah Rosululloh berada ?.” Dia menjawab: Beliau berada di rumah Arqom bin Abil Arqom, dibukit Shofa.”</p>
<p>Sayapun berangkat ke sana, saat itu Hamzah sedang berada bersama para sahabat lainnya, sedang Rosululloh di ruang dalam rumah. Segera saya mengetuk pintu, para sahabat langsung berkumpul, Rosululloh segera keluar seraya bertanya: Kenapa kalian ? Mereka menjawab: “Ada Umar, wahai Rosululloh.” Rosululloh pun keluar dan langsung mencengkram kerah bajuku lalu melepasnya, tiba-tiba saya tidak bisa menguasai diriku dan langsung terduduk. Lalu Rosululloh bersabda: “Tidakkah engkau beriman wahai Umar ?”</p>
<p>Sayapun langsung berkata: Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh, tiada sekutu bagi Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul Nya.” orang-orang yang berada dirumah segera bertakbir dengan suara keras sampai terdengar di Masjidil harom.” Sayapun lalu berkata: Wahai Rosululloh, bukankah kita diatas kebenaran ? baik kita mati ataupun hidup ? Rosululloh menjawab: Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, kalian berada diatas kebenaran baik kalian mati ataupun hidup.” Maka saya bertanya lagi: “Kalau begitu, kenapa kok sembunyi-sembunyi ? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar.” Maka kami keluar dengan dua barisan, satu barisan di pimpin Hamzah dan yang satunya lagi saya pimpin sehingga kami mendatangi Masjid. Orang-orang Quraisy saat melihat saya dan Hamzah merasa mendapakan pukulan berat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.”</p></blockquote>
<p><span id="more-295"></span></p>
<h2>Derajat Kisah Ini</h2>
<p>Kisah ini sangat lemah sekali bahkan bisa jadi palsu.</p>
<h2>Takhrij Kisah <a href="#_ftn1">1</a></h2>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Abu Nu’aim</strong> dalam Hilyatul Auliya’ 1/40 berkata: Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Ahmad bin Hasan</strong>, berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah</strong> berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdul Hamid bin Sholih</strong> berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Aban</strong> dari <strong>Ishaq bin Abdulloh</strong> dari <strong>Aban bin Sholih</strong> dari <strong>Mujahid</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> dari <strong>Umar bin Khothob</strong>.</p>
<p><strong>Abu Nu’aim</strong> juga meriwayatkan kisah ini dalam Dala’ilun Nubuwwah no: 194 dengan sanad yang sama.</p>
<h2>Sisi Kelemahan Kisah</h2>
<p>Kisah ini lemah dari sisi sanad maupun matan, Adapun dari sisi sanad adalah karena terdapat seorang yang bernama <strong>Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah</strong>.</p>
<ul>
<li><strong>Imam An Nasa’i</strong> berkata: Dia seorang yang matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya)</li>
<li><strong>Imam Bukhori</strong> berkata: Para ulama’ meninggalkannya</li>
<li><strong>Imam Baihaqi</strong> berkata: Dia matruk</li>
<li><strong>Imam Yahya bin Ma’in</strong> berkata: Dia pendusta</li>
<li><strong>Imam Ibnu Hibban</strong> berkata: Dia membolak-balikkan sanad, memarfukkan hadits mursal, dan Imam Ahmad melarang meriwayatkan haditsnya.</li>
</ul>
<p>Dan keterangan yang senada dengan ini datang dari para ulama’ lainnya (Lihat Tahdzibul Kamal Al Mizzi 2/57/362, Adh Dhu’afa’ wal Matrukin oleh <strong>An Nasa’i</strong> no: 50, Adh Dhu’afa’ Al Kabir oleh <strong>Al Bukhori</strong> no: 20, Adh Dhu’afa’ wal Matrukin oleh <strong>Al Baihaqi</strong> no: 94, Al Majruhin oleh <strong>Ibnu Hibban</strong> 1/131, Al Jarh wat Ta’dil oleh <strong>Ibnu Abi Hatim</strong> no: 792, Al Kamil oleh <strong>Ibnu Adi</strong> 1/326 dan lainnya)</p>
<p><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz</strong> menjelaskan bahwa kisah ini lemah karena bersumber dari <strong>Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah</strong>, sedangkan dia adalah rowi yang lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Seandainya kisah ini shohih, maka harus difahami bahwa kejadian ini di awal masa Islam yakni sebelum sempurnanya syari’at. (Lihat Majmu’ Fatawa wal Maqolat 8/257)</p>
<h2>Kelemahan Kisah dari Sisi Matan</h2>
<p>Kisah ini bertentangan dengan beberapa riwayat shohih yang menceritakan tentang kisah masuk islamnya Umar, diantaranya:</p>
<p><strong>Imam Bukhori</strong> dalam Shohih beliau no: 3865 pada bab: “Islamnya Umar bin Khothob” meriwayatkan dari <strong>Abdulloh bin Umar</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tatkala Umar masuk islam, maka orang-orang berkumpul di rumahnya seraya berkata: “Umar telah keluar dari agama nenek moyangnya.” Mereka katakan itu sedang saat itu saya masih kecil yang sedang berada diatas loteng rumah. Tiba-tiba datanglah seseorang yang memakai kain sutra lalu berkata: “Apakah yang kalian katakan ini ? padahal saya adalah tetangganya.” Akhirnya orang-orang tersebut pun bubar. Saya bertanya: Siapa ia ? mereka menjawab: “Dia al Ash bin Wa’il.”</p></blockquote>
<p><strong>Imam Ibnu Katsir</strong> dalam Bidayah Wan Nihayah 3/81 meriwayatkan kisah masuk islamnya Umar, beliau berkata: Berkata <strong>Ibnu Ishaq</strong>:</p>
<blockquote><p>Telah menceritakan kepadaku Nafi’ maula Ibnu Umar dari Ibnu Umar berkata: &#8220;Tatkala Umar masuk islam, maka beliau bertanya: Siapa orang Quraisy yang paling bisa untuk menyebarkan berita ? Ada yang menjawab: Dia Jamil bin Ma’mar al Jumahi.” Maka Umar pun berangkat kepadanya.” Sesampainya disana, maka Umar berkata: “Saya beritahukan kepadamu wahai Jamil, bahwa saya telah memeluk agama islam dan saya telah masuk dalam agamanya Muhammad.”</p>
<p>Segera Jamil berdiri menyeret bajunya ke Masjidil Harom, Umar pun mengikutinya dan saya juga ikut. Saat iu orang-orang Quraisy sedang berada di tempat berkumpul mereka, maka jamil berteriak sekerasnya: “Ketahuilah bahwa Umar bin Khothob telah murtad dari agama nenek moyang.” Maka dibelakangnya Umar berkata: “Dia berdusta, yang benar saya telah memeluk agama islam, saya bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah melankan Alloh dan Muhammad adalah utusan Nya.” Spontan orang-orang Qurasiy menyerangnya dan dia juga menyerang mereka, Mereka berhasil mengalahkan Umar. Saat itu tiba-tiba datanglah seorang lak-laki lalu berkata: Ada apa dengan kalian ? mereka menjawab: “Umar telah murtad dari agama nenek moyangnya.” Dia berkata: Berhentilah kalian, dia hanya memilih sesuatu untuk dirinya sendiri, lalu apa yang kalian inginkan ? apakah kalian menyangka bahwa bani ‘Adi (kabilahnya Umar-pent) akan membiarkan Umar untuk kalian ? bebaskan dia.”</p>
<p>Segera orang-orang Quraisy tersebut bubar dan membebaskannya.</p>
<p>Berkata Ibnu Umar: Sayapun bertanya kepada bapakku saat sudah hijroh ke Madinah: Wahai bapakku, siapakah laki-laki yang membubarkan orang Quraisy saat engkau masuk islam ? Umar menjawab: Dia Al Ash bin Wa’il as Sahmi.”</p></blockquote>
<p>Kisah ini shohih, <strong>Al Hakim</strong> berkata: Shohih menurit syarat Muslim, dan disepakati oleh <strong>Adz Dzahabi</strong>, <strong>Imam Ibnu Katsir</strong> berkata: &#8220;Sanad kisah ini bagus.&#8221;</p>
<p><strong>Syaikh Ali Al Hasyisy</strong>:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kisah ini menunjukkan bahwa masuk islamnya Umar agak lambat, karena saat perang Uhud yang terjadi tahun tiga Hijriyah, umur Ibnu Umar saat itu empat belas tahun, sedangkan saat Umar masuk islam, dia sudah tamyiz, maka berarti masuk islamnya Umar sekitar empat tahun sebelum hijroh, sekitar sembilan tahun setelah diutusnya Rosululloh.&#8221;</p></blockquote>
<p>Yang semakin menunjukkan kelemahan kisah demonstrasi diatas bahwa saat Umar masuk islam maka beliau ada rasa takut akan ancaman orang-orang Qurasiy, sebagaimana yang diriwayatkan oleh <strong>Imam Bukhori</strong>: 3864 dari <strong>Abdulloh bin Umar</strong> berkata:</p>
<blockquote><p>“Saat Umar sedang dirumah ketakutan, tiba-tiba datanglah Al Ash bin Wail as Sahmi, dia berasal dari bani Sahm dan mereka adalah sekutu kami saat jahiliyyah. Dia berkata: “Ada apa denganmu ? Umar menjawab: Orang-rang menyangka bahwa mereka akan membunuhku kalau saya masuk islam.” Dia berkata: Mereka tidak akan bisa menyakitimu.” Lalu keluarlah Al Ash dan dia bertemu dengan orang-orang datang. Dia berkata: Kalian mau kemana ? mereka menjawab: Kami ingin ke Umar bin Khothob.” Al Ash berkata: Kalian tidak ada jalan untuk menyakitinya.” Akhirnya orang-orang itupun balik mundur kembali.”</p></blockquote>
<h2>Pengaruh Jelek Kisah Ini</h2>
<p>Kisah ini sering digunakan sebagian kalangan untuk melegalkan aksi demonstrasi yang akhir-akhir ini sangat marak.</p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa kisah ini sama sekali bukan dalil atas bolehnya domonstrasi. Hal ini bisa ditinjau dari beberapa hal, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Kisah ini lemah bahkan bisa jadi palsu, sedangkan hadits lemah tidak bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum dengan kesepakatan para ulama</li>
<li>Anggaplah hadits ini shohih, maka hal ini terjadi di awal masa islam sebelum sempunanya syariat islam sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh bin Baaz diatas.</li>
<li>Kalau kita menghayati ayat-ayat al Qur’an dan As Sunnah dan kaedah-kaedah syar’i, maka akan kita pastikan bahwa demontrasi tidak diperbolehkan dan bukan termasuk ajaran islam, berdasarkan beberapa hal berikut:
<ol>
<li>Mengingkari kemungkaran dengan demonstrasi tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh, dan tidak      pernah diamalkan oleh para sahabat serta para ulama’ setelahnya. Padahal Rosululloh bersabda:<br />
<blockquote><p>“Barang siapa yang mengamalkan sebuah perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”<br />
(Bukhori Muslim)</p></blockquote>
</li>
<li>Demonstrasi produk orang kafir dan merupakan tasyabuh dengan cara mereka, padahal Rosululloh bersabda:<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;"><strong>من تشبه بقوم فهو منهم </strong></h2>
<p>“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”<br />
(HR. Ahmad 2/50 dan lainnya dengan sanad shohih, lihat al Irwa’: 1269)</p></blockquote>
</li>
<li>Kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak daripada maslahat yang diharapkan. Hal ini sangat nampak sekali bagi yang memperhatikan semua aksi demo yang ada dinegeri kita. Wanita keluar rumah, campur bawur antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahrom, mengganggu maslahat umum dengan macetnya jalan dan lainnya, membuat masyarakat takut dan khawatir, dan tidak sedikit mengakibatkan kerusakan gedung maupun lainnya.</li>
<p>Berkata Imam Ibnul Qoyyim: </p>
<blockquote><p>“Apabila seorang merasa kesulitan tentang hukum suatu masalah, apakah boleh ataukah haram, maka hendaklah dia melihat kepada mafsadah (kerusakan) dan hasil yang ditimbulkan olehnya. Apabila tenyata sesuatu tersebut mengandung kerusakan yang lebih besar, maka sangatlah mustahil bila syari’at Islam memerintahkan atau memperbolehkannya bahkan yang dipastikan adalah keharamannya. Lebih-lebih apabila hal tersebut menjurus kepada kemurkaan Allah dan Rasul-Nya, maka seorang yang cerdik tidak akan ragu akan keharamannya.”<br />
(Lihat Madarijus Salikin 1/496)</p></blockquote>
<li>Rosululloh mengajarkan kalau melihat kemungkaran penguasa maka hendaklah menasehatinya secara rahasia, bukan di bongkar didepan umum serta bersabar atas kedholiman mereka sambil terus memperbaiki diri dan berdo’a untuk mereka.Rosululloh bersabda:<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;"><strong>من أراد أن ينصح لذي سلطان في أمر فلا يبده علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه</strong></h2>
<p>Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, maka jangalah menampakkannya, namun hendaklah dia menasehatinya sendirian, jika dia menerimanya, maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak menerima, maka dia telah menunaikan kewajibannya.”<br />
(Hadits shohih, lihat Dhilalul Jannah syaikh Al Albani 1097)</p></blockquote>
</li>
<li>Para ulama ahlus sunnah sejak dahulu sampai sekarang tidak ada yang memperbolehkan aksi semacam ini.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Wallohu a’lam</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Disarikan dari dirosah Syaikh Ali Al Hasyisy dalam majalah At Tauhid Mesir</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/11/keagungan-wanita-dalam-naungan-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;'>Keagungan Wanita dalam Naungan Islam&#8230;</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 02:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan Asal Kaedah Lafadz kaedah ini terambil dari sabda Rosululloh yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/784, Baihaqi 10/133, Ahmad 1/313, Daruquthni 4/228, Hakim 2/57 dan beliau mengatakan shohih menurut syarat Imam Bukhori Muslim dan disepakati oleh Imam Dzahabi, Malik 2/745, Abu Dawud dalam Marosil hal [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/studi-kaidah-kaidah-fiqh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kaidah-Kaidah Fiqh'>Studi Kaidah-Kaidah Fiqh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kesulitan Membawa Kemudahan'>Kesulitan Membawa Kemudahan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/kaidah-fiqh-amal-itu-tergantung-niatnya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kaidah Fiqh: Amal itu Tergantung Niatnya'>Kaidah Fiqh: Amal itu Tergantung Niatnya</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F05%2F25%2Ftidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan%2F">
										</iframe>
										</div><h2 style="text-align: center;"><strong>لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ</strong></h2>
<h3 style="text-align: center;"><strong>Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan</strong></h3>
<p style="text-align: center; margin:auto;"><img class="size-full wp-image-290  aligncenter" title="لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/05/لاَ-ضَرَرَ-وَلَا-ضِرَا-رَ.png" alt="لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ" width="120" height="90" /></p>
<h3>Asal Kaedah</h3>
<p>Lafadz kaedah ini terambil dari sabda Rosululloh yang diriwayatkan oleh <strong>Ibnu Majah</strong> 2/784, <strong>Baihaqi</strong> 10/133, <strong>Ahmad</strong> 1/313, <strong>Daruquthni</strong> 4/228, <strong>Hakim</strong> 2/57 dan beliau mengatakan shohih menurut syarat<strong> Imam Bukhori Muslim</strong> dan disepakati oleh <strong>Imam Dzahabi</strong>, <strong>Malik</strong> 2/745, <strong>Abu Dawud</strong> dalam Marosil hal : 44 dan lainnya dengan sanad hasan dari jalan beberapa sahabat Rosululloh  diantaranya adalah <strong>Ubadah bin Shomith</strong>,<strong> Ibnu Abbas</strong>, <strong>Abu Sa’id al Khudri</strong>, <strong>Abu Huroiroh</strong>, <strong>Jabir bin Abdillah</strong>, <strong>Aisyah</strong>, <strong>Tsa’labah bin Abi Malik al Qurodli</strong> dan <strong>Abu Lubabah</strong> Rodliyallohu anhum ajma’in. (Lihat Takhrij hadits ini secara lengkap dalam <strong>Jami’ Ulum wal Hikam</strong> oleh <strong>Imam Ibnu Rojab</strong> hadits no : 32)<span id="more-271"></span></p>
<p>Dalam sebagian kitab yang membahas kaedah fiqhiyyah, kaedah ini diungkapkan dengan lafadl :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">الضَرَرُ يُزَالُ</h2>
<p style="text-align: center;">“Sesuatu yang membahayakan itu harus dihilangkan.”</p>
</blockquote>
<p>Namun ungkapan kaedah ini dengan lafadl diatas lebih baik, karena beberapa sebab yang sudah saya katakan pada kaedah pertama, yang intinya adalah :</p>
<ol>
<li>Bahwa lafadl<br />
<h2 style="text-align: center;">“لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ“</h2>
<p>adalah nash Rosululloh, dan bagaimanapun juga nash dari Rosululloh lebih diutamakan daripada lainnya.</li>
<li>Kaedah diatas mempunyai cakupan yang lebih luas, yaitu menghilangkan kemadlorotan yang berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain, baik dia yang memulai maupun saat membalas kejahatan orang lain.</li>
<li>Kekuatan dalil kaedah fiqhiyah yang terambil langsung dari nash Rosululloh jauh diatas kekuatan sebuah kaedah fiqhiyyah yang bukan diambil langsung dari sabda beliau. (Lihat <strong>Al Wajiz fi Idlohi qowaid Fiqhil Kulliyah</strong> oleh <strong>DR. Muhamad Shidqi al Ghozzi</strong> hal : 251)</li>
</ol>
<h3>Makna kaedah</h3>
<p>Para ulama berbeda pandangan saat menerangkan sabda Rosululloh yang menjadi sebuah kaedah fiqhiyyah diatas. Namun apapun perbedaan itu, semuanya tetap menuju pada sebuah tujuan yang sama yaitu bahwasannya sesuatu yang membahayakan itu harus dihilangkan secara hukum syar’i. (Lihat <strong>Bada’i Shona’i</strong> oleh <strong>Imam Al Kasani</strong> 5/136)</p>
<p>Cukuplah disini saya paparkan sebagian perkataan para ulama tentang hadits ini, yang insya Alloh bisa mewakili yang lainnya :</p>
<p><strong>Imam Ibnu Abdil Bar</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Adapun sabda Rosululloh :</p>
<h2 style="text-align: center;">“لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“</h2>
<p>ada yang mengatakan bahwa  keduanya adalah dua lafadl tapi mengandung arti yang sama, Rosululloh mengungkapkan keduanya itu hanya untuk semakin menguatkan pembicaraan&#8221;.</p></blockquote>
<p><strong>Ibnu Habib</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Lafadl “ضَرَرَ”  menurut para pakar bahasa arab adalah nama dari sesuatu yang membahayakan, sedangkan “ضِرَارَ ” adalah perbuatan yang membahayakan itu sendiri.” Beliau juga mengatakan bahwa makna ضَرَرَ adalah janganlah seseorang itu berbuat sesuatu yang dia tidak melakukannya untuk dirinya sendiri, sedangkan arti ضِرَارَ adalah janganlah seseorang itu membahayakan orang lain.&#8221;</p>
</blockquote>
<p>Inilah yang dinukil oleh <strong>Ibnu Habib</strong>.</p>
<p><strong>Al Khusyani</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“ضَرَرَ adalah sesuatu yang membayakan yang engkau bisa memetik manfaatnya tapi bisa membahayakan orang lain, sedangkan adl dliror adalah perbuatan yang engkau sama sekali tidak bisa memetik manfaatnya namun bisa membahayakan orang lain&#8221;.</p>
</blockquote>
<p>Sedangkan para ulama’ lainnya juga berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Lafadl :</p>
<h2 style="text-align: center;">لا ضرر و لا ضرار</h2>
<p>mirip dengan lafadl : القتل yang artinya membunuh dan lafadl  القتال yang berarti memerangi, maksudnya adalah bahwasanya makna adl dloror adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia tidak berbuat yang membahayakan dirinya, sedangkan makna adl dliror adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia berbuat jahat kepadanya kalau hal itu tidak diilakukan untuk membela sebuah kebenaran.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat <strong>At Tamhid</strong> 20/158)</p>
</blockquote>
<p><strong>Syaikh Ahmad Az Zarqo</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Para ulama’ berselisih tentang perbedaan antara kedua lafadl ini menjadi banyak pendapat, namun telah disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al Haitsami dalam syarah Arba’in Nawawi bahwa yang paling bagus adalah bahwa makna لا ضرر adalah larangan berbuat yang membahayakan orang lain secara muthlak, sedangkan makna لا ضرار adalah jangan berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain meskipun untuk membalas perbuatan jahatnya.”</p>
<p style="text-align: center;">( Lihat Syarah Qowa’id Fiqhiyyah hal : 140)</p>
</blockquote>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan yang membahayakan harus dihilangkan dan tidak boleh di kerjakan, karena Rosululloh mengungkapkannya dengan bentuk penafian, yang  mencakup semua bentuk perbuatan yang membahayakan. (Lihat <strong>Al Wajiz</strong> hal : 252)</p>
<p><strong>Al Munawi</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hadits ini mencakup semua bentuk perbuatan yang membahayakan, karena kalimat dengan bentuk nakiroh kalau jatuh setelah lafadl penafian menunjukkan keumuman.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat <strong>Faidlul Qodir</strong> 6/431)</p>
</blockquote>
<p>Semua keterangan ini adalah tertuju pada larangan untuk berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain kalau tanpa ada sebab yang membenarkan perbuatan tersebut, namun kalau ada sebab yang membenarkannya secara syar’i, maka itu diperbolehkan. Misalnya memotong tangan seorang yang mencuri, merajam orang yang berzina muhson dan lainnya, karena meskipun semua ini ada sisi kemadlorotannya, namun hal itu diperbolehkan karena dilakukan dengan cara yang benar, dan madlorot yang ditimbulkannya tidak sebanding dengan manfaat yang dihasilkannya.</p>
<p>Dan kalau dicermati, bahwa perbuatan yang membahayakan orang lain tanpa ada sebab yang membolehkannya secara syar’i itu ada dua kemungkinan, yaitu :</p>
<ol>
<li>Perbuatan yang memang dilakukan dengan tujuan membahayakan orang lain dan sama sekali tidak bermanfaat bagi pelakunya kecuali hanya untuk membahayakan orang lain saja. Maka perbuatan ini jelas-jelas terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan akan hal ini.</li>
<li>Perbuatan yang membahayakan orang lain namun ada manfaatnya bagi pelaku, seperti kalau seseorang berbuat sesuatu dalam miliknya sendiri namun mengakibatkan bahaya bagi orang lain, maka hukumnya ada dua kemungkinan :
<ul>
<li>Yang pertama : kalau hal itu dilakukan dengan cara yang tidak wajar, maka  dia harus mengganti kerugian yang diderita oleh orang lain tersebut, seperti kalau dia membakar sampah miliknya ditanahnya sendiri pada saat terik matahari yang sangat menyengat dan angin sedang berhembus kencang, lalu tidak dia jaga menjalarnya api dan selanjutnya api tersebut membakar benda milik tetangganya maka dia wajib mengantinya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Yang kedua : Kalau hal itu dilakukan dengan cara yang wajar, maka para ulama’ berselisih pendapat akan boleh dan tidaknya. Namun yang rajih bahwa hal tersebut juga dilarang. seperti seseorang yang memelihara ayam ditengah-tengah perkampungan yang baunya sangat mengganggu masyarakat sekitar, membuat bangunan yang tinggi sehingga bisa melihat aurot tetangganya, mengunakan bahan peledak untuk mengambil batu di gunung kalau hal itu bisa merobohkan atau meretakkan bangunan rumah yang ada disekitarnya dan beberapa contoh yang semisalnya (Lihat <strong>Al Mughni</strong> oleh <strong>Imam Ibnu Qudamah</strong> 7/52, <strong>Jami’ lum wal hikam</strong> dengan sedikit perubahan dan tambahan)</li>
</ul>
</li>
</ol>
<h2>Kedudukan kaedah ini</h2>
<p>Kaedah ini mempunyai kedudukan yang sangat agung dalam syariat agama islam, bahkan bukan berlebihan kalau saya katakan bahwasanya kaedah ini mencakup separoh agama islam, karena <strong>syariat islam dibangun atas dua hal yaitu mendatangkan kemaslahatan dan menghilangkan kemadlorotan</strong>, dan kaedah ini mencakup semua bentuk kemadlorotan harus dihilangkan (Lihat <strong>Syarah Kaukab Munir</strong> oleh<strong> Ibnu Najjar Al Hanbali</strong> 4/443)</p>
<p>Kaedah ini juga merupakan salah satu rukun syariat islam yang agung, yang mana kandunganya dikuatkan oleh banyak sekali dalil dari al Qur’an adan As sunnah. Kaedah ini merupakan pondasi untuk mencegah perbuatan yang membahayakan, juga pondasi untuk mengganti kerugian perbuatan yang membahayakan tersebut baik secara perdata maupun pidana, kaedah ini merupakan dasar bagi para fuqoha’ dalam menentukan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan banyak kejadian. (Lihat<strong> Al Madkhol Al Fiqh al ‘Am</strong> oleh <strong>Az Zarqo</strong> 2/977)</p>
<h2>Dalil-dalil Kaedah</h2>
<p>Banyak sekali dalil yang menguatkan kandungan dari kaedah ini, selain hadits diatas yang merupakan pokok kaedah ini, yang intinya adalah tentang menghilangkan sesuatu yang membahayakan diri dan orang lain dengan cara apapun, diantaranya adalah :</p>
<ol>
<li>Firman Alloh tentang larangan wasiat yang membahayakan :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ</h2>
<p style="text-align: center;">“Setelah ditunaikan wasiat yang dibuat olehnya  atau setelah dibayar hutangnya dengan tidak memberi madhorot kepada ahli waris.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An An Nisa’ : 12)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Firman Alloh tetang larangan ruju’ kepada istri untuk tujuan membahayakannya :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ</h2>
<p style="text-align: center;">“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati masa iddahnya, maka rujuklah kepada mereka dengan cara yang bagus atau ceraikanlah dengan cara yang baik pula, janganlah kamu rujuk pada mereka untuk memberi kemudhorotan, karena dengan demikian kamu telah berbuat yang menganiaya mereka. Barang siapa yang berbuat demikian maka berarti dia telah berbuat dholim kepada dirinya sendiri.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Baqoroh : 231)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Firman Alloh tentang masalah menyusui anak :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ</h2>
<p style="text-align: center;">“Janganlah seorang ibu mendapatkan kemudhorotan disebabkan oleh anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Baqoroh : 233)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Firman Alloh Ta’ala :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ</h2>
<p style="text-align: center;">“Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Ath Tholaq : 6)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Firman Alloh dalam hadits Qudsi :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا</h2>
<p style="text-align: center;">“Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kedholiman atas diriKu, maka janganlah kalian saling mendholimi.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim 4/1994)</p>
</blockquote>
</li>
</ol>
<p>dan masih banyak lagi dalil lainya.</p>
<h2>Penerapan kaedah</h2>
<p>Kayaknya tidak mungkin untuk menyebutkan semua penerapan kaedah ini, namun kita isyaratkan pada sebagiannya saja, adapun yang lainnya silahkan untuk di qiaskan sendiri dengan yang sudah ada.</p>
<p>Diantara penerapan kaedah ini, ada yang terambil dari atsar para sahabat ataupun yang ditegaskan oleh para ulama’. Diantaranya adalah :</p>
<ol>
<li>Barang siapa yang barangnya dirusak oleh orang lain, maka dia tidak boleh merusak barang milik orang lain tersebut, karena itu akan memperluas kemadhorotan tanpa ada faedah yang berarti, namun cukup dengan meminta ganti rugi.</li>
<li>Seandainya ada seseorang yang menyewa tanah orang lain untuk ditanami padi atau tanaman lainnya, lalu habis masa sewa padahal padi masih belum waktunya panen, maka tanah itu masih berada dalam genggaman yang menyewa sampai masa panen dengan membayar sewa tanah tambahan sesuai adat yang berlaku di masyarakat, itu demi menghilangkan kemadhorotan kalau tanaman harus di panen sebelum waktunya.</li>
<li>Haram merokok, karena itu akan membahayakan diri pelaku dan orang yang ada disekitarnya.</li>
<li>Boleh bagi pemerintah untuk melarang para pedagang dari mengimport barang dari luar negeri kalau hal itu akan membahayakan perkonomian dalam negeri, begitu pula sebaliknya boleh bagi pemerintah untuk melarang eksport barang keluar negri kalau barang tersebut sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan penduduk negeri tersebut.</li>
<li>Dilarang menimbun makanan atau benda lain yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena itu akan membahayakan mereka.</li>
<li>Kalau ada seseorang yang pesan kepada tukang kayu untuk dibuatkan lemari, maka dia wajib untuk menerimanya kalau si tukang telah membuatkan sesuai dengan kriteria yang disepakati, karena kalau tidak maka akan memadhorotkan tukang kayu tersebut.</li>
</ol>
<p><strong>Cabang-cabang kaedah </strong><strong>لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَا رَ</strong></p>
<p><strong>Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan</strong></p>
<p>Ada beberapa kaedah yang merupakan cabang dari kaedah besar ini. Diantaranya adalah :</p>
<p><strong>Kaedah pertama :</strong></p>
<h2 style="text-align: center;">الضَرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>(Sesuatu yang membahayakan harus diantisipasi semampunya)</strong></p>
<p><strong>Makna kaedah</strong></p>
<p>Bahwa secara hukum syar’i, sesuatu yang membahayakan itu harus diantisipasi semampunya jangan sampai terjadi, kalau hal itu bisa dilakukan  dengan tanpa menimbulkan bahaya lainnya, maka itulah yang sebenarnya harus dilakukan. Namun jika tidak memungkinkan, maka dilakukan semampunya meskipun menimbulkan bahaya yang lebih kecil.</p>
<p>Kaedah ini memberikan sebuah faedah  untuk menggunakan segala cara yang memungkinkan demi sebuah tindakan preventif atau antisipasi jangan sampai ada sebuah bahaya yang akan datang, sebagaimana ungkapan yang masyhur “menjaga itu lebih baik daripada mengobati”.  Dan untuk melakukan hal ini maka dengan batas kemampuan yang ada.</p>
<p><strong>Dalil kaedah :</strong></p>
<p>Diantara yang mendasari kaedah ini adalah firman Alloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Anfal : 60)</p>
</blockquote>
<p>Sisi pengambilan dalil dari ayat ini bahwa Alloh memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan kekuatan diri untuk mencegah bahaya yang akan datang dari musuh. Hal itu untuk menakut nakuti mereka, sehingga mereka tidak akan menyerang kaum muslimin, dan seandainya mereka menyerang, maka kaum muslimin sudah punya persiapan diri.</p>
<p><strong>Contoh penerapan kaedah :</strong></p>
<ul>
<li>Disyariatkan jihad untuk menolak bahaya yang datang dari musuh islam</li>
<li>Adanya syariat hukuman bagi para pelaku tindakan kriminal untuk menjaga jangan sampai orang dengan mudah berbuat kejahatan, karena kalau seseorang mengetahui bahwa kalau dia berbuat jahat akan mendapatkan hukuman yang setimpal maka itu kan menyurutkan niatnya.</li>
<li>Boleh untuk menolak transaksi dari seorang yang safih (orang tidak mengerti mengatur keuangan dengan baik) juga dari seorang yang muflis (orang bangkrut dan mempunyai banyak hutang) untuk menahan bahaya yang akan muncul pada hartanya safih maupun orang yang menghutangi muflis tersebut.</li>
</ul>
<p><strong>Kaedah kedua :</strong></p>
<h2 style="text-align: center;">الضَرَرُ يُزَالُ</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>(Sesuatu yang membahayakan itu harus dihilangkan)</strong></p>
<p>Makna kaedah :</p>
<p>Makna kaedah ini hampir mirip dengan kaedah pokok, yaitu setiap yang membahayakan itu harus atau boleh dihilangkan.</p>
<p><strong>Contoh penerapan kaedah :</strong></p>
<ul>
<li>Apabila ada seseorang yang mengalirkan air bekas mandi maupun cuci dari rumahnya ke jalan sehingga mengotori dan membuat banjirnya jalanan dan mengganggu orang yang lewat dijalan tersebut, maka pemilik rumah tersebut harus membuntunya atau mengalirkan ke arah lainnya.</li>
<li>Jika ada seseorang yang membuat bangunan sampai ke arah jalan umum sehingga mengganggu orang atau kendaraan yang lewat, maka harus di robohkan bangunan yang mengganggu tersebut</li>
<li>Jika ada pohon milik seseorang yang tinggi dan besar sehingga dahannya mengganggu tetangga, maka harus dipoting dahan tersebut.</li>
</ul>
<p><strong>Kaedah ketiga :</strong></p>
<h2 style="text-align: center;">الضَرَرُ لَا يُزَالُ بِمِثْلِهِ</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>(Sesuatu yang membahayakan itu tidak boleh dihilangkan dengan sesuatu yang membahayakan juga.)</strong></p>
<p><strong>Makna kaedah :</strong></p>
<p>Bahwa kewajiban untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan itu harus jangan sampai menimbulkan kemadhorotan lain yang semisalnya, jadi syarat menghilangkan kemadhorotan adalah dengan sesuatu yang tanpa adanya kemadhorotan yang lain atau dengan kemadhorotan yang lebih kecil.</p>
<p>Jadi sebenarnya kaedah ini adalah pengkhususan dari kaedah yang sebelumnya.</p>
<p>Contoh penerapan kaedah :</p>
<ul>
<li>Kalau ada seseorang yang dipaksa membunuh orang lain, jika tidak membunuh maka dia akan dibunuh, maka tidak boleh dia membunuh, karena madhorot yang akan ditimbulkannya sepadan dengan madhorot yang sekarang ada.</li>
<li>Kalau ada seseorang yang merusak benda milik orang lain, maka tidak boleh bagi yang dirusak untuk membalas merusak merusak benda orang yang merusak tadi. Tapi dia berhak untuk meminta ganti rugi.</li>
</ul>
<p><strong>Kaedah keempat :</strong></p>
<h2 style="text-align: center;">إِذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا</h2>
<p style="text-align: center;">(Apabila  berbenturan antara dua hal yang membahayakan, maka harus dihilangkan madhorot yang paling besar meskipun harus mengerjakan madhorot yang lebih kecil)</p>
<p><strong>Makna kaedah :</strong></p>
<p>Kalau sebuah perkara itu dilakukan ataupun tidak dilakukan akan menimbulkan kemadhorotan, maka harus ditimbang antara madhorot yang besar dengan yang kecil, dan boleh mengerjakan madhorot yang kecil demi menghilangkan madhorot yang besar.</p>
<p><strong>Dalil kaedah :</strong></p>
<p>Kaedah ini didasari oleh banyak dalil, diantaranya :</p>
<p><strong>Dalil al Qur’an</strong></p>
<p><strong>Kisah Nabi Musa dengan Khidr</strong>. Alloh berfirman :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا (71) قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (72) قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا (73) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا (74) قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (75) قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا (76) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا (77) قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (78) أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا (79) وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80) فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا</h2>
<p style="text-align: center;">Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: &#8220;Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?&#8221; Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: &#8220;Bukankah aku telah berkata: &#8220;Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku&#8221; Musa berkata: &#8220;Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku&#8221;. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: &#8220;Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar&#8221;. Khidhr berkata: &#8220;Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?&#8221; Musa berkata: &#8220;Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur padaku&#8221;. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: &#8220;Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu&#8221;. Khidhr berkata: &#8220;Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Kahfi : 71-81)</p>
</blockquote>
<p>Sisi pengambilan dalil dari kisah ini, bahwa tatkala benturan antara dua mafsadah, yaitu merusak perahu dengan mafsadah akan dirampas oleh raja yang dholim, maka nab Khidhr memilih merusak, karena mafsadahnya lebih kecil. Begitu juga dengan perbuatan beliau membunuh anak kecil yang dengan wahyu dari Alloh beliau mengetahui bahwa dia akan memaksa orang tuanya menjadi kafir, maka beliau membunuhnya karena pembunuhan anak kecil itu lebih kecil mafsadahnya dibandingkan kekufuran, karena orang tua mereka masih mungkin mendapatkan anak lainnya.</p>
<p><strong>Dalil as Sunnah :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ &#8211; رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم  قَالَ لَهَا « أَلَمْ تَرَىْ أَنَّ قَوْمَكِ لَمَّا بَنَوُا الْكَعْبَةَ اقْتَصَرُوا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ » . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَرُدُّهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ . قَالَ « لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَفَعَلْتُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Aisyah bahwasannya Rosululloh berkata kepadanya : “Tidakkah engkau mengetahui bahwa kaummu (Quraisy) tatkala membangun ka’bah kurang dari pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrohim ? maka saya berkata : “Ya Rosululloh, kenapa tidak engkau kembalikan kepada pondasinya Nabi Ibrohim ? maka Rosululloh menjawab : “Seandainya bukan karena kaummu masih baru keluar dari kekufuran niscaya akan aku lakukan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p>Sisi pengambilan dalil dari hadits ini sangat jelas, yaitu tatkala benturan antara salahnya bangunan ka’bah yang tidak sesuai dengan pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrohim dengan mafsadah fitnah yang akan muncul seandainya Rosululloh membongkar ka’bah padahal orang-orang Quraisy masih baru masuk islam, maka beliau memilih mafsadah membiarkan ka’bah apa adanya karena mafsadahnya lebih kecil.</p>
<p>Dan masih banyak hadits-hadist yang menunjukkan atas hal ini.</p>
<p><strong>Contoh penerapan kaedah :</strong></p>
<ul>
<li>Seandainya orang yang sholat seandainya dia berdiri akan terbuka aurotnya, sedangkan kalau sambil duduk tidak terbuka, maka dia sholat sambil duduk, karena mafsadah terbuka aurot lebih besar dibandingkan mafsadah sholat sambil duduk.</li>
<li>Apabila seorang wanita meninggal dunia dalam keadaan di perutnya ada janin yang masih hidup dan kalau dikeluarkan dengan bedah akan bisa menyelamatkan jiwanya, maka boleh membedah perut mayit demi keselamatan bayinya.</li>
</ul>
<p><strong>Kaedah kelima :</strong></p>
<h2 style="text-align: center;">دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>(Menghilangkan kemadhorotan itu lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemashlahatan)</strong></p>
<p><strong>Makna kaedah :</strong></p>
<p>Maksudnya adalah kalau berbenturan antara menghilangkan sebuah kemadhorotan dengan sesuatu yang membawa kemaslahatan maka di dahulukan menghilangkan kemadlorotan, kecuali kalau madhorot itu lebih kecil dibandingkan dengan mashlahat yang akan ditimbulkan.</p>
<p><strong>Dalil kaedah :</strong></p>
<p><strong>Firman Alloh :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al An’am : 108)</p>
</blockquote>
<p>sisi pengambilan dalil dari ayat ini bahwa memaki sesembahan orang kafir ada sebuah manfaat yaitu merendahkan agama dan sesembahan mereka, namun tatkala maslahat itu berdampak mereka akan mencela dan memaki Alloh, maka Alloh melarang mencela sesembahan mereka.</p>
<p><strong>Timbangan maslahat dan mafsadah</strong></p>
<p>Meskipun demikian, kaedah ini tidaklah berlaku secara mutlak, namun perlu untuk diperinci dengan melihat besar kecilnya maslahat dan mafsadah, yaitu :</p>
<ol>
<li>Jika mafsadahnya lebih besar dibanding maslahatnya, maka menghindari mafsadah itu dikedepankan daripada meraih kemaslahatan tersebut.</li>
<li>Jika maslahatnya jauh lebih besar dibandingkan dengan mafsadah yang akan timbul, maka meraih maslahat itu lebih diutamakan daripada menghindari mafsadahnya.Oleh karena itu jihad berperang melawan orang kafir disyariatkan, karena meskipun ada mafsadahnya yaitu hilangnya harta, jiwa dan lainnya, namun maslahat menegakkan kalimat Alloh dimuka bumi jauh lebih utama dan lebih besar.</li>
<li>Apabila maslahat dan mafsadah seimbang, maka secara umum saat itu menolak mafsadah lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan yang ada</li>
</ol>
<p>Contoh penerapan kaedah :</p>
<ul>
<li>Dilarang jual beli khomer, babi dan lainnya meskipun ada maslahat dari sisi ekonomi</li>
<li>Jika bercampur antara daging yang halal dan yang haram dan tidak dapat dipisahkan antara keduanya, maka semuanya tidak boleh dimakan, karena menolak mafsadah makan daging haram lebih dikedepankan daripada maslahat daging yang halal.</li>
<li>Larangan membuat jendela rumah kalau dengannya bisa melihta aurot tetangganya,  meskipun itu ada maslahat baginya.</li>
</ul>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/studi-kaidah-kaidah-fiqh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kaidah-Kaidah Fiqh'>Studi Kaidah-Kaidah Fiqh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kesulitan Membawa Kemudahan'>Kesulitan Membawa Kemudahan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/kaidah-fiqh-amal-itu-tergantung-niatnya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kaidah Fiqh: Amal itu Tergantung Niatnya'>Kaidah Fiqh: Amal itu Tergantung Niatnya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Info Safari Dakwah Asatidz Majalah Al-Furqon 2010 (Pontianak &#8211; Cikarang &#8211; Sukoharjo &#8211; Yogyakarta &#8211; Lombok &#8211; Kediri &#8211; Malang &#8211; Bengkulu &#8211; Palembang)</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/info-safari-dakwah-2010/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/info-safari-dakwah-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 01:51:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Daurah]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[Safari Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Jadwal Kajian Safari Dakwah Al Furqon (Yogyakarta - Pontianak - Cikarang - Sukoharjo - Lombok - Kediri - Malang - Bengkulu - Palembang)


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F05%2F25%2Finfo-safari-dakwah-2010%2F">
										</iframe>
										</div><p style="text-align: center;"><a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/05/Info-Safari-Dakwah-safar-lid-dakwah.jpg"><img class="size-large wp-image-274 aligncenter" title="Info Safari Dakwah (safar lid dakwah)" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/05/Info-Safari-Dakwah-safar-lid-dakwah-767x1024.jpg" alt="" width="508" height="1024" /></a><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Jadwal Kajian Safari Dakwah Al Furqon (InsyaAlloh)</span></strong></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong><span id="more-275"></span>Ustadz Aunur  Rofiq bin Ghufron</strong></span></p>
<blockquote><p><strong>A. Pontianak | Sabtu 22 Mei 2010<br />
</strong> Tema: Pola  Membina Keluarga Islami<br />
Tempat: Masjid Raya Pontianak</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>B. Pontianak  | Ahad 23 Mei 2010</strong><br />
Tema: Menyikapi Perbedaan Pendapat Para Ulama<br />
Tempat:  Masjid Univ Tanjung Pura<br />
CP: 081345061551</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Ustadz Abu Ubaidah</span></strong></p>
<blockquote><p><strong>A. Kediri  | Ahad, 23 Mei 2010</strong><br />
Bedah buku: 14 Praktek Hikmah Dalam Dakwah<br />
Tempat:  Ponpes Thoifah Manshuroh Pare-Kediri<br />
CP: 08125969156</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>B. Cikarang  | 29 Mei 2010</strong><br />
Sabtu, 29 Mei (08.00 &#8211; 10.00)<br />
Bedah buku: Adab dan  Akhlak Penuntut Ilmu karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawwas</p>
<p>Sabtu,  29 Mei (10.00 &#8211; 12.00)<br />
Bedah Buku: Prinsip Dakwah Ahlus Sunnah wal  Jama’ah</p>
<p>Ahad, 30 Mei 2010 (08:00-10.00)<br />
Bedah Buku: Syaikh  al-Albani Dihujat</p>
<p>Ahad, 30 Mei 2010 (10:00-12.00)<br />
Tema: Jangan  Gegabah Memvonis Kafir<br />
Tempat: Masjid Baitul Ma&#8217;muur. Telaga  Sakinah,Telaga Murni, Cikarang<br />
CP: 081386084044 / 08129398392</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>C. Lombok  | Sabtu 3-4 Juli 2010</strong><br />
Bedah buku: Meluruskan Sejarah Wahabi  &amp;  Membakar Semangat Penuntut Ilmu<br />
Tempat: Islamic Centre  al-Hunafa&#8217;  Mataram &amp; Islamic Centre Bagek Nyake Lombok Timur<br />
CP:  081915944673 &amp; 085277173572</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz  Arif Fathul Ulum</strong></span></p>
<ul>
<blockquote>
<li>Yogyakarta | Ahad, 30 Mei 2010</li>
<li>Tema:  Dirikanlah Daulah Islam Dalam Hati Kalian</li>
<li>Tempat: Masjid Pogung Raya  Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta</li>
<li>CP: 081328319185</li>
</blockquote>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz  Abu Zahroh</strong></span></p>
<ul>
<blockquote>
<li>Malang | Sabtu 05 Juni 2010</li>
<li>Bedah Buku: Untukmu  Yang merindukan Keluarga Sakinah</li>
<li>Tempat: Masjid Muhajirin Jl.  Bendungan Siguragura (Barat Kampus ITN)</li>
<li>CP: 081333857648</li>
</blockquote>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz  Syahrul Fatwa</strong></span></p>
<ul>
<blockquote>
<li>Sukoharjo | Ahad 20 Juni 2010</li>
<li>Bedah Buku:  Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyyah</li>
<li>Tempat: Ma&#8217;had  al-Ukhuwah Sukoharjo &#8211; Solo</li>
<li>CP: 085293155252</li>
</blockquote>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Abu  Ibrohim</strong></span></p>
<ul>
<blockquote>
<li>Bengkulu | 3-4 Juli 2010</li>
<li>Tema: Kaidah-kaidah Fiqih</li>
<li>Tempat:  Masjid Muhtadin Kota Bengkulu</li>
</blockquote>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz Abdul Adzim</strong></span></p>
<ul>
<blockquote>
<li>Palembang  | 3-4 Juli 2010</li>
<li>Bedah Buku: Pengeboman, Jihad atau Terorisme</li>
<li>Tempat:  Masjid Bhakti (dpn Sumatra Express) Palembang</li>
<li>CP: 08127134326</li>
</blockquote>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Ustadz  Ahmad Sabiq</strong></span></p>
<ul>
<blockquote>
<li>Lombok | Sabtu 3-4 Juli 2010</li>
<li>Bedah buku: Kaidah  Praktis Memahami Fiqih &amp; Pendidikan Anak</li>
<li>Tempat: Islamic Centre  al-Hunafa&#8217; Mataram &amp; Islamic Centre Bagek Nyake Lombok Timur</li>
<li>CP:  081915944673 &amp; 085277173572</li>
</blockquote>
</ul>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/info-safari-dakwah-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 00:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Masyitoh]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Masyithoh Tukang Sisir 1 Putri Fir’aun Al Kisah Dari Ibnu Abbas berkata: &#8220;Rosululloh bersabda: &#8220;Saat malam isro’ dan mi’roj, tiba-tiba saya mencium semerbak bau wangi, maka saya bertanya: “Wahai Jibril, semerbak bau wangi apa ini ? Jibril menjawab: “Ini adalah semerbak bau wangi tukang sisir putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Rosululloh bertanya lagi: “Bagaimana ceritanya ? [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F05%2F11%2Fmasyithoh-tukang-sisir-putri-fir%E2%80%99aun%2F">
										</iframe>
										</div><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0cm; text-align: justify } 		P.sdfootnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; font-size: 10pt; text-align: left } 		A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } --></p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: center;">Masyithoh Tukang Sisir <sup><a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> Putri Fir’aun</h2>
<h2>Al Kisah</h2>
<p>Dari <strong>Ibnu Abbas</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Rosululloh bersabda: &#8220;Saat malam isro’ dan mi’roj, tiba-tiba saya mencium semerbak bau wangi, maka saya bertanya: “Wahai Jibril, semerbak bau wangi apa ini ? Jibril menjawab: “Ini adalah semerbak bau wangi tukang sisir putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Rosululloh bertanya lagi: “Bagaimana ceritanya ? Jibril menjawab: “Suatu hari, saat dia menyisir putri Fir’aun, tiba-tiba jatuhlah sisir dari tangannya, lalu dia berkata: Bismillah (dengan menyebut nama Alloh).” Maka Putri Fir’aun berkata padanya: Apakah yang engkau sebut tadi ayahandaku? Masyithoh menjawab: Tidak, tapi Tuhan Ku dan Tuhan ayahandamu adalah Alloh.” Maka si putri berkata: Saya akan laporkan ini pada beliau.” Masyithoh menjawab: Silahkan.” Akhirnya si putri lapor pada bapaknya dan Fir’aun pun memangilnya lalu berkata: Wahai fulanah, apakah engkau mempunyai Tuhan selain Aku ? Masyithoh menjawab: Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.” Maka Fir’aun pun memerintahkan untuk membakar patung sapi yang terbuat dari tembaga sampai panas membara, kemudian Fir’aun pun memerintahkan untuk melemparkan Masithoh dan anak-anaknya ke dalamnya. Saat itu Masyithoh berkata: “Saya butuh sesuatu kepadamu.” Fir’aun menjawab: Apa yang engkau perlukan ? Masyithoh menjawab: Saya kepingin agar engkau mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu kain baju lalu engkau kuburkan.” Fir’aun menjawab: Kami berjanji untuk melaksanakannya.” Akhirnya anak-anaknya satu persatu dilemparkan dihadapannya, sampai saat giliran anak kecil yang masih menyusui, seakaan-akan Masyithoh agak grogi mengingat si bayi ini, namun tiba-tiba anak ini berkata: “Ibunda, segera lemparkanlah dirimu, karena siksaan dunia dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.” Maka akhirnya Masyithoh pun melemparkan dirinya.”</p>
</blockquote>
<p>Berkata <strong>Ibnu Abbas</strong>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Ada empat anak bayi yang mampu berbicara, yaitu: Isa bi Maryam, anak kecil dalam kisah Juraij, anak kecil yang menjadi saksi kisah Nabi Yusuf dan putra Masyithoh (tukang sisir) putri Fir’aun.”</p>
</blockquote>
<p><span id="more-259"></span></p>
<h2>Kemasyhuran kisah ini:</h2>
<p>Kisah ini sangat masyhur, banyak disampaikan oleh para khothib, usadz dan tukang ceramah, sebagaimana juga banyak ditulis pada buku dan kitab. Kisah ini selalu dibawakan untuk dijadian sebagai sebuah kisah akan keteguhan seseorang dalam imannya meskipun harus menghadapi siksaaan yang maha pedih. Wallohul musta’an.</p>
<h2>Takhrij kisah ini <sup><a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup></h2>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Ahmad</strong> pada tiga tempat dalam Musnad beliau, yaitu no:2822 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Umar Adh Dhorir</strong>, dan pada no:2823 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Hasan</strong>, juga pada no:2824 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Hudbah bin Kholid</strong>.</p>
<p>Mereka semua mengatakan: Telah menceritakan kepada kami <strong>Hammad bin Salamah</strong> dari <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> dari <strong>Sa’id bin Jubair</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> secara marfu’.</p>
<p>Juga diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Mu’jam al Kabir no: 12279, 12280 dengan sanad yang sama, serta diriwayatkan oleh <strong>Bazzar</strong> sebagaimana yang terdapat dalam Kasyful Astar no: 54 beliau berkata: &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdulloh bin Abi Yamamah</strong> dan <strong>Muhammad bin Ma’mar</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Affan</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Hamad bin Salamah</strong> dengan kisah diatas. <strong>Imam Bazzar</strong> berkata: Kami tidak mengetahui kisah ini diriwayatkan dari Rosululloh dengan lafazh seperti ini secara bersambung sanadnya kecuali pada sanad ini.”</p>
<h2>Derajat kisah:</h2>
<p><strong>Kisah ini lemah</strong></p>
<p><strong>Sisi kelemahannya:</strong></p>
<p>Kisah ini hanya diriwayatkan oleh <strong>Hammad bin Salamah</strong> dari <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Al Bazzar</strong> diatas, sedangkan <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> adalah seorang yang <strong>mukhtalith</strong>.</p>
<p><strong>Mukhtalith</strong> adalah seorang yang asalnya tsiqoh (kuat terpercaya) kemudian pada akhir hidupnya dia berubah, mungkin karena ingatannya melemah, atau hilang ingatan, atau menjadi buta atau mungkin kitabnya terbakar atau sebab lainnya, sehingga dia menjadi tidak tsiqoh lagi.</p>
<p>Sekarang marilah kita lihat, apa yang dikatakan poleh para ulama’ tentang seorang rowi yang mukhtalith ini:</p>
<p><strong>Imam Ibnu Sholah</strong> dalam Ulumul Hadits no: 62 berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Hukum rowi yang mukhtalith adalah haditsnya diterima apabila ada yang meriwayatkan darinya sebelum ikhtilath saja, sedangkan kalau yang meriwayatkan darinya setelah ikhtilath atau tidak ketahuan apakah sebelum atau setelahnya maka haditsnya tidak diterima.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat juga keterangan Al Hafizh As Sakhowi pada Fathul Mughits 4/371)</p>
</blockquote>
<p>Berangkat dari sini, maka barang siapa yang meriwayatkan hadits dari <strong>Atho’</strong> sebelum beliau ikhtilath saja, maka riwayatnya shohih, sedangkan kalau meriwayatkan darinya setelah ikhtilath atau tidak diketahui apakah sebelum atau setelahnya maka riwayatnya lemah.</p>
<p><strong>Dan inilah keterangan para ulama’ tentang riwayat Hammad dari Atho’ bin Sa’ib.</strong></p>
<p><strong>Ibnu Sholah</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Diantara para perwi mukhtalith adalah Atho’ bin Sa’ib, dia mukhtalith pada akhir hidupnya, maka para ulama menshohihkan hadits beliau apabila yang meriwayatkan darinya adalah para murid senior beliau, seperti Sufyan Ats Tsauri dan Syu’bah, karena keduanya hanya mendengar dari Atho’ saat masih tsiqoh, namun para ulama’ meninggalkan hadits dari para rowi yang mendengar dari beliau kemudian hari.”</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> kemudian menyimpulkan tentang siapa sajakah yang mendengar dari <strong>Atho’</strong> sebelum ikhtilah dan siapakah yang mendengar darinya setelah ikhtilath. Beliau berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Kesimpulan kami dari keterangan para ulama’ bahwa Sufyan Ats Tsauri, Syu’bah, Zuhair, Zaidah, Hammad bin Zaid dan Ayyub kalau mereka meriwayatkan dari Atho’, maka haditsnya shohih, sedangkan kalau selain mereka maka lemah, kecuali Hammad bin Salamah, para ulama’ berselisih, namun yang paling nampak, bahwa Hammad bin Salamah mendengar dari Atho’ dua kali,</p>
<ul>
<li>pertama: dia mendengar bersama Ayyub, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ucapan Ad Daruquthni</li>
<li>Kedua: Hammad mendengar darinya lagi saat masuk kota Bashroh bersama Jarir dan teman-temannya.&#8221;</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">(Lihat Tahdzib 7/183-186)</p>
</blockquote>
<p>Oleh karena sebab inilah, maka para ulama’ melemahkan riwayat <strong>Hammad bin Salamah</strong> dari <strong>Atho’ bin Sa’ib</strong> ini.</p>
<p><strong>Imam Al Albani</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Ini adalah sebuah tahqiq yang jeli, seharusnya untuk tidak dilupakan, barang siapa yang ingin untuk menjadi seorang peneliti hadits yang mumpuni maka seharusnya dia tidak mengshohihkan riwayat Hammad bin Salamah dari Atho’&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah 2/334)</p>
</blockquote>
<p><strong>Jalan lain:</strong></p>
<p>Hadits ini memiliki penguat sebagaimana yang diriwayatkan oleh <strong>Ibnu Majah</strong>: 4030 berkata: “Telah menceritakan kepada kami <strong>Hisyam bin Ammar</strong>, Telah menceritakan kepada kami <strong>Walid bin Muslim</strong>, telah menceritakan kepada kami <strong>Sa’id bin Basyir</strong> dari <strong>Qotadah</strong> dari <strong>Mujahid</strong> dari <strong>Ibnu Abbas</strong> dari <strong>Ubai bin Ka’b</strong> secara marfu’.</p>
<p>Namun riwayat inipun lemah disesabkan oleh dua cacat:</p>
<ul>
<li>Pertama: <strong>Qotadah</strong> seorang mudallis, sedangkan pada sanad ini beliau meriwayatkan dengan cara an’anah. (Lihat Mizan adz Dzahabi 3/385, dan Thobaqot Mudallisin oleh Ibnu Hajar no: 16)</li>
<li>Kedua: <strong>Sa’id bin Basyir al Azdi</strong>. Ia munkarul hadits, sebagaimana yang disebutkan oleh <strong>Ibnu Hajar</strong> dalam Tahdzib 4/8, <strong>Ibnu Hibban</strong> dalam Majruhin 1/315. Dan <strong>Adz Dzahabi</strong> menyebutkan kisah ini untuk memberi contoh hadits Sa’id yang munkar. (Lihat Mizan: 3143)</li>
</ul>
<p><strong>Siapakah yang bisa bicara saat masih bayi ?</strong></p>
<p>Dalam riwayat diatas, <strong>Ibnu Abbas</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Ada empat anak kecil yang mampu berbicara, yaitu: Isa bi Maryam, anak kecil dalam kisah Juraij, anak kecil yang menjadi saksi kisah Nabi Yusuf dan putra Masyithoh (tukang sisir) putri Fir’aun.”</p>
</blockquote>
<p>Riwayat ini sama hukumnya dengan hadits diatas, karena diriwayatkan dari satu sanad, dan semua riwayat yang mirip dengan inipun sama lemahnya, bahkan syaikh <strong>Al Albani</strong> mengatakan bahwa riwayat ini bathil sebagaimana dalam Adh Dho’ifah no: 880.</p>
<h2>Pengganti yang Shohih</h2>
<p><span style="font-size: small;">Cukuplah sebagai ganti dari dua kisah diatas, yaitu tentang keteguhan seseorang dalam memegang iman meskipun menghadapi siksa yang maha berat, serta kisah bayi yang dapat bicara, dua hadits berikut:</span></p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Dari <strong>Abu Huroiroh</strong> dari Rosululloh bersabda: </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: small;">&#8220;Tidak ada yang bisa bicara saat masih bayi kecuali tiga yaitu Isa, dan anak dalam kisah seorang dari Bani Isroiil yang berama Juroij, tatkala dia sedang shoat, datanglah ibunya memanggil. Juroij berkata dalam hati: Saya memenuhi pangglan ibuku atau meneruskan sholatku, maka ibunya berkata: Ya Alloh, jangan matikan dia sehingga Engkau pertemukan dia dengan wajah wanita pelacur.” Saat itu Juraij tinggal ditempat ibadahnya, lalu suatu ketika datanglah seorang wanita pelacur menawarkan diri untuk berzina, tapi Juroij menolak, sehingga akhirnya wanita ini mendatangi penggembala dan menyerahkan diri padanya, lalu dia melahirkan anak dan wanita itu berkata: Ini anaknya Juroij. Orang-orangpun mendatanginya dan merusak tempat ibadahnya, mereka menurunkan dan mencaki makinya. Lalu Juroij mengambil wudlu dan sholat lalu dia mendatangi anak bayi itu dan berkata: Siapakah bapakmu wahai bayi ? bayi itu berkata: Seorang penggembala. Maka orang-orangpun berkata: Kami akan membangunkan tempat ibadahmu dari emas,.” Juroij berkata: “Tidak, cukup dari tanah saja.”</span> Dan (yang ketiga) adalah seorang wanita Bani Isroil yang menyusui anaknya, maka lewatlah seorang laki-laki mentereng penunggang kuda, maka si ibu berkata: Ya Alloh, jadikanlah anakku seperti dia.” maka sibayi pun mencopot tetek susunya dan melihat pada laki-laki penunggang kuda tersebut lalu berkata: Ya Alloh jangan engkau jadikan aku seperti dia. Kemudian dia kembali menyusu, kemudian lewatlah seorang budak wanita, maka ibunya berkata: Ya Alloh janganlah Engkau jadikan anakku seperti dia, maka sibayi meninggalkan susunya lalu berkata: Ya Alloh jadikan aku seperti dia.” Maka si ibu pun bertanya pada anaknya: Kenapa kok begitu ?  si anak menjawab: Penunggang kuda tadi adalah orang yang durjana, sedangkan budak wanita dituduh oleh orang-orang: Engkau mencuri, engkau berzina.” padahal dia tidak melakukannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori)</p>
</blockquote>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p>Kisah <strong>Ashhabul Ukhdud</strong> yang terdapat dalam <strong>Bukhori Muslim</strong>.</p>
<p>Diakhir kisah tersebut tatkala penduduk negeri tersebut masuk islam pasca matinya sang pemuda, maka sang raja dholim segera memerintahkan untuk membuat parit lalu dinyalakan api membara dan dia berkata: Barang siapa yang tidak mau murtad dari agamanya, maka akan dibakar dalam api ini, akhirnya orang-orang itu dibakar. Sampai tibalah giliran seorang wanita yang ngendong anak kecil. Wanita ini kelihatan agak bimbang untuk melemparkan diri ke kubangan api, maka anaknya berkata: Wahai ibuku, sabarlah, engkau berada diatas kebenaran.”</p>
<p>Dalam riwayat <strong>Ahmad</strong> dengan sanad shohih menurut syarat <strong>Muslim</strong> terdapat tambahan bahwa ibunya sedang menyusui anak tersebut.</p>
<h2>Faedah:</h2>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>Anak yang menjadi saksi antara <strong>Nabi Yusuf</strong> dengan istri sang raja, apakah dia anak kecil ataukah sudah besar ?</p>
<p><strong>Syaikh al Albani</strong> menjawab:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Dhohir yang terdapat dalam al Qur’an tentang saksi tersebut adalah seseorang yang sudah dewasa dan bukannya anak bayi, karena seandainya dia masih bayi maka mestinya sekedar dia mengatakan bahwa istri al Aziz itu berdusta niscaya akan dirasa cukup untuk menjadi sebuah bukti paten, karena peristiwa semacam ini adalah sebuah mukjizat, dan tidak perlu membawakan sebuah bukti atas bersihnya nabi Yusuf dari tuduhan tersebut dengan mengatakan: Jika bajunya robek pada bagian depan, maka wanita itu benar an dan Yusuf berdusta, namun jika jika bajunya robek bagian belakang ….” Dan Imam Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan sanad yang semua perowinya tsiqoh bahwa saksi itu seorang yang sudah dewasa dan sudah tumbuh jenggotnya. Wallohu a’lam.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dhoifah no: 880 dengan sedikit diringkas)</p>
</blockquote>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p><strong>Syaikh Al Albani</strong> ditempat yang sama pun berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Apa yang terdapat pada sebagian kitab tafsir maupun lainnya bahwa yang juga bicara saat masih bayi adalah Ibrohim, Yahya dan Muhammad, ini sama sekali tidak ada asal usul sanadnya dari Rosululloh.”</p>
</blockquote>
<p>Wallohu a’lam</p>
<div id="sdfootnote1">
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> Masyithoh bukanlah sebuah nama seseorang, karena dalam bahasa arab 	masyithoh berarti tukang sisir, namun karena yang masyhur di 	Indonesia, bahwa masyithoh adalah nama tukang sisir putri Firaun, 	maka judul pembahasan saya buat seperti diatas.</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> Takhrij ini paduan dari dirosah <strong>Syaikh Al Albani</strong> dalam Adh Dho’ifah 	: 880 dan <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Tahdzirud Da’iyah di majalah At 	Tauhid Mesir.</p>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan'>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesulitan Membawa Kemudahan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 17:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ Kesulitan membawa kemudahan Makna Kaedah المَشَقَّةُ berarti kepayahan, kesulitan dan kerepotan. التَّيْسِيْرَ artinya adalah kemudahan dan keringanan. Dari sini maka secara bahasa kaedah ini mempunyai pengertian bahwa sebuah kesulitan akan menjadi sebab datangnya kemudahan dan keringanan. Adapun secara istilah para ulama’, maka kaedah ini berarti : Hukum-hukum syar’i yang dalam prakteknya menimbulkan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan'>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/studi-kaidah-kaidah-fiqh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kaidah-Kaidah Fiqh'>Studi Kaidah-Kaidah Fiqh</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F05%2F04%2Fkesulitan-membawa-kemudahan%2F">
										</iframe>
										</div><h2 style="text-align: center;"><strong>المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ</strong></h2>
<h3 style="text-align: center;"><strong>Kesulitan membawa kemudahan</strong></h3>
<h3>Makna Kaedah</h3>
<p>المَشَقَّةُ berarti kepayahan, kesulitan dan kerepotan.<br />
التَّيْسِيْرَ artinya adalah kemudahan dan keringanan.<br />
Dari sini maka secara bahasa kaedah ini mempunyai pengertian bahwa sebuah kesulitan akan menjadi sebab datangnya  kemudahan dan keringanan.</p>
<p>Adapun secara istilah para ulama’, maka kaedah ini berarti :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Hukum-hukum syar’i yang dalam prakteknya menimbulkan kesulitan dan kepayahan serta kerumitan bagi seorang mukallaf (orang yang diberi beban syar’i) maka syariat islam meringankanya agar bisa dilakukan dengan mudah dan ringan.</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Al Wajiz Fi Idlohi Qowa’id Fiqh Kulliyah oleh <strong>DR. Muhammad Shidqi al Burnu</strong> hal : 218)</p>
</blockquote>
<p><span id="more-223"></span></p>
<h3>Dalil Kaedah</h3>
<p>Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan pada kaedah ini, yang bisa kita ringkaskan menjadi sebagai berikut :</p>
<p><strong>Dalil Al Qur’an Al Karim</strong></p>
<ul>
<li>Alloh berfirman :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ</h2>
<p style="text-align: center;">“Alloh menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak mengiginkan bagi kalian kesulitan.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Baqoroh : 185)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Alloh berfirman :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا</h2>
<p style="text-align: center;">“Alloh tidak membebani seorang jiwa kecuali sesuai kemampuannya.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Baqoroh : 286)</p>
</blockquote>
</li>
<li> Alloh juga berfirman :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ</h2>
<p style="text-align: center;">“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana  Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan  kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Baqoroh : 286)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Alloh Ta’ala berfirman :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنكُمْ</h2>
<p style="text-align: center;">“Alloh menginginkan untuk meringankan atas kalian.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nisa’ : 28)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Firman Alloh :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ</h2>
<p style="text-align: center;">“Alloh tidak hendak menyulitkan kalian.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Ma’idah : 6)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Alloh berfirman :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan Alloh sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Hajj : 78)</p>
</blockquote>
</li>
</ul>
<p><strong>Dalil as Sunnah :</strong></p>
<ul>
<li>Hadits <strong>Abu Umamah</strong><br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Umamah berkata : Rosululloh bersabda : “Saya tidak diutus dengan membawa agama Yahudi dan Nashroni namun saya diutus membawa agama yang lurus lagi mudah.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 5/266 (21788)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Hadits <strong>Abu Huroiroh</strong> :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : “Ada seorang Arab Badui yang kencing dimasjid, lalu para sahabat memarahinya, maka Rosululloh bersabda : “Biarkan dia, tuangkan saja pada kencingnya air satu timba, sesunguhnya kalian diutus untuk membawa kemudahan dan bukan diutus untuk menyulitkan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori 220, Muslim)</p>
</blockquote>
</li>
<li>Hadits <strong>Aisyah</strong> :<br />
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Aisyah berkata : “Tidaklah Rosululloh diberi pilihan untuk memilih antara dua perkara kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selagi hal itu bukan perbuatan dosa. Namun jika itu perbuatan dosa maka Rosululloh adalah orang yang paling jauh darinya”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori 3560 Muslim  2327)</p>
</blockquote>
</li>
</ul>
<p>Semua ayat dan hadits ini memberikan sebuah faedah bahwa agama islam tidak datang untuk membawa kesulitan akan tetapi datang dengan membawa kemudahan.</p>
<p><strong>Syaikh Abdur Rohman As Sa’di</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Seluruh syariat islam ini lurus dan mudah, Lurus dalam masalah tauhid yang dibangun atas dasar beribadah hanya kepada Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya, serta mudah dalam hal hukum dan amal perbuatan. Lihatlah !!! sholat lima waktu yang wajib dikerjakan dalam satu hari satu malam tidaklah mengambil waktu kecuali hanya sedikit sekali, begitu pula zakat, itu hanya sebagian kecil dari seluruh harta  dan itupun  harta yang berkembang bukan harta yang tidak berkembang, serta setiap tahun hanya wajib sekali. Begitu juga dengan puasa cuma satu bulan dalam satu tahun. Adapun masalah haji, maka itu hanya wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu melaksanakanya. Adapun kewajiban-kewajiban lainnya, maka hanyalah dilakukan kalau ada sebabnya, semuanya amatlah mudah. Alloh juga mensyariatkan banyak sebab yang bisa membantu seseorang agar giat dalam menjalankan semua ibadah tersebut.”</p>
<p style="text-align: center;">(Al Qowa’id wal Ushul Jami’ah oleh Syaikh As Sa’di hal : 20)</p>
</blockquote>
<p>Kalau engkau cermati maka engkau akan mengetahui bahwa tidak ada yang berat dan membawa masyaqoh dalam syariat islam, sebagaimana firman Alloh diatas, namun perlu diketahui bahwa sesuatu yang berat dalam syariat itu ada tiga macam :</p>
<h3>Macam-macam masyaqqoh :</h3>
<ul>
<li>Masyaqqoh yang diluar kemapuan manusia<br />
Maka ini tidak mungkin terdapat dalam syariat islam.<br />
Misalkan : berpuasa sepuluh hari berturut turut siang dan malam, berjalan diatas air, terbang tanpa alat dan lainnya. Ini semua tidak mungin disyariatkan oleh Alloh dan Rosul Nya.</li>
<li>Masyaqqoh yang biasa.<br />
Masyaqqoh model ini mesti ada dalam semua beban syari, karena semua perintah dan larangan pasti akan membawa sedikit beban pada jiwa yang diberi beban tersebut. Maka masyaqqoh model ini terdapat dalam syariat islam dan bukan yang dimaksud dengan ayat dan hadits diatas.<br />
Misal :<br />
Puasa sehari dari terbit fajar sampai terbenam matahari, ini pasti ada masyaqohnya akan tetapi dalam kadar yang wajar.<br />
Sholat shubuh, ini juga ada sedikit masyaqqoh, karena harus bangun dan berwudlu disaat mungkin masih ngantuk atau udara dingin. Namun semua ini masyaqoh dalam batas yang wajar<br />
Begitu juga mengeluarkan zakat dari sebagian harta dan lainnya.</li>
<li>Masyaqqoh yang sangat amat berat meskipun sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia.<br />
Masyaqqoh yang ini juga tidak terdapat dalam syariat islam, karena keutaman Alloh yang diberikan kepada hamba Nya.<br />
Misalnya : Sholat lima puluh kali sehari semalam, seandainya Alloh memerintahkannya kepada manusia maka hal ini bisa dilakukan oleh mereka, namun dengan sebuah masyaqqoh yang sangat berat sekali. Oleh karena itu Alloh tidak mensyariatkan hal ini pada ummat islam.</li>
</ul>
<p>Namun jika masyaqqoh yang terdapat dalam syariat islam yang sebenarnya adalah masyaqoh yang wajar, namun suatu ketika menjadi sulit dan berat karena ada sebab tertentu maka Alloh memberikan keringanan dan keluasan kepada hambaNya. Misalkan puasa pada siang hari bulan Romadhon yang asalnya adalah sebuah masyaqqoh yang ringan, namun saat sakit atau safar akan menjadi berat, maka dari itu Alloh memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa saat itu dan wajib menggantinya pada saat lain, sebagaimana firman Nya :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</h2>
<p style="text-align: center;">“Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Al Baqoroh : 185)</p>
</blockquote>
<p>Begitu pula harus difahami, bahwa jika Alloh dan Rosul Nya mensyariatkan sesuatu yang kelihatannya sangat berat, maka harus difahami dengan dua kemungkinan :</p>
<ul>
<li> Kita harus meyakini bahwa dibalik syariat yang berat tersebut ada hikmah dan tujuan yang jauh lebih besar.<br />
Misalnya : Syariat jihad berperang dijalan Alloh melawan orang kafir. Syariat ini kelihatan berat karena harus mengorbankan harta benda, keluarga bahkan jiwa. Mungkin dengan jihad ini seorang wanita kehilangan suaminya dan seorang anak kehilangan ayahnya. Namun dibalik itu semua ada hikmah berharga yaitu meninggikan kalimat Alloh dimuka bumi dan Alloh menyediakan pahala yang sangat besar bagi para mujahid fisabilillah.</li>
<li>Kalau tidak demikian, maka harus kita sadari bahwa apa yang dianggap berat itu sebenarnya bukan sebuah keberatan, namun karena jiwa manusia yang kotorlah yang menganggap itu berat. Bukankah kalau seseorang sedang sakit maka makanan yang sebenarnya tidak keras pun terasa keras, bukanlah kalau sedang sakit makanan yang sebenarnya manis pun terasa pahit. Sadarilah !!!</li>
</ul>
<h3>Sebab-sebab keringanan</h3>
<p>Kalau kita cermati tentang sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan keringanan syar’i adalah :</p>
<p><strong>1. Safar</strong></p>
<p>Safar adalah sepotong adzab, karena banyak kesulitan dan kerepotan saat dalam sebuah perjalanan jauh, oleh karena itu Alloh memberikan beberapa keringanan dalam menjalankan sebuah syariat saat safar.<br />
Diantaranya adalah mengqoshor dan menjama’ sholat, boleh tidak berpuasa pada bulan Romadhon namun harus mengganti pada bulan lainnya, bolehnya mengusap sepatu tiga hari tiga malam sedangkan kalau tidak safar hanya boleh sehari semalam, boleh tidak berjamaah juga tidak sholat jum’at dan lainnya.</p>
<p><strong>2. Sakit</strong></p>
<p>Keringanan yang didapatkan karena sakit misalnya bolehnya bertayamum sebagai ganti dari berwudlu, boleh tidak berpuasa pada bulan Romadhon namun menggantinya pada bulan lain, bolehnya sholat dengan duduk atau berbaring dan lainnya.</p>
<p><strong>3. Terpaksa</strong></p>
<p>Contoh keringanan karena sebab terpaksa adalah bolehnya mengucapkan kalimat kufur dengan syarat hatinya masih teguh diatas keimanan, sebagaiman kisah <strong>Ammar bin Yasir</strong> yang dipaksa kufur dengan siksaaan yang sangat berat, maka beliau mengucapkan kalimat kufur namun hatinya tetap teguh diatas keimanannya. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ</p>
<p style="text-align: center;">“Barangsiapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An Nahl : 106)</p>
</blockquote>
<p><strong>4. Lupa</strong></p>
<p>Orang yang lupa makan dan minum siang hari bulan Romadhon tidak batal puasanya, juga tidak berdosa orang yang lupa tidak sholat sampai keluar waktunya, hanya saja kalau dia ingat maka wajib melaksanakannya saat itu juga.</p>
<p>Sebagaimana sabda Rosululloh :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا</h2>
<p style="text-align: center;">“Dari Anas berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Barang siapa yang lupa sholat atau ketiduran belum mengerjakannya, maka kaffarohnya adalah mengerjakannya saat dia ingat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori 597, Muslim 684)</p>
</blockquote>
<p><strong>5. Bodoh</strong></p>
<p>Terkadang bodoh adalah sebuah sebab seseorang mendapatkan keringanan, misalnya orang yang baru masuk islam dan belum mengetahui bahwa khomer itu hukumnya haram, lalu dia meminumnya maka tidak ada dosa atasnya dan tidak ada hukuman akhirat.</p>
<p><strong>6. Sulit menghindarinya</strong></p>
<p>Dalam keadaan-keadaan tertentu, manusia sulit sekali menghindari sesuatu yang pada dasarnya adalah tidak boleh, maka hal itu bisa diberi keringanan karena kesulitan tersebut.</p>
<p>Misalnya : Tidak dinajiskanya kucing karena binatang ini sangat sering bergaul dengan manusia, keluar masuk rumah dan lainnya, maka seandainya dinajiskan maka akan sangat memberatkan.</p>
<p>Oleh Karena itu tatkala Rosululloh ditanya tentang najisnya kucing beliau menjawab :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ</h2>
<p style="text-align: center;">“Sesungguhnya dia tidak najis, karena dia binatang yang selalu keliling pada kalian.”</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih HR. Abu Dawud : 75, Nasa’i 1/55, Tirmidzi : 92, Ibnu Majah 367)</p>
</blockquote>
<p><strong>7. Kekurangan</strong></p>
<p>Ada beberapa kekurangan yang terdapat pada seseorang, baik kekurangan dalam fisik, akal ataupun lainnya, maka semua kekurangan tersebut bisa menjadi sebab mendapatkan keringanan.</p>
<p>Misalnya orang yang kurang fisiknya maka tidak wajib jihad, contohnya orang yang buta atau pincang yang parah. Adapun kekurangan umur atau belum baligh dan kurang akal, maka orang yang belum baligh dan kurang waras tidak diberi kewajiban syar’i.</p>
<h3>Macam-macam keringanan</h3>
<p>Kalau kita cermati beberapa misal diatas, maka akan dapat kita simpulkan bahwa keringanan yang diberikan oleh Alloh dan Rosul Nya meliputi beberapa macam :</p>
<ul>
<li>Digugurkan kewajiban<br />
Misalnya orang yang haidl dan nifas tidak boleh sholat dan tidak wajib mengqodlo’</li>
<li>Dikurangi dari aslinya<br />
Misalnya sholat dhuhur yang asalnya empat rokaat, namun bagi musafir hanya dikerjakan dengan dua rokaat</li>
<li>Diganti dengan yang lain<br />
Semacam mengganti wudlu dan mandi junub dengan bertayammum saja kalau terdapat sebab yang membolehkan tayammum</li>
<li>Memajukan dari waktu yang sebenarnya<br />
Misalnya orang boleh untuk mengerjakan waktu ashar diwaktu dhuhur, karena sedang bepergian atau sedang ada keperluan yang mendesak. Juga bolehnya membayar zakat fithri maupun zakat mal sebelum waktu wajibnya.</li>
<li>Mengakhirkan dari waktu yang sebenarnya<br />
Misalnya bolehnya mengerjakan shoat dhuhur di waktu ashar serta waktu maghrib di waktu isya’ saat sedang safar atau ada sebuah keperluan yang mendesak</li>
<li>Saat terpaksa yang haram jadi boleh<br />
Orang yang sangat kelaparan, maka dia boleh memakan bangkai bahkan terkadang jadi wajib memakan bangkai tersebut kalau seandainya tidak memakanya akan mengakibatkannya meninggal dunia.</li>
<li>Merubah<br />
Seperti perubahan tatacara sholat saat berada dikancah medan pertempuran, yang disebut dengan sholat khouf.</li>
<p>(Lihat Al Wajiz hal : 227-229)</ul>
<h3>Penerapan kaedah</h3>
<p>Banyak sekali cabang-cabang fiqh yang tercakup dalam kaedah ini, saya sebut beberapa diantaranya :</p>
<ul>
<li>Pada dasarnya bangkai adalah haram, namun kalau seseorang dalam keadaan terpaksa maka diperbolehkan baginya makan bangkai tersebut bahkan mungkin menjadi wajib</li>
<li>Aruransi konvensional itu hukumnya haram, karena banyak mengandung unsur kedholiman, riba serta lainnya. Namun pada zaman sekarang ini sistem asuransi ini hampir ada disemua sektor kehidupan, misalnya kalau masuk terminal harus membayar peron yang disitu mesti ada sebagian uangnya untuk PT Asuransi dan lainnya, maka diperbolehkan membayar uang peron tersebut meskipun mengandung unsur asuransi karena akan sangat sulit sekali menghindarinya.</li>
<li>Kalau sulit mendapatkan sesuatu dengan cara yang meyakinkan, maka diperbolehkan menggunakan dhon (persangkaan) yang kuat meskpun tidak sampai yakin. Dan ini banyak kita dapatkan dalam fiqh islami. Misalkan Orang yang tidak mengetahui arah kibat lalu sudah berusaha mencarinya namun tidak mendapatkanya, maka dia bisa menggunakan berbagai macam qorinah untuk menguatkan arah kiblat lalu sholat mengarah kesana meskipun dia sendiri belum yakin bahwa itulah arah kiblat.</li>
<li>Pada dasanya tidak boleh menjual barang yang tidak diketahui bendanya secara langsung, namun karena banyak keperluan akan hal ini, maka diperbolehkan jual beli pesanan, dengan cara pembeli barang bayar kontan duluan, namun barangnya akan di terima belakangan dengan menyebutkan kretria tertentu, begitu juga diperbolehkannya jual beli biji-bijian yang masih dalam tanah serta menjual buah yang masih dalam pohonnya karena keperluan yang mendesak akan hal itu.</li>
<li>Pada dasanya benda najis harus dihilangkan bendanya, namun karena kesulitan maka diperbolehkan untuk mensucikan benda najis yang menempel di sandal dan pakaian wanita yang dipakai berjalan pada jalanan yang najis, hanya sekedar dipakai berjalan dijalan setelahnya yang suci.</li>
</ul>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan'>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/30/studi-kaidah-kaidah-fiqh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kaidah-Kaidah Fiqh'>Studi Kaidah-Kaidah Fiqh</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 15:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Ikrimah bin Abu Jahl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Muqoddimah : Pada bulan Romadhon tahun 8 H terjadi  sebuah peristiwa agung yang sangat bersejarah dalam kehidupan Rosululloh dan umat islam. Peristiwa itu adalah Fathu Makkah, pembukaan kota mekah, yang sebelumnya di kuasai oleh orang-orang kafir musyrik menjadi wilayah kekuasaan islam. Sejak saat itulah tidak lagi disyariatkan hijroh dari mekkah ke madinah. Roslululoh bersabda : [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam'>Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F04%2F15%2Fkisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl%2F">
										</iframe>
										</div><h2><img class="alignright size-thumbnail wp-image-242" title="Sun light from Above" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/04/cahaya-150x150.jpg" alt="masuk islam" width="150"  />Muqoddimah :</h2>
<p>Pada bulan Romadhon tahun 8 H terjadi  sebuah peristiwa agung yang sangat bersejarah dalam kehidupan Rosululloh dan umat islam. Peristiwa itu adalah <strong>Fathu Makkah</strong>, pembukaan kota mekah, yang sebelumnya di kuasai oleh orang-orang kafir musyrik menjadi wilayah kekuasaan islam. Sejak saat itulah tidak lagi disyariatkan hijroh dari mekkah ke madinah. Roslululoh bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Tidak ada hijroh setelah fathu Makkah, namun yang ada adalah jihad dan niat.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori Muslim)</p>
</blockquote>
<p><span id="more-234"></span><br />
Dengan dibukanya kota mekkah, bangsa Arab berbondong-bondong masuk kedalam agama islam,karena sebelumnya mereka masih menunggu, mereka mengatakan : jika Muhammad benar-benar seorang Nabi, pasti dia akan menguasai tanah kelahirannya. Alloh Ta’ala menggambarkan peristiwa itu dengan firman Nya :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)</strong></p>
<p style="text-align: center;">“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allahdengan berbondong-bondong (2) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu danmohonlah ampun kepada-Nya.  Sesungguhnya Dia adalahMaha Penerima tobat (3)</p>
<p style="text-align: center;">(QS. An nashr : 1-3)</p>
</blockquote>
<p>Namun disela-sela fragmen sejarah itu, terdapat beberapa kisah masyhur namun ternyata kurang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya menurut ulama’ hadits. Salah satunya adalah tentang kisah masuk islamnya Ikrimah bin abu Jahl. Dan inilah kisah tersebut :</p>
<h2>Al Kisah :</h2>
<p>Dari <strong>Abdulloh  bin Zubair</strong> berkata: “Saat fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri,  namun istrinya yang bernama Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam adalah seorang yang cerdik, dia masuk islam lalu meminta kepada Rosululloh jaminan keamanan  untuk suaminya, maka Rosululloh memerintahkanya agar  mengembalikan suaminya, lalu diapun keluar mencari suaminya. Setelah ketemu, dia berkata kepada suaminya : “Saya datang kepadamu dari seseorang yang paling bisa menyambung hubungan antara sesama serta dari orang yang paling baik, saya telah meminta jaminan keamanaan kepadanya untukmu dan dia memberikannya..” Maka Ikrimah pun kembali bersamanya, maka tatkala dia sudah dekat Mekkah, maka Rosululloh bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>يَأْتِيْكُمْ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِيْ جَهْلٍ مُؤْمِنًا مُهَاجِرًا ، فَلَا تَسُبُّوْا أَبَاهُ ، فَإِنَّ سَبَّ الْمَيِّتِ يُؤْذِي الْحَيَّ ، وَلَا يَبْلُغُ الْمَيِّتَ</strong></p>
<p style="text-align: center;">“ Akan datang pada pada kalian Ikrimah bin Abu Jahl dalam keadaan mu’min muhajir(orang yang hijroh), maka janganlah kalian mencela bapaknya, karena mencela orang yang telah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup dan tidak akan sampai kepada orang yang telah meninggal dunia.” Maka tatkala dia sudah berada di pintu, maka Rosululloh bergembira  dan segera bangkit untuk menyambutnya.”</p>
</blockquote>
<h2>Derajat kisah :</h2>
<p>Kisah ini palsu, sebagaimana dikatakan oleh <strong>Syaikh al Albani</strong> dalam Adh Dho’ifah ; 6234</p>
<h2>Takhrij kisah :</h2>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Al Waqidi</strong> dalam Al Maghozi 2/850, <strong>Hakim</strong> dalam Al Mustadrok 3/241, <strong>Baihaqi</strong> dalam al Madkhol 398/710 <strong>Ibnu Asakir</strong> dalam Tarikh Dimasyq 11/755 dari <strong>Waqidi</strong> berkata telah menceritakan kepadaku <strong>Ibnu Abi Sabroh</strong> dari <strong>Musa bin Uqbah</strong> dari <strong>Abu Habibah</strong> dari <strong>Abdulloh  bin Zubair</strong></p>
<h2>Sebab kelemahan kisah ini :</h2>
<p>Kelemahan kisah ini disebabkan dua hal :</p>
<p><strong>Pertama : Al Waqidi</strong></p>
<ul>
<li><strong>Al Hafizh Ibnu Hajar</strong> dalam lisanul Mizan berkata : Al Waqidi adalah <strong>Muhammad bin Umar bin Waqid Al Aslami Abu Abdilah Al Madani</strong>, salah satu tokoh dan qodhi Iraq. Dia seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya) meskipun ilmunya luas.</li>
<li>Dia didustakan oleh <strong>Imam Ahmad</strong>.</li>
<li><strong>Yahya bin Ma’in</strong> berkata : Dia tidak ada apa-apanya.</li>
<li><strong>Ali bin Madini</strong> berkata : Al Waqidi memalsukan hadits.</li>
<p>(Al Majruhin Ibnu Hibban 2/290)</ul>
<p><strong>Kedua : Ibnu Abi Sabroh</strong></p>
<p>Dia adalah <strong>Abu Bakr bin Abdulloh bin Muhammad bin Abu Sabroh</strong> dari penduduk Madinah.</p>
<ul>
<li><strong>Yahya bin Ma’in</strong> berkata : Dia tidak ada apa-apanya.</li>
<li><strong>Imam Ahmad</strong> mendustakannya.</li>
<li><strong>An Nasa’i</strong> berkata : Dia matruk.</li>
<li>Dia juga dilemahkan oleh <strong>Imam Bukhori</strong> serta lainnya.</li>
<p>(Lihat Al Majruhin 3/147, Mizanul I’tidal 4/503)</ul>
<p><strong>Syaikh Al Albani</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hadits ini didiamkan oleh Hakim, Dzahabi dan Baihaqi, hal ini dalam persangkaanku adalah karena nampak kelemahan bahkan kepalsuannya, karena al Waqidi sendiri adalah seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya) dan gurunya Ibnu Abi Sabroh  dituduh oleh para ulama’ sebagai pemalsu hadits.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah: 6234, 1443)</p>
</blockquote>
<h2>Siapakah Ikrimah bin Abu Jahl</h2>
<p>Beliau bernama <strong>Ikrimah bin Amr bin hisyam </strong>(amr bin Hisyam ini adalah Abu Jahl)<strong> bin Mughiroh Al Qurosyi al Makhzumi</strong>.</p>
<p>Sebagaimana bapaknya, Ikrimah dulunya adalah seorang yang sangat memusuhi islam. Namun beliau masuk islam saat Fathu Makkah kemudian hijroh ke kota madinah dan ikut andil dalam memerangi orang-orang yang murtad sepeninggal Rosululloh. Beliau wafat dalam salah satu peperangan, hanya saja para ulama’ berselisih akan peperangan tersebut, sebagian mengatakan perang Yarmuk pada zaman kekhilafahan Umar bin Khothob, sebagian ulama’ lainnya berpendapat beliau wafat pada zaman Abu Bakr.</p>
<p>Adapun riwayat yang shohih tentang keislaman Ikrimah adalah apa yang diriwayatkan oleh <strong>An Nasa’i</strong> dengan sanad shohih sebagaimana dikatakan oleh <strong>Syaikh al Albani</strong> dalam shohih wa dhoif  Nasa’i :4067 adalah sebagai berikut :</p>
<p>Dari <strong>Mush’ab bin Sa’d</strong> dari bapaknya berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saat fathu makkah, Rosululloh memberikan keamanan kepada manusia kecuali empat laki-laki dan dua wanita, beliau bersabda : Bunuhlah mereka meskipun kalian temukan mereka sedang berpegangan pada kain ka’bah. Mereka adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Abdulloh bin Khothl, Maqis bin Shobabah dan Abdulloh bin Sa’d bin Abis Sarh. Adapun Abdulloh bin Khotl, dia ditemukan sedang berpegangan pada kain ka’bah, dia diserang oleh<strong> </strong>Sa’id bin Harits dan Ammar bin Yasir, hanya saja Sa’id lebih mendahului Ammar, sehingga dia lah yang membunuh Abdulloh bin Khothl. Sedangkan Maqis bin Shobabah, dia ditemukan berada di pasar, maka diapun dibunuh oleh banyak orang.</p>
<p style="text-align: center;">Adapun Ikrimah bin Abu Jahl, dia naik kapal di lautan, tiba-tiba datanglah badai, maka para awak kapal berkata : Ikhlaskanlah (do’a hanya kepada Allloh) karena tuhan-tuhan kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa disini.” Maka Ikrimah berkata : “Demi Alloh, jika tidak ada yang bisa menyelamatkanku di lautan ini kecuali keikhlasan (kepada Alloh), maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku di daratan melainkan Dia. Ya alloh jika saya berjanji kepadamu, jika Engkau menyelamatkanku, saya akan datang kepada Muhammad, lalu saya akan meletakkan tanganku pada tangan beliau, dan niscaya saya akan dapati beliau sebagai seorang yang pemaaf lagi mulia.” Lalu Ikrimahpun dating dan masuk islam. Adapun Abdulloh bin Abis Sarh …………”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Nasa’I. Lihat pula ash shohihah 1723)</p>
</blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam'>Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/kisah-lemah-tentang-alqomah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya'>Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 14:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[A. Al Kisah Konon diceritakan bahwa setelah Rosululloh dan Abu Bakr menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, ditengah-tengah intaian kaum kuffar Quraisy, maka akhirnya Alloh menyelamatkan mereka hingga sampai ke Kota Madinah. Di sisi kisah yang lainnya para penduduk kota Madinah, dari kaum laki-laki, wanita dan anak-anak setiap harinya keluar rumah menuju pingiran kota untuk menunggu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam'>Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F03%2F09%2Fthola%E2%80%99al-badru-%E2%80%98alaina-%E2%80%A6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh%2F">
										</iframe>
										</div><h3><span style="color: #ff6600;">A. Al Kisah</span></h3>
<p>Konon diceritakan bahwa setelah Rosululloh dan Abu Bakr menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, ditengah-tengah intaian kaum kuffar Quraisy, maka akhirnya Alloh menyelamatkan mereka hingga sampai ke Kota Madinah. Di sisi kisah yang lainnya para penduduk kota Madinah, dari kaum laki-laki, wanita dan anak-anak setiap harinya keluar rumah menuju pingiran kota untuk menunggu kedatangan beliau, kalau sampai sore hari belum ada tanda-tanda kedatangan beliau maka mereka pulang dengan perasaan kecewa. Sehingga suatu ketika dari jauh kelihatan ada debu yang berterbangan, semakin lama semakin dekat, mereka berharap-harap cemas siapakah gerangan yang datang tersebut ? Alangkah bahagianya mereka tatkala mengetahui bahwa yang datang adalah Rosululloh, manusia agung yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya, lalu mereka semua menyenandungkan gubahan bait syair berikut ini :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">من ثنيات الوداع    O   طلع البدر علينا<br />
ما دعا لله داع   O   وجب الشكر علينا<br />
جئت بالأمر المطاع    O    أيها المبعوث فينا</h2>
<p style="text-align: center;">Telah muncul purnama kepada kita<br />
Dari daerah Tsaniyatul Wada’<br />
Wajiblah bagi kita untuk bersyukur<br />
Selagi masih ada orang yang berdo’a kepada Alloh.<br />
Wahai orang yang diutus kepada kami<br />
Engkau telah datang dengan perkara yang ditaati</p>
</blockquote>
<p><span id="more-186"></span></p>
<p>.</p>
<h3><span style="color: #ff6600;">B. Kemasyhuran Kisah Ini</span></h3>
<p>Saya rasa tidak ada seorangpun yang tidak mengenal kisah ini, karena hampir disemua kitab sejarah yang menceritakan tentang kedatangan Rosululloh ke kota Madinah dalam perjalanan hijroh agung beliau. Bahkan senandung bait syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum muslimin, mereka menganggapnya sebagai sebuah nyanyain yang islami (?), karena bait syair ini dalam angapan mereka adalah untuk menyambut kedatangan Rosululloh saat perjalanan hijroh beliau. Wallohul Musta’an</p>
<p>Sampai-sampai beberapa kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama’ sunnah pun  menyebutkan kisah ini, diantaranya adalah yang disebutkan oleh <strong>Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri</strong> dalam Ar Rohiqul Makhtum, beliau berkata  pada bab : Masuk ke kota Madinah : “Saat itu adalah hari yang cemerlang dalam catatan sejarah, rumah-rumah dan gang-gang  bergetar karena gema suara  pujian kepada Alloh, lalu anak-anak wanita anshor dengan perasaan suka cita yang menggelora, mereka bernyanyi menyenandungkan ….(lalu beliau menyebutkan syair diatas).”</p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">C.Derajat Kisah</span></h3>
<p><strong>Kisah ini lemah</strong></p>
<p><strong>Takhrij kisah ini :</strong> (1)</p>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Abul Hasan Al Khol’i</strong> dalam Al Fawa’id 2/59, <strong>Baihaqi</strong> dalam Dala’ilun Nubuwah 2/233 beliau berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami <strong>Abu Amr al Adib</strong> berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami <strong>Abu Bakr al Isma’ili</strong> berkata : Saya medengar <strong>Abu Kholifah</strong> berkata : Saya mendengar <strong>Ibnu Aisyah</strong> berkata : Tatkala Rosululloh datang ke kota Madinah mana anak-anak dan wanita bersenandung …..”</p>
<p>Sanad hadits ini lemah karena <strong>Ibnu Aisyah</strong> yang beliau bernama <strong>Ubaidillah bin Muhammad bin Aisyah</strong>, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Al Mizzi</strong> dalam Tahdzibul Kamal no : 4262 : <strong>Ubaidilah bin Muhammad bin Hafsh bin Umar bin Musa  bin Ubaidillah bin Ma’mar Al Qurosyi at Taimi</strong>, <strong>Abu Abdir Rohman  Al Bashri</strong>. Dia lebih dikenal dengan nama <strong>Al ‘Aisyi</strong> dan <strong>Ibnu ‘Aisyah</strong>, karena dia adalah anak keturunan <strong>Aisyah binti Tholhah bin Ubaidillah.</strong></p>
<p>Dia termasuk gurunya <strong>Imam Ahmad bin Hanbal</strong> dan termasuk orang yang mengambil hadits dan meriwayatkannya dari Tabiut tabi’in.</p>
<p>Jadi sanad ini terputus tiga tingkatan secara berurutan , yaitu sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in, dan hadits dengan sanad semacam inilah yang oleh para ulama’ hadits dinamakan dengan <strong>mu’dhol</strong>, sedangkan mu’dhol, adalah sebuah hadits yang lemah.</p>
<p>Berkata <strong>As Sakhowi</strong> dalam Fathul Mughits 1/185 : &#8220;Mu’dhol dalam istilah para ulama’ adalah : Hadits yang sanadnya terputus dua orang atau lebih secara berurutan.”</p>
<p>Dengan sebab inilah para ulama’ melemahkan kisah ini, meskipn sangat masyhur. Diantara mereka adalah <strong>Imam Al ‘Iroqi</strong> dalam takhrij ihya’ 2/244, <strong>Al Albani</strong> dalam Adh Dho’ifah  no : 598, <strong>Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad 3/10, <strong>Ibnu Hajar</strong> dalam Fathul Bari dan lainnya.</p>
<p><strong>Sisi kelemahan  lainnya :</strong></p>
<p>Kisah ini pun lemah kalau kita tinjau dari sisi matannya yaitu : bahwa daerah Tsaniyatul wada’ adalah sebuah daerah yang berada di sebelah utara kota Madinah, sedangkan Makkah berada disebelah selatan Madinah. Dan orang  Mekah yang akan menuju ke Madinah tidak akan pernah melewati daerah Tsaniyatul wada’. Inilah yang diisyaratkan oleh <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad, beliau berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Sebagian perowi salah tatkala meriwayatkan kisah ini terjadi saat kedatangan beliau dari Mekkah ke Madinah. ini adalah sebuah kesalahan yang sangat nyata, karena daerah Tsaniyatul wada’ berada  diarah Syam, daerah ini tidak akan pernah dilihat oleh orang yang datang dari Mekkah ke Madinah, dan tidak  akan dilewati kecuali oleh orang yang berangkat dari Madinah menuju Syam.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Zadul Ma’ad 3/10)</p>
</blockquote>
<h3><span style="color: #ff6600;">D. Bersama al Ghozali dan kitab beliau  Ihya’ Ulumuddin</span></h3>
<p>Kisah ini digunakan dalil oleh Imam Al Ghozali dalam kitab tenar beliau Ihya’ ulumuddin 2/275 untuk menghalalkan nyanyian dan musik. Beliau berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Sisi dibolehkannya nyanyian adalah bahwa nyanyian adalah sesuatu yang bisa membangkitkan rasa senang dan gembira, maka semua yang boleh untuk bersenang senang dengannya maka boleh pula unytuk membangkitkan rasa senang dengan sesuatu tersebut. Dan yang menunjukkan akan bolehnya hal ini adalah riwayat yang menyatakan bahwa saat kedatangan Rosululloh ke kota Madinah maka para wanita menabuh duff (semacam gendang  tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan :</p>
<h2 style="text-align: center;">من ثنيات الوداع    O   طلع البدر علينا<br />
ما دعا لله داع   O   وجب الشكر علينا</h2>
</blockquote>
<p><strong>Nukilan dari Imam Al Ghozali ini salah tiga sisi :</strong></p>
<p><strong>Pertama </strong>: kisah ini adalah lemah, sebagaimana keterangan diatas<br />
<strong>Kedua</strong> : beliau menambah dalam riwayat tersebut lafadz yang tidak ada asal usulnya yaitu : “ …….. maka para wanita menabuh duff (semacam gendang  tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan  …..”<br />
Tambahan yang tidak ada asal usulnya ini sering digunakan oleh sebagian kalangan untuk menghalalkan musik, padahal tambahan ini tidak ada asal usulnya.</p>
<p>Berkata <strong>Imam Al ‘iroqi</strong> dalam Takhrij Ihya’ (2/275) :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hadits tentang para wanita yang bersenandung saat kedatangan Rosululloh ini diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwah secara mu’dhol, namun tidak terdapat adanya menabuh duff dan nyanyian.”</p>
</blockquote>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Al Ghozali menyebutkan kisah ini dan menambah dengan menyebut adanya “ menabuh duff dan nyanyian.” Padahal tambahan ini tidak ada asal usulnya sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafidl Al ‘iroqi. Banyak orang yang tertitpu dengan tambahan ini, sehingga ada sebagian kalangan yang menyebutkan kisah ini sebagai dalil bolehnya nyanyian, padahal seandainyapun hadits ini shohih, maka ini bukan dalil  atas kebenaran pendapat mereka.”</p>
</blockquote>
<p><strong>Ketiga</strong> : beliau membolehkan nyanyian dan musik, padahal keduanya sangat jelas keharamannya sebagaimana yang ditegaskan oleh Rosululloh dalam banyak haditsnya. Diantaranya adalah :</p>
<p><strong>Pertama :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن أبي مالك الأشعري قال : ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Malik al Asy’ari berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : “Sungguh akan ada sekelompok dari umatku yang menganggap halal zina, sutra, khomer (minuman keras) dan alat musik.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 5590)</p>
</blockquote>
<p>Al Ma’azif adalah alat musik. Berkata <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> : dia adalah semua alat musik, tidak ada perselisihan diantara para ulama’ bahasa mengenai arti ini.”</p>
<p><strong>Kedua :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صوتان ملعونان في الدنيا والآخرة : مزمار عند نعمة ورنة عند مصيبة</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Anas bin Malik berkata : “Rosululloh bersabda : &#8220;Dua suara yang dilaknat didunia dan akhirat, yaitu bunyi seruling ketika mendapatkan nikmat dan rintihan ketika mendapatkan mushibah.”</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih riwayat Al Bazzar dalam musnad beliau 1/377, Abu Bakr Asy Syafi’i 2.22, Dliya’ al Maqdsi 6/188)</p>
</blockquote>
<p><strong>Ketiga :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  إن الله حرم علي الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Abbas berkata : “Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh mengharamkan kepadaku khomer, judi, gendang dan setiap yang memabukkan adalah harom.”</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih riwayat Abu Dawud : 3696, Baihaqi 10/221, Ahmad 1/274, Abu Ya’la : 2729, Ibnu Hibban : 5341)</p>
</blockquote>
<p><strong>Keempat :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله عز وجل حرم الخمر والميسر والكوبة والغبيراء وكل مسكر حرام</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Amr bin Ash bahwasannya Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya Alloh mengharamkan khomer, judi, gendang, ghubairo’ (minuman memabukkan yang terbuat dari jagung) dan setiap yang memabukkan adalah harom.”</p>
<p style="text-align: center;">(Hadits hasan riwayat Abu Dawud : 3685, Thohawi 2/325, Baihaqi 10/221, Ahmad 2/157)</p>
</blockquote>
<p><strong>Kelima :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عمران بن حصين قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : &#8221; يكون في أمتي قذف ومسخ وخسف &#8221;<br />
قيل : يا رسول الله ومتى ذاك ؟ قال :  إذا ظهرت المعازف وكثرت القيان وشربت الخمور</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Imron bin Hushoin berkata : &#8220;Rosululloh bersabda : &#8220;Akan terjadi pelemparan pada ummatku, dirubahnya manusia menjadi bentuk lain dan gempa. Beliau ditanya : “Kapankah itu terjadi wahai Rosululloh ?.” beliau menjawab : “Jika alat musik telah semarak, banyaknya penyanyi dan khomer di tenggak.”</p>
<p style="text-align: center;">(Hadits hasan riwayat Tirmidzi : 2213, Ibnu Abid Dunya 1/2 , Abu Amr Ad Dani 1/39, Ibnu Najjar 18/251)</p>
</blockquote>
<p><strong>Hadits-hadits ini sangat tegas menunjukkan haramnya musik, maka seandainyapun riwayat tadi shohih, maka sama sekali tidak bisa dibawa kepada apa yang dilakukan oleh orang-orang yang membolehkan musik saat ini yang mereka namakan dengan musik atau nasyid islami (?).</strong></p>
<p>(Lihat masalah ini dengan terperinci para Tahrim Alat Thorb oleh Syaikh Al Albani juga tulisan akhuna Al Ustadz Abu Abdillah pada edisi … tahun …. Rubrik Tazkiyatun Nafs)</p>
<h3>Kisah lain yang juga lemah</h3>
<p>Dari <strong>Anas</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Rosululloh datang ke kota Madinah, maka tatkala beliau sudah masuk kota, maka seluruh penduduk Madinah yang laki-laki maupun wanita berkata : Kemari wahai Rosululloh.” maka beliau bersabda : &#8220;Biarkan onta ini, karena dia sedang diperintah.” Ternyata unta tersebut berhenti di pintu rumahnya Abu Ayyub. Maka keluarlah wanita-wanita Bani Najjar sambil menabuh duff sambil bersenandung :</p>
<h2 style="text-align: center;">يا حبذا محمد من جار     O    نحن جوار من بني النجار</h2>
<p style="text-align: center;">Kami adalah wanita-wanita Bani Najjar<br />
Alangkah bagusnya bertetangga dengan Muhammad</p>
<p>Maka Rosululloh keluar menemui mereka dan bersabda : &#8220;Apakah kalian mencintaiku ?. mereka menjawab : “Benar, wahai Rosululloh.” Maka Rosululloh bersabda : &#8220;Demi Alloh, sayapun mencintai kalian. Demi Alloh sayapun mencintai kalian.”</p></blockquote>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Baihaqi</strong> dalam Dalailun Nubuwwah  2/508. beliau berkata : telah menghabarkan kepada saya <strong>Abul Hasan Ali bin Umar</strong> berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Abdillah Abdulloh bin Mukhollad Ad Dauri</strong> berkata : &#8221; telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Sulaiman</strong> berkata : &#8221; telah menceritakan kepada kami <strong>Ibrohim bin Shirmah</strong> berkata : &#8220;telah menceritakan kepada kami <strong>Yahya bin Sa’id</strong> dari <strong>Ishaq bin Abdillah bin Abu Tholhah</strong> dari <strong>Anas</strong> berkata : ….”</p>
<p>Hadits  lebih lemah dari yang sebelumnya, karena <strong>Ibrohim bin Shirmah</strong> adalah seorang pendusta.</p>
<p>Berkata <strong>Imam Adz Dzahabi</strong> : <strong>Ibrohim bin Shirmah al Anshori</strong> dari <strong>Yahya bin Sa’id</strong> dilemahkan oleh <strong>Daruquthni</strong> dan lainnya. Berkata <strong>Ibnu Adi</strong> : secara umum haditsnya munkar baik matan maupun sanadnya. Berkata <strong>Ibnu Ma’in</strong> : Dia pendusta yang keji.”.</p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">E. Kisah yang sebenarnya</span></h3>
<p>Setelah mengetahui kelemahan kisah diatas, maka secara wajar akan muncul sebuah pertanyaaan : Lalu bagaimana sebenarnya kejadian yang sebenarnya saat kedatangan Rosululloh di kota Madinah, apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah saat itu ?</p>
<p>Tidak cukup tempat untuk memaparkan kejadian kisah hijroh Rosululloh yang penuh dengan ibroh, silahkan dilihat pada kitab-kitab para ulama’ yang terpercaya. Di antaranya lihatlah shohih Bukhori kitab Manaqib Anshor bab kedatangan Rosululloh dan para sahabatnya ke Madinah. Juga apa yang diriwayatkan oleh <strong>Imam Muslim</strong> bab haditsul hijroh, juga kitab-kitab siroh nabawiyyah yang shohih lainnya.”</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>______________________________________</p>
<p>(1) Takhrij ini saya ramu dari silsilah Tahdzir Da’iyah oleh <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Majalah Tauhid Mesir dan Adh Dho’ifah <strong>Syaikh Al Albani</strong> no : 589</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-hijrah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/06/30/demonstrasi-saat-umar-masuk-islam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam'>Demonstrasi Saat Umar Masuk Islam</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/04/15/kisah-masuk-islamnya-ikrimah-bin-abu-jahl/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl'>Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%e2%80%99al-badru-%e2%80%98alaina-%e2%80%a6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 14:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Makna Kaedah اليَقِيْنُ secara bahasa adalah kemantapan hati atas sesuatu. Terambil kata kata bahasa Arab يَقَنَ الْمَاءُ فِي الْحَوْضِ : yang artinya air itu tenang dikolam Adapun الشَكُّ secara bahasa artinya adalah keraguan. Maksudnya adalah apabila terjadi sebuah kebimbangan antara dua hal yang mana tidak bisa memilih dan menguatkan salah satunya, namun apabila bisa menguatkan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan'>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya'>Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kesulitan Membawa Kemudahan'>Kesulitan Membawa Kemudahan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F02%2F24%2Fsesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan%2F">
										</iframe>
										</div><h3>Makna Kaedah</h3>
<h3><a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/02/blog_tanya2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-227" title="ragu dan yakin" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/02/blog_tanya2-150x150.jpg" alt="Sesuatu yang ragu tidak bisa mengalahkan sesuatu yang yakin" width="150" height="150" /></a></h3>
<p>اليَقِيْنُ secara bahasa adalah  kemantapan hati atas sesuatu. Terambil kata kata bahasa Arab   يَقَنَ الْمَاءُ فِي الْحَوْضِ : yang artinya air itu tenang dikolam</p>
<p>Adapun الشَكُّ secara bahasa artinya adalah keraguan. Maksudnya adalah apabila  terjadi sebuah kebimbangan antara dua hal yang mana tidak bisa memilih dan menguatkan salah satunya, namun apabila bisa menguatkan salah satunya maka hal itu tidak dinamakan dengan الشَكُّ<br />
<span id="more-220"></span><br />
Hal ini dikarenakan bahwa sesuatu yang diketahui oleh seseorang itu bertingkat tingkat, yaitu:</p>
<ul>
<li>اليَقِيْنُ: keyakinan hati yang berdasarkan pada dalil</li>
<li>الظَنُّ : persangkaan kuat<br />
Contoh : apabila seseorang sedikit meragukan sesuatu apakah halal ataukah harom, namun persangkaan yang kuat dalam hatinya berdasarkan dalil yang dia ketahui bahwa hal itu haram, maka persangkaan kuat inilah yang dinamakan dengan الظَنُّ</li>
<li>الشَكُّ: Keraguan tanpa bisa memilih dan tidak bisa menguatkan salah satu diantara keduanya</li>
<li>الوَهْمُ : Persangkaan lemah<br />
Contoh : Pada kasus الظَنُّ, maka kemungkinan yang lemah, yaitu halalnya perbuatan tersebut itulah yang dinamakan dengan الوَهْمُ</li>
</ul>
<p>Adapun kalau seseorang tidak mengetahui sama sekali , maka itulah kebodohan (الجَهْل) dan ia terbagi menjadi dua macam :</p>
<ul>
<li>الجَهْلُ الْبَسِيْطُ (Kebodohan yang ringan ) yaitu orang yang tidak tahu namun dia menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui</li>
<li>الجَهْلُ الْمُرَكَّبُ (kebodohan berat) yaitu orang yang yang tidak tahu tapi mengaku mengetahui.</li>
</ul>
<p>(Lihat Syarah Al Ushul min Ilmil Ushul oleh <strong>Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin</strong> hal : 69)</p>
<p>Jadi makna kaedah diatas adalah :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Bahwa sebuah perkara yang diyakini sudah terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga, dalam artian tidak bisa dihilangkan hanya sekedar dengan sebuah keraguan, demikian juga sesuatu yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi bahwa itu telah terjadi kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Al Madkhol Al Fiqhi oleh <strong>Mushthofa Az Zarqo</strong> hal : 961, Al Wajiz fi Idlohi Qowa’id Fiqhil Kulliyah oleh <strong>DR. Al Burnu</strong> hal : 169)</p>
</blockquote>
<h3>Dalil Kaedah</h3>
<p>Kaedah ini terambil dari pemahaman banyak ayat dan hadits Rosululloh, diantaranya :</p>
<p><strong>Firman Alloh Ta’ala :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">وَمَايَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لاَيُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا</h2>
<p style="text-align: center;">&#8220;Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”</p>
<p style="text-align: center;">(QS. Yunus : 36)</p>
</blockquote>
<p><strong>Hadits Rosululloh :</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 362)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Nawawi</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hadits ini adalah salah satu pokok islam dan sebuah kaedah yang besar dalam masalah fiqh, yaitu bahwa segala sesuatu itu dihukumi bahwa dia tetap pada  hukum asalnya sehingga diyakini ada yang bertentangan dengannya, dan tidak membahayakan baginya sebuah keraguan yang muncul.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Syarah Shohih Muslim 4/39)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ لَا يَنْفَتِلْ أَوْ لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abbad bin Tamim dari pamannya berkata  : “Bahwasannya ada seseorang yang mengadu kepada Rosululloh bahwa dia merasakan seakan-akan kentut dalam sholatnya. Maka Rosululloh  bersabda : &#8220;Janganlah dia batalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Bukhori : 137, Muslim : 361)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Al Khothobi</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Hadits ini menunjukkan bahwa keraguan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang yakin.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Ma’alimus Sunan 1/129)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila salah seorang diantara kalian ragu-ragu dalam sholatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rokaatkah dia mengerkakan sholat, maka hendaklah dia membuang keraguan dan lakukanlah yang dia yakini kemudian dia sujud dua kali sebelum salam, kalau ternyata dia itu sholat lima rokaat maka kedua sujud itu bisa menggenapkan sholatnya, dan jikalau ternyata sholatnya sudah sempurna maka kedua sujud itu bisa membuat jengkel setan.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim : 571)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلَاثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلَاثٍ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : “Saya mendengar Rosululloh bersabda : &#8220;Apabila salah seorang dari kalian lupa dalam sholatnya, lalu dia tidak mengetahui apakah dia sudah sholat satu atau dua rokaat, maka anggaplah bahwa dia baru sholat satu rokaat, juga apabila dia tidak yakin apakah sudah sholat dua ataukah tiga rokaat, maka anggaplah bahwa dia baru sholat dua rokaat, begitu pula apabila dia tidak mengetahui apakah dia sudah sholat tiga ataukah empat rokaat maka anggaplah bahwa dia baru sholat tiga rokaat, lalu setelah itu sujudlah dua kali sebelum salam.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Tirmidzi 398, Ibnu Majah 1209, Ahmad 1659 dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Abdulloh bin Umar berkata : “ Rosululloh bersabda : &#8220;Janganlah kalian puasa sehingga kalian melihat hilal Romadhon, juga janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat hilal Syawal dan jika hilal itu tertutupi mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan tersebut.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Nasa’i 2122 dan lainnya dengan sanad shohih)</p>
</blockquote>
<p>Tatkala mengomentari hadits yang mirip dengan ini, <strong>Imam Ibnu Abdil Bar</strong> dalam At Tamhid berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Bahwa sesuatu yang yakin itu tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keraguan, namun hanya bisa dihilangkan dengan keyakinan juga, karena Rosululloh memerintahkan manusia agar tidak meninggalkan sebuah keyakinan tentang keberadan mereka masih dalam bulan Sya’ban  kecuali dengan sebuah keyakinan yang ditandai dengan melihat hilal Romadhon atau menyempurnakan bilangan bulan tiga puluh hari.”</p>
</blockquote>
<h3>Kedudukan Kaedah</h3>
<p>Kaedah ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam islam, baik yang berhubungan dengan fiqh maupun lainnya, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa kaedah ini mencakup tiga perempat masalah fiqh atau mungkin malah lebih. (Lihat Al Asybah wan Nadlo’ir oleh <strong>Imam As Suyuthi</strong> hal : 51)</p>
<p><strong>Imam Nawawi</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Kaedah ini adalah adalah sebuah kaedah pokok yang mencakup semua permasalahan,dan tidak keluar darinya kecuali beberapa masalah saja.”</p>
<p style="text-align: center;">(Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab 1/205)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Ibnu Abdil Bar</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Para ulama’ telah sepakat bahwa bahwa orang yang sudah hadats lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudlu kembali ataukah belum ? bahwasannya keraguannya ini tidak berfungsi sama sekali, dan dia wajib untuk berwudlu kembali. Hal ini menunjukkan bahwa keraguan itu tidak digunakan menurut para ulama’ dan yang dijadikan patokan adalah sesuatu yang meyakinkan. Ini adalah sebuah dasar pokok dalam permasalahan fiqh.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat At Tamhid 5/18, 25, 27)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Al Qorrofi</strong> berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Ini adalah sebuah kaedah yang disepakati oleh para ulama’, bahwasanya sesuatu yang meragukan  dianggap seperti tidak ada.”</p>
<p style="text-align: center;">(Al Furuq 1/111)</p>
</blockquote>
<p><strong>Imam Ibnu Najjar</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Kaedah ini tidak hanya berlaku dalam masalah fiqh saja, bahkan bisa dijadikan dalil bahwasanya semua perkara yang baru itu pada dasarnya dihukumi tidak ada sampai diyakini keberadaannya, sehingga bisa kita katakan bahwa pada dasarnya orang itu tidak diberi beban syar’i sehingga datang dalil yang berbeda dengan pokok ini, pada dasaranya sebuah perkataan itu dibawa pada hakekat maknanya, pada dasarnya sebuah perintah itu menunjukan pada sebuah kewajiban dan sebuah larangan itu menunjukan pada keharaman serta masalah lainnya.”</p>
<p style="text-align: center;">(Lihat Syarah al Kaukab al Munir 4/443)</p>
</blockquote>
<h3>Penerapan Kaedah</h3>
<p>Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kaedah ini mencakup hampir semua permasalahan syar’i, maka cukup disini disebutkan sebagainnya saja sebagai sebuah contoh :</p>
<ul>
<li>Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudlu, lalu ragu ragu apakah dia sudah batal ataukah belum, maka dia tidak wajib berwudlu lagi, karena yang yakin adalah sudah berwudlu, sedang  batalnya masih diragukan.</li>
<li>Dan begitu pula sebailknya, apabila orang yakin bahwa dia telah batal wudlunya, namun dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudlu kembali ataukah belum ? maka dia wajib wudlu lagi karena yang yakin sekarang adalah batalnya wudlu.</li>
<li>Barang siapa yang berjalan diperkampungan lalu kejatuhan air dari rumah seseorang dari lantai dua, yang mana ada kemungkinan bahwa itu adalah air najis, maka dia tidak wajib mencucinya karena pada dasarnya air itu suci, dan asal hukum ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan, kecuali kalau didapati sebuah tanda-tanda kuat bahwa itu adalah air najis, misalkan bau pesing dan lainnya.</li>
<li>Barang siapa yang berjalan disebuah jalanan yang becek atau berlumpur yang ada kemungkinan bahwa air itu najis, maka tidak wajib mencuci kaki atau baju yang terkena air tersebut, karena pada dasarnya air adalah suci, kecuali kalau ada bukti kuat bahwa air itu najis.</li>
<li>Barang siapa  yang telah sah nikahnya, lalu dia ragu-ragu apakah sudah terjadi talak ataukah belum, maka nikahnya tetap sah dan tidak perlu digubris terjadinya talak yang masih diragukan.</li>
<li>Orang yang pergi meninggakan kampung halaman dalam keadaan sehat namun bertahun-tahun tidak diketahui kabar beritanya, maka dia tetap dihukumi sebagai orang hidup yang dengannya tidak boleh diwarisi hartanya, sehingga datang berita yang meyakinkan bahwa dia telah meninggal dunia atau dihukumi oleh pihak pengadilan bahwa dia telah meninggal dunia.</li>
<li>Seorang istri yang ditinggal suaminya pergi, maka dia tetap dihukumi sebagai seorang istri, yang atas dasar ini maka dia tidak boleh menikah lagi, kecuali kalau datang berita meyakinkan bahwa suaminya telah meninggal dunia atau telah menceraikannya atau dia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan lalu pengadilan memutuskan untuk memisahkannya hubungan pernikahan dengan suaminya yang hilang beritanya.</li>
<li>Orang yang yakin bahwa dirinya telah berhutang, lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah melunasinya ataukah belum, maka dia wajib melunasinya lagi kecuali kalau pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah melunasi hutang atau ada bukti kuat bahwa sudah lunas, misalkan ada dua orang saksi yang menyatakan bahwa hutangnya telah lunas.</li>
</ul>
<p>Wallohu a’lam</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan'>Tidak Boleh Berbuat Sesuatu yang Membahayakan</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/07/20/nikahi-anak-hasil-zina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya'>Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/04/kesulitan-membawa-kemudahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kesulitan Membawa Kemudahan'>Kesulitan Membawa Kemudahan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mentalqin Mayit Setelah Dikuburkan</title>
		<link>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/</link>
		<comments>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 23:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Takhrij]]></category>
		<category><![CDATA[Talqin mayit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadsabiq.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[A. Al Kisah Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdulloh Al Audi berkata : “Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata : “Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
										<iframe
											style="height:25px !important;" frameborder="0"										
	 										scrolling="no" width="320"
	 										src="http://www.linksalpha.com/social?link=http%3A%2F%2Fahmadsabiq.com%2F2010%2F01%2F27%2Ftalqin-mayit%2F">
										</iframe>
										</div><h3><span style="color: #ff6600;">A. Al Kisah</span></h3>
<p>Diriwayatkan dari <strong>Sa’id bin Abdulloh Al Audi</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">“Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda :</p>
<p style="text-align: center;">“Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah kalian ratakan kuburannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata : Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab. Kemudian katakan : Wahai Fulan bin Fulanah, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian <a href="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-217" title="قبر" src="http://ahmadsabiq.com/wp-content/uploads/2010/01/قبر.jpg" alt="" width="155" height="78" /></a>katakan Wahai Fulan anaknya Fulanah, maka dia akan berkata : “Berilah aku petunjuk, semoga Alloh merohmati kalian.” Lalu hendaklah dia katakan : “Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan Nya, dan engkau ridlo Alloh sebagai robb mu, islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabi mu, al Qur’an sebagai imam mu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata : Pergilah, tidak usah duduk pada orang yang sudah di talqinkan hujjahnya.” Dengan ini semua maka Alloh akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya.”</p>
<p style="text-align: center;">Lalu ada salah seorang yang bertanya : “Wahai Rosululloh, Bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya ?</p>
<p style="text-align: center;">maka Rosululloh bersabda : &#8220;Nasabkanlah kepada Hawa’ , katakan fulan bin Hawa.”</p>
</blockquote>
<p><span id="more-209"></span></p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">B. Kemasyhuran kisah ini</span></h3>
<ul>
<li>Kisah inilah yang menjadi dasar berpijak orang-orang yang melakukan prosesi talqin setelah mayit selesai dikuburkan. Mereka duduk disisi kuburan lalu berkata : Wahai bapak / ibu fulan, engkau nanti akan didatangi dua malaikat, keduanya akan menanyakan kepadamu begini dan begitu….”</li>
</ul>
<ul>
<li>Mengingat bahwa perbuatan ini seakan-akan menjadi sebuah kelaziman di negeri kita ini, maka harus diketahui derajat hadits ini sehingga menjadi peringatan bagi semuanya.</li>
</ul>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">C. Derajat kisah</span></h3>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kisah ini Munkar</strong></span></p>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Takhrij kisah :</strong></span></p>
<ul>
<li>Diriwayatkan oleh <strong>Thobroni</strong> dalam Ad Du’a dan Mu’jam al Kabir 8/289 no : 7979 berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Uqoil Anas Al Khoulani</strong> berkata : &#8221; Telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Ibrohim al Ala’</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Isma’il bin ‘Ayyasy</strong>, berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Abdulloh bin Muhammad Al Qurosyi</strong> dan <strong>Yahya bin Abi Katsir</strong> dari <strong>Sa’id bin Abdulloh al Audi</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kisah ini juga diriwayatkan oleh <strong>Al Khol’i</strong> dalam Al Fawa’id 2/55 dari <strong>Abu Darda’ Hasyim bin Muhammad al Anshori</strong> berkata : &#8220;Telah menceritakan kepada kami <strong>Utbah bin Sakan</strong> dari <strong>Abu Zakariya</strong> dari <strong>Jabir bin Sa’id Al Azdi</strong> berkata : Saya masuk menemui <strong>Abu Umamah Al Bahili</strong> saat beliau sedang sakarotul maut, &#8211; Kemudian beliau menyebutkan kisah diatas-.</li>
</ul>
<p><span style="color: #008080;"><strong>Sisi kelemahan kisah ini :</strong></span></p>
<ul>
<li>Adapun sanad riwayat <strong>Ath Thobroni</strong>, maka sisi kelemahannya adalah banyaknya rowi yang majhul, sebagaimana dikatakan oleh <strong>Al Haitsami</strong> dalam Majma’uz Zawa’id 3/45.</li>
<li>Sedangkan riiwayat <strong>Al Khol’i</strong>, maka lebih parah lagi, karena selain banyaknya beberapa rowi yang majhul, ternyata <strong>Utbah bin Sakan</strong> adalah seorang yang ditinggalkan hadisnya bahkan tertuduh memalsukan hadits, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Daruquthni</strong> dan <strong>Baihaqi</strong>.</li>
<li>Oleh karena itulah,  hadits ini dilemahkan oleh para ulama’.</li>
<li>Berkata <strong>al Haitsami</strong> dalam al Majma’ 3/45 : Dalam sanadnya banyak perowi yang tidak saya kenal.</li>
<li>Berkata <strong>Ibnu Sholah</strong> : Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.</li>
<li><strong>Al Imam An Nawawi</strong> juga melemahkannya, sebagaima dalam Al Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan al Fatawa hal : 54.</li>
<li>Berkata <strong>Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah</strong> dalam Majmu’ Fatawa 24/296 : Hadits ini tidak dihukumi shohih.</li>
<li>Berkata <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad  1/523 : “Tidak shohih secara marfu’.&#8221; Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan : “Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”</li>
<li><strong>Imam Al Iroqi</strong> juga melemahkannya dalam takhrij Ihya’ 4/420.</li>
<li>Berkata <strong>Al Hafidz Ibnu Hajar</strong> dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari 10/563 : Lemah sekali.</li>
<li>Hadits ini juga dilemahkan oleh <strong>Zarkasyi</strong> dalam Al La’ali al Manstsuroh hal : 59, <strong>As Suyuthi</strong> dalam Ad Duror al Manstsuroh hal : 25 .</li>
<li>Berkata Imam <strong>Ash Shon’ani</strong> dalam Subulus Salam 2/114 : Dari keterangan para ulama’ tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits ini lemah, maka janganlah ada yang tetipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.”</li>
<li>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> : Kesimpulannya bahwa hadits ini munkar, jika bukan malah palsu.</li>
<li>Berkata Syaikh <strong>Abu Ishaq Al Huwaini</strong> : “Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits</li>
</ul>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh bersabda : &#8220;Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan  : Inilah pengkhianatan Fulan bin Fulan.”</p>
<p>(HR. Bukhori Muslim)</p></blockquote>
<ul>
<li>Berkata <strong>Imam Al Bukhori</strong> : “Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.”</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">(Lihat Adh Dho’ifah <strong>Syaikh Al Albani</strong> : 599,  majallah At Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits asuhan <strong>Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini</strong>, serta rubrik Tahdzirud Da’iyah oleh <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Majalah Tauhid Mesir juga edisi Robiul Awal tahun 1428)</p>
</blockquote>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">D. Ganti yang Shohih</span></h3>
<p>Yang merupakan sunnah Rosululloh setelah menguburkan mayit adalah mendo’akan agar si mayit diampuni dosa-dosanya dan diberi kemantapan untuk bisa menjawab fitnah kubur. Sebagaimana hadits :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال: &#8221; كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال: استغفروا لاخيكم، وسلوا له التثبيت، فإنه الان يسإل &#8220;.</h2>
<p style="text-align: center;">Dari Utsman bin Affan berkata : Apabila Rosululloh telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda : Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Abu Dawud 2/70, Hakim 1/370, Baiaqi 4/56, Abdulloh bin Ahmad dalam Zawaid Zuhd hlm : 129. Berkata Hakim : Sanadnya shohih dan disepakatai oleh Adz Dzahabi, berkata An Nawawi : Sanadnya bagus, Berkata syaikh Al Albani : hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hakim dan Dzahabi. Lihat Ahkamul Janaiz no : 107)</p>
</blockquote>
<h3><span style="color: #ff6600;">F. Faedah:</span></h3>
<p>Sebagian orang berdalih dengan dua kisah berikut untuk melegalkan talqin setelah mengubur mayit :</p>
<p><strong>1.Ucapan Amr bin Ash</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">فَإِذَا أَنَا مُتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ فَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَشُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّي</h2>
<p style="text-align: center;">“Jika saya meninggal dunia, maka jangan ada yang meratapiku, lalu jika kalian menguburku maka tibunlah akau dengan tanah, kemudian berdirilah sebentar sekedar waktu yang cukup untuk menyembelih seekor unta serta membagikan dagingnya sehingga saya bisa merasa tenang dengan kalian dan saya bisa mengetahui apa yang saya jawab untuk para utusan Robbku (malaikat).”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim)</p>
</blockquote>
<p><span style="color: #0000ff;">Kisah ini sama sekali bukan dalil talqin, hal ini bisa dilihat dari beberapa sisi :</span></p>
<ul>
<li>Kisah ini hanya mauquf kepada sahabat Amr bin Ash.</li>
<li>Setahu kami, tidak ada yang melakukan ini dari kalangan para sahabat lainnya.</li>
<li>Dalam kisah ini tidak ada perintah talqin.</li>
</ul>
<p><strong>2. Hadits Baro’ bin Azib</strong></p>
<p>Dari <strong>Baro’ bin Azib</strong> berkata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Kami keluar bersama Rosululloh untuk menguburkan jenazah salah seorang sahabat anshor, dan sampailah kami ke pekuburan ternyata lubang kuburnya belum digali, maka Rosululloh duduk menghadap ke kiblat dan kita pun duduk disekeliling beliau seakan-akan dikepala kami ada burung yang hinggap, Rosululloh memegang batang kayu dan menggaris-gariskannya ketanah, lalu beliau melihat ke langit lalu kebumi, beliau juga mengarahkan pandangan keatas kemudian menurunkannya, lalu beliau bersabda : &#8220;Berlindunglah kalian kepada Alloh dari adzab kubur.” lalu beliau berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari adzab kubur ( 3X ), kemudian beliau bersabda : -tentang perjalanan seseorang  mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia-</p>
<p style="text-align: center;">(Shohih, HR. Abu Dawud , Hakim 1/37, Thoyalisi  : 753, Ahmad 4/287, Lihat takhrij secara lengkap pada Ahkamul Jana’iz oleh Imam Al Albani hal : 202)</p>
</blockquote>
<p>Hadits inipun sama sekali tidak bisa dibawa pada masalah talqin, karena beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Yang dilakukan oleh Rosululloh saat itu hanyalah memberikan wejangan kepada para sahabatnya tentang perjalanan seorang mu’min maupun kafir setelah meninggal dunia.</li>
<li>Hal itu dilakukan oleh Rosululloh sebelum mayit dikuburkan, tapi beliau melakukannya saat liang lahat masih digali.</li>
</ul>
<p>(Lihat Subulus Salam oleh <strong>Imam Ash Shon’ani</strong> 1/577)</p>
<h3>.</h3>
<h3><span style="color: #ff6600;">G. Kapan talqin dilakukan ?</span></h3>
<p><strong>Yang merupakan sunnah Rosululloh, bahwa talqin dilakukan saat seseorang akan meninggal dunia</strong>, dengan cara memerintahkannya untuk mengucapkan kalimat ikhlash <span style="color: #ff0000;"><strong>La Ilaha Illalloh</strong></span>.<br />
Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya sabda beliau  :</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: center;">لقنوا موتا كم لا إله إلا الله، (من كان آخر كلامه لا إله إلا الله عند الموت دخل الجنة يوما من الدهر، وإن أصابه قبل ذلك ما أصابه)</h2>
<p style="text-align: center;">“Talqinlah orang yang akan meninggal dunia diantara kalian dengan La Ilaha Illalloh. Barang siapa yang akhir ucapannya saat akan meninggal dunia La Ilaha Illalloh niscaya dia akan masuk surga suatu ketika, meskipun sebelumnya dia tertimpa sesuatu.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Bazzar)</p>
</blockquote>
<p>Dari <strong>Anas</strong> berakata :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Rosululloh pernah menjenguk salah seorang sahabat anshor. Beliau bersabda : Wahai paman, katakanlah La Ilaha Illalloh.”</p>
<p style="text-align: center;">(HR. Ahmad 3/152 dengan sanad shohih menuut syarat Muslim.)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;">Lihat Ahkamul Jana’iz oleh <strong>Syaikh Al Albani</strong> (hlm : 19)</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>.</p>
<p><strong><em>Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf</em></strong></p>
<p><strong><em>www.ahmadsabiq.com</em></strong></p>
<p><em><br />
</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/12/15/kritik-kisah-tsalabah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/10/29/muqaddimah-rubrik-kisah-kisah-tak-nyata/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!'>Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/05/11/masyithoh-tukang-sisir-putri-fir%e2%80%99aun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun'>Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2010/01/26/perjalanan-nur-muhammad/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjalanan Nur Muhammad'>Perjalanan Nur Muhammad</a></li>
<li><a href='http://ahmadsabiq.com/2009/11/04/kritik-kisah-kholid-al-qosri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham'>Studi Kritis Kisah Gubernur Iraq Era Bani Umayyah yang Menyembelih Tokoh Ahli Bid&#8217;ah, Ja&#8217;ad bin Dirham</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadsabiq.com/2010/01/27/talqin-mayit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
